3) Cerita Masa Silam

Tangisan Gadis semakin kencang, bahkan sampai sesenggukan. Bibirnya terus saja memanggil nama ibunya. Zaki kebingungan, ia tak tahu cara untuk mendiamkan anak kecil. Ia mencoba membawa gadis dalam gendongannya itu ke teras, namun Gadis tak kunjung berhenti menangis.

"Gadis, Sayang. Lihat itu ada pesawat, Gadis suka nggak?" Begitu ujar Zaki. Namun, Gadis benar-benar tidak perduli.

"Aku mau ibu, i-ibu."

Tangis Gadis semakin kencang, bahkan sampai terdengar ke dalam kamar Soraya. Wanita yang saat itu berdiri memandangi foto dirinya dengan Zaki itu lantas mengembuskan napas kasar dan mencoba untuk keluar.

"Rasanya aku nggak pengin perduli. Tapi ... anak kecil itu tahu apa?" tanyanya penuh kesal.

Memutuskan untuk menuruti hati nurani dan melawan ego, Soraya lantas keluar kamar dan mencari keberadaan Gadis yang suaranya masih begitu terdengar. Lalu, di sana lah, Gadis dengan ayahnya.

Zaki terlihat begitu pusing saat menghadapi anaknya yang terus saja menangis. Ia lantas memutuskan untuk membalik badan, berniat untuk mengajak anaknya itu kembali ke dalam rumah. Namun seketika ia mendapati Soraya berada di depannya, memandangnya dengan wajah datar.

Tiba-tiba tangan Soraya meraih Gadis, dan seketika anak kecil itu berada dalam dekapan seorang ibu.

Tangan kanan Soraya mengusap kepala Gadis, mulutnya seraya mengatakan. "Sssttt ... anak ibu diam ya, Sayang," ucapnya.

Seketika Gadis diam, hanya tersisa napas yang tersengal. Kedua tangan kecil itu memeluk leher seorang ibu. "Ibu," gumam Gadis lagi.

"Iya, ini sama Ibu, Nak." Kata Soraya lagi.

Perlahan Soraya membawa Gadis ke dalam rumah. Berjalan dengan pelan agar anak cantik itu semakin tenang. Sampai akhirnya ia bawa duduk di sofa dan Gadis yang berada di pangkuannya. Wajah anak kecil itu sembunyi di dada Soraya, dan wanita dewasa itu lantas mengusap serta mencium puncak kepala Gadis dengan sayang.

"Tenang ya, ini ada Ibu," ucap Soraya lagi.

Zaki hanya bisa meneteskan air mata saat melihat semua itu. Ia pikir istrinya tak akan mau membantu menenangkan anak bungsunya, tapi lihat ... kendati marahnya jelas begitu besar, namun tak akan wanitanya itu lampiaskan pada anak kecil yang tak mengerti apa-apa.

Setelah lumayan lama Gadis memeluk Soraya, gadis itu lantas mendongak. Memperhatikan wajah Soraya yang juga tengah melihat ke arahnya. Tangan seorang ibu itu lantas mengusap pipi basah Gadis.

"Gadis mau makan?" Tanya Soraya dan anak kecil itu menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Soraya sedikit tertawa, "mau makan apa?" Tanyanya selanjutnya.

"Mau telor," jawab si Gadis dengan malu-malu.

"Ok. Ibu buatkan, mau nunggu apa mau bantu?" Tanya Soraya lagi.

"Boleh bantu?" Tanya balik Gadis dengan sedikit takut.

"Boleh dong, ayo." Soraya menurunkan Gadis dan dirinya pun berdiri. Di gandengannya tangan kecil itu dan pergilah keduanya ke arah dapur. Zaki hanya bisa terdiam ditempatnya tanpa bisa berkata apa-apa.

Dengan telaten Soraya menyuapi Gadis. Ia bahkan terus saja tersenyum, begitu senang saat ada anak perempuan di dekatnya dan mau ia suapi.

"Enak nggak, telornya?" tanya Soraya.

"Enak, makasih ya, Bu," jawab Gadis yang kini wajahnya sudah ceria.

"Mmm, sama-sama, Nak Baik."

Keduanya asyik di meja makan, sampai tiba Gata datang dengan sekantong besar di tangannya. "Wah, itu Kak Gata," seru Soraya saat mendapati putranya.

"Oh, udah bangun. Kakak pikir masih tidur." Gata mendekat dan menaruh kantong besar berlebel mini market itu di meja. "Lihat ini, Kakak bawakan apa," sambung Gata.

"Kok, sembab, Bu." Ujar Gata sembari duduk di sebelah.

"Ssst, dia abis konser," jawab Soraya sembari sedikit tertawa.

"Kakak Gata bawa apa?" tanya Soraya lagi.

"Ni." Gata membuka kantong memperlihatkan nya pada adiknya itu. "Jajan banyak, Gadis mau yang mana?" Tanyanya pada si adik kecil.

"Mau ini." Gadis mengambil satu kotak yang berisi biskuit panjang dengan selai rasa strawberry di ujungnya.

"Oh, Gadis sukanya itu. Ok, besok pulang sekolah Kakak borong ya, buat Gadis," kata Gata lagi.

"Makasih, Kak," kata Soraya menjawab. Ia yakin, kalau Gadis masih malu-malu pada Gata, jadi dia sengaja mengatakan demikian agar si anak gadis itu mengikuti kata nya.

Ketiga manusia itu lantas makan cemilan yang Gata beli, Gadis si anak kecil itu lantas menyuapi makanan ringan itu pada Soraya dan sang kakak. Melupakan Zaki yang ketiduran di teras. Pria itu kelelahan dan kini tak ada lagi perhatian.

Bayangkan saja, semalaman penuh ia menemani Lana yang tengah kontraksi, sembari menemani sang anak ke dua. Hingga akhirnya pagi hari Lana tak kuat dan pergi membawa serta anak di dalam kandungannya.

Selain hancur, Zaki juga kebingungan saat itu. Sementara Lana, ia sudah tak memiliki orangtua, sama seperti dirinya dan Soraya. Jadi, seusai mengurus kepulangan jenazah istrinya dan memakamkan dengan warga sekitar komplek perumahan, ia lantas memutuskan untuk membawa Gadis pulang bersamanya ke rumah Sorya.

Hingga akhirnya, lelah itu terasa saat ia duduk di teras setelah mendapati anak cantik dan istri cantiknya memasak berdua di dapur. Ia bahkan hanya menjawab sekilas salam dari putranya yang pulang dari perginya.

Zaki bahkan sampai lupa rasa lapar, ia hanya merasa butuh istirahat sebentar.

Hingga saat malam tiba, Gata tak tega membiarkan ayahnya tidur dengan posisi duduk dan kepala yang menyandar di jendela. Ia bangunkan pria itu dan menyuruhnya untuk tidur di kamarnya. Tak baik rasanya jika menyuruh ayahnya untuk tidur di kamar tamu, sementara rumah itu adalah hasil keringat ayahnya sendiri.

Walaupun bersih dan rapi, namun, Gata tak mungkin seburuk itu. Terkecuali, nanti jika kamar itu sudah di rombak dan di jadikan kamar untuk si adik kecil. Mungkin, akan seperti itu nantinya, pikir Gata.

Usai dengan pindahnya sang ayah, Gata kembali ke kamar sang ibu, ia turut menemani si kecil kembali. Membacakan buku cerita jaman dirinya kecil dan mengajak adik perempuannya itu bermain.

"Kisahnya ... gimana Bu?" Tanya Gata pada ibunya. Saat sang adik barunya itu kini terlihat sibuk menggambar di buku kosong.

"Kisahnya nggak bagus," jawab Soraya.

Gata tersenyum,"ibu jangan coba-coba jodohin aku ya," katanya bercanda.

"Dijodohkan atau nggak, itu semua tergantung orangnya, Ta."

Gata mengangguk-anggukkan kepalanya setuju. Sampai akhirnya, ia melihat sang ibu menarik napas panjang dan mengeluarkannya perlahan. Ia yakin pasti kalau ibu cantiknya itu akan menceritakan kisahnya dulu dengan sang ayah.

"Dulu ... Ibu adalah anak yang baik, walaupun nggak pake jilbab sampe sekarang," jelas awal sang ibu itu.

"Tapi ibu nggak pernah mau pacaran, Ta." ia menoleh ke arah sang putra. "Jadi, nenek dan kakekmu lalu menjodohkan ibu dengan Zaki-ayahmu," sambungnya penuh kesal saat mengucapkan kata 'Zaki.'

Gata mengangguk sembari tersenyum.

Terpopuler

Comments

Aqil Aqil

Aqil Aqil

lnjt thor...tiap hr updetx,smngt nlsx 💪💋

2024-01-17

0

aqil siroj

aqil siroj

lanjut thorrr

2024-01-17

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!