Happy reading!!!
.......
.......
.......
.......
.......
...Sebenarnya terjadi....
Pagi harinya, di rumah Irina dia sedang membersihkan seluruh isi rumahnya sembari menunggu suaminya yang akan pulang hari ini dari luar negri.
Dia duduk di kursi yang ada di teras rumahnya. Dia masih membayangkan kejadian beberapa tahun yang lalu, pada waktu itu, dia menjadi seorang antagonis yang merebut suami sahabatnya sendiri.
“Alista, aku ingin kita bersahabat lagi seperti dulu.”
“Aku tau penyesalan itu datangnya ada di akhir, tapi itu tidak akan menghilangkan kekecewaanmu.”
“Aku juga tak tau, bagaimana Rahman nanti jika tau jika wanita yang merebut kebahagiaan keluarganya adalah aku gurunya sendiri?”
Beberapa saat setelah itu, terlihat ada mobil yang mengarah ke halaman rumahnya, yang tak lain adalah Deno suaminya yang baru pulang dari luar negri.
Irina langsung menghampiri mobil suaminya itu dan Deno pun keluar dari dalam mobil. Irina langsung memeluk Deno dengan penuh kasih sayang.
“Kamu kangen ya sama aku?” tanya Deno.
“Iya Mas, aku kangen banget sama kamu,” ucapnya dengan tersenyum.
“Baru di tinggal sebulan aja udah kangen,” ucapnya dengan tersenyum.
Irina melepaskan pelukannya dan menatap tajam suaminya yang berdiri di depannya.“Kamu pikir sebulan gak lama apa?”
Deno tersenyum.“Itu sebentar Sayang.”
Kemudian Irina memeluk Deno lagi.“Kalau buat kamu sih sebentar, kalau buat aku itu lama banget Mas.”
“Yaudah deh iya lama, jujur aku juga kangen banget sama kamu,” ucap Deno dengan tersenyum.“Sekarang ayo masuk Sayang!”
“Gak mau, kalau gak di gendong sama kamu,” ucap Irina dengan tersenyum.
“Manja banget ih,” ucap Deno dengan tersenyum.
“Kamu kan udah bikin aku kangen selama sebulan ini, kata orang kangen itu berat,” ucapnya dengan tersenyum.
Kemudian Deno menggendong istrinya itu dan berjalan menuju ke dalam rumahnya.
Beberapa saat kemudian, mereka berdua duduk di sofa ruang tamu.
“Kamu udah sarapan Mas?”
“Udah tadi pagi Sayang,” jawabnya dengan tersenyum.
“Gak pengen makan lagi?”
“Kalau masakan kamu aku mau makan lagi Dek,” jawabnya dengan tersenyum.
“Tapi sayang aku hari ini gak masak, jadi Ranti yang aku suruh masak,” ucapnya dengan tersenyum.
Ranti adalah asisten rumah tangga keluarga kecil Deno dan Irina.
“Mas kamu masih sayang kan sama aku? Masih cinta kan sama aku?”
Deno bingung dengan pertanyaan istrinya itu.“Kok kamu nanya gitu sih Sayang? Udah pasti dong kalau aku itu sayang sama kamu dan aku cinta sama kamu.”
Irina bersandar di bahu Deno.“Mas aku takut kamu tiba tiba gak sayang sama aku.”
Deno mengelus pipi istrinya yang bersandar di bahunya.“Sampai kapanpun aku tetap cinta sama kamu Sayang.”
“Makasih ya Mas, tapi kalau semisal kamu balikan lagi sama Alista, aku ikhlas kok Mas.”
“Kok kamu bilangnya gitu Sayang?” tanyanya dengan bingung.
“Kamu berhak kembali dengan Alista Mas,” ucapnya dengan tersenyum.
“Tapi aku cintanya sama kamu Sayang.”
“Ternyata kita sama sama antagonis ya Mas.” Irina menghela nafas.“Kita sama sama gak memperdulikan perasaan Alista.”
“Kita memang antagonis, tapi aku gak pernah cinta sama Alista aku cintanya sama kamu.”
“Kenapa kamu menikahi Alista?”
“Waktu itu, orang tuaku menjodohkan aku dengan dia,” ucapnya.“Dan sampai aku menemukan kamu, wanita yang benar benar aku cintai.”
“Tapi persahabatanku dengan Alista rusak gara gara pernikahan kita Mas.”
“Iya aku tau itu,tapi semua itu salahku kamu sama sekali gak salah Sayang.”
“Kita harus mengatakan yang sebenarnya ke Rahman anak kamu Mas,” ucapnya dengan tersenyum.
“Iya Sayang, dia harus tau jika aku adalah ayahnya.”
“Tapi aku takut Mas, aku takut Rahman nanti marah sama aku dan gak mau maafin aku,” ucapnya.
“Kamu gak perlu takut Sayang, kamu harus ngomong baik baik sama Alista dan minta maaf sama dia,” ucapnya dengan tersenyum.
“Iya Mas, aku juga udah lama gak ketemu sama dia.”
...EGSATO ...
Sementara di sekolahan Rahman kini sedang asik duduk duduk di tempat nongkrongnya bersama teman teman sekolahnya yang sering tawuran dengan anak anak SMA sebelah.
“Gua lupa cerita sama kalian,” ucapnya.
“Cerita apa bro?” tanya Andika.
“Gua waktu itu, waktu motor gua habis mogok,.gua di kejar anak SMA sebelah kisaran 6 orang lah bro jumlahnya.”
“Tapi Lo bisa lolos?”
“Untung aja masih bisa.”
“Berani beraninya mereka,” ucap salah satu temannya.
“Kalau hanya 2 gua hajar bro, tapi itu ada 6, jujur gua sanggup.”
“Mereka memang gitu, beraninya keroyokan,” ucap Andika.
“Tapi kita gak damai aja sama mereka?” tanya Rahman.
“Mereka mau gak bro di ajak damai.”
Tiba tiba ada satu cowok yang berlari menuju ke arah mereka dengan raut wajah yang panik.
“Bro ada anak SMA sebelah bro,” jelasnya.
“Berapa jumlah mereka?” tanya Rahman.
“Sekitar 13 orang bro.”
“Kita sekarang cuma 9 orang, apa kita sanggup menghadapi mereka?”
Rahman berdiri.“Aku sanggup menghadapi mereka.”
“Di mana mereka sekarang?” tanya Andika.
“Di tempat biasa, gedung kosong.”
“Oke kita harus siap.”
Kemudian mereka semua pun berdiri dan berlari menuju ke belakang sekolah tempat biasa mereka kabur.
“Kita lewat tempat biasa ya Bro?”
“Siap,” ucap mereka serentak.
Sesampainya di sana, mereka pun langsung memanjat tembok itu satu persatu. Hingga akhirnya kini tinggal Rahman yang terakhir, baru saja mau memanjat tiba tiba terdengar suara Alicia yang memanggilnya.
“Man, mau apa lagi lo?” tanyanya.
Rahman pun kini harus menghentikan langkahnya.
“Kapan sih lo mau berubah hah?”
“Ini penting Al,” ucapnya.
“Penting, emang kabur itu penting ya?”
“Gua gak mau kabur Al, ada urusan sedikit di luar kalau udah selesai aku balik kok.”
“Mau tawuran, iya?” ucap Alicia dengan nada yang tinggi dan raut wajah yang terlihat marah.
“Iya.”
“Kalau lo kenapa kenapa gimana Man? Gua gak mau lo kenapa kenapa,” ucapnya dengan datar.
“Tenang aja Al, gua bisa jaga diri baik baik kok,” ucapnya.
“Tapi Man,sampai kapan lo mau gini terus? Lo gak kasihan sama Tante Alista.”
Rahman mengelus pipi Alicia.“Kali ini aja Al.”
“Jaga diri lo baik baik Man,” ucapnya dengan tersenyum.
“Iya Al,” ucapnya dengan mengacungkan jempol.
Rahman pun langsung memanjat tembok itu dan meninggalkan Alicia sendirian di sana.
...EGSATO ...
Mereka semua pun telah sampai di tempat yang di tuju, 9 melawan 13 memang tidak adil. Tapi Rahman dan teman temannya tetap memaksa menghadapi anak anak SMA sebelah, namun Rahman belum terlihat di sana.
“Akhirnya datang juga,”ucap pemimpin anak anak SMA sebelah.
“Rahman mana woi?” tanya Andika.
Tak lama setelah itu Rahman pun datang dan berlari menuju ke teman temannya yang sudah siap di sana.
“Dari mana aja lo Man?”
“Gua jalan tadi.”
“Bohong, pasti ketemuan dulu sama Alicia, kan?”
“Gak,” jawabnya.
Kemudian Rahman berjalan di depan teman temannya.“Jangan pernah ganggu kami jika kalian kalah.”
“Tapi yakin bisa menang?” ucap salah satu anak SMA sebelah.
“Yakin,” ucap Rahman dengan tegas.
Kemudian Rahman langsung berlari mendekati anak anak SMA sebelah di ikuti dengan ke delapan temannya. Sementara anak SMA sebelah pun melakukan hal yang sama.
Rahman langsung menendang perut salah satu anak SMA sebelah hingga terjatuh, pertarungan mereka pun begitu sengit.
Rahman menghajar kepala salah satu anak SMA sebelah, dengan tangan kanannya. Namun dengan mengejutkan Rahman justru terkena pukulan dari pemimpin anak SMA sebelah hingga membuatnya terjatuh.
“Sial,” ucapnya dengan kesal.
Pemimpin anak SMA sebelah yang bernama Ardan itu pun berjalan menghampiri Rahman yang telah terjatuh.Dia ingin menghajar Rahman, namun baru saja mau menendang Rahman, Ardan terlebih dahulu di tendang oleh Andika sehingga membuat dia sedikit kesakitan.
Melihat kesempatan itu, Rahman langsung berdiri lalu melompat dan menendang Ardan tepat di bagian dadanya sehingga membuatnya langsung terjatuh.
“Rasain lo”
Karena mengetahui jika Ardon telah jatuh, Rahman langsung meninggalkan Ardon yang masih terkapar kesakitan. Dia menghajar semua anak anak SMA sebelah.
Hingga akhirnya, Rahman dan teman teman pun mampu memenangi pertarungan. Sementara anak anak SMA sebelah masih terkapar dan mengerang kesakitan.
“Sakit kan?” tanyanya santai.
Namun tak beberapa teman Rahman juga ada yang terkapar.
“Lo jangan ganggu kita lagi sekarang,” ucap Rahman dengan santai.
“Ki kita damai.”
Setelah itu Rahman membalikkan badannya.“Apa benar lo ngajak kita damai?”
“I iya,” jawabnya.
“Oke gua pegang omongan lo, tapi jika lo dan teman teman lo menganggu kelompok kami, akan ku hajar kalian semua.”
Kemudian Rahman dan teman temannya pun berjalan meninggalkan musuh musuhnya yang telah terkapar kesakitan.
“Kita pulang yuk!” ajak Andika.
“Yuk,” ucap semua serentak.
“Gua balik ke sekolahan,” ucapnya dengan tersenyum.
“Beneran lo mau balik ke sekolahan Man?”
“Iya.”
Andika tersenyum.“Kan dia sekarang punya cewek.”
“Bukannya gitu, gua itu udah janji sama Alicia,” ucapnya dengan tersenyum.
“Iya deh iya,” ucap Andika.
“Yaudah gue balik ke sekolah dulu,” pamit Rahman.
“Iya, hati hati di marahin sama ketua OSIS.” Andika terkekeh.
...EGSATO ...
Rahman pun kini telah sampai kembali di sekolahan, dia berjalan menuju ke kelas Alicia untuk menemui gadis itu di kelasnya. Setelah itu dia pun sampai di kelas Alicia, namun dia tidak menemukan Alicia di dalam kelas itu.
Hanya ada Rahmah dan temen sekelasnya yang lain di kelas itu, sehingga Rahman pun berjalan menghampiri Rahmah yang duduk di bangkunya.
“Mah,” panggilnya.
“Ada apa Man?” tanyanya.
“Alicia mana?”
“Keluar tadi sama Tasya,” jawabnya.
Kemudian Rahman duduk di samping Rahmah.“Kemana?”
“Kantin mungkin, btw muka lo kenapa Man?”
“Habis ketonjok tadi saat tawuran sama anak SMA sebelah,” jawabnya.
“Lo habis tawuran?” tanya Rahmah.
“Iya,” ucapnya dengan tersenyum.
Tak lama setelah itu, Tasya dan Alicia pun masuk ke dalam kelas.Alicia pun sedikit geram ketika melihat muka Rahman yang lebam di bagian pipi.Alicia pun langsung menghampiri Rahman di ikuti Tasya yang berjalan di belakangnya.
“Tuh kan di bilangin juga,” ucapnya dengan nada yang lumayan tinggi.
Seketika pandangan semua orang di dalam kelas tertuju ke arah Alicia.
Rahman tersenyum.“Udah Al, di lihatin orang itu loh.”
“Biarin...lo itu kalau di bilangin bandel banget ya,” ucapnya yang sama sekali tak menurunkan nada suaranya.
Rahman tersenyum.“Santai napa Kak.”
Kemudian Alicia memegangi luka lebam Rahman.
“Aww sakit, pelan pelan dong Al,” ucapnya dengan tersenyum.
“Siapa suruh tawuran? Ini kan akibatnya, positif gak ada negatifnya banyak banget.”
Rahmah dan Tasya pun hanya tertawa melihat kelakuan Alicia yang sok perhatian. Serta seluruh siswa siswi yang ada di kelas pun menyoraki mereka berdua.
...Lanjut gess!!...
*Makasih yang udah baca.
*Bantu vote ya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments