16) Tak Rela Meninggalkan

Usai membereskan koper Soraya lalu pergi ke luar kamar. Ia sedikit heran saat di ruang tivi sudah tidak ada Gadis, lantas ia pun mencoba mencari di kamar anak perempuan itu, namun di sana juga tak ada. Hingga akhirnya ia mencoba mencari di kamar sang anak pertama, di sana pun juga tak ada. Bahkan suami yang sudah keluar lantaran ia usir, dan anak pertamanya pun turut tak terlihat.

Namun saat ia mencoba ke arah luar ia bisa mendengar suara Gadis. Soraya menganggukkan kepalanya sembari membulatkan mulut membentuk huruf O setelah melihat tiga manusia itu tengah bermain bersama di sana. Dia mundur dan tak ingin mengganggu.

Namun ....

"Ta, kamu mau 'kan bantuin ayah?" Suara Zaki yang pelan itu masih bisa didengar oleh Soraya, membuat dirinya mengurungkan langkah untuk berbalik arah.

"Iya, Yah. lagian Ayah tenang aja kenapa sih. Ibu nggak akan macem-macem. Ibuku sangat baik Yah, nggak akan kayak Ayah."jawab Gata yang sepertinya kesal pada sang ayah.

Bagaimana tidak kesal jika saat ia tengah mengerjakan tugas lewat online dengan teman-temannya, tapi pria dewasa itu malah mengganggunya dan mengajak dirinya ke teras untuk membicarakan ibunya dan esok hari saat ia tengah pergi.

Cemburu dan curiga Zaki justru membuat Gata merasa kesal. Ia seolah tengah menghadapi anak remaja yang takut kehilangan pacarnya.

Soraya yang mendengar itu tertawa lirih dari balik pintu. Ingin rasanya ia tertawa terbahak-bahak karena anaknya menjawab dengan kata yang memati kutu kan sang ayah.

"Memangnya ayah kenapa, Kak?" Rupanya Gadis juga mendengar apa yang dibicarakan kakak dan ayahnya.

"Hah." Gata terkejut. Ia pikir adiknya tak akan mendengar dan akan konsentrasi pada ponsel yang kini tengah menampilkan video kartun luci kesenangannya. "Ayah nggak kenapa-kenapa, Gadis," sambung Gata.

"Ck, kamu udah kayak ibu kamu deh, Ta," gerutu Zaki.

"Buah jatuh nggak jauh dari pohonnya, Yah. Tapi aku berharap aku jatuh nya menjauh dari Ayah." Lagi-lagi ucapan Gata itu membuat Zaki kesal, namun tidak dengan Soraya yang merasa benar.

...-------------...

Pagi yang tak diharapkan itu datang. Zaki yang sudah siap bolak-balik melihat ke arah Soraya yang ada di dapur. Entah kenapa wanita itu pagi ini malah sudah cantik dengan polesan makeup tipis dan rambut yang di gerai indah menutupi bahu. Ya bahu, karena hari ini Soraya memakai dress selutut motif bunga kecil dengan leher model sabrina.

Astaga, rasanya Zaki benar-benar tak ingin meninggalkan wanita cantik itu. Bagaimana bisa dia meninggalkan istri cantiknya begitu lama, dan nanti istrinya justru akan bertemu dengan lelaki lain. Ya ampun, jangan salahkan pria itu jika saat ini tiba-tiba dia merasa mulas dan ingin balik ke kamar mandi. Rasa cemas dan cemburu menjadi satu, membuatnya tak bisa berbuat apapun.

Sementara Soraya, ia justru sengaja seperti itu. Menjahili suaminya adalah hal yang tengah menjadi favorit baginya, akhir-akhir ini. Padahal dulu ia tak pernah melakukan ini. Pakaian yang saat ini ia pakai, biasanya ia kenakan saat sang suami baru pulang dari luar kota. Namun kini terbalik. Terlebih saat kembali mengingat kesalahan pria itu, jelas menambah semangat dirinya untuk membuat pria itu tersiksa karena cemburu.

"Ra, kalau aku di pecat gimana?" Tanya Zaki tiba-tiba pada istrinya, ia tengah membungkuk memegangi perut yang rasanya tengah aneh.

"Apa?" Tanya Soraya seraya menoleh ke belakangnya. "Kalau kamu di pecat ya, aku cari yang kaya," sambungnya membuat Zaki melebarkan kelopak matanya.

Zaki menggelengkan kepalanya. "Jangan." Katanya buru-buru ke kamar guna mengambil kopernya yang sudah disiapkan oleh Soraya. "Aku berangkat, Ra. Tolong jaga diri, jaga hati. Aku cinta mati sama kamu." Tak lupa seusai mengatakan itu Zaki mencium pipi istrinya dengan cara mencuri. Karena ia yakin untuk saat ini tak ada ulasan cinta nan lembut yang akan mengantar kepergiannya ke luar kota.

Soraya memiringkan bibirnya, tersenyum puas saat suaminya terlihat khawatir padanya. "Kekhawatiran kamu berlebihan, Yah. Padahal dulu kamu nggak pernah memikirkan hal yang demikian," ujarnya seraya mengusap pipinya yang terasa tebal, ciuman dari bibir suaminya seolah masih tersisa di sana.

Ciuman yang bisa di bilang lama sekali sudah tak ia dapatkan. Kesibukan dan kerelaan dirinya akan kepercayaan cinta membuatnya tak perduli pada perlakuan manis suaminya, tak pernah merasakannya dengan hati. Ia hanya berdoa untuk kemudahan suaminya, sampai lupa berdoa agar cinta suaminya tak terbagi. Yang akhirnya cinta itu terbagi dan ia merasakan sakit hati.

Menatap kepergian Zaki yang buru-buru itu ia yakin kalau suaminya itu sudah terlambat, dan itu semua karena lelaki itu tak ingin meninggalkannya. Hingga saat sudah benar-benar pergi pria itu, lantas ia buru-buru masuk kamar untuk mengganti pakaiannya.

Untuk sehari-hari ia lebih nyaman memakai celana dan kaos biasa. Ia memang akan terlihat lebih cantik dan muda dengan pakaian yang tadi, tapi itu bukan Soraya yang akan memamerkan kecantikan bukan pada pemiliknya. Dia memang belum menutup seluruh tubuhnya, namun ia tahu batasan mana yang sopan. Lagi pula ia tak mungkin memakai pakaian itu dan di lihat oleh anak-anaknya.

Lalu seusai mengganti pakaian, ia lalu kembali melanjutkan masaknya untuk sarapan. Karena tadi untuk suaminya ia sudah membuatkan kopi dan roti bakar.

Baru memulai kembali masaknya, pesan dari Zaki sudah muncul begitu banyak. Namun isinya sama, semua pesan berisi tentang dirinya agar tidak macam-macam saat bertemu dengan orang lain. Rupanya Zaki benar-benar percaya kalau dirinya akan pergi menemui Ibnu. Padahal semua itu hanya tipu-tipu.

[Sayang, tolong jaga hati kamu.]

[Jaga milik buaya berkepala kampret, jangan sampai di miliki sama buaya lain ya ]

[Aku begitu mencintaimu, Bidadari ku ❤️]

[Kalau ketemuan jangan lama-lama, ya Sayang.]

[Atau aku nggak akan tenang dan nggak bisa kerja. Nanti kalau aku di pecat kamu cari yang lain. Terus nanti aku sama siapa?]

Masih banyak lagi pesan dari lelaki itu, membuat Soraya menonaktifkan ponselnya karena merasa berisik. Namun rupanya, tidak sampai di sana, tiba-tiba anaknya yang baru bangun juga kesal padanya, membuatnya bingung namun berujung tertawa.

"Ibu ... Ibu ngapain Ayah sih!?" Gata yang baru keluar dengan muka bantal itu terlihat kesal.

"Ayah telpon terus, kirim chat terus. Ya ampun, Ibu bikin ulah apa?" tanya pria itu dengan wajah melas. Pasalnya ia baru tidur sangat larut karena banyak tugas yang harus ia kerjakan dan banyak pelajaran yang harus ia pelajari agar saat ujian ia bisa membanggakan orangtuanya. Jadi, seusai subuh tadi ia mengatakan pada Soraya akan bangun siang. Tapi ini ... Ia justru diganggu oleh sang ayah tercinta, hanya untuk menjaga ibunya. Sungguh jika saja Zaki adalah temannya, ia akan memblokir nomor lelaki itu.

"Hahaha, matiin aja ponsel kamu Ta, nggak usah di urusin." ujar Soraya tak perduli pada anaknya yang pusing di teror suaminya.

Gata hanya bisa mengembuskan napas kasar, setelahnya ia lantas pindah ke kamar sang ibu. Ia lebih memilih tidur dengan sang adik dan menyambung mimpinya di sana. Meninggalkan ponsel yang tetap berbunyi di kamarnya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!