Happy reading!!!
.......
.......
.......
.......
...Aku ingin mengatakan merindukanmu,namun itu tidak akan merubah apapun....
Malam harinya, Rahman dan Alista pun kini telah sampai di rumah. Setelah mereka berdua pergi ke rumah Anto, untuk bertemu dengan ibu dan ayahnya Anto.
Alista memang sudah tidak asing dengan keluarga Anto, karena ketika Alista masih SMA, dia sering sekali bermain ke rumah Anto, bahkan keluarga Anto telah menganggapnya sebagai keluarga.
Dan setelah mendengar, jika Anto dan Alista berniat akan menikah, ayah dan ibu Anto begitu bahagia menyambutnya.Karena mereka sudah tau betul sifat Alista, yang baik, sopan dan juga sabar.Rahman yang melihat ibunya yang semakin bahagia pun ikut bahagia, dia percaya jika Anto adalah pria yang baik.
"Sayang, kamu mau gak nanti bikinin ibu telur ceplok?"
Rahman tersenyum."Iya Ibu."
"Makasih Sayang,"ucapnya dengan tersenyum.
Kemudian Alista pergi terlebih dahulu masuk ke dalam rumahnya.
Alista menoleh ke arah anaknya."Setengah mateng ya Sayang."
Kemudian wanita itu masuk ke dalam rumahnya.
...EGSATO ...
Beberapa saat setelah itu, Rahman pun telah selesai memasakkan ibunya telur ceplok.
"Wah enak banget nih pasti," ucapnya dengan senyuman manis yang terpancar di wajah cantiknya itu.
"Iya dong, kan masakan Rahman," ucapnya dengan tersenyum.
Kemudian Rahman berjalan menuju ke kamarnya.
"Kamu gak mau makan sama Ibu, Nak?" tanyanya.
Rahman menoleh ke arah ibunya. "Gak Bu, Rahman udah ngantuk."
"Yaudah Sayang, tidur yang nyenyak ya!" ucapnya.
"Iya Bu," ucapnya dengan mengangguk.
Kemudian Rahman masuk ke dalam kamarnya dan mengunci rapat rapat pintu kamarnya.Setelah itu dia duduk di kursi yang ada di kamarnya.
Dia menatap cermin kaca yang ada di depannya, terlihat pantulan wajahnya di sana yang mungkin terlihat jauh dari kata tampan. Setelah itu dia membuka laci meja yang ada di depannya.
Terdapat banyak sekali barang di dalamnya, namun Rahman mengambil sebuah bingkai foto kecil yang terdapat foto seorang gadis yang mungkin terlihat masih SMP.
"Alya," ucapnya dengan air mata yang menetes.
Gadis yang ada di dalam foto itu adalah Alya Kusuma sahabat kecil Rahman yang sudah meninggal berapa tahun yang lalu, ketika dia baru saja lulus SMP.
"Alya, lo terlihat cantik ya di foto ini," ucapnya dengan tersenyum.
"Alya, boleh gak kalau gua bilang, gua kangen banget sama lo sekarang?"
Kemudian Rahman mencium bingkai foto itu."Gua rindu banget saat kita bermain berdua Al."
Rahman menundukkan kepalanya, "Tapi gua sadar kok,njika kita gak akan bisa bertemu lagi sekarang dan kita gak akan bisa bahagia seperti dulu lagi."
Kemudian Rahman meletakkan bingkai foto itu di depan cermin.
"Gua cinta sama lo Alya, gua sayang sama lo Alya.Gua harap lo baik baik di sana ya cantik."Kemudian Rahman pergi menuju ke kasur kamarnya.
Rahman membaringkan tubuhnya di kasur itu kepalanya bersandar di bantal warna biru.
Flashback on
Di suatu hari yang cerah, Rahman pun kini berangkat menuju ke sekolahnya bersama dengan seorang cewek seumurannya yang bernama Alya.
“Al, kita nanti sekolah bareng ya Al!” ajaknya.
"Iya Man, tenang aja gua nanti bilangin ke mama kalau gua daftar ke sekolah yang sama seperti lo."
"Pasti seru banget ya Al nanti, gua udah gak sabar SMA deh," ucapnya dengan tersenyum.
"Nanti kita duduk sebangku ya Man?" tanyanya.
"Iya tenang aja Al," jawabnya dengan tersenyum.
Beberapa bulan kemudian, mereka pun lulus dari SMP dan hari ini adalah acara kelulusan mereka.
"Man kita lulus Man," ucapnya dengan raut wajah bahagia.
"Iya Alya," ucapnya dengan tersenyum.
Mereka berdua bergandengan tangan menuju ke aula sekolahnya, mereka berdua terlihat bahagia, tidak ada wajah sedih di antara mereka.
Hingga beberapa hari setelah itu, kabar buruk pun menimpa mereka Alya pun sakit dan tidak nafsu makan, hingga dia harus di bawa ke rumah sakit dan harus bermalam di rumah sakit. Rahman begitu sedih mendengar kabar itu, sehingga dia pun menjenguk Alya dan bahkan menemani Alya di rumah sakit.
Wajah pucat yang terlukis di wajah cantik Alya, tidak ada senyuman yang di suguhkan oleh gadis itu.
"Al kita makan ya?" tawarnya.
"Gua gak nafsu makan Man," jawabnya.
"Lo harus makan Alya, biar cepet sehat," ucapnya."Katanya kita mau sekolah bareng."
Di dalam kamar rumah sakit hanya ada mereka berdua, mama dan papa Alya pergi sebentar untuk membeli makan.
Alya tersenyum."Gua gak mau Man,.lo aja yang makan."
"Alya, makan dong sedikit saja," ucapnya dengan sedih.
Alya tersenyum."Sesuap aja ya Man?"
Kemudian Rahman menyuapi Alya.
Alya mengunyah makanan itu."Man jika gua pergi, lo harus siap hidup tanpa gua ya Man?"
"Gak boleh Al, lo harus sembuh, lo harus bisa bersama gua lagi, gua sayang sama lo Alya,” ucapnya dengan meneteskan air mata ke tubuh Alya.
Alya tersenyum dan mengusap air mata Rahman.“Gua juga sayang sama lo Man, jangan nangis ya!”
“Apa gua bisa menahan tangis?sedangkan lo aja gak baik baik aja gini.”
Alya tersenyum.“Lihat gua Man, gua aja bisa senyum, masa lo harus sedih seperti ini sih...” ucapnya lirih.
Rahman tersenyum di balik kesedihannya.“Please jangan pergi ya Al, kita punya banyak rencana yang belum kita capai.”
Alya hanya membalasnya dengan tersenyum.
Beberapa hari setelah itu, Rahman pun membelikan makanan kesukaan Alya yaitu martabak telor yang ada di depan rumah sakit. Dia hanya bisa berharap jika sahabatnya itu bisa sembuh dan bisa bermain lagi dengannya.
Setelah membeli martabak telor itu, dia pun berjalan menuju ke rumah sakit, dia melewati koridor rumah sakit hingga akhirnya dia sampai di kamar Alya.
Dia membuka pintu kamarnya dengan perlahan, namun pemandangan yang buruk pun terjadi, seluruh tubuh Alya dari kepala hingga ke kaki tertutupi dengan selimut, infus di tangannya pun telah tercabut dan kedua orang tua Alya pun menangis.
Dia belum percaya dengan apa yang di lihat?apakah Alya telah meninggal?lalu tanpa sengaja martabak telor yang ada di tangannya pun tiba tiba terjatuh ke lantai. Dia tidak percaya dengan kejadian ini.
Rahman perlahan menghampiri Alya yang tampak sudah terbaring lemas tanpa nyawa di kasur rumah sakit. Dia membuka selimut itu, terlihat wajah pucat Alya yang sudah tidak bernyawa.
Seketika air matanya pun keluar begitu deras, wajahnya begitu sedih sahabat yang paling dekat dengannya, sahabat yang selalu bersamanya kini telah pergi untuk selama lamanya.
Papa Alya yang mengetahui itu pun, mencoba untuk menenangkan Rahman.
“Kamu yang sabar ya Rahman,” ucapnya dengan memeluk anak SMP itu.
Seketika Rahman melihat sebuah kertas yang terlipat di samping jasad Alya.Rahman pun mengambil kertas itu,kemudian Rahman berjalan keluar kamar untuk menenangkan diri.
Setelah berada di luar, Rahman pun duduk di kursi rumah sakit dan membuka lipatan kertas itu.
Dari Alya untuk Rahman.
Rahman terima kasih ya atas waktumu selama ini dan maafkan sahabatmu ini tidak bisa menemanimu lebih lama lagi.Aku harap kamu bisa ya hidup tanpaku kamu laki laki yang kuat, kamu jangan sedih ya aku udah gak ngerasain sakit lagi kok.
Kamu tetap semangat ya Rahman, tetap semangat untuk mencapai impian yang telah kita rencanakan, sampaikan juga maafku kepada teman teman ya Man agar mereka tidak membenciku.
Aku bersyukur kok punya sahabat yang baik sepertimu, aku bangga banget punya kamu. Sekarang kamu wajib bahagia ya Man, jangan menangis atas kepergianku ini ya. i love you Rahman Ardika.
Tulisan di surat itu tampak begitu acak acakan, tidak seperti tulisan yang biasa Alya tuliskan.Rahman menyadari jika Alya menuliskan surat itu dengan sekuat tenaga melawan rasa sakitnya.
Dia tidak mampu menahan tangis ketika membaca surat itu. Entah kapan Alya menuliskan surat itu?mungkin di saat sepi tak ada seorang pun yang menemaninya.
Setelah itu dia pun kembali masuk ke dalam kamar, ternyata dia tidak hanya menuliskan surat untuk dirinya melainkan untuk orang tuanya juga yang sudah mereka baca.
“Udah kamu baca suratnya Man?” tanya papa Alya.
“Sudah, Om,” jawabnya.
“Kamu yang sabar ya Sayang,” ucap mama Alya.
“Iya Tante.”
Kehilangan orang yang kita sayangi mungkin begitu menyedihkan, namun kita sadar hidup masih berjalan, bumi masih berputar, langit masih bisa berubah gelap juga terang dan pastinya Indonesia juga masih merdeka.
Walaupun perbedaan begitu terasa, kita akan sulit untuk melupakannya. Dan berharap dia akan kembali padahal kita menyadari jika itu tak akan terjadi.
Flashback off
Dia tidak menyadari jika Alista dari tadi memanggilnya dari luar dan mengetuk pintunya.
“Sayang, udah tidur belum?”
“Belum Bu,” jawabnya.
“Bukain pintunya dong Ibu mau ngomong sebentar sama kamu!”
Kemudian Rahman berdiri dan menghampiri pintu dan membuka pintu kamarnya yang terkunci.Setelah membuka pintu itu, Rahman melihat Alista yang telah memakai daster kuning yang biasa di pakai dia untuk tidur.
“Hai Sayang.”
Kemudian Alista masuk ke dalam kamar anaknya, sementara Rahman mengikutinya dari belakang. Kemudian mereka berdua duduk di atas kasur.
“Siapa Alicia?” tanyanya.
“Temen Rahman, Bu,” jawabnya santai.
“Temen atau pacar kamu?”
“Temen Bu, dia itu murid paling pintar di sekolahan.”
“Soalnya setau ibu setelah kepergian Alya, kamu gak pernah deket lagi sama cewek,” ucapnya dengan tersenyum.
“Rahman cuma minta bantuan aja kok ke Alicia.”
“Bagus sih itu, pokoknya Ibu dukung seratus persen niat kamu pengen ngajari anak anak.” Alista mengelus anaknya.
“Iya Ibu.”
“Dan pesen Ibu, kalau kamu nanti semisal udah punya pacar,.jangan pernah sekali pun kamu menyakiti hati pasangan kamu apalagi kalau udah jadi istri kamu nanti.”
Rahman tersenyum.“Iya Bu.”
“Karena Ibu telah merasakan semua itu Sayang, jadi jangan sampai anak Ibu melakukan hal seperti itu,” pesannya.
“Iya Bu,” ucapnya dengan tersenyum.
“Tapi beneran Alicia itu cuma teman kamu?”
“Iya Bu, mustahil juga Alicia mau sama Rahman.Dia itu udah baik, cantik, pintar lagi, ya gak mungkin lah dia suka sama Rahman.”
“Kalau bilang gitu tandanya kamu itu udah lumayan suka Sayang,” ucapnya dengan tersenyum.
“Gak gitu Bu. Rahman itu cuma kagum aja sama Alicia.”
Alista tersenyum kemudian mengecup kening anak laki lakinya itu.“Selamat malam Sayang, semoga mimpi yang indah.”
“Iya Ibu,” Rahman tersenyum.
Kemudian Alista berdiri lalu meninggalkan kamar anaknya.
...Lanjut gess!!...
*Makasih yang udah baca.
*Bantu vote ya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments