7) Dua Laki-laki

Senja mulai hadir, langit mulai berganti warna, dan saat itu juga kesepian terasa. Kendati ada anak yang tengah duduk menemaninya, namun ketidak pedulian Soraya tetap saja membuat harinya menjadi buruk. Rasanya ia tengah berada di tempat asing, tak memiliki apapun dalam diri. Hampa, dan tidak lagi di cinta.

Ya, dia tahu. Ini semua adalah kesalahannya. Tapi ... Ah, rasanya Zaki ingin memaki dirinya sendiri. Memaki hatinya yang mudah kembali dalam cinta sejati. Entah kenapa, ia sampai bisa memiliki dua cinta, padahal hatinya hanya satu.

Pernah dalam benaknya untuk memilih salah satu diantara Soraya dan Lana. Namun, ia tak bisa. Ia benar-benar mencintai dua wanita itu dengan sama besar. Tak ada beda, bahkan mungkin lebih banyak untuk Soraya. Tapi sayangnya, jika saat ini ia mengatakan itu, istrinya jelas tak akan percaya.

Kepercayaan Soraya sudah ia hancurkan, dan Zaki yakin sekali kalau mengembalikan kepercayaan istrinya itu akan sangat susah.

"Jangan bengong, Yah. Nanti kesambet lagi." suara Gata membuyarkan lamunan Zaki. Pria dewasa itu tersenyum.

"Kenapa kamu memaafkan ayah?" tanya Zaki serius pada putranya.

Gata yang tengah duduk memandangi taman kecil sang ibu itu diam beberapa saat, sampai ia mengembuskan napas pelan dan menjawab. "Masalahnya aku tahu, kalau ayah masih cinta sama ibu. Cuma yang aku nggak tahu, kenapa bisa ayah mencintai dua orang sekaligus."

"Itu juga yang ayah nggak tahu." ujar Zaki pelan.

"Rasa cinta membuat kita pusing ya, Yah." Gata menoleh dan tersenyum ke arah ayahnya. "Nggak ngerti kenapa cinta bisa datang di waktu yang salah, di tempat yang aneh, dan di situasi yang membingungkan," sambung pria muda itu.

"Ah, iya. Kamu bener banget, Ta. Ayah merasakan itu semua." Zaki lantas turun dari kursi dan duduk di lantai di sebelah sang anak.

"Apa kamu merasakan apa yang ayah rasakan?" tanya Zaki seraya menepuk pundak sang anak.

"Haha," Gata tertawa. "Amit-amit, Yah. Semoga nggak nurun ke aku ya, Yah. Aku cukup mencintai satu orang aja. Aku nggak mau bikin wanita sakit hati, karena kalau aku ngelakuin itu, aku akan nyakitin hati ibu."

Mendengar itu Zaki menunduk. "Jangan sampai, Ta. Atau menyesal akhirnya. Beruntungnya yang ayah nikahi adalah ibu kamu. Coba kalau wanita lain, udah pasti ayah ditinggal, dan pastinya nggak akan ada wanita yang mau ngerawat anak suaminya dengan wanita lain, sesayang dan seperhatian dia. Soraya baik banget, Ta. Nenek kakek kalian benar-benar pintar milihin jodoh buat ayah."

"Iya, ibu emang ibu yang paling baik sedunia." Gata mendongak, menatap langit yang mulai berubah warna. Lalu menoleh kembali ke arah sang ayah. "Ibu nggak jadi minta pisah 'kan, Yah?" sambung anak muda itu bertanya.

Zaki mengedikan bahunya. "Nggak tahu, Ta. Katanya ibu, ayah suruh diam aja. Kalau nggak dia minta pisah. Tapi ayah sih nggak mau pisah dari ibu kamu, Ta. Kalai sampai dia benar-benar minta ya, ayah bakal mati aja lah."

"Nyusul belahan jiwa sebelah?" tanya Gata yang mana membuat Zaki menoleh ke arah sang anak.

"Ya, dari pada nggak sama keduanya."

Gata menggelengkan kepalanya. "Ternyata cinta bikin egois juga ya, Yah. Aku baru tahu." katanya.

"Enggak tahu lah, Ta. Cinta yang jelas bikin pusing."

Keduanya pria berstatus ayah dan anak itu lantas diam. Sampai terdengar kumandang adzan dari masjid yang letaknya tak terlalu jauh dari rumah. Membuat kedua pria itu beranjak dari duduk mereka dan masuk ke dalam rumah. Terlebih suara Soraya juga sudah terdengar memanggil sang putra agar segera masuk.

Zaki yang merasa asing itu lantas duduk di ruang tamu sendirian. Sedangkan Gata, usai menutup pintu ia lantas mendekat ke arah ibunya yang tengah mengajari sang adik kecil wudhu di kamar mandi. Gata yang berdiri di pintu kamar mandi itu tersenyum, masih begitu tak percaya dengan kebaikan ibunya yang menyampingkan ego dan memakai hati nurani.

Selepas dua wanita beda usia itu wudhu, kini tinggal Gata. Ketiga manusia itu sholat di tempat yang berbeda. Jika Zaki, jangan ditanya. Dia memang type orang yang sholat saat hari jumat dan bulan puasa saja. Sudah berbusa mulut Soraya untuk mengajak suaminya mendekatkan diri, tapi sayang ucapannya tak pernah didengar.

Sampai tiba di saat makan malam tiba, Zaki masih setia di ruang tamu dengan ponselnya. Sementara tiga manusia itu kini sudah duduk di ruang makan. Gadis, si anak kecil yang kini duduk di sebelah ibu Sora lalu bertanya. "Ibu, kenapa sekarang Ayah pulang setiap hari?" tanyanya membuat kening Soraya berkerut.

"Maksudnya gimana, Nak?" tanya balik Soraya.

"Biasanya 'kan ayah di rumah hanya sebentar, Bu. Pergi kerjanya lamaaaa banget, kata ibu Lana, ayah kerja di luar kota. Luar kota apa sih, Bu?"

Soraya dan Gata saling pandang, keduanya lantas mengerti jika anak cantik itu tak sering dengan ayah kandungnya. 'Jadi ... Kalau ke luar kota, ayah ke mana?' Soraya bertanya dalam hati. 'Apa dia benar-benar kerja dan hanya sebentar menemui selingkuhannya?' sambung wanita itu.

"Mmmm ... Gadis. Luar kota itu, gini. Kita tinggal di kota A, terus di sana yang jauh ada kota B, nah ... Itu luar kota. Kayak rumah, rumah ...," Soraya berhenti. Mengingat rumah, ia kembali mengingat uang yang tadi disodorkan oleh suaminya.

"Rumah lama Gadis, dan rumah baru Gadis. Beda 'kan?" tanya Gata melanjutkan apa yang ibunya katakan namun terputus.

"Gadis tahu, tapi ... Bingung, hehe." Gadis mengangguk dan menggelengkan kepalanya, yang mana lalu berujung tawa. Membuat Gata mengusap kepala sang adik dan menyuruhnya untuk tidak banyak pikiran dan lebih baik makan.

Sementara Soraya, ia lantas mengambilkan makanan untuk Gata dan Gadis, lalu satu piring yang sudah di isi makanan ia berikan lagi pada Gata agar dikasihkan pada Zaki yang duduk di ruang tamu.

Gata yang tidak mau banyak bertanya dan berujung melihat kekecewaan di wajah sang ibu itu lantas menurut. Sembari memberikan makanan dan minuman, Gata seraya mengucap maaf pada sang ayah. "Maaf ya, Yah."

Zaki tersenyum ke arah sang anak. "Kayak gini aja ayah udah seneng, Ta. Berarti ini tandanya ibu kamu masih perduli." katanya sembari menerima piring dan gelas.

Gata mengangguk. "Selamat makan, Yah." ujar pemuda itu sembari berlalu. Meninggalkan ayah yang makan di ruang tamu sendirian.

Hingga selesai sudah makan pria itu dan membawa piring dan gelas ke dapur. Namun saat melewati tiga manusia yang masih duduk di ruang makan, ia berhenti karena sang anak bertanya padanya. "Ayah, kenapa makan di sana sendirian?"

Zaki tersenyum, mengerling sekilas ke arah sang istri yang memutar bola malas melihat dirinya. "Ayah sambil kerja, Nak. Makanya ayah makan di sana."jelasnya pada Gadis.

Si gadis kecil itu lantas menganggukkan kepalanya, membiarkan sang ayah pergi ke dapur dan mencuci piring serta gelas bekas pakainya. Padahal biasanya pria itu tidak pernah melakukan hal demikian. Ah, sakit itu benar-benar Zaki rasakan sekarang.

Terpopuler

Comments

Teh Euis Tea

Teh Euis Tea

ga pernah sholat ya ampun sizaki luar biasa sekali

2024-04-03

0

aqil siroj

aqil siroj

udah gak pernah sholat jadi laki berpoligami... lengkap banget...
sampek bertahun - tahun kuat juga si sora ya....

2024-01-21

0

Aqil Aqil

Aqil Aqil

rasain km zaki mknx it mata dan ht dijaga.

2024-01-21

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!