DIEMIN

Happy reading!!

.......

.......

.......

.......

.......

...Diam adalah senjata utama di saat sakit hati,anjay....

Alicia berjalan perlahan melewati koridor sekolah, masih memikirkan omongan papanya tadi malam. Walau omongan papanya itu memang sangat tidak benar, tapi namanya seorang papa yang sayang sekali dengan anaknya, dia tidak ingin putri kesayangannya kenapa kenapa.

Tapi tetap saja, omongan papanya sangat tidak benar. Kini Alicia hanya teringat ketika papanya menamparnya tadi malam, sejelek itu ya Rahman di mata papanya padahal sifat Rahman tidak seperti yang di omongkan ayahnya.

"Di mana ya Rahman?" Dia melihat jam tangan yang ada di tangan kanannya.

"Apa jangan jangan? Dia terlambat bangun lagi."Kemudian Alicia mengambil handphone yang ada di tasnya.

Alicia membuka aplikasi Whats App, untuk mencoba menghubungi sahabat laki lakinya itu. Namun Rahman tak kunjung mengangkat telpon darinya, sehingga dia berniat untuk meninggalkan pesan.

^^^Lo di mana?^^^

Alicia pun berniat untuk pergi ke kelas Rahman, mungkin saja dia ada di sana?.Namun, di tengah perjalanan tiba tiba yang di tunggu tunggu pun tiba, Rahman pun sudah terlihat.

Alicia tersenyum."Gua tungguin lo dari tadi, ternyata baru datang."

Namun Rahman tetap melanjutkan perjalanannya dan memasang muka datar kepada Alicia. Sehingga membuat Alicia geram dengan perilaku Rahman.

"Man, ini gua Alicia," ucapnya dengan tersenyum.

Namun Rahman tidak menghiraukan begitu saja, dia seperti tidak mengenali Alicia.Sehingga Alicia teringat dengan perkataan papanya,  yang ingin memberi peringatan kepada Rahman.

"Ngomong apa ya papa? sampai sampai Rahman seperti ini ke gua."

Melihat perilaku Rahman yang tak seperti biasanya, kini Alicia pun bingung, dia takut, jika dia tidak bisa dekat lagi dengan Rahman.

Sehingga dia memutuskan untuk menuju ke kelasnya. Namun baru saja melangkah, tiba tiba terdengar suara Tasya dan Rahmah yang memanggil dirinya, lalu dia pun menoleh ke sumber suara. Terlihat kedua sahabatnya yang sudah berdiri di belakangnya.

Kemudian mereka berdua berjalan menghampiri Alicia.

"Lo baru datang Al?"

"Gua udah datang dari tadi, tapi gua nungguin Rahman," jawabnya.

Tasya tersenyum."Cie, perhatian banget ya sekarang sama Rahman."

"Iya nih, tinggal ngungkapin aja apa susahnya sih?” Rahmah tersenyum.

“Susahnya, dia sekarang diemin gue,” ucapnya datar.

Tasya mengerutkan dahinya.“Apa gua gak salah denger nih?”

“Why? Ada masalah apa kalian, sampai dia diemin lo?”tanya Rahmah.

“Ini semua gara gara papa gue,” ucapnya dengan raut wajah datar.

“Papa lo gak ngizinin?”tanya Tasya.

“Iya, papa gua gak suka sama Rahman,” jawabnya.

“Apa papa lo tau? Kalau dia adalah anak paling nakal di sekolahan.”

Alicia mengangguk.“Papa tau semuanya, Sya.”

“Padahal kan, Rahman orangnya gak seperti itu, Sya.”ucapnya.“Gua tau betul, gimana sifat Rahman.”

“Lo gak coba jelasin sama papa lo baik baik?” tanya Rahmah.

“Gua udah coba jelasin, tapi malah gua di tampar sama papa, Le,” jawabnya.

Tasya kaget.“Lo di tampar papa lo?”

“Iya Sya, gua di tampar sama Papa.”

Kemudian Alicia meneteskan air mata.“Gua gak tau harus gimana? Tapi gua udah terlanjur cinta sama Rahman, Sya.”

“Lo yang sabar ya Al.” Tasya mencoba menyemangati sahabatnya.

Rahmah tersenyum.“Kalau dia emang jodoh lo, pada akhirnya dia pasti akan tetap sama lo kok.”

“Gua gak yakin deh, kalau Rahman jodoh gue, Sya.”

“Tapi lo cinta kan sama dia?” tanya Rahmah.

Alicia mengangguk pelan.“Iya Le.”

Rahmah menepuk bahu Alicia.“Mungkin dia adalah jodoh lo Al, tapi lo harus ingat jika hidup ini penuh dengan ujian dan lo harus kuat menghadapinya.”

Alicia mengangguk pelan.

“Yaudah jangan sedih Al, mendingan kita ke kantin,” ucap Tasya.

“Yuk,” ucap Rahmah setuju.

Kemudian mereka bertiga berjalan, menuju ke kantin sekolah.

...EGSATO ...

Sementara Rahman pun kini sedang duduk di bangkunya. Dia merenungi perkataan Aryo tadi pagi.

“Kamu itu cuma anak nakal, gak pantas untuk deketin anak saya.”

Dia sadar sekarang, dia hanya anak nakal, dia memang tak pantas untuk gadis yang sempurna seperti Alicia. Namun jujur, dia memang mencintai Alicia, walaupun tidak akan mungkin jika mereka akan bersama lagi seperti hari hari yang sudah mereka lalui sebelumnya. Bagaikan sebuah dongeng, yang tidak akan pernah terjadi di dunia nyata.

Di tengah lamunannya itu, tiba tiba Andika mengagetinya sehingga membuat Rahman pun terkejut.

“Anjir, lo ngapain sih?”

“Yah kaget ya.” Andika tertawa terbahak bahak, melihat ekspresi Rahman.

“Gak jelas lo,” ucapnya datar.

“Makannya jangan galau mulu,” ucapnya dengan tersenyum.

“Siapa yang galau?”

“Tadi, lo itu ngelamun seperti banyak pikiran.”

“Gak.”

“Yaudah, ayo ke lapangan!” ajak Andika.

“Ngapain ke lapangan?”

“Tidur di lapangan,” jawabnya dengan tersenyum.

“Seriusan mau tidur di lapangan?”

Andika mengelus dadanya.“Ya main bola lah anjir, masa iya gua tiduran di lapangan.”

“Dari tadi itu bilang anjir,”ucapnya dengan tersenyum.

“Lo, ikut gak?”

“Gak ah, gak mood gua.”

“Beneran nih gak ikut?” tanya Andika meyakinkan Rahman.

“Iya, beneran,” jawabnya.

“Yaudah.” Kemudian Andika berjalan menuju keluar kelas.

Namun ketika di pintu, Andika kembali menoleh ke Rahman. “Beneran nih gak ikut?”

“Iya.”

“Jangan nyesel loh ya?”

“Iya anjir.”

Setelah Andika hilang dari pandangan Rahman, tiba tiba Rahmah pun datang dan masuk ke dalam kelas Rahman. Wanita berwajah bule itu, menghampiri Rahman yang duduk di bangkunya.

“Kita bisa bicara bentar gak?”

“Di suruh Alicia lo?”

Rahmah menggeleng.“Gak, ini gua pribadi.”

Kemudian Rahman berdiri.“Di mana?”

“Kursi panjang Deket toilet.”

“Oke.”

Beberapa saat setelah itu, Rahman dan Rahmah sampai di tempat yang di tuju.Mereka berdua duduk berdampingan di kursi itu.

“Lo kenapa diemin Alicia?”

“Terserah gua lah, kepo aja urusan orang,” jawabnya santai.

Rahmah menghela nafas.“Bisa gak dewasa dikit gitu?”

“Tapi yang lo tanyain itu, privasi gua.”

Rahmah hanya bisa mengelus dada.

“Papanya sendiri yang ngelarang gua,” ucapnya santai.

“Tapi Alicia suka sama lo.”

Mendengar ucapan Rahmah, Rahman hatinya langsung berdebar kencang. Dia setengah tidak percaya dengan ucapan Rahmah.

“Itu cuma omong kosong,” ucapnya santai.

“Omong kosong? padahal setelah putus sama pacarnya dulu, Alicia gak pernah buka hati untuk cowok lagi,” ucapnya.

“Terus setelah itu?” tanya Rahman.

“Gua lama lama sebel tau gak ngomong sama lo,” jawabnya.

“Pergi aja, kalau sebel.”

“Bisa gak ngehargain gua sedikit aja Man?”

“Gak bisa.”

“Terserah lo aja deh Man.” Kemudian Rahmah berdiri.“Gua mau pergi.”

Baru saja mau melangkahkan kakinya, Rahman tiba tiba menghentikan Rahmah.

“Mah,” panggilnya.

“Apa?”

“Duduk dulu aja.”

“Lo nyebelin anjir, lo gak menghargai gua sama sekali.”

“Gua bercanda doang Mah tadi,” ucapnya dengan tersenyum.“Tapi beneran Alicia suka sama gua?”

Rahmah mengangguk.“Iya.”

“Serius?”

“limarius.”

Rahman pun tersenyum mendengar itu.

“Tapi jangan bilang ke Alicia.”

“Iya iya, gua juga cinta kok sama Alicia,” ucap Rahman dengan tersenyum.

“Serius?”tanya Rahmah.

“Sepuluhrius.”

Rahmah tersenyum.“Lo bisa aja deh.”

“Jangan bilangin Alicia loh,” ucap Rahman.

“Iya Man, santai aja sama gua.”

“Btw lo udah punya pacar gak?”

“Belum sih,” ucapnya.

“Tapi pernah pacaran?”

“Sekali, sama orang Australia.”

“Anjir, btw namanya siapa?”

“Julian Alexson,” jawab Rahmah.

“Keren namanya,” ucap Rahman dengan tersenyum.

“Iya, dia itu anak dari teman papa gue, dia pernah tinggal  di Indonesia tiga bulan.”

“Keren.”

“Tapi pacaranya cuma sebulan doang,” ucap Rahmah dengan tersenyum.

Kemudian Rahmah berdiri.“Gua balik ke kelas dulu ya, takutnya entar Alicia sama Tasya cariin gua lagi.”

“Iya Mah.”

“Bye, Rahman.” Rahmah melambaikan tangan.

Kemudian Rahmah pergi dari tempat itu dan  meninggalkan Rahman sendirian.

...EGSATO ...

Anto dan Alista kini sedang melakukan perjalanan menuju ke tempat yang di rahasiakan oleh Anto.

“Kita mau kemana sih Sayang?”

“Ke suatu tempat,” jawabnya.

“Kamu bikin aku penasaran aja sih,” ucapnya dengan tersenyum.

“Lihat aja deh nanti kamu pasti senang Ta,” ucapnya dengan tersenyum.

“Iya deh, aku tunggu aja pokoknya,To.”

Alista memeluk Anto di sepanjang perjalanan.

“Jadi ingat, kalau dulu pernah ada yang bilang kalau nikah sama sahabat sendiri itu gak seru.”

“Kamu kok ngingetin aja sih To,” ucap Alista dengan tersenyum.

“Sekarang seru gak Ta?”

“Gak tau, kita belum nikah.”

Beberapa saat setelah itu, mereka pun telah sampai di tempat yang di tuju. Sebuah restoran yang besar.

“Kita makan,” ucap Anto.

“Makan di sini?”

“Iyalah.”

Beberapa saat setelah itu mereka pun akhirnya sudah berada di dalam restoran. Alista sedikit bingung dengan pelayan restoran yang berkali kali menyapa Anto.

“Semuanya pada kenal kamu?”

“Iya, gua pernah kerja di sini,” jawab Anto dengan tersenyum.

Alista mengangguk paham.

Anto dan Alista menghampiri kasir untuk memesan makanan.

“Ini calon istrinya, Mas?”

“Iya ini calon istri saya,” jawab Anto.

“Oh.” Kasir itu menatap ke Alista. “Akhirnya bentar lagi Mas bos punya istri, mana istrinya cantik banget lagi.”

Mas bos, kenapa wanita itu memanggil Anto dengan sebutan mas bos?.

“Doain nikahannya lancar ya?”

“Amin, Mas.”

Kemudian Anto menatap Alista. “Mau makan apa, Ta?”

“Ayam bakar sepertinya enak deh, tambah sambel ijo,” ucapnya dengan tersenyum.

“Ayam bakar dua porsi ya?”

“Siap Mas bos, minumnya apa?”

“Es campur spesial 2,” jawab Anto.

“Siap.”

Setelah memesan makanan,mereka berdua pun duduk di salah satu bangku yang ada di sana.

“Kenapa dia memanggil kamu Mas bos?”

Anto tersenyum.“Sebenarnya, restoran ini milik gua Ta.”

“Serius ini restoran kamu?”

“Iya Ta, kan gua udah bilang tadi kalau kamu sebentar lagi jadi bos.”

Alista tersenyum.“Ternyata kamu udah sukses ya sekarang,To.”

“Alhamdulilah, Ta.”

“Tapi, ini semua di hasilkan dari perjuangan yang sangat berat, kan?”

Anto mengangguk.“Berat banget.”

“Jadi malu, aku cuma nikmatin hasilnya doang.Coba dari dulu kita menikah.”

“Kan takdirnya baru sekarang,Ta.”

“Iya sih, paling penting aku bersyukur banget punya kamu.”

Anto tersenyum.“Dari sahabat biasa, bentar lagi menjadi sahabat hidup.”

“Iya.” Alista bersandar di bahu Anto yang ada di sampingnya.

“Kita harus bahagia ya Sayang.” Anto mengelus rambut Alista.

“Itu, wajib Sayang,” ucapnya dengan tersenyum.

Mereka berdua begitu bahagia di restoran itu, tidak ada terbesit sedikit pun kata sedih yang di rasakan Alista saat ini. Setelah bertahun tahun dia hidup tanpa kebahagiaan yang berarti.

...Lanjut gess!!...

*Makasih yang udah baca.

*Bantu vote ya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!