18) Kebahagiaan Seorang Ibu

[Terimakasih Soraya, untuk cinta yang kamu beri buat Gadis.]

[Aku mencintaimu sedalam-dalamnya. Aku tahu, cintamu masih ada, hanya saja tertutup kabut kecewa.]

Soraya tersenyum miring saat mendapati balasan dari Zaki. "Ya, tapi kamu harus tahu Zaki. Kabut ini sangat tebal, aku sampai nggak bisa lihat keberadaan kamu lagi," ucapnya dengan sendu.

Ayolah dia hanya wanita biasa, dia tak mungkin akan kuat selalu, bukan. Jadi, demi untuk menghalau rasa sedih, Soraya lebih memilih untuk bergabung dengan dua anaknya. Mengobati lara dengan canda tawa. Karena memang tak ada obat bagi seorang ibu yang bersedih, selain canda tawa dari buah hatinya.

"Ibu, ayo kita timbun Gadis!" seru Gata yang tengah menidurkan Gadis di antara banyaknya bola.

"Ayo. Siapa takut!" Soraya mendekat dan mengumpulkan bola disekitarnya.

"Hahaha, ampun Kakak, ampun Ibu. Hahaha, aku geli." seru Gadis yang kini tangannya tak bisa bergerak karena di cekal oleh sang kakak.

"Ayo, biarkan Gadis tak terlihat!" seru Soraya lagi dengan senangnya, sampai ia merasa tak tega karena Gadis yang terus saja tertawa karena geli, dan ia pun lantas mengambil Gadis dan memeluk serta mencium pipinya.

"Udah. Kamu capek nggak Nak?" tanya Soraya yang memangku Gadis.

Gadis menggeleng dengan senyum yang terus saja tercipta di bibirnya. "Seru Bu, Gadis suka," ujar bocah itu yang sepertinya tidak merasa kelelahan.

Soraya lantas menoleh ke arah sang putra, Gata tersenyum dan mengangguk, menandakan bahwa ia akan kembali menyerang adik kecilnya itu. Dan ya ... Ia dan sang ibu lantas kembali melemparkan bola-bola itu pada Gadis. Namun kali ini, putri kecil yang sudah turun dari pangkuan sang ibunda tak tinggal diam. Ia membalas melempar bola yang ada pada kedua manusia itu.

Sampai akhirnya ketiga manusia itu merasa lelah dan memilih istirahat di tempat makan. Kali ini, mereka makan sesuai keinginan Gata. Jadi, Gadis dan Soraya hanya bisa menurut. Seperti biasa, Soraya akan menyuapi terlebih dulu anak kecil itu, barulah ia makan. Namun, bukan Gata jika akan membiarkan ibunya kelaparan. Jadi, saat Soraya menyuapi Gadis, Gata juga menyuapi sang ibunda. Sampai di mana Gadis juga ingin menyuapi Gata, sang kakak tercinta. Jadilah tiga manusia beda usia itu saling menyuapi makanan dengan hati yang riang.

Hingga suasana seru bukan hanya di tempat bermain, di mana saja ketiga manusia itu selalu saja bahagia. Tak lupa, Gata juga membagi momen bahagia itu dengan sang ayah lewat video call, walaupun Zaki hanya bisa ngobrol dengan dua anaknya, namun pria itu terlihat turut bahagia.

Terlebih pada sang istri yang berhati mulia. Pria dewasa itu sungguh sangat-sangat bahagia, merasa tenang saat kepergian istrinya hanyalah untuk membuat ke dua anaknya bahagia. Zaki sangat yakin kalau Soraya tidak akan membalas apa yang pernah ia buat setelah melihat apa yang selalu Gata perlihatkan.

Sampai di mana tiba lah saat untuk pulang, namun sebelum itu Soraya dan Gata mengajak Gadis membeli tas serta buku dan yang lainnya, persiapan untuk besok sekolah. Tak tanggung-tanggung, Soraya langsung membelikan anak gadisnya dua tas, dua tempat pensil dan dua pasang sepatu. Bahkan masih banyak yang lainnya, sampai lunch boks lucu untuk sang anak, botol minum karakter, dan kaos kaki yang akan di pakai secara bergantian.

Tempat pensil tak lupa dengan isinya, serta pewarna berbagai bentuk, dari pensil sampai crayon. Ya ampun, rasanya menjadi Gadis adