MAAF

Happy reading!!

.......

.......

.......

.......

.......

...Kita tidak akan bisa seperti dulu lagi....

Setelah menikmati kebersamaan mereka, Anto dan Alista telah sampai di rumah Alista.

“Enak gak masakannya tadi?”

“Enak banget kok, To,” ucapnya dengan tersenyum.

Kemudian Alista turun dari motornya.

“Gua pulang dulu ya, Ta,” pamitnya.

Alista tersenyum.“Iya Sayang, hati hati di jalan.”

“Iya,” ucapnya dengan mengangguk.

Kemudian Anto langsung pergi meninggalkan Alista.

“Hati hati Sayang.”

Anto hanya mengacungkan jempol.

“Makasih To, kamu laki laki yang selalu buat sahabatmu ini bahagia.” Alista tersenyum.“Walaupun sebentar lagi, kita akan menjadi  lebih dari sahabat.”

Beberapa saat setelah Anto pergi, ada mobil warna putih yang berhenti di depan rumahnya. Dia tidak asing dengan mobil itu, mobil putih yang biasa dia tumpangi beberapa tahun yang lalu.

“Ngapain dia kesini?”

Kemudian keluarlah Deno dari dalam mobil itu dengan berpakaian rapi,lalu di ikuti Irina yang memakai seragam guru, yang keluar dari dalam mobil. Mereka berdua berjalan menuju ke tempat Alista berada.

Alista menatap mereka dengan tajam, seakan akan mereka tidak pernah kenal.

“Ta,” panggil Irina.

“Mau apa kalian kesini?” tanya Alista.

“Kita cuma mau minta maaf, Ta,” ucapnya dengan memohon.

Kemudian Irina langsung berlutut di kaki Alista.“Ta, aku minta maaf atas perbuatanku selama ini.”

Alicia tersenyum miring.“Baru sekarang kamu sadar?”

“Kamu mau memaafkanku, kan?”

“Berhenti berlutut kepadaku,aku gak pantas di lakukan seperti ini.”

Kemudian Irina berdiri. “Kamu maafin aku kan, Ta?”

“Kamu pikir sendiri,” jawabnya, Irina kurang puas dengan jawaban Alista namun bagaimanapun dia yang salah.

Raut wajah Irina terlihat begitu sedih.“Aku pikir, kamu gak akan memaafkanku.”

Alista tersenyum miring. “Tapi aku orangnya bukan seperti itu, aku tetap memaafkanmu, walau aku tau, tidak mudah bagiku melupakan kejadian saat itu.”

“Tapi kamu tetaplah Irina, sahabat yang paling dekat denganku dulu, sahabat yang selalu ada ketika suka maupun duka.”Alista menatap Irina tanpa ekspresi.“Tapi sangat di sayangkan, kenapa?...Sifat kamu berubah hanya gara gara seorang laki laki.”

“Kamu tega menyakiti perasaan sahabat kamu sendiri.” Alista meneteskan air mata.“Terima kasih, dulu kamu sudah mau berteman dengan anak orang miskin sepertiku.”

“Dia gak salah, Ta.Akulah sebenarnya aktor di balik semua ini,” ucap Deno.

“Kamu dari dulu gak pernah, kan?” Alista menangis sehingga tak kuat melanjutkan ucapannya.

“Ta.”

“Kamu gak pernah sekalipun cinta sama aku, kan?” tanya Alista.

Deno mengangguk pelan.“Maaf Ta.”

“Tapi kenapa waktu itu kamu gak mau menolak perjodohan kita?”

“Aku gak bisa, Ta.”

“Karena warisan,kan?”

Deno mengangguk pelan.“Maafin aku Ta.”

“Orang tua kita, memang sangat akrab Mas. Gak ada salahnya, kan, kamu nolak waktu itu.”

“Aku gak bisa Ta,” ucapnya.

“Ingat Mas, harta gak selamanya bisa membuat kita bahagia.”

“Aku tau itu,Ta.”

Alista tersenyum.“Terus kamu ngorbanin perasaan aku, kamu ngorbanin kebahagian aku dan juga Rahman.”

“Maafin aku Ta.”

“Tapi aku juga paham kok, berlarut larut dalam kesedihan itu juga gak baik. Dan aku akan mencoba melupakan semuanya walau itu tak mudah bagiku,” ucapnya dengan tersenyum.

“Tapi kamu juga gak pernah cinta sama aku, kan?”

Alista tersenyum.“Aku menerima semua keputusan orang tua bukan berarti aku tidak mencintaimu mas. Dan satu hal yang harus kamu tau, di saat kamu selingkuh sama Irina, di titik itulah aku sangat mencintaimu dan aku tidak ingin kehilanganmu.”

Alista menghela nafas.“Tapi ternyata kamu bukanlah orang yang tepat, Mas.”

