HUKUMAN

Happy Reading teman teman!!.

.......

.......

.......

.......

.......

...Rindu tidak hanya muncul karena jarak yang terpisah,tapi juga karena keinginan yang belum terwujud....

Beberapa saat setelah itu Rahman pun telah sampai di sekolahan, gerbang sekolahan pun telah terkunci rapat. Ketika dia melihat jam dia kaget karena sekarang sudah jam 9.Setelah memarkirkan motornya di luar sekolah, Rahman langsung berjalan menuju ke gerbang sekolah.

Dia tidak melihat satpam di pos satpam,sehingga membuatnya harus memanjat gerbang itu.Dia berhati hati, berharap untuk tidak di ketahui oleh siapapun apa lagi guru bk.Selang beberapa saat akhirnya, Rahman pun telah sampai di dalam sekolahan.

...Namun betapa kagetnya dia ketika melihat wanita berbadan gemuk, berdiri dengan raut wajah marah.Wanita itu adalah Widina Rosyiana guru bk di sekolah ini....

“Mampus gua anjir, ada Bu Widina,” ucapnya dalam hati.

Widina menatap Rahman dengan tatapan yang begitu tajam, dia menaruh kedua tangannya di pinggang.Raut wajahnya tampak terlihat marah.

“Rahman sini!” perintahnya.

Setelah itu Rahman berjalan menuju ke depan wanita berbadan gemuk.Dia berdiri tepat di depan wanita gemuk itu.“Iya Bu?”

“KAMU KENAPA TERLAMBAT?” bentaknya.

“Panjang Bu ceritanya,” jawabnya dengan santai.

“Kamu itu udah kelas 12 seharusnya itu ngasih contoh ke adik adiknya!” ucapnya dengan nada tinggi.

“Iya Bu maaf,tadi motor saya habis mogok, Bu,” ucapnya.

“Banyak alasan kamu,”ucapnya. “Yaudah Ibu hukum bersihin kamar mandi sampai bersih!”

Rahman mengerutkan dahinya.“Hah apa,Bu?” tanyanya.

“Apa kamu keberatan?Siapa suruh terlambat,kan?,” ucapnya dengan tersenyum.

“Tapi Bu,gak ada yang lebih ringan apa, Bu?,” tanyanya sembari memohon.

“Gak ada,adanya cuma ini doang.Atau mau kamu saya keluarkan dari sekolah?” ucap Widina dengan nada yang tinggi.

“Iya deh bu iya,” ucapnya dengan pasrah.

Rahman langsung pergi meninggalkan Widina begitu saja, namun Widina justru menghentikannya.

“Eits tunggu mau kemana?”

“Katanya tadi di suruh bersihin kamar mandi, ya ke kamar mandi lah Bu,” jawabnya santai.

“Ke kamar mandi sambil jalan jongkok ya,” Widina tersenyum.

“Apa Bu?,”

“Gak usah ngeluh kamu,” ucapnya.

“Iya Bu iya,” ucap Rahman dengan pasrah.

Kemudian Rahman melakukan apa yang di perintahkan oleh Widina.Dia jalan jongkok menuju ke kamar mandi.Pandangan semua siswa siswi pun tertuju ke arah Rahman yang sedang jalan jongkok.

“Apes banget gua hari ini,” kesalnya. “Widina bikin malu aja nih.”

Hingga beberapa saat akhirnya Rahman sampai di kamar mandi, terlihat kamar mandi yang tampak kumuh dan kotor.

“Nih kamar mandi di suruh bersihin gua apa?” tanyanya pada dirinya sendiri.

“Tapi tunggu, bersihin gua pakai apa coba?.”

Tak lama setelah itu datanglah seorang cewek yang paling terkenal di sekolah karena kepintarannya dan juga karena dia ketua OSIS.Dia adalah Alicia siswi terpintar di sekolahan ini, dia membawa beberapa peralatan untuk Rahman.

“Ini buat lo,vambil,” ucapnya sembari memberikan peralatan itu.

Rahman menerimanya.“Oh iya, makasih ketua OSIS,” ucapnya dengan tersenyum.

Kemudian Rahman mulai membersihkan kamar mandi sekolah, namun Alicia masih tetap berada di kamar mandi itu.

“Lo ngapain masih di sini?” tanyanya.

“Emang gak boleh ya?” jawabnya. “Lagi pula kalau gua gak di suruh ibu Widina gak akan gua di sini temenin lo,”

“Kenapa lo mau?” tanya Rahman.

“Kalau gua pergi, lo bakalan kabur,” jawabnya santai.

Rahman tertawa mendengar omongan Alicia.“Senakal nakal gua, gua gak akan kabur dari hukuman gua, emang gua cowok apaan?”

“Terserah lo deh, yang penting di percepat sedikit bisa gak?” ucapnya.

Rahman mengosok gosok kamar mandi yang sangat kotor itu.

“Lo bisa gak sih gak terlambat mulu?”

“Gak,” ucapnya dengan santai.

“Lo bisa gak lulus loh nanti,” ucapnya.

“Bodoh amat gua, lulus apa nggak,” ucapnya santai.

“Lo di bilangin malah gitu sih,” ucapnya.

“Lo pernah berkontribusi buat hidup gua gak?” tanyanya dengan tersenyum.

Alicia menggeleng.“Gak,emang kenapa?”

“Jadi lo gak usah bacot ya,” Rahman tersenyum.“Dari pada lo bacot gitu mendingan bantuin gua dapet pahala,” lanjutnya.

“Ye, ogah banget ya, emang yang terlambat siapa?” Wajahnya terlihat cuek.

“Yaudah pergi aja, mungkin lebih baik,”

“Kalau gua gak mau gimana?” tanyanya.

“Ya terserah lo lah, yang penting jangan bacot udah sih gitu aja,” Rahman tersenyum.

Alicia memanyunkan bibirnya. “Bodoh amat gua,”

Rahman pun hanya bisa menghela nafas.

“Cepetan bersihinya,”

“Santai napa? Lo kan bisa langsung pergi dari sini,” ucapnya dengan tersenyum.

“Ya udah gua tungguin,” ucap Alicia.

Rahman pun terus membersihkan kamar mandi itu, dengan bernyanyi lagu kesukaannya karena suaranya yang tidak begitu merdu membuat Alicia yang ada di dekatnya menjadi sedikit terganggu.

“Lo udah pantes jadi penyanyi, tapi diam lebih baik sih,”

Bukannya diam justru Rahman bernyanyi lebih keras.

“Anjir nih anak, untung aja gua masih sabar coba kalau gak,” Alicia tersenyum.

Setelah itu Alicia mengambil handphone miliknya yang ada di saku bajunya, kemudian dia memutar lagu kesukaannya.Namun Rahman tidak menyukai lagu itu,dia muak dengan lagi yang di putar oleh Alicia.

“Alay banget sih lagu lo, matiin aja deh gua muak tau gak,” ucapnya dengan muka datar.

“Ye ngatur ngatur, terserah gua dong handphone handphone juga milik gua,” Alicia tersenyum.

Kemudian Rahman menghampiri Alicia, dan mengulurkan jari kelingkingnya.

“Janji gua gak akan nyanyi nyanyi gak jelas lagi dan lo berhentiin lagu alay lo itu,” ucapnya dengan tersenyum.

Kemudian Alicia menempelkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Rahman.“Oke deal ya,” ucapnya.

“Deal,” ucapnya dengan tersenyum.

Kemudian Alicia berdiri.“Gua ke kantin dulu ya mau beli es, haus gua,” pamitnya.“Oh iya lo minta beliin kagak?”

“Terserah lo aja mah gua,” ucapnya dengan santai.

“Yaudah gua beliin, mau es apa nih?”

“Es jeruk aja deh,” ucapnya dengan tersenyum.

“Sebagai ketua OSIS yang baik, gua akan beliin es buat rakyatnya.”Alicia tersenyum.

Setelah itu Alicia berjalan keluar kamar mandi untuk membeli es ke kantin, sementara Rahman terus membersihkan kamar mandi dengan begitu semangat.

...EGSATO ...

Beberapa saat setelah itu Rahman telah menyelesaikan hukumannya yang di berikan oleh guru bknya.

“Mana sih cewek tadi, katanya mau beliin gua es,” ucapnya.

Setelah beberapa saat, Alicia pun datang dengan dua es yang ada di tangannya.

“Lo lama banget sih anjir,” ucapnya dengan datar.

“Antri banget tau gak, lo gimana sih?.”

Kemudian Alicia memberikan satu es itu kepada Rahman.

“Berapa nih es nya?” tanyanya.

“Es nya gak gua jual,” jawabnya santai.

“Gak gitu maksudnya anjir,” ucapnya dengan tersenyum.

“Gak usah, gua beliin,” ucapnya dengan tersenyum.

“Oh,makasih ya ketua OSIS,” ucapnya dengan tersenyum.

“Oh iya, udah selesai bersihinnya?,” tanyanya.

“Udah dong,” jawab Rahman dengan santai.

“Coba gua cek dulu,” Alicia dengan tersenyum.

Kemudian Alicia pergi ke kamar mandi itu untuk mengecek kamar mandi.

“Wow,bersih banget nih kamar mandi,” Alicia kagum.“Jadi ob pantes kali ya dia.”

Setelah itu Alicia kembali menghampiri Rahman yang sedang duduk di depan kamar mandi.

"Gimana bersih banget kan?” tanyanya.

“Iya sih, sering sering aja terlambat biar kamar mandi bersih terus.” Alicia tersenyum.“Bercanda bercanda,” ucapnya dengan tersenyum.

“Gua akan sering terlambat aja kalau gitu, kan di suruh ketua OSIS,” ucapnya dengan tersenyum.

“Gak boleh terlambat ya,” ucapnya dengan tersenyum.

Kemudian Rahman langsung pergi meninggalkan Alicia ,dia berjalan menuju ke arah kelasnya yang tak jauh dari kamar mandi itu.Sementara Alicia tetap berada di depan kamar mandi.

“Siapa ya nama cowok tadi? padahal gua sering ketemu lo tapi kok gak tau namanya ya,” ucapnya.

Tak lama setelah itu Tasya dan Rahmah pun datang menghampiri Alicia yang berdiri di depan kamar mandi.

“Lo habis ngapain di kamar mandi?”

“Nungguin cowok yang di hukum sama ibu Widina,” jawabnya.

“Oh kirain ngapain,” ucap Tasya dengan tersenyum.

“Emang siapa yang di hukum Al?,” tanya Rahmah.

“Anak kelas IPS 2 kalau gak salah,” jawabnya.

“Yang mana?”

“Yang tadi di hukum jalan jongkok.”

“Gua gak tau Al,” ucapnya dengan penasaran.

“Oh gua tau Mah,” saut Tasya.

“Siapa Sya?” tanya Rahmah dengan penasaran.

“Kembaran lo lah,” jawabnya.

“What? Sejak kapan gua punya kembaran Sya?” Rahmah bingung dengan ucapan Tasya.

“Kan namanya hampir sama kek lo,” jawabnya dengan tersenyum.

“Siapa sih anjir?” tanyanya.

“Rahman anak kelas 12 IPS 2,” jawabnya dengan tersenyum.

“Anjir, nama dia Rahman ternyata.” Alicia mengangguk.

“Rahman siapa sih?” tanya Rahmah lagi.

“Anak paling nakal satu sekolah itu loh,” ucapnya dengan tersenyum.

“Oh,yang rambutnya mullet itu gak sih?”

“Iya,”

“Tapi kok namanya bisa samaan gitu ya, Rahman dan Rahmah,” ucap Alicia.

“Mungkin jodoh kali Al mereka berdua,” ledek Tasya.

“Iya mungkin,” ucap Alicia dengan tersenyum.

“Kalian berdua jangan gak jelas gitu ya,” ucap Rahmah dengan tersenyum.

“Cie baper nih,” ledek Alicia.

“Please, jangan gak jelas gitu deh kalian,” ucap Rahmah dengan tersenyum.

“Gak apa apa kali Mah,kalau jodoh kan kita tinggal nunggu undangan pernikahannya aja gak si” ucap Alicia dengan tersenyum.

“Yaudah, sekarang ayo kita ke kantin gua lapar nih,” ajak Rahmah.

“Yuk, gua juga lapar,” Tasya tersenyum.

Kemudian mereka bertiga berjalan menuju ke kantin.

...EGSATO ...

Rahman kini sudah berada di kelas, dia berbaring di atas meja panjang yang ada di kelasnya,di temani oleh Andika di sampingnya.

“Man, main bola yuk di lapangan!” ajak Andika.

“Kalian duluan aja, gua capek banget habis bersihin kamar mandi.” ucapnya dengan tersenyum.

“Beneran lo gak ikut main bola?,” tanya Andika lagi.

“Iya,” jawabnya santai.

“Yaudah kita pergi dulu ya, Man?” ucap teman temannya.

“Iya,”

Sementara Rahman tetap berbaring di meja panjang itu, sembari bersandar di kedua tangannya.

“Gua gak mood sekolah banget, kabur aja kali ya,” ucapnya.

Tiba tiba setelah itu ada seorang gadis yang menghampirinya.

“Alya,” ucapnya dengan tersenyum.

Namun gadis itu bingung melihat Rahman yang seperti tak sadarkan diri.

“Gua Anggun anjir, bukan Alya,” ucapnya dengan tersenyum.“Lo mikirin Alya aja.” lanjutnya.

“Eh Anggun,” kemudian Rahman duduk.

“Bayar kas Man, lo Minggu kemarin udah gak bayar kas loh,”

Kemudian Rahman memberikan uangnya kepada Anggun.

“Makasih Man, btw lo kangen Alya ya?” tanya Anggun.

Anggun adalah teman Rahman sejak SMP, jadi wajar jika mereka berdua begitu akrab.

“Iya Nggun,” Rahman mengangguk pelan.

Anggun menepuk pelan bahu Rahman.“Lo yang sabar ya Man, Alya udah tenang kok di sana.” ucapnya dengan tersenyum

“Iya Anggun.”

Kemudian gadis itu pergi meninggalkan Rahman, sementara Rahman kembali melanjutkan tidurnya.

...Lanjut ya teman teman...

*Update setiap hari Insyaallah.

*Makasih yang udah baca sampai sini.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!