MINTA TOLONG

Happy Reading konco koncoku!!

.......

.......

.......

.......

...😀...

Pagi harinya Rahman pun telah sampai di sekolah pagi sekitar jam 7 kurang 20 menit. Dia bertemu dengan Widina guru bk yang menghukumnya kemarin.

"Cie udah rajin aja nih sekarang, udah kapok di hukum ya?" ucapnya dengan tersenyum.

Rahman tersenyum."Gak kapok sih aslinya Bu, tapi saya pengen aja gak terlambat," ucapnya.

"Besok dan seterusnya harus begini terus ya?" ucapnya dengan tersenyum.

"Iya Bu, kalau gak males," ucapnya santai.

"Gak boleh males dong," ucapnya dengan tersenyum.

Setelah itu Rahman mencium tangan Widina dan kemudian dia pergi begitu saja menuju ke kelasnya. Dia berjalan dengan santai melewati koridor sekolah.Di samping kanan dan kirinya terdapat siswa siswi yang sedang duduk menatapnya dengan aneh.

Seketika dia teringat dengan Alicia, gadis itu mungkin bisa membantunya untuk mengajari Dewi dan teman temannya. Karena Rahman sudah berjanji dengan Dewi kemarin.

Namun pertanyaannya apakah dia mau mengajari mereka? jika tidak mau apakah dirinya sendiri yang akan mengajari mereka? dia mengira jika dia tidak pantas melakukan itu semua.Di sekolahan ini saja, dia di kenal sebagai siswa paling nakal.

Rahman berjalan menuju ke kelas Alicia yaitu kelas 12 IPA 1 yang ada di lantai dua. Rahman berjalan menyusuri satu persatu anak tangga sekolah yang menghubungkan lantai 1 dan lantai 2.

Namun di tengah perjalanan dia bertemu dengan wali kelasnya yaitu Irina. Irina adalah guru favoritnya dia tidak pernah memarahi Rahman jika Rahman nakal.Sifatnya yang lemah lembut membuatnya tidak di benci sama murid murid di sekolahnya terutama anak anak kelas 12 IPS 2.

"Cie berangkatnya pagi banget sekarang," ucapnya dengan tersenyum.

"Iya Bu, Rahman mau berubah mulai sekarang," ucapnya dengan tersenyum.

"Bagus itu Rahman, Ibu kamu pasti bangga nanti," ucapnya dengan tersenyum.

"Iya Bu," ucapnya.

"Mau kemana kamu kok ke atas?bukannya kelas kamu di bawah ya?" tanyanya.

"Oh, ini saya mau ketemu sama Alicia bu," jawabnya dengan tersenyum.

"Oh mau ketemu Alicia."

"Yaudah saya duluan ya Bu," pamitnya.

"Iya Rahman, di tingkatkan lagi loh semangat belajarnya," pesannya.

"Iya Bu," ucapnya dengan tersenyum.

Kemudian Rahman melanjutkan perjalanannya menuju ke kelas Alicia. Namun dia bertemu dengan Rahmah sahabat Alicia yang sedang berjalan mendekati Rahman.

"Lo temennya Alicia kan ya?" tanya Rahman.

"Iya, tumbenan lo cari Alicia," jawabnya dengan santai.

"Emang gak boleh ya?" tanyanya.

"Ya gak gitu, tapi kok tumbenan aja gitu," jawabnya dengan tersenyum.

"Gua ada urusan sama dia," ucapnya.

"Urusan apa nih?" tanyanya.

"Kepo banget lo, tapi dia ada kan di kelas?"

"Ada dong," jawabnya.

Kemudian Rahman langsung pergi meninggalkan Rahmah.

"Ga jelas banget tuh cowok, mana gak bilang terima kasih lagi sama gua." Kemudian Rahmah berjalan menuruni anak tangga untuk pergi ke kantin sekolah.

Beberapa saat setelah itu Rahman pun telah sampai di kelas 12 IPA 1 kelas Alicia.Alicia yang melihatnya pun terkejut dengan kehadiran cowok dengan hoddie berwarna biru itu.

"Lo mau ngapain kesini?" tanya Alicia.

"Mau ketemu sama lo," jawabnya santai.

Alicia mengerutkan dahinya."Mau ketemu sama gua?"

"Iya Alicia," ucapnya dengan tersenyum."Tapi kita ngobrol di luar ya?"

"Gak bisa di sini apa?"

"Gak, ini rahasia kita berdua, ini urusan kita berdua," jawabnya.

"Perasaan kita ngobrol aja jarang deh, apalagi punya rahasia," ucapnya dengan bingung.

Rahman memegang tangan Alicia dan langsung mengajak Alicia keluar.

"Lo kok maksa gini sih anjir?" kesalnya.

"Lo mau gak?"

"Mau, tapi gak usah pegangin tangan gua gini juga kali." Alicia melepaskan tangannya yang di pegang oleh Rahman.

Kemudian Rahman berjalan meninggalkan kelas, sementara Alicia mengikuti di belakangnya.

"Pasti lo masih marah gara gara kemarin kan? waktu di kamar mandi," ucapnya dengan tersenyum.

"Sok tau lo," ucap Rahman dengan tersenyum.

Mereka terus melewati koridor sekolah, hingga akhirnya dia sampai di tempat yang Rahman tuju yaitu di samping gudang sekolah, tempatnya tampak begitu sepi, tapi inilah yang di inginkan Rahman.

"Jangan jangan lo mau lakuin aneh aneh ya sama gua?"

"Gak usah nuduh deh," jawabnya santai.

Kemudian Rahman duduk di kursi yang ada di sana."Lo duduk sekarang di sini!" perintahnya.

Kemudian Alicia duduk di kursi yang ada di depan Rahman duduk.

"Ada apa?"

"Gua mau minta tolong sama lo," ucapnya dengan tersenyum.

"Minta tolong apa?" tanyanya dengan bingung.

"Lo kan siswi paling pintar di sekolahan ini kan?" tanyanya.

"Gak, diatas langit masih ada langit kok, mungkin aja siswi lain ada yang lebih pintar dari gua," jawabnya santai.

"Pokoknya gua gak peduli itu," ucap Rahman dengan tersenyum.

"Terus apaan coba lo nanyain gitu ke gua?"

"Lo bisa gak mengajari anak anak yang pengen sekolah tapi tidak mampu?" tanyanya.

"Jadi guru gitu ya?" tanyanya balik.

"Iya kurang lebih seperti itu," jawabnya santai.

Alicia tersenyum."Apa gua harus percaya sama lo? Sedangkan lo aja-" belum menyelesaikan bicaranya Rahman langsung memotong.

"Gua tau gua siswa paling nakal, siswa bodoh, siswa yang sama sekali tidak memiliki keistimewaan di sekolahan ini," Rahman menghela nafas."Tapi tujuan gua ini baik, gua ingin lo berbagi ilmu kepada mereka," lanjutnya.

"Maaf ya,kalau bicaraku tadi sedikit lancang," ucapnya dengan memohon.

Rahman menghela nafas."Gak apa apa kok, itu wajar," ucapnya dengan tersenyum.

"Tapi berani bayar gua berapa nih?" tanyanya.

"Lo minta bayaran? Sedangkan lo aja anak orang kaya," ucapnya dengan bingung.

"Guru aja di bayar, masa gua yang masih sekolah yang masih berkewajiban untuk belajar gak di bayar?" ucapnya santai.

Kemudian Rahman berdiri."Kalau gak mau bilang aja dari tadi, gak usah pakai alasan yang gak jelas gitu," ucapnya dengan sedikit marah.

Kemudian dia langsung pergi meninggalkan Alicia yang masih duduk di kursi, di sela sela berjalannya Rahman menoleh ke Alicia yang masih duduk.

"Ternyata orang pintar belum tentu peduli ya, jadi percuma jika cuma pintar doang," ucapnya."Tapi kalau lo berubah pikiran, lo nanti bisa chat nomer gua, gua kasih tau lokasinya." Kemudian dia melanjutkan perjalanannya.

Dan kini tinggal Alicia sendirian yang duduk di sana, dia sedang merenungi ucapan Rahman. Dia tidak bisa menilai orang dari penampilannya saja tapi harus dari dalamnya juga.Ternyata cowok itu juga memiliki kepedulian yang mungkin tidak pernah ada di pikiran cewek yang di cap sebagai siswi terpintar itu.

Setelah mengingat kembali tentang anak yang kurang mampu, tiba tiba pikirannya tertuju ke Dewi, gadis kecil yang di temuinya kemarin.Dia juga sebenarnya kasihan dengan Dewi, gadis yang usianya mungkin jauh di bawah Alicia tapi keadaan yang memaksanya harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhannya sehari hari.

"Setuju gak setuju, pokoknya gua harus setuju dengan Rahman." Alicia tersenyum.

...EGSATO...

Beberapa saat setelah itu, kini Rahman sedang asik bermain bola di lapangan sekolahannya.

"Woi oper sini," ucapnya.

Andika memberikan umpan kepada Rahman yang sudah berada di depan gawang dan Rahman menendang bola itu dengan keras hingga masuk ke dalam gawang."Goal kan," ucapnya dengan tersenyum.

"Siapa dulu yang kasih umpan?"

"Gak peduli."

Sementara Alicia,T asya dan juga Rahmah kini sedang asik berjalan melewati koridor sekolah, untuk menuju ke kantin sekolah.

"Dia ngapain cariin lo Al?"

"Dia siapa?"

"Rahman lah, siapa lagi," jawabnya santai.

"Ada urusan penting tadi," ucap Alicia.

"Lo pacaran sama dia Al?" tanya Tasya dengan penasaran.

"Gak lah anjir, cuma gua ada urusan aja sama dia," jawabnya dengan santai.

Kemudian tiba tiba bola melayang dan tepat mengenai wajah dari Alicia.

"Anjir, kalian bisa gak sih hati hati kalau main bola," ucapnya.

Kemudian Andika yang mau mengambil bola itu pun menghampiri mereka bertiga."Maaf ya mbak ketua OSIS." ucapnya dengan tersenyum.

"Udah tau salah malah senyum senyum," saut Tasya.

Andika menoleh ke Tasya."Apasih lo? perasaan gak kena lo deh bolanya."

"Kan gua sahabat dia, jadi gua gak terima dong," kesalnya.

Alicia tersenyum ke Andika."Iya Andika, gua maafin kok."

"Tapi sebenarnya gak gua kok, tapi Rahman yang nendang tadi.Dia gak berani ngambil," ucapnya dengan tersenyum.

"Iya gak apa apa," Alicia tersenyum.

Kemudian mereka bertiga melanjutkan perjalanannya, mereka bertiga memulai langkahnya kembali.

"Emang gak sakit ya?" tanya Tasya.

"Gak kok, cuma gua kaget aja sih Sya." ucapnya dengan tersenyum.

"Beneran lo?"

"Iya gak apa apa," jawabnya santai.

Di tengah perjalanan mereka bertiga melihat siswa siswi yang sedang berduaan dan di kursi yang ada di depan kelas.Mereka adalah Riko mantan pacar dari Alicia, yang putus gara gara papanya melarangnya.

"Sayang kamu cantik banget deh hari ini," ucap Riko dengan tersenyum.

Tasya mendekatkan mulutnya ke telinga Alicia,"Lihat deh, lo gak iri apa sama mereka?" bisiknya.

Namun mereka bertiga tetap melanjutkan perjalanannya dan meninggalkan Riko dan Ferra. Alicia tidak memperdulikan mereka berdua yang asik berduaan.

"Lo gak panas apa Al?"

"Iya nih Alicia."

"Dia itu cuma mantan pacar gua, jadi gua gak berhak panas ataupun iri atas kebahagian mereka. Karena itu bukan urusan gua."

"Kan dia mantan pacar terbaik lo Al?" ucapnya dengan tersenyum.

"Terserah lo aja deh Sya, mau bilang apa?"

Kemudian mereka bertiga pun sampai di kantin sekolahan.Tak lama setelah kedatangan mereka bertiga.Tiba tiba Rahman dan teman temannya pun juga pergi ke kantin sekolah.

"Capek banget dah gua main bola," ucap Andika dengan nafas yang ngos ngosan.

"Iya gua juga capek."

Mereka pun duduk di kursi yang ada di sana. Sehingga membuat Alicia sedikit kesal dengan Rahman dan juga teman temannya yang tadi bermain bola.

"Bu nasi 2 ya," pesannya.

"Iya Non, duduk dulu Non," ucap Ibu kaniltin itu dengan tersenyum ke Alicia.

Sementara Rahman dan teman temannya pun berdiri dan berjalan meninggalkan kantin. Alicia menatap kepergian mereka hingga punggung mereka hilang dari tatapannya.

"Gak beli aja sok sokan mereka," ucap Tasya.

Kemudian mereka bertiga duduk di kursi yang di sediakan, sembari menunggu pesanan mereka jadi. Seketika Alicia kembali teringat dengan Dewi gadis kecil yang bertemu dengannya kemarin.

"Oh iya gua minta nomernya Rahman, punya?"

"Ada apa sih lo dengan Rahman aslinya? Jangan jangan lo pacaran lagi sama dia,"

"Gak anjir, yaudah gua kasih nomernya sekarang kalau ada," ucapnya.

"Tunggu dulu, gua mau minta nomernya ke Anggun teman sekelas Rahman," ucap Tasya.

"Cepetan jangan pakai lama."

"Iya iya santai."

...Lanjut ya gess...

*Insyaallah update setiap hari.

*Makasih yang udah membaca.

*maaf ya guys kalau telat update.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!