4) Keinginan Sora

"Tapi saat itu, ayahmu sudah punya pacar. Namanya Lana-ibu dari Gadis," sambung Soraya dengan suara pelan. Pun menoleh ke arah Gadis saat ia mengucap kata Lana.

Gata juga melihat ke arah Gadis. Ia menganggukkan kepalanya dengan mulut yang membentuk huruf o. "Terus?" tanyanya.

"Ya gitu ... Dia nerima perjodohan, cuman bilang sama ibu, kalau dia punya pacar. Hanya saja, kisah cintanya nggak direstui sama kedua orangtua mereka. Nggak tahu jelasnya lah ya, masalahnya apa. Yang jelas, kayaknya, karena perbedaan kasta," ujar Soraya dengan mengedikan bahunya di akhir cerita.

"Ibu keselnya tuh, kenapa harus selingkuh dan bawa pulang anak lain. Harusnya dia jujur aja, kalau ketemu mantannya dan mau balikan," kata Soraya lagi. Netranya sibuk memperhatikan Gadis.

"Emangnya Ibu ikhlas, kalau ayah balik lagi sama mantannya?" tanya Gata.

"Ya enggak lah, saat itu juga ibu bakalan minta cerai. N a j i s banget jaman sekarang di madu," kata Soraya dengan berapi-api.

Gata tertawa lirih. "Tapi Ibu nggak marah 'kan, sama Gadis?"

Soraya menggelengkan kepalanya. "Enggaklah. Dia nggak tahu apa-apa, dia juga nggak tahu kalau hadir dari hasil perselingkuhan. Ya ... Kalau emaknya masih ada sih, ibu juga nggak mau ngurus dia. Tapi, karena ibunya udah nggak ada, jadi ya udah lah. Anggap aja ini rejeki."

"Ibu masih marah--"

"Jelas, masih marah. Jangan tanya!" kesal Soraya yang menoleh pada anaknya.

"Haha." Gata meraih pundak sang ibu dan memeluknya. "Ibuku hebat banget, asli. Sayangi Gadis kayak Ibu sayang sama aku ya, ibunya udah nggak ada, dia jelas butuh banget kasih sayang seorang ibu," sambung anak tampan itu pada ibunya.

"Iya lah Ta, mungkin ini udah jalan takdir hidup ibu harus kayak gini. Punya anak perempuan dari orang lain dan dengan suami ibu sendiri," begitu ujar pelan Soraya.

...----------------...

Semalam, Gadis tidur di kamar Soraya, dengan ibu dan kakak barunya. Sedikit lupa, gadis kecil itu kini sudah mulai ceria. Terlihat saat bangun pagi, ia langsung duduk dan menonton televisi di kamar. Sementara Soraya memasak, dan Gata siap-siap ke sekolah.

Ya ampun, seandainya Gadis adalah anak yang keluar dari rahimnya. Soraya jelas akan sangat bahagia. Melebihi rasa bahagia saat ini.

Tangannya tengah sibuk mengiris bawang untuk di goreng, suaminya datang dengan wajah khas bangun tidur. Bahkan pakaian pria itu kini kekecilan karena memakai kaos serta bokser milik sang anak.

Soraya yang masih kesal tak perduli. Ia bahkan merasa tak sudi untuk melirik apalagi melihat ke arah sang suami. Bahkan saat Zaki bertanya padanya, ia tak menjawab sedikitpun.

"Ra, mmm ... Selamat pagi. Masak apa?"

Zaki yang dikacangin itu akhirnya pergi ke kamarnya, berniat untuk mandi dan kembali pergi kerja. Masalah sarapan, ia pikir gampang nanti. Yang terpenting baginya, mandi dan ganti baju. Lagi pula, niatnya hari ini dia juga akan menjual rumah di komplek lama. Rumah yang tadinya ia tempati dengan Lana sang mendiang istri ke dua.

Niat Zaki, nanti hasil penjualannya akan ia berikan pada Soraya, karena ia membeli rumah itu juga atas namanya. Karena memang Lana pun dulu tak pernah meminta dibelikan rumah. Yang terpenting baginya adalah cinta dari Zaki saja.

Begitu masuk ke kamar, Zaki mendapati anaknya tengah duduk santai. Ia hanya sekilas menyapa dan mengusap kepala sang anak. Lantas, benar-benar pergi ke kamar mandi.

Selagi sang ayah mandi, gadis cantik itu lantas turun dari ranjang dan keluar kamar. Mencari keberadaan seseorang yang membuatnya merasa nyaman.

"Hai ... Anak Cantik. Sudah nontonnya?"belum Gadis menemukan sosok itu, suaranya sudah terdengar. Membuat Gadis menoleh dan tersenyum. Lalu kakinya melangkah mendekat ke arah sang ibu yang ada di dapur.

"Kenapa, Gadis mau minum?" tanya Soraya sembari jongkok di depan Gadis.

Anak itu menggelengkan kepalanya, lalu menoleh ke kanan dan kiri entah mencari apa. Soraya pun turut melihat ke arah yang Gadis lihat.

"Kenapa?" tanya Soraya lagi.

"Mau makan, laper," jawab Gadis pelan.

"Oalah ya ampun, anak ibu lapar. Ok, sekarang Gadis duduk dulu ya. Masakan ibu sebentar lagi siap." Soraya menggendong anak itu dan mendudukannya di kursi makan. "Sebentar ya." sambung Soraya yang lantas berlalu meninggalkan gadis di kursi makan memandangi kepergian dirinya.

"Pagi, Bu ... Pagi Gadis." suara Gata terdengar. Ia mendekat ke arah adiknya dan duduk disebelahnya.

"Pagi, Putraku." jawab Soraya yang kini sudah kembali ke meja makan dengan makanan di tangannya.

Sementara Gadis, ia hanya bisa tersenyum ke arah kakaknya itu. Entah kenapa ia merasa sangat senang karena ada kakak yang baik padanya.

"Wah, nasi uduk ni pasti." seru Gata lagi. Kendati sudah remaja, namun pria itu memang sangatlah dekat dengan ibunya. "Gadis suka nasi uduk nggak?" tanya pemuda itu pada sang adik. Adik cantik nan manis itu lalu menganggukkan kepalanya.

"Iya dong. Kamu ambilkan buat Gadis ya, Ta. Ibu ambil kerupuk." Soraya kembali ke dapur.

"Ok." Gata menurut. Ia mengambilkan nasi untuk Gadis. Tak lama Soraya juga sudah kembali dari dapur dengan kerupuk dan lauk. Ia bahkan langsung duduk di sana, bersiap mengambil makanan. Namun urung saat mendapati sosok yang baru keluar dari kamar, menuju ke arah meja makan.

Gata dan Gadis juga menoleh, "makan, Yah." ujar anak tampan itu.

Melihat Soraya yang menoleh ke arah lain, Zaki jadi urung untuk duduk. "Mmm, ayah masih kenyang. Ayah berangkat aja, ya." ujarnya pada sang putra. "Gadis, ayah berangkat kerja dulu ya. Kamu baik-baik di rumah, jangan nakal," sambung Zaki pada anak ke duanya.

"Sora. Aku berangkat. Assalamualaikum." Pria itu segera meninggalkan ruang makan, tanpa balasan dari istrinya.

"Wa'alaikumsallam." jawab Gata.

Seusai tak lagi terlihat, Soraya mengembuskan napas kasar agar tak kembali mengeluarkan air mata untuk pria sialan itu. Ia benar-benar tak ingin menangis untuknya.

"Bu," panggil Gata.

Soraya menoleh ke arah sang anak. "Makan. Aku nggak mau ibu sakit," ujar Gata.

"Makasih, Nak. Ayo kita makan, Gadis, kamu makan yang banyak ya."

Melihat Gata yang sudah dewasa rasanya ia ingin pergi saja, anaknya itu sudah tahu mana yang benar mana yang salah, tapi ... Ia merasa takut meninggalkan gadis kecil itu. Astaga, Gadis bukan anak Soraya, tapi entah kenapa hati ibu baik itu masih memikirkan anak dari selingkuhan suaminya.

Kembali lagi, Soraya tak bisa menyatukan masalah dirinya dan suaminya dengan anak yang tidak mengerti apa-apa.

"Bu, makan." suara Gata membuyarkan lamunan ibu cantik itu.

"Ta, kalau ibu sama kamu dan Gadis aja gimana?" tanya Soraya pelan.

Gata menyudahi makannya dan beranjak dari duduknya, memeluk ibunya dan mengatakan sesuatu dengan lirih. "Ibu tenangin hati Ibu dulu ya, pikirkan lagi baik-baik."

Terpopuler

Comments

Teh Euis Tea

Teh Euis Tea

ansknya emang ga salah tp itu bukti penghianatan suamimusalut sm sora yg tetap syng sm anak selingkuhannya

2024-04-03

0

aqil siroj

aqil siroj

si zaki maruk banget... si lana juga udah tau suami orang malah mau" aja....
tinggalin aja lah sora, kamu pasti dpt yg lebih baik dr zaki biar si zaki nyesel plus menderita sendirian deh

2024-01-18

1

Aqil Aqil

Aqil Aqil

ksi aja pljarn buat jg sizaki cmburu biar tau rs bgmn diduakan,sukses slalu thor smngt nlsx💪

2024-01-18

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!