Malam sudah akan gelap, namun sang pemilik rumah tak kunjung pulang. Membuat pria dewasa yang merasa kelelahan itu sampai tertidur di kursi yang ada di teras. Hari ini padahal dirinya pulang cepat karena tidak lagi mengikuti rapat dengan sang atasan. Tapi ternyata, kepulangannya malah membuatnya tersiksa. Bagaimana tidak saat ia merasa haus dan lapar, tapi pada kenyataannya ia malah tak bisa masuk ke dalam rumah karena kunci yang hanya ada dua itu di bawa semua oleh Soraya dan Gata.
Rasanya Zaki ingin berteriak saat teleponnya tak dijawab oleh sang istri, dan hanya di balas 'nanti', oleh sang anak. Padahal, waktu menunggu sudah Zaki pakai untuk ngobrol dengan tetangga yang kebetulan lewat. Tapi sayangnya, perginya sang penghuni rumah lebih lama dari duduknya dia dengan tetangga.
Hingga saat dua motor terdengar dan membuat pria yang kelelahan itu lantas terbangun dari tidurnya. "Akhirnya pulang juga kalian," ujar Zaki saat melihat sang putra turun dari motornya. Pun dengan Soraya dan Gadis.
"Ke mana aja sih, Ra?" tanya Zaki pada sang istri. Dirinya masih setia duduk di kursi walau sudah menegakkan duduknya.
"Assalamualaikum, Yah." sapa Gata saat sudah menaruh helm dan menyalami sang ayah.
"Wa'alaikumsallam. Bukain dong, Ta. Ayah lapar nih, hampir pingsan. Mana nggak ada uang lagi, jadi nggak bisa beli jajan buat ganjal," ujar Zaki jujur.
Soraya yang menenteng kantong besar itu hanya melirik kesal tak perduli pada buaya berkepala kampret itu. Sementara Gadis yang kelelahan juga hanya diam. Karena jujur saja bocah kecil itu masih ingin tiduran dan istirahat setelah seharian main sepuasnya.
"Iya Yah. Sabar." Gata mengambil kunci dan membuka pintu kayu berwarna cokelat tua itu. Lantas begitu di buka, Gata masuk dan di susul Zaki yang sudah kelaparan. Bahkan pria dewasa itu langsung menuju ke meja makan tanpa sempat cuci tangan.
Soraya yang melihat itu hanya memasukkan bibirnya kesal. Sebenarnya ada rasa sedih saat harus melihat pria itu kelaparan karena uang yang ia bawakan sedikit. Tapi jika mengingat sakit yang ia rasa, ia selalu mengatakan kalau itu semua tak sebanding dengan luka yang ada di dalam dadanya.
"Gadis, Sayang. Cuci tangan dan kaki yuk, terus ganti baju." ajak Soraya saat sudah berada di depan kamar sang anak ke dua.
Entah karena dengan Soraya atau memang dasarnya penurut. yang jelas, Gadis benar-benar menuruti setiap kata dari seorang ibu itu.
Hingga saat waktu sudah malam. Saat Gadis baru saja terlelap di pangkuan Soraya di sofa ruang televisi, sementara Gata baru keluar dari kamar karena baru saja menyelesaikan tugas, dan Zaki terkejut karena anaknya bertanya pasal seseorang dari masa lalu istrinya.
"Om Ibnu beneran nggak sengaja ketemu ibu?" tanya Gata yang dari kamar langsung duduk di sebelah ibunya. Pemuda itu tak tahu jika sang ayah duduk di kursi makan tengah memakan buah semangka yang sudah di potong dan tersedia di dalam lemari es.
"Beneran lah, Ta. Masak ibu janjian sama dia," jawab Soraya jujur.
Zaki yang mendengar nama pria dari masa lalu istrinya itu lalu memasang telinga. Ada rasa kesal saat tahu istrinya pergi dan bertemu dengan pria lain.
"Om Ibnu beneran Bu, udah cerai?" tanya Gata lagi.
"Iya, udah katanya. Sayang banget yah, padahal pekerjaan Mas Ibnu sekarang lagi berkembang banget loh. Cafe nya di mana-mana, toko baju dengan brand-brand ternama juga banyak. Eh, malah istrinya minta cerai katanya," ujar Soraya lagi.
"Kasihan." Gata menganggukkan kepalanya. "Ada-ada aja ya Bu, kebanyakan manusia kurang banyak bersyukur. Sudah di kasih berlian malah minta perak," sambung Gata tanpa menyinggung siapapun karena sebenarnya ia masih belum tahu kalau sang ayah duduk mendengarkan di sana.
"Hm, kaya buaya berkepala kampret. Nggak ada syukur-syukurnya." Gata menoleh ke arah sang ibu. Ia tersenyum saat mengerti buaya mana yang dimaksud oleh wanita itu.
"Oh iya, Sabtu katanya Mas Ibnu mau ketemu lagi, dia bakal bawa anaknya Ta," sambung Soraya yang lantas membuat Zaki berdiri dari duduknya dan mendekat ke arah mereka.
"Kamu mau ketemu Ibnu lagi, Ra?" tanya Zaki dari belakang Gata dan Soraya, membuat ibu dan anak itu menoleh.
Keduanya bisa melihat wajah cemburu yang Zaki rasakan. Sampai mengundang jawaban dari Soraya. "Iya. Emang kenapa?"
"Ngapain?" Tanya Zaki dengan kesalnya.
"Ya ketemu. Pakai nanya lagi!" kesal Soraya yang lantas tak perduli. Ia bahkan langsung menggendong Gadis dan membawanya ke kamar. Meninggalkan Zaki yang kini di landa cemburu.
"Ta, gimana-gimana ... Kalian tadi ketemu sama si Ibnu?" Zaki memutari sofa dan duduk di sebelah sang anak.
Gata mengangguk. "Iya, pas aku datang udah ada Om Ibnu di sana. Tapi mereka cuma ngobrol biasa kok. Nggak ada yang lain," ujar pemuda itu.
"Iya harusnya kamu bilang ayah dong, Ta. Biar ayah bisa nyusul," kesal Zaki.
Gata hanya tersenyum kikuk, karena tak berpikiran sampai ke sana. Ia lupa kalau ayah dan ibunya saat ini masih marahan.
"Kamu nggak tahu yah, kalau selingkuh itu berawal dari obrolan biasa," sambung Zaki yang benar-benar merasa kesal saat membayangkan istri cantiknya itu di lihat oleh lelaki lain.
"Hehe," Gata tertawa pelan. "Ayah lagi ngomongin Ayah sendiri," katanya yang mana membuat Zaki menoleh dan mengembuskan napas kesal.
"Ck, kamu nggak dukung ayah ya," kata Zaki pelan. Ia dia tahu dia pernah selingkuh, tapi dia tetap saja tak ingin di salahkan kembali. Menurutnya itu sudah berlalu dan berharap jangan di balas juga dengan pengkhianatan. Karena ia benar-benar mencintai Soraya, bahkan dengan teramat sangat.
Astaga, entah harus dengan apa Zaki mengutarakan perasaanya agar anak dan istrinya itu percaya. Tapi sepertinya percuma, setahun kebaikannya sudah tertutup oleh kesalahannya sehari. Begitulah kira-kira perumpamaan untuk pria yang pernah selingkuh itu.
Seusai sang anak diam, Zaki lantas beranjak dan masuk ke kamar Gadis. Ia merasa kesal dan cemburu yang ia rasakan membuat dirinya ingin menemui Soraya dan meminta serabi yang selalu menghangatkan. Tapi sayang, ia tengah berada di keadaan hukuman. Jadi, apapun yang ia inginkan ia tahan.
"Sampai kapan ini, Ra," gumam Zaki seraya menatap langit-langit kamar.
"Aku tahu, diselingkuhi itu sakit. Tapi, kamu jangan balas ya," sambungnya dengan konyol dan keegoisan yang hakiki.
Seperti layaknya pemuda yang tengah jatuh cinta dan cemburu, Zaki sampai lupa pada usia dan anak yang sudah dua. Ia bahkan sampai tak bisa tidur semalaman hanya karena memikirkan apa obrolan antara istrinya dan teman prianya, pun bagaimana wajah cantik Soraya saat dipandang oleh lelaki lain.
"Aku aja ngelihat Soraya cantik banget, bagaimana dengan mata pria lain. Agghhh ... Sora. Kamu bikin aku nggak bisa tidur." Zaki berteriak, namun wajahnya ia tutup dengan bantal agar suaranya tak terdengar ke manapun.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
Teh Euis Tea
rasain emang enak lo zaki baru begitu aj cemburu gimana sora di selingkuhin sampe punya anak
2024-04-03
0
Siti Aisyah Aisyah
smngat trs thor dn lnjut up
2024-01-25
1
Aqil Aqil
sy ksi vote thor tmbh'ai upx dong
2024-01-25
1