BERSAMA

Happy reading!!!

.......

.......

.......

.......

.......

...Kebanyakan tidak mengerti betapa berharganya kebersamaan hingga perpisahan yang memaksa mereka untuk memahaminya....

...B...

eberapa saat setelah itu pelajaran mereka pun telah selesai,karena sudah jam 4 sore.Anak anak itu pun pulang ke rumahnya masing masing terkecuali Dewi yang masih ada di sana menemani Alicia dan juga Rahman di gazebo itu.

“Gimana jualanya hari ini, Dek?” tanya Alicia.

“Udah habis tadi siang Kak,” jawabnya dengan tersenyum.

“Alhamdulilah,” ucap Alicia dan Rahman serentak.

“Kak Alicia sama kak Rahman ini satu kelas ya?” tanyanya.

“Gak kok, cuma satu sekolahan aja,” jawabnya dengan tersenyum.

“Oh kirain satu kelas,” ucapnya.

“Kok kamu bisa kenal sama Kak Rahman?” tanya Alicia.

Baru saja mau menjawab, namun Rahman berbicara terlebih dahulu. “Gua waktu itu ketemu sama Dewi saat gua bolos kemarin.”

“Oh, yang kemarin gua pergokin itu kan?” tanyanya dengan tersenyum.

“Iya,” jawabnya.“Gua udah males banget Al, gua kek gak mood banget kemarin.”

Alicia tersenyum.“Salah siapa terlambat?” ucapnya.

“Niat gua itu udah seratus persen Al, namun gara gara motor gua mogok dan di kejar kejar anak SMA sebelah, gua jadi terlambat ke sekolah.”

“Anak SMA sebelah maksudnya?” tanyanya.

“Mereka itu musuh musuh gua waktu tawuran, tau sendiri lah Al kalau gua sering tawuran.”

“Oh, gitu.” Alicia mengangguk.

Rahman tersenyum.“Tapi gua janji kok, habis ini gua mau berubah.”

“Janji ya,” ucap Alicia dengan mengacungkan jari kelingkingnya.

Rahman pun menempelkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Alicia.“Gua janji.”

“Kak Alicia sama Kak Rahman kok seperti cocok banget ya,” ucap Dewi dengan tersenyum manis.

Alicia mengerutkan dahinya.“Cocok gimana sih, Dek?”

“Ya cocok aja Kak, ngomong ngomong makasih ya Kak udah mau ngajarin Dewi dan teman teman,” ucapnya dengan tersenyum.

“Iya Dewi, Kak Alicia dan Kak Rahman seneng banget kok bisa membagi ilmu kakak ke kamu dan teman teman.” Alicia tersenyum.

“Dewi udah menganggap Kak Alicia dan Kak Rahman, seperti Kakak Dewi sendiri,” ucap Dewi dengan tersenyum.

Kemudian Alicia memeluk Dewi yang duduk di sampingnya.“Kak Alicia juga sudah menganggap Dewi dan teman teman seperti adik Kakak sendiri kok.” Alicia meneteskan air matanya. “Kakak janji akan ajarin kalian hingga sama seperti Kakak atau bahkan melebihi Kakak.”

Dewi menatap Alicia yang sedang mengeluarkan air mata.“Kakak menangis ya?”

“Gak Dek, Kakak cuma kemasukan debu aja.”

Rahman yang melihat ketulusan Alicia pun begitu senang, bahkan dia sempat ikut meneteskan air matanya ketika melihat gadis cantik di sampingnya itu meneteskan air mata ketulusan.

“Yaudah Kak, Dewi pulang dulu ya, takutnya nanti ibu kesepian di rumah,” pamitnya.

“Iya Dek, apa perlu Kakak anterin?” tawar Alicia.

“Gak usah Kak, Dewi bisa pulang sendiri kok,” ucap Dewi dengan tersenyum.

Kemudian Dewi berdiri, tak lupa sebelum pergi dia mencium tangan Alicia dan juga Rahman.Setelah itu dia pun langsung pergi meninggalkan mereka berdua yang masih duduk di gazebo.

“Lo mau langsung pulang, Al?” tanyanya.

“Gak dulu deh, kita ngobrol ngobrol dulu aja di sini, suasana di sini nyaman banget,” jawabnya dengan senyuman manis yang keluar dari wajah cantiknya itu.

“Oh yaudah.” Rahman mengangguk.

“Btw, maafin ucapan gua tadi ya Man?Gua cuma bercanda kok.”

“Santai aja kali Al, btw makasih ya lo udah tulus mau ngajarin mereka.”

Alicia tersenyum.“Gua itu seneng banget tau gak, bisa ngajarin mereka dan membagi ilmu gua ini ke mereka.”

Rahman pun tersenyum mendengar ucapan gadis cantik yang seumuran dengannya itu.

“Rasanya itu seperti gua punya adik Man.” Alicia tersenyum.

“Oh iya, btw lo punya pacar gak?” tanyanya.

Alicia mengerutkan dahinya dan menatap tajam laki laki di sampingnya itu.“Ngapain lo tiba tiba nanya gitu?” tanyanya.

“Siapa tau kan? lo punya pacar,” ucapnya.“Terus pacar lo salah paham ngelihat kita berdua, terus lo putus sama pacar lo,” lanjutnya.

Alicia tertawa mendengar ucapan Rahman.“Gua gak punya pacar Man dan gua gak tertarik untuk pacaran lagi.”

“Kenapa gak tertarik?”

“Pacaran hanya bikin sakit hati aja Man,” jawabnya dengan santai. “Tapi gua udah punya mantan tiga Man dan mantan mantan gua itu yang membuat gua sakit hati.”

“Mantan gua yang pertama pergi tanpa kabar dan gak pamit sama gua serta kita lost contact.Yang bikin sakit hatinya kembali kembali dia udah punya istri, mana bule lagi pastinya lebih cantik dari gua dong.”

“Dia lebih tua dari lo?”

“Iya, 4 tahunan lah kalau gak salah,” jawabnya.“Gua kenal dia, waktu kita berdua bertemu di acara konser.”

“Terus mantan lo yang kedua?”

“Dia cowok matre Man, dia cowok yang hanya memanfaatkan gua saja, dia selalu minta duit ke gua,” jawabnya.“Karena mungkin gua telah di buta kan oleh rasa cinta gua ke dia, hingga membuat gua tidak menyadari akan hal itu Man,” jelasnya.

“Kalau yang ketiga tau sendiri, kan?” ucapnya dengan tersenyum .

Rahman hanya mengangguk.

“Kalau lo pernah punya pacar gak?” tanyanya dengan penasaran.

Rahman tersenyum.“Pacaran sih gak pernah ya Al, tapi gua pernah akrab banget sama cewek saat SMP”

“Nama dia Alya, kita sering bermain bersama, sekolah selalu berangkat bareng, saat SMP juga gua gak pernah terlambat seperti sekarang saat SMA,” ucapnya.

“Tapi sekarang.” Rahman pun tiba tiba meneteskan air mata.“Takdir berkata lain, Alya pergi untuk selama lamanya dan tidak akan pernah kembali lagi.”

Alicia mengusap air mata Rahman. “Yang sabar ya Man.” Dia mencoba menenangkan laki laki yang ada di sampingnya itu.

“Dan kita juga sudah berjanji, akan sekolah SMA bareng.”

“Ternyata kisah lo lebih sedih dari gua ya Man, kehilangan orang yang paling kita sayang itu memang begitu menyakitkan.”

“Maka dari itu gua gak pernah deket sama cewek lagi sekarang Al.” Rahman tersenyum.“Gua takut kehilangan untuk kedua kalinya.”

Alicia mengusap air mata Rahman yang keluar.“Mungkin Tuhan lebih sayang sama dia Man, dan lo harus ikhlas.”

Rahman menatap Alicia.“Iya Alicia, gua sudah ikhlas kok, walaupun ngelupain Alya itu sangat sulit.”

Alicia tersenyum.“Gua juga mengerti kok perasaan lo Man, itu memang berat. Tapi mungkin, suatu saat nanti lo dapat ganti cewek seperti Alya atau mungkin lebih baik dari dirinya.”

“Iya Alicia,” ucapnya dengan tersenyum.

“Kita harus semangat jalani semuanya ya, Man,”

Rahman tersenyum.“Iya Alicia.”

“Ingat kita bagaikan super hero bagi mereka Man, kita harus terus terlihat bahagia.”

Rahman tersenyum.“Super Hero ya Al?”

“Iya Man,” ucapnya dengan tersenyum.

Alicia bersandar di bahu Rahman, mereka berdua bagaikan pasangan kekasih yang saling melengkapi, walaupun gak ada hubungan apapun yang terjalin di antara mereka berdua dan mereka sebelumnya tidak pernah seakrab ini.

Alicia menegakkan kepalanya dan menatap wajah Rahman.“Lo udah save nomer gua belum?”

“Belum sih Al,” jawabnya santai.

“Yaudah save nomer gua ya, biar gua bisa lihat sw lo,” ucapnya dengan senyuman yang terlukis di wajah cantiknya itu.

“Kalau gua privasi gimana?” tanyanya dengan tersenyum.

“Gak boleh, masa lo mau main privasi sama gua yang cantik ini,” ucapnya sambil mengelus pipinya sendiri.“Gua kasih bonus pap pap cantik di sw gua nanti.”

Rahman tersenyum.“Iya deh iya.”

“Nah gitu dong, anak pintar” ucapnya dengan tersenyum.

Dia tidak menyadari, hari ini dia akan seakrab ini dengan Alicia, cewek paling terkenal di sekolahan.

“Ngomong ngomong pemilihan Osis kapan Al?” tanyanya.

“Bentar lagi Man dan senangnya gua, bentar lagi gua sudah tidak akan menjabat lagi.” ucapnya dengan tersenyum.

“Lo aslinya gak suka ya jadi ketua Osis?”

“Suka aja sih Man sebenarnya, tapi kadang juga capek dan pikiran di otak gua kek gimana gitu?”

“Jangan kebanyakan mikir Al, entar cepet tua loh. Mendingan di buat santai aja,” ucapnya dengan tersenyum.

“Gak bisa Man, gua gak bisa begitu,” ucapnya.“Tapi sekarang sepertinya bisa deh agak santai, kan ada adik adik membuat hati gua makin adem.”

“Nah gitu dong Al,” ucapnya dengan tersenyum.

“Iya Man biar rambut gua itu gak cepetan putih,” ucapnya dengan tersenyum.

“Lucu mungkin kalau rambut lo putih,” ledeknya.

Alicia menggelitiki Rahman, sehingga membuat Rahman geli dan tertawa terbahak bahak.

“Hentikan Alicia,” ucapnya dengan tertawa.

“Gak mau, gua gak mau,” ucapnya dengan tersenyum.

Namun Alicia berhasil menghentikan Alicia dan kini berbalik, Rahman yang menggelitiki Alicia sehingga membuat Alicia tertawa terbahak bahak.

“Hentikan Man, entar gua kencing di celana loh.” Alicia tertawa terbahak bahak.

“Biarin, gak mungkin kan udah besar mau ngompol.” ucapnya dengan tersenyum.

Setelah itu Rahman melepaskannya.

“Huh capek banget gua,”

“Ngeluh aja lo,” ucap Rahman.

“Bodoh amat,” ucap Alicia dengan memanyunkan bibirnya.

Kemudian tiba tiba handphone Rahman berbunyi, menandakan ada panggilan yang masuk.Dia pun mengambil handphone miliknya yang ada di saku celananya,ternyata itu adalah panggilan dari ibunya.

“Halo Bu”

“Kamu di mana sayang?”

“Di sini Bu, habis ngajarin anak anak membaca.”

“Gak salah denger nih Ibu?”

“Iya Ibu pgak salah denger”

“Bagus lah kalau begitu, tapi anak anak siapa?”

“Ya anak orang lah bu masa anak hewan.”

“Iya terserah kamu mau bilang apa? Tapi kamu udah selesai kan?”

“Udah Bu, ini baru mau pulang.”

“Sama siapa di sana?”

“Ibu banyak nanya ih.”

“Awas ya ibu gak kasih kamu uang jajan loh, kalau jawabnya gitu.”

Alicia yang mendengar itu pun hanya bisa tertawa.

“Sama Alicia Bu.”

“Alicia siapa?”

“Ya Alicia lah Bu, teman Rahman.”

“Perasaan Ibu, kamu gak punya teman sekelas yang namanya Alicia.”

“Beda kelas Bu,”

“Oh kirain,”

“Tapi tujuan ibu nelpon Rahman apasih?”

“Anterin Ibu ke rumah om Anto ya sayang.”

“Yaelah, dari tadi langsung to the point kan enak Bu, pakai muter muter segala.”

Terdengar suara tertawa ibunya dari dalam teleponnya.“Cepetan ibu udah gak sabar nih.”

“Gini nih kalau udah punya pacar, anaknya yang masih muda aja kalah.”

“Yaudah pokoknya cepetan.”

Kemudian Alista mematikan sambungan telponnya.

“Ibu lo punya pacar?”

“Bukan pacar sih, tapi calon suami,” jawabnya.

“Emang ayah lo kemana?”

“Ibu sama ayah udah bercerai beberapa tahun yang lalu Al saat gua masih bayi,” jawabnya.

“Oh gitu ya,”ucapnya.“Jadi ibu lo janda dong?”

“Iya, tapi bentar lagi juga gak kok.”

“Tapi ayah lo tau kan?kalau ibu lo mau nikah lagi?”

“Gua lihat wajah ayah aja gak pernah Al,” jawabnya santai.

“Beneran?”

“Iya beneran gua,” jawabnya dengan santai.

Kemudian Rahman berdiri.“Balik yuk!” ajaknya.

“Yuk,” kemudian Alicia berdiri.

...Lanjut gess!!...

*Makasih yang udah baca

*Bantu vote juga ya🤭

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!