Mendengar ucapan itu Irina pun langsung memeluk sahabat lamanya itu.“Maafin aku Ta, aku telah jahat sama kamu.”

Namun Alista terlihat tidak senang, jika Irina memeluknya.“Bisa lepasin gak!”

Dengan sedikit sakit hati, Irina langsung melepaskan pelukannya. Dia tau, dia memang salah dan dia juga pantas di perlakukan Alista seperti ini

“Kamu tetap mengangapku sebagai sahabat, kan?”tanya Irina di iringi dengan tangisan.

“Apa kamu juga masih menganggapku sebagai sahabat?”

Irina mengangguk.“Masih,Ta.”

“Tapi kenapa?...Kenapa? Kamu tidak memperdulikan perasaan sahabat kamu sendiri.”Alista menghela nafas.“Kamu membiarkan sahabatmu yang lagi hancur hancurnya dan menikah dengan suami sahabatnya sendiri.”

“Ta,”

“Dan setelah beberapa tahun, baru sekarang kamu mengunjungiku dan meminta maaf kepadaku.”

Irina terus menangis.“Aku sadar,Ta.”

“Dan aku rela kok sekarang, kamu balikan sama Mas Deno,” ucapnya.

Alista tersenyum miring.“Emang aku wanita murahan?”

“Atau aku rela kok, kamu apa apain. Sekalipun itu merusak harga diriku.”

“Kamu gila ya?”

“Aku gak gila, aku hanya ingin kamu menganggapku sebagai sahabat seperti dulu.”Irina menghela nafas. “Aku kangen persahabatan kita dulu, Ta.”

Flashback on.

Saat hendak pulang dari sekolahan, tiba tiba Alista kebelet berak.

“Na, gua kebelet berak nih.”

“Habis makan banyak lo ya tadi?”

“Gak juga, lo duluan aja gak apa apa, gua mau berak dulu di toilet sekolah.”

“Gak ah, gua tungguin lo aja,” ucap Irina.

“Lo duluan aja Na, gua lama loh.” Alista mencoba untuk menolaknya dengan halus.

“Gua kan sahabat lo, selama apapun pasti gua tunggu kok.”

Alista tersenyum. “Yaudah,gua berak dulu ya Na.”

...EGSATO ...

Setelah Alista selesai berak, mereka pun berniat langsung pulang ke rumah.

“Lama gak, berak gua tadi?” tanya Alista.

“Gak juga, masih lamaan berak gua waktu pagi hari.”

“Seberapa lama berak lo, Na?” tanya Alista.

“Hampir 1 jam sih, Ta.”

“Gak capek lo 1 jam duduk di toilet?” tanyanya dengan tersenyum.

“Gak anjir, malahan di toilet gua punya banyak inspirasi.”

“Bisa aja deh lo, Na,” ucapnya dengan tersenyum.

Beberapa saat setelah itu, mereka pun sampai di sebuah warung bakso, yang ada di samping jalan raya.

“Makan bakso aja yuk, sama nungguin sopir gua jemput!” ajak Irina.

“Gak ada duit gua,” ucap Alista dengan tersenyum.

“Di samping lo ini siapa sih?”

“Irina lah, siapa lagi?”

“Sahabat kamu,Bkan?”

Alista mencubit pipi Irina.“Ya iyalah sahabat gua.”

“Terus?”

“Terus gimana?”tanya Alista yang bingung.

Irina mencubit kedua pipi Alista dengan tangan kanan dan kirinya.“Ya gua yang traktirlah, Ta.”

“Oh, lo traktir,” ucap Alista dengan tersenyum.

Kemudian mereka berdua berjalan dan masuk ke dalam warung bakso itu.

“Bang bakso dua.” Irina memesan bakso itu kepada penjual.

“Iya Neng,” balas penjual itu.

Kemudian mereka berdua pun duduk berhadapan di salah satu kursi yang ada di warung bakso itu.

“Alista,” panggilnya.

“Iya Na,”

“Kalau kita udah lulus nanti, kira kira  kira masih bisa ketemu gak?”

“Masih, kalau gua masih di beri umur panjang.”Alista tersenyum.

“Jangan lupain gue ya Ta kalau udah lulus nanti?” tanyanya.

Alista tersenyum.“Ya gak akan lah gua lupain lo, Na.”

Kemudian Irina mengulurkan jari kelingkingnya.“Janji ya,Ta.”

Alista menempelkan jari kelingkingnya di jari kelingking Irina. “Iya, Na. Kita kan sahabat selamanya.”

“Sahabat selamanya,” ucap Irina dengan tersenyum bahagia.

“Semoga kita bisa sama sama sukses ya nanti,” ucapnya dengan tersenyum.

Flashback off

“Ku ingin kalian pergi dari sini!”

“Ta, kita bisa seperti dulu lagi kan?”

“Kamu yang menghianati janji kita sendiri, Na.”

“Tapi, Ta”

“Kamu gak denger aku ngomong apa tadi?” tanya Alista dengan nada yang lumayan tinggi.

“Ta, kita sahabat selamanya, kan?”

“Aku bilang pergi dari rumahku.”

Namun mereka berdua tidak menghiraukan perkataan Alista.

“Kakak sama adik sama aja, ya.” Alista menghela nafas.“Sama sama jahat.”

Mendengar ucapan Alista, Hati Irina pun sakit walaupun yang di katakan Alista memang benar adanya.

“Tapi izinkan aku bertemu anakku, Ta aku mohon.”

Alista menarik nafas dan menghembuskannya.“Iya, aku akan izinin kalian.”

Kemudian Alista langsung pergi dari mereka berdua dan masuk ke dalam rumahnya, sementara Deno dan Irina tetap berada di luar.Beberapa saat setelah itu suara motor Rahman pun terdengar.

Perlahan lahan, Rahman pun terlihat dari tatapan mereka berdua yang berdiri di depan rumah. Kemudian Rahman pun sedikit kaget melihat Irina wali kelasnya sudah berdiri di depan rumahnya.

“Ibu Irina.”Kemudian Rahman langsung turun dari motornya lalu bersaliman dan mencium tangan Irina.

“Ngapain Ibu kesini?”

“Mau ketemu kamu, Nak.”

“Kok Ibu Irina di luar saja, Ibu gak ada di rumah ya.”

Kemudian Alista pun keluar dari rumah dan menghampiri mereka. Tidak ada senyuman di wajah Alista.

“Bisa di percepat sedikit gak?”

“Ibu, kenapa Ibu Irina sama suaminya gak di suruh masuk?”

“Kamu nanti pasti tau sendiri, Sayang.”

Rahman pun bingung dengan sifat ibunya yang tak biasanya seperti itu, ibunya seperti orang jahat hari ini.

“Aku Ayah kamu, Nak.”

Mendengar ucapan itu, seketika Rahman pun kaget, ternyata laki laki yang ada di samping Irina adalah ayah kandungnya sendiri.

Rahman menatap Alista.“Bener,Bu?”

Alista mengangguk.“Iya, Sayang.”

Kemudian pandangan Rahman pun tertuju ke Irina, dia menatap tajam Irina.“Berarti Ibu Irina adalah selingkuhan Ayah ya?”

Irina hanya terdiam.

“Jawab, Bu!”.

Irina mengangguk pelan.“Iya,Nak.”

Seketika Rahman pun marah mendengar itu semua.

“Aku pikir, Ibu adalah orang baik. Ternyata Ibu Irina sendiri perusak kebahagiaanku dengan Ibu.”Rahman menghela nafas.“Dan anda juga yang selalu membuat Ibu menangis.”

“Ini semua salah Ayah, Nak,” ucap Deno dengan menangis.

“AYAH JAHAT, AYAH EGOIS!”

Dia tidak menyangka, jika Irina adalah wanita yang merebut kebahagiaanya.

Rahman menatap tajam Irina.“Ibu Irina yang terhormat, perebut suami orang, gak nyangka ya Ibu yang lemah lembut ini, ternyata memiliki sifat yang jahat banget.”

Mendengar ucapan Rahman, hati Irina pun sangat perih, siswa yang sudah di anggap sebagai anaknya sendiri.Kini menjadi orang yang sangat membencinya.

Setelah mengatakan itu,Rahman langsung pergi meninggalkan mereka bertiga yang ada di depan rumah. Namun sebelum masuk ke dalam rumah, Rahman terlebih dahulu mengacungkan jari tengah ke Irina dan Deno.

Kemudian Rahman langsung masuk ke dalam rumah.

“Karena udah ketemu sama anak kamu dan dia udah tau semua kebenarannya.” Alista menghela nafas.“Jadi kalian harus pergi dari sini!”

“Makasih ya, Ta,” ucap Deno dengan tersenyum.

Alista mengangguk.

“Makasih juga Ta, kamu udah mau maafin aku,” ucap Irina dengan tersenyum.

Alista tersenyum.“Iya.”

“Kami pergi dulu,ya,” pamit Irina.

“Iya.”

Kemudian pasangan suami istri itu pun langsung berjalan menjauh meninggalkan rumah Alista dan menuju ke mobilnya.

“Aku akan membantu kalian, untuk memperbaiki hubungan kalian dengan anak kita,Mas.” Kemudian Alista menatap Irina.“Dan aku juga akan membantumu,agar Rahman mau memaafkanmu.”

Mereka berdua pun hanya mengangguk mendengar ucapan Alista.

“Tapi kalau aku gak bisa, aku minta maaf.”

Kemudian mereka berdua pun masuk ke dalam mobil, lalu menjalankan mobil itu hingga tidak terlihat dari pandangan Alista.

...Lanjut gess!!!...

*Makasih yang udah baca.

*Bantu vote juga.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!