2) Penjelasan

Zaki mendekat, ia meraih dua pundak sang putra pertama. "Gata, maafkan ayah, ya," ucapnya pada sang putra.

"Ayah udah salah, ayah memiliki anak lain dan anak itu yang saat ini berada di sofa," sambung Zaki pada Gata. Saat itu putranya akan marah, namun netra pemuda itu bersitatap dengan sang ibu, yang mana ibunya lantas menggelengkan kepala, pertanda bahwa anaknya tak harus marah.

"Dengar dulu, Gata. Ayah tahu, ayah salah. Tapi ... Saat ini ibu Gadis sudah meninggal dan dia tidak punya siapa-siapa selain ayah, dan ayah tidak mungkin meninggalkannya sendirian," buru-buru Zaki mengatakan saat mendapati sang putra mengepalkan tangannya.

"Pukul ayah, Gata. Asal itu bisa membuat kamu lega dan puas atas segala kesalahan yang ayah buat." pria berusia 45 tahun itu melepaskan tangannya dari pundak sang anak. Ia benar-benar pasrah.

"Kamu sedang berduka, Yah?" tanya Gata. "Istrimu meninggal dunia, Yah?" sambung pemuda yang masih berseragam sekolah itu.

"Terimakasih, Yah. Udah bawain aku adik, tanpa susah payah aku menunggunya." Gata menyingkirkan tubuh ayahnya dan mendekat ke arah sang ibu. Memeluk wanita kesayangannya, wanita cantik yang menjadi cinta pertamanya.

"Keluar kamu, Yah." suara Soraya terdengar lemah, namun, sang suami menuruti apa keinginannya. Bahkan, Zaki lantas menutup pintu kamarnya dari luar. Membiarkan istri dan anaknya di dalam sana.

...----------------...

"Sabar ya, Bu," ujar Gata pada ibunya.

"Sakit, Gata," ucap Soraya dalam dekapan sang putra. "Kamu ingat ini, Gata. Jangan sesekali kamu sakiti hati perempuan, jangan," sambung wanita itu dengan air mata yang kembali menetes.

"Jika suatu saat nanti, kamu sudah menikah dan kamu mencintai perempuan yang baru kamu kenal setelah istrimu, hilangkan cinta yang baru itu, Gata. Karena itu hanya akan membunuhmu." Gata mengangguk-anggukkan kepalanya. Mengusap punggung sang ibu tercinta agar wanita yang telah melahirkan dirinya itu merasa nyaman dan tenang.

Gata tahu, ibunya hanya sedang meluapkan amarahnya dengan ngomong panjang kali lebar, dan seperti biasa, ia akan menenangkan wanita itu. Karena, kadang saat ibunya tengah kecewa karena keberadaan sang suami tercinta yang selalu di luar kota, ia akan menjadi pelampiasan dari wanita itu. Pelampiasan nya tak pernah berupa amarah, namun berupa wejangan -wejangan untuk nanti saat sudah menikah.Itulah yang membuat Gata semakin sayang pada ibunya.

"Ibu sabar ya, aku janji nggak akan menyakiti perempuan, Bu. Karena aku tahu, kalau aku menyakiti perempuan, sama aja aku menyakiti Ibu. Sekarang Ibu tenang dulu, semua udah terjadi Bu. Walaupun sakit banget rasa yang dirasa dalam hati, Ibu. Tapi kita bisa apa, Bu."

"Iya, kamu bener. Tapi ... Kalau ibu pengin pisah aja sama ayah kamu, gimana?" tanya Soraya pada anaknya itu.

"Apa itu akan menyelesaikan masalah, Bu?" tanya balik sang putra.

"Ibu nggak tahu," jawab Soraya pelan. Sebagai wanita, ia tentu saja merasa marah dan sangat terluka saat membayangkan lelakinya ber-cinta dengan wanita lain, bahkan ia tak sangat jijik jika mengingat segalanya.

"Ibu tenangin diri dulu ya, aku keluar sebentar." Gata melepas tubuh sang mama dan menyuruh wanita kesayangannya itu untuk tiduran agar sedikit saja lebih tenang.

Soraya mengangguk, ia merebahkan kembali tubuhnya dan membiarkan anaknya keluar.

...----------------...

"Tidurkan di kamar aku aja, Yah," suara Gata membuat Zaki mendongak ke arah sang putra. Saat ini, Zaki tengah memangku putrinya yang tertidur lelap.

"Boleh?" tanya Zaki pada putranya.

Gata mengangguk seraya pergi ke arah kamarnya. Ia membuka pintu kamar dan mempersilahkan sang ayah yang tengah menggendong Gadis untuk masuk. Di ranjang yang selalu rapi karena ada sosok seorang ibu yang sigap membereskan tempat tidurnya, Gata menata bantal untuk tidur sang adik. Ya, gadis adalah adiknya, bukan.

Dengan pelan, Zaki meletakkan Gadis di ranjang empuk milik putranya. Gata lantas menaruh tas sekolah dan menyalakan pendingin ruangan, setelah itu, ia lantas menyelimuti adiknya itu.

"Gata," Zaki benar-benar terharu pada anaknya yang bisa mengatur emosi. Putra pertamanya bahkan tak marah ataupun benci pada Gadis-adiknya.

"Aku nggak tahu, Yah. Kenapa awalnya Ayah sampai nyakitin banget hati Ibu. Tapi, aku juga nggak bisa benci sama anak kecil ini, dia nggak tahu apa-apa, Yah. Dan, aku harap ... Seusai ini, Ayah jangan lagi-lagi nyakitin perasaan Ibu. Ibu selama ini udah benar-benar menjaga aku, menjaga hati saat jauh dari Ayah. Menunggu kepulangan Ayah sampai kesal dan berniat marah pada Ayah, tapi ... Ayah lihat sendiri 'kan, setiap Ayah sampai. Ibu menyambut Ayah penuh keceriaan, lupa akan segala amarah yang pernah ia rasakan. Jadi ... Jika nanti ibu minta--"

"Jangan, Gata. Ayah nggak mau pisah sama Ibu kamu," potong Zaki segera. "Tolong bujuk ibu kamu, dia boleh marah ataupun benci sama Ayah, tapi tolong jangan minta pisah," sambung pria dewasa yang terus saja mengeluarkan air mata itu.

"Kalau itu, Ayah ngomong sendiri. Untuk saat ini, kebahagiaan ibu lebih penting buat aku Yah." Gata keluar dari kamarnya.

Sementara Zaki, ia benar-benar tengah ketakutan. Ia benar-benar tak siap jika Soraya minta pisah darinya. Karena wanita itu adalah cintanya juga. Antara Lana dan Soraya, keduanya tidak bisa di bandingkan. Sama-sama pemilik hatinya.

Pria itu lantas duduk di bawah dan menutup wajahnya dengan telapak tangan. Bak anak kecil yang tengah menangis, pria itu sesenggukan. Kesedihan begitu terasa dalam dirinya. Kehilangan dan kemarahan. Ia tahu pasti ini adalah sebuah kesalahan besar, tapi ... Ia tak pernah menyangka jika semuanya akan jadi seperti ini.

Padahal niatnya, ia akan mengatakan segalanya nanti, saat Lana sudah melahirkan dan dia dengan Lana akan jujur sebelum ketahuan.

Tapi nyatanya ... Semua jadi seperti ini.

"Maafkan aku, Sora," ucap Zaki tak kuasa.

"Ayah," ucap Gadis yang tiba-tiba terbangun.

"Gadis." Zaki mengusap wajahnya dan beranjak ke arah sang putri. "Kamu mau apa?" sambungnya bertanya.

"Aku, mau minum," jawab Gadis pelan.

"Iya, Ayah ambilkan ya." Zaki pergi keluar kamar dan mengambil minum di dapur. Sedangkan Gadis, ia yang tengah duduk itu lantas melihat sekeliling dan memperhatikan kamar bernuansa abu muda itu.

Lalu, dengan pelan Gadis turun dari ranjang itu dan membuka pintu. Ia lantas keluar dari sana. "Ibu," panggilnya.

"Ibu Lana ... Kamu di mana?" suara Gadis sudah hampir menangis.

"Gadis." Zaki mendekat dengan segelas air minum ditangannya. "ini katanya mau minum."

Gadis menggelengkan kepalanya dan mengeluarkan air mata. "Aku mau Ibu, Ayah," ujarnya. "Aku mau Ibu ...."

Tangisan Gadis semakin keras, membuat Zaki menaruh gelas di atas meja dan menggendong anak perempuannya itu.

"Huaaaa ... Ayah, aku mau Ibu."

"Sssst, Gadis. Tenang dulu ya ... Ini ada Ayah."

"Enggak mau. Aku mau Ibu!"

"Sssst ... Iya Sayang. Tenang yaaa."

Terpopuler

Comments

Teh Euis Tea

Teh Euis Tea

wajar sih klu sora minta pisah secara suaminya penghianat

2024-04-03

0

Aqil Aqil

Aqil Aqil

laki2 brengsk br pljrn sora suamimu it bkn kesal aja cb klu dekt sm aku suamix sora sdh sy banting,jd kesel jdx😈crtmu bkn emosi jiwa thor☝

2024-01-17

1

aqil siroj

aqil siroj

nih laki pengen gue bejek" aja...
huh kalau aku dr pda makan ati tiap hari liat ank hasil selingkuhan suami lebih baik cerai deh.... hahaha aku loh ya

2024-01-17

3

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!