Happy Reading!!!
.......
.......
.......
.......
.......
...Kita harus berubah menjadi lebih baik....
keesokan harinya, sekitar jam 4 sore Alicia dan Alhan pun telah selesai mengajari anak anak seperti biasanya. Rahman dan Alicia juga berniat untuk berkunjung ke rumah Dewi.
"Kak Alicia sama Kak Rahman jadi ke rumah Dewi, kan?" tanya Dewi.
"Jadi Dewi," jawab Alicia dengan tersenyum.
"Yaudah ayo berangkat Kak!"
"Tapi kamu naik di depan Kak Rahman ya Dewi."
Dewi tersenyum."Iya Kak.”
Rahman pun naik ke motor matic Alicia, di susul dengan Dewi yang duduk di depannya dan Alicia yang duduk di belakangnya. Setelah itu Rahman menyalakan mesin motornya dan langsung menjalankan motor itu menuju ke rumah Dewi.
"Rumah kamu jauh gak dari sini Dewi?"
"Gak kok Kak,palingan cuma beberapa menit perjalanan."
Kemudian dengan mengejutkan Alicia memeluk Rahman dari belakang dan menempelkan wajahnya di hoodie milik Rahman.Rahman pun agak sedikit malu, namun dia juga merasa nyaman di dekat Alicia, atau jangan jangan dia mulai mencintai Alicia?
"Boleh kan gua peluk gini?"
"Boleh kok, peluk aja," jawabnya santai.
"Makasih Rahman."
Sepanjang perjalanan, Alicia pun memeluk Rahman, dia tidak menyadari akan seakrab ini dengan ketua OSIS itu. Hingga akhirnya mereka berdua pun sampai di rumah Dewi, rumah yang terlihat begitu sederhana dan bisa di katakan sangat kecil.
"Ini rumah Dewi Kak," ungkapnya.
Kemudian Dewi pun turun dari motor, setelah itu mengajak Alicia dan juga Rahman masuk ke dalam rumah.
"Ayo Kak masuk!" ajak Dewi.
"Iya Dek," ucap Alicia dengan tersenyum.
Kemudian Alicia dan Rahman pun turun dari motor, setelah itu mereka langsung berjalan mendekati rumah Dewi, lalu ada seorang wanita yang keluar dari dalam rumah, wanita itu terlihat seumuran dengan Alista (ibu Rahman).
"Ini siapa, Nak?" tanya wanita itu.
"Ini kakak kakak, yang Dewi ceritain Bu," jawab gadis itu.
"Oh," ucap wanita itu dengan tersenyum ramah kepada Alicia dan Rahman.
Mereka membalasnya dengan senyuman dan setelah itu mencium punggung tangan wanita itu.
"Oh iya, kenalin nama Tante Irna," ucap wanita itu.
Dia adalah Irna, Ibunya Dewi.
"Yaudah ayo masuk ke dalam dulu!"
Kemudian mereka semua pun masuk ke dalam rumah.
...EGSATO...
Mereka bertiga pun duduk di ruang tamu rumah Dewi, yang terlihat begitu sederhana dan sempit.
"Dewi hidup sendirian sama Ibu?"
"Iya Kak," jawabnya.
Alicia merasa bersyukur dia hidup dengan kecukupan dan orang tuanya adalah orang kaya, namun dia belum menyadari itu semua dan kurang bersyukur dengan nikmat itu.
Beberapa saat setelah itu, Irna pun datang menghampiri mereka bertiga dengan membawa dua gelas teh serta kue bolu yang biasa di jual Dewi.Dia menaruh kue bolu dan dua gelas teh itu di depan Rahman dan juga Alicia.
"Kue ini enak banget ya," ucap Alicia dengan memakan kue bolu itu.
"Ini buatan Dewi loh, Tante cuma bantuin aja," ucap Irna dengan tersenyum.
"Iya Tante, Dia juga udah cerita sama Alicia."
"Oh iya Nak, sekilas wajah kamu kok mirip sama Alista teman Tante dulu?"
"Tante kenal ibu Alista?"
"Kenal, dia teman sekolah Tante dulu saat masih SD," jawabnya dengan tersenyum.
"Saya anaknya Tante," ucapnya dengan tersenyum.
"Oh, makanya mirip," ucap Irna dengan tersenyum.
"Iya Tante," ucapnya dengan tersenyum.
"Titip salam Tante ke Ibu kamu ya Nak?"
"Iya Tante, nanti Rahman salamin ke Ibu."
"Oh iya Tante kerja apa?" tanya Alicia.
Irna tersenyum."Tante kerja di pasar, bantu bantu pedagang gitu."
"Cukup gak Tante penghasilannya?"
"Cukup buat makan sama cicil kontrakan Nak," jawabnya dengan tersenyum.
"Jadi rumah ini, ngontrak ya Tante?"
"Iya Nak," jawabnya.
"Tapi setiap harinya dapat berapa Tante?"
"Kadang 40 ribu, paling gede ya 70 ribu nak," jawabnya.
"Oh," ucapnya dengan mengangguk.
"Tapi hutang Tante juga banyak, Nak."
"Kalo seumpama Tante kerja di rumah Alicia jadi art mau gak?"
"Beneran, Nak?"
"Iya Tante, soalnya kan art Alicia itu cuma satu dan udah lumayan tua sehingga keluarga Alicia itu mau cari art lagi."
"Tante mau Nak, berapapun gajinya."
"Nanti Alicia kasih tau mama sama papa ya Tante?"
"Iya,makasih, Nak."
"Iya Tante dan Insyaallah cukup kok buat biaya hidup sehari hari Tante."Kemudian Alicia menoleh ke Dewi."Mungkin juga sama biaya sekolah Dewi juga Tante."
"Sekali lagi terima kasih banyak ya Nak," ucapnya dengan tersenyum.
"Iya Tante, nanti Alicia kasih alamatnya ya Tante?"
"Iya Nak."
Kemudian Alicia dan Rahman terus memakan satu persatu kue bolu itu.
"Enak banget Tante, Tante bisa ajarin Alicia buat gak?"
"Sebenarnya mudah sih Nak buatnya," ucapnya dengan tersenyum.
"Dewi aja di ajarin ibu, sebentar aja udah bisa kok."
"Kalau Alicia bisa buat ginian pasti enak Tante," ucapnya dengan tersenyum.
"Nanti Tante ajarin deh," ucapnya dengan tersenyum.
"Kalau Tante udah di rumah Alicia ya?"
Irna mengangguk."Iya Nak."
Irna bahagia dengan kehadiran Rahman dan juga Alicia, apalagi Rahman adalah anak teman SD Irna dulu yaitu Alista.
"Ibu sama Tante dulu akrab banget ya?"
"Gak Nak, dulu Tante sama ibu kamu itu gak terlalu akrab, Tante ngobrol sama ibu kamu aja jarang."
Rahman mengangguk."Oh."
"Tante dulu itu pendiam, Nak," ucapnya dengan tersenyum."Kalau gak di ajak ngobrol, pasti Tante gak akan ngobrol."
"Sedangkan ibu kamu itu, mudah bergaul dan cerewet," ucap Irna dengan tersenyum.
"Emang sih Tante, tapi sebenarnya orangnya baik banget kok Tante," ucapnya dengan tersenyum.
"Iya Nak, ibu kamu memang baik banget," ucapnya dengan tersenyum.
"Tapi kalau marah ya seperti toa rusak."
Irna tersenyum."Hush gak boleh gitu Nak."
"Emang beneran Tante," ucapnya dengan tersenyum.
"Kalau mama Alicia sih, lemah lembut Tante, gak pernah marah sama Alicia," ungkapnya.
"Sama seperti Ibu dong Kak, tapi kalau Ibu marah serem banget sih," ujar Dewi dengan tersenyum.
Irna tersenyum dan mengelus pipi gadis kecilnya itu."Kalau kamu nakal, pasti Ibu marahin."
"Tapi kan, Dewi gak nakal Bu," ucapnya dengan tersenyum manis.
"Sama seperti ibu Irina dong Al?" tanya Rahman.
"Iya sih 11 12 sama Tante Irina," jawabnya dengan tersenyum.
Ketika mendengar nama itu, Irna pun seketika ingat dengan teman SD nya dulu.
"Irina itu Tante kamu ya?"
Seketika Alicia bingung."Tante kenal Irina?"
"Teman SD Tante dulu juga ada yang namanya Irina."
Alicia menoleh ke Rahman."Emang bener Tante Irina?"
"Irina dulu duduk sebangku sama ibu kamu," ucapnya dengan tersenyum.
"Perasaan Tante Irina gak pernah temenan sama Tante Alista deh." Kemudian Alicia menoleh ke Rahman. "Iya kan man?"
"Iya Al."
"Padahal ibu kamu sama Irina akrab banget," ucapnya dengan tersenyum.
"Salah orang mungkin Tante," ucapnya dengan tersenyum.
"Iya mungkin," ucapnya dengan tersenyum.
...EGSATO...
...B...
eberapa saat setelah itu, kini Rahman dan Alicia pun sudah dalam perjalanan pulang. Seperti berangkat ke rumah Dewi, Alicia pun tetap memeluk Rahman dengan erat seperti pasangan kekasih.
"Kita sekarang akrab banget ya Man?"
"Iya Al," ucapnya dengan tersenyum.
"Oh iya lo udah sholat ashar kan?"
"Udah dong, masa lo lupa sih gua sholat di gazebo."
"Oh, iya gua lupa," ucapnya dengan tersenyum.
Alicia tetap memeluk erat Rahman yang mengendarai motor milik Alicia dan tak jarang juga dia menempelkan wajahnya di hoodie yang di kenakan Rahman.
"Lo sepertinya seneng banget nempelin wajah lo di hoodie gua, Al?" tanyanya dengan tersenyum.
"Parfum lo wangi anjir, jadi nyaman gua."
"Beneran cuma gara gara parfum?"
Alicia mengerutkan keningnya."Iya anjir, parfum lo wangi banget."
"Padahal gua gak pakai parfum loh," ucapnya.
Mendengar itu Alicia langsung kaget, karena parfum hanya alasan dia untuk bisa menempelkan wajahnya di hoodie Rahman.
"Bilang aja deh Al, kalau lo itu emang pengen."
"Gak anjir."
"Ternyata cowok yang paling dekat dengan ketua OSIS sekarang gua ya."
Alicia tersenyum."Siswa paling nakal di sekolah...ups keceplosan."
"Sekarang dia udah mulai berubah kok, Kak," ucapnya dengan tersenyum.
"Iya dong, harus itu."
Beberapa saat setelah itu,mereka pun telah sampai di depan rumah Rahman. Mereka berdua pun turun dari motor itu.
"Tante Alista," panggil Alicia.
Alicia sekarang sudah mulai akrab dengan Alista.
"Ada apa Sayang?" ucapnya dengan tersenyum.
"Ini Tante, Alicia beri sesuatu."
Kemudian Alicia pun menghampiri Alista yang sedang duduk di teras rumah.
"Ini apa Sayang?"
"Kue bolu buatan Dewi, anak yang Alicia sama Rahman ajarin," jawabnya.
Kemudian Alicia duduk di samping Alista, sementara Rahman menghampiri mereka berdua yang sedang duduk di teras.
"Enak gak Tante?"
"Enak banget sih ini," ucapnya dengan kue bolu yang memenuhi mulutnya.
Rahman duduk di depan mereka berdua.Kemudian Alicia bersandar di bahu Alista.
"Tante, sebulan lagi Tante nikah mudah mudahan nikahan Tante lancar ya."
"Amin, makasih ya Sayang."
"Pasti Tante bahagia banget kan?"
"Iya Sayang, Tante bahagia banget," ucapnya dengan raut wajah bahagia.
"Tante wanita yang kuat dan sabar, Alicia belajar banyak sama Tante."
Alista tersenyum dan mengelus pipi gadis di yang bersandar di bahunya itu."Tante gak wanita kuat Sayang, Tante kadang juga menangis kok."
"Pokoknya Alicia gak peduli, yang penting Tante habis ini nikah dan bahagia," ucapnya dengan tersenyum.
Alicia memang mudah sekali akrab dengan orang yang baru dia kenal, padahal dia baru ketemu Alista kemarin, namun dia sekarang sudah sangat akrab dengan Alista.
"Anaknya sendiri di lupain ya sekarang."
Alista tersenyum."Oh kamu cemburu Sayang, yaudah sini tiduran di pangkuan ibu."
Kemudian Rahman berbaring dan bersandar di pangkuan ibunya.
"Mudah mudahan kalian bisa mencapai tujuan kalian masing masing ya Sayang."
"Amin, Tante."
"Amin, Bu."
"Yaudah sekarang kita masuk dulu yuk!"
"Yuk," ucap Rahman setuju.
Kemudian mereka berdiri dan masuk ke dalam rumah.
"Ikut makan ya Sayang?"
Alicia mengangguk."Iya Tante."
"Kamu bisa masak gak Sayang?"
"Bisa Tante, tapi masakan Alicia gak enak banget...Alicia sampai gak mau makan masakan Alicia sendiri."
"Mau Tante ajarin Sayang?" ucapnya dengan tersenyum.
"Boleh Tante, kapan kapan ajarin ya?"
"Iya Sayang."
Kemudian mereka bertiga duduk di meja makan.
...Lanjut gess...
*Makasih yang udah baca
*Bantu vote ya
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments