Tiga tahun bukanlah waktu yang sebentar bagi Nora untuk menahan diri di injak injak oleh Sarah dan juga putrinya. Baik di rumah mau pun di sekolahan mereka berdua selalu mencari cari kesalahan Nora juga bagimana cara membuat gadis ini malu.
Namun Nora bersabar, hanya tiga tahun, ia hanya harus merendahkan dirinya serendah rendahnya selama tiga tahun. Toh dengan begitu Nora bisa masuk semakin dalam ke dalam keluarga Jahyadi. Ia bisa mencari tahu kelemahan keluarga ini hingga tahu cara menghancurkannya.
Theo, ayahnya adalah ayah yang pilih kasih. Ia sangat menyayangi putrinya Priscillia yang begitu rupawan. Tubuh Theo tinggi, tegap, kurus, rambut sudah mulai memutih namun masih prima. Senyumannya manis deretan gigi putih yang rapi. Selalu tampil santun dengan setelan jas mahal. Memiliki perusahaan besar dan istri serta putri yang cantik membuatnya selalu di puji sempurna oleh semua rekan bisnis mau pun koleganya.
Namun di balik kesempurnaannya itu Theo bukanlah seorang pria yang setia. Selain mengkhianati Tamara, ia juga mengkhianati Sarah dengan para wanita sewaan kelas atas yang ia temui saat makan malam bersama rekan bisnis.
Theo memang tak pernah menceraikan Sarah karena wanita itu adalah rekannya saat mendapatkan seluruh harta Keluarga Subroto, termasuk persengkongkolan menyingkirkan kedua orang tua Tamara. Jadi keduanya memegang kelemahan masing masing.
Tak hanya itu saja, perusahaan Theo sedikit bergoncang akhir akhir ini karena resesi ekonomi hingga ia memutuskan untuk mencari investor besar. Theo menjual sahamnya besar besaran pada keluarga Pratama. Tak ingin kehilangan kendali atas perusahaannya, Theo menyodorkan Priacillia menikah bisnis dengan Vincent, anak sulung keluarga Pratama.
"Tentu saja Cillia mau, Pa. Cillia sudah lama menganggumi Vincent." Cillia bersorak girang saat papanya memberitahukan hal baik ini pada Cillia.
"Baguslah, menantu kita akan berasal dari keluarga super kaya di kota ini. Kita tak perlu takut lagi kehabisan modal." Sarah bangkit dan memeluk anak gadisnya.
Nora menguping di balik dinding, ia tahu siapa Vincent, pria yang ia tabrak saat masuk sekolah. Pria itu juga pria yang sangat kasar dan arogan, ternyata ia punya nama keluarga yang besar, pantas saja sifatnya sangat buruk.
Sementara Sarah, dia juga berlagak sempurna namun sering bermain judi dan juga memboroskan uang sang suami untuk membeli barang barang berharga. Sarah yang notabene seorang wanita miskin menjadi kaya mendadak saat menggantikan Tamara. Hingga ia pun menjadi orang kaya baru yang sering membeli banyak barang barang mewah demi pamer dan membuktikkan ke orang orang kalau dia kaya.
Sarah tak pernah membantu Theo di perusahaan, ia hanya tahu cara menghabiskan uang. Ia juga hanya mementingkan dirinya sendiri, hingga Theo pun semakin muak dengan tingkah Sarah belakangan ini.
Nora tahu juga kalau Sarah pernah menyuruh sekretaris selingkuhan papanya untuk menggugurkan kandungan dan memberikan pesangon. Mengusir wanita itu jauh jauh dari samping suaminya.
Terakhir adalah Tuan putri Priscillia. Gadis ini tak kalah menyebalkan dari ibunya. Ia selalu menindas Nora saat di sekolahan. Ia selalu meminta Nora mengerjakan ulangan dan juga pr nya supaya nilainya naik. Tak hanya menindas secara verbal dengan kata kata yang menghina wajah buruk Nora, ia juga menghina Nora secara fisik. Tidak sekali dua kali Cillia menumpahkan air pada wajah Nora, menyembunyikan seragamnya saat pelajaran olah raga, membuang tasnya di tong sampah.
Herannya, Nora sama sekali tidak bersedih atau pun marah. Dia diam saja, ekspresinya itu membuat Cillia muak. Membuat gadis itu bosan sendiri, tak ada hal mengasyikkan yang bisa membuatnya senang.
Priscillia berbeda dari Nora yang terlahir buruk rupa. Dia sangat cantik dengan hidung mancung, kulit putih mulus, dan juga tubuh yang langsing. Rambutnya yang hitam panjang selalu tertata dengan cantik berkat uang papanya, ia juga selalu memakai pakaian dari brand brand terkenal saja.
Setelah Vincent lulus, keluarga Pratama resmi menjadikan Cillia tunangan putra sulung mereka demi pernikahan bisnis.
Sementara Vincent, pemuda tampan dengan prestasi segudang. Tinggi, putih, matanya sedikit sipit, alisnya tebal, hidung mancung, dan rambut hitam tebal, baik penampilan maupun prestasinya sempurna. Ia merupakan kebanggaan keluarga Pratama. Tuan muda arogan dan juga dingin. Ia tak menyukai sebuah persaingan atau pun kalah dari siapa pun.
Pernah saat masih bersekolah, Vincent melihat hasil tes. Ia berada di posisi pertama dalam kelas tiga, sementara posisi pertama di kelas satu di tempati oleh Nora. Mereka sama sama posisi pertama di gradenya, namun ada hal yang membuat Vincent kesal, nilai rata ratanya 9,8 sementara nilai rata rata Nora 10. Hal sepele itu membuat Vincent sebal bukan main.
Dia tak pernah menjadi yang kedua, selalu yang pertama.
"Wah Wah ... gila, si Tompel ranking satu lagi." Ucap para murid di sisi Vincent.
"Nilainya sempurna," ujar mereka.
Saat di kantin, Nora tengah menyeruput es teh sambil membaca buku. Ia berpapasan dengan Vincent, tanpa sengaja Nora kembali menabrak pria menyebalkan itu.
"Kenapa sih kamu begitu suka menabrakku?" Vincent masih kesal karena Nora punya nilai sempurna. Dan kini gadis itu kembali menabraknya, bahkan menumpahkan es teh ke seragamnya.
"Eh ... maaf." Nora mendongak, pandangan mereka kembali bertemu. Sisi kiri Nora tertutup dengan rambut, hingga hanya menampilkan bagian wajahnya yang cantik saja. Vincent diam sesaat, rasa aneh yang sama kembali datang saat pertemuan pertama mereka di gerbang sekolah.
"Mata di balas mata!" Vincent mengambil gelas es teh di tangan Nora, ia menumpahkan sisa es tehnya ke atas kepala Nora hingga rambut dan seragamnya basah semua.
"Aku hanya membalasmu, memangnya kamu pikir hanya dengan meminta maaf seragamku bisa kering lagi?" Ketus Vincent seraya meninggalkan Nora.
Nora mencebik kesal, namun memang salahnya karena berjalan sambil membaca buku. Nora terpaksa harus ijin pulang untuk mengganti seragamnya yang basah??
"Cowok menyebalkan. Ck, dia akan menikahi Cillia, entah bagaimana wujud anak mereka kelak," gumam Nora sepanjang perjalanan pulang. Itulah pertama kalinya Nora terlibat secara langsung dengan Vincent. Dan setelah Vincent lulus, mereka sama sekali tak pernah bertemu sampai suatu ketika ...
"Papa ... hari ini aku minta uang bulanan untuk membayar uang sekolah." Seperti biasa, di awal bulan Nora selalu menemui Theo untuk menagih uang.
"Jangan sekarang! Papa sedang ada tamu!" Theo mengusir Nora.
Nora mengangguk paham saat tahu siapa yang duduk di depan Theo, dia adalah Vincent Pratama. Setelah lulus, ia resmi menjadi tunangan Cillia. Tak heran pemuda itu sering datang ke rumah. Untuk menjemput Cillia berkencan, saling mengenal lebih dalam karena mereka kelak akan menjadi suami dan istri.
"Iya! Kamu itu apa tidak lihat kalau ada tamu! Bisa bisanya menyela pembicaraan kami, dasar tidak sopan!" Sarah kesal, kenapa Nora harus muncul di hari minggu sih?? Gadis itu tak pernah kemari saat hari libur, tahu begini Sarah akan meminta Pak Yono untuk mengusirnya.
"Mama, jangan galak galak sama Nora, ada Vincent!" cegah Cillia karena tak ingin terlihat buruk di mata Vincent. "Maaf ya, Nora. Bisa kamu kembali nanti sore?" tanya Cillia dengan nada manja yang membuat Nora eneg melihatnya.
Nora mengangguk saja, tatapan matanya sempat bertemu dengan mata Vincent. Pemuda itu sengaja tidak mengalihkan pandangannya dari Nora hingga membuat Nora membuang wajah.
"Ah, benar. Maaf ya, Vincent. Nora adalah anak asuh kami. Kasihan dia tak bisa bersekolah. Karena nilainya bagus jadi kami menyekolahkannya," terang Sarah.
"Tak apa, Tante," jawab Vincent singkat seakan juga enggan untuk tahu siapa Nora, padahal jauh di dalam bola matanya yang gelap, ia begitu penasaran.
"Sana pergi!" usir Sarah pelan.
Nora membalikkan tubuhnya, ia menyeringai, kini dia tahu apa kelemahan dari keluarga Jahyadi.
...****************...
...Please love and like ya ges ... biar othor semangat untuk berkarya. Jangan lupa terus kasih komentar dan juga vote ya. Nanti aku kasih giveaway setelah novel ini terkontrak, mamacih gesss...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments