19) Semangat Gadis (Bagian 1)

Duduk menyilang kaki, membuka pin ponsel dan membuka potret anak gadisnya yang baru saja masuk ke dalam kelas. Usai bertemu dengan bu guru Anisa, Gadis lantas di ajak masuk karena memang waktunya sudah mulai untuk pelajaran pertama.

Tadi Gadis sempat bermain sebentar di play ground dengan teman perempuan barunya. Namanya Jelita dan Cantika. Kedua teman barunya itu sama-sama cantik seperti Gadis yang rambutnya diikat menjadi dua bagian. Kebetulan, orangtua kedua anak itu Soraya kenal, jadi ibu dua anak itu mendekatkan langsung anaknya dengan dua bocah kecil itu.

Di ruang menunggu anak-anak yang lebarnya lumayan itu hanya diisi oleh Soraya saja. Kata bunda Anna yang kebetulan tadi lewat, biasanya para ibu-ibu akan datang saat waktu istirahat. Menemani anak-anak mereka makan.

Saat ini Soraya lantas memilah potret Gadis yang sekiranya bagus, lantas mengunggahnya di sosial media. Dengan caption.

[Ibu, Ayah dan Kak Gata akan selalu ada sampai kamu bisa meraih cita-cita mu. Walaupun setinggi langit, namun percayalah dengan kekuatan cinta dan doa seorang ibu, juga usaha seorang ayah, apa yang kamu impikan akan terwujud. Semangat Gadisku ❤️ Hari pertama sekolah.]

Bibirnya tersenyum saat melihat senyum ceria Gadis di dalam ponselnya itu. Anak cantik itu membuatnya merasa kembali muda, ia seolah baru memiliki anak, karena bisa kembali mengulang mengantar anak ke sekolah. Maklum, jarak Gadis dan Gata sangat jauh, jadi ia sampai hampir lupa dulu seperti apa saat mengantar anak pertamanya ke sekolah.

Lagipula, dulu sekolah TK nya tak terlalu jauh, jadi tak terlalu diantar. Pun anak pertamanya dulu lebih mandiri dan memiliki begitu banyak teman, maklum dia berada di sana dari lahir, sedangkan Gadis ... Ia baru tiba beberapa hari yang lalu, jadi Soraya belum tega jika membiarkan anak itu bermain dengan yang lain. Wanita itu tidak ingin Gadis mendengar kata-kata ibu komplek yang kadang tak pandang bulu, asal buka mulut dan tak perduli pada rasa sakit hati.

Hingga benar saja saat hampir waktu istirahat, dua ibu-ibu muda datang. Sepertinya mereka baru pertama menyekolahkan anak mereka, terbukti dari penampilan yang masih terlihat seperti gadis.

"Baru ya, Bu?" begitu sapa perempuan cantik berpakaian elegan, dengan dress pendek selutut. Duduk di sebelah Soraya memangku sekotak makanan.

"Iya." jawab Soraya dengan senyum lebar.

"Rumahnya di mana?" tanya wanita yang satunya.

"Di komplek sini, nggak jauh," jawab Soraya lagi. "Kalian dari komplek mana?" sambung wanita iru bertanya.

Namun belum di jawab pertanyaan Soraya, datang lagi satu ibu-ibu yang mana adalah tetangga dari Soraya. "Eh, Dek Sora. Sudah di sekolahin anak suamimu?" suara itu membuat tiga wanita itu menoleh pada wanita paruh baya yang lantas duduk di sebelah Soraya.

"Ya Allah, capek banget jalan. Tahu kamu di sini tadi aku ikut, Nak Sora," sambung wanita paruh baya yang sepertinya menemani cucunya itu. Ia juga menepuk paha Soraya dengan tangan empuknya.

Dua wanita yang ada di sana, saling melirik. Terlihat tak suka pada perempuan paruh baya yang jilbabnya acak-acakan dan bicara dengan ngos-ngosan. Sementara Soraya, ia hanya tersenyum tanpa mengatakan apapun pada tetangga julid nya itu.

"Siapa nama anak suamimu?" tanya wanita itu lagi.

"Gadis," jawab Soraya singkat.

"Kok kamu mau sih, ngurus anak yang bukan anak kamu." ya ampun, nada bicaranya tidak pelan, membuat Soraya ingin segera mencekik leher wanita itu.

"Kok anda juga mau sih, ngurusin hidup orang. Biarkan saja lah, aku ngurusin anak siapapun, 'kan bukan urusan situ." skak mat. Wanita paruh baya itu lantas diam ditempat.

Soraya lalu tersenyum puas, pun dengan dua wanita muda lainnya. Yang mana lantas mengajak Soraya untuk pindah, dua wanita muda itu mengajak Soraya duduk di depan kelas anak-anak TK A. Tempat di mana Gadis dan kedua anak wanita itu ada.

"Huh, orang tua-orang tua ...," gumam wanita muda yang katanya bernama Sindi. Dan yang satunya lagi adalah Rina. Benar saja, dua wanita itu baru berusia 27 tahun, dan mereka menyekolahkan anak pertama mereka.

"Biasa, Rin. Eh tak panggil nama aja ya, soalnya lebih tua aku," begitu ujar Soraya.

"Hehe, tapi kita kelihatan seumuran loh, Bu Sora," ujar Sindi.

"Ah, aku jadi ge-er," Soraya tersenyum. Sampai bel istirahat berbunyi, ketiga wanita itu lantas tetap di sana. Menunggu anak mereka dibolehkan keluar dengan tertib satu-persatu.

Begitu keluar, Gadis terlihat ceria, terlebih saat mendapati Soraya langsung di depan kelas. "Ibu, aku dapat bintang empat," serunya pada sang ibu.

"Wah, hebat sekali anak ibu," puji Soraya.

"Aku dapat bintang lima, Ma," seru teman gadis pada Rina, pun dengan gadis lain pada Sindi.

"Bagus, good gril. Ayo sekarang duduk, udah kenalan 'kan sama Gadis?" ujar Sindi menyuruh putrinya duduk di bangku depan kelas yang tadi di duduki tiga ibu-ibu itu.

Gadis tersenyum kecut saat mendapati nilai temannya lebih banyak. Namun, Soraya lantas mengalihkan itu dengan mengajak anak gadisnya makan. "Sudah kenalan sama teman baru?" tanyanya pada Gadis setelah anak itu duduk.

"Sudah, itu namanya Princessa dan itu Prili," jawab Gadis menunjuk anak Rina dan Sindi.

Ketiga bocah kecil itu lantas saling bercerita, berbagi makanan. Pun dengan tiga orang tua itu, saling ngobrol dan semakin dekat. Sepertinya tiga manusia cantik itu merasa cocok dan pas untuk jadi satu komplotan ibu-ibu ceria. Karena memang obrolan mereka selalu membuat mereka tertawa.

...----------------...

Hingga saat pulang dan tiba di rumah, Gadis langsung meminta kembali belajar katanya agar esok bisa mendapatkan bintang lima.

"Cuci tangan dan kaki lalu ganti baju dulu, Sayang. Abis itu istirahat, masak belajar mulu. Tadi 'kan udah di sekolah," ujar Soraya seraya menaruh tasnya di kamar.

"Ibu, aku nggak capek. Aku pengin dapat bintang lima biar ibu senang." kata bocah itu sembari melepas pakaiannya dan mulai mengganti dengan setelan pendek yang sudah disiapkan oleh Soraya.

"Bintang empat juga ibu sudah bahagia loh, Dis." ujar Soraya seraya mendekat dan menggantung seragam Gadis. Netranya lantas mengikuti gerak-gerik anaknya yang kini pindah ke kamar mandi dan mencuci tangan serta kakinya.

"Nanti kalau aku dapat bintang lima, yang senang bukan cuma Ibu aja. Kak Gata dan ayah pasti mau kasih aku hadiah," ujar Gadis sembari mengelap tangannya.

Soraya tersenyum dan mengangguk. "Ibu harus kasih hadiah nggak?" tanyanya.

"Enggak. Hadiah dari ibu ini, udah ada." Gadis menunjukan kalung yang terus saja ia pakai.

Soraya mengangguk dan membiarkan Gadis kembali ke sofa dengan tas sekolahnya. Anak cantik itu lantas kembali belajar menulis, dan mewarnai. Ia ulang kembali apa yang tadi gurunya ajarkan di sekolah.

Terpopuler

Comments

Aqil Aqil

Aqil Aqil

lnjt smngt nlsx

2024-02-01

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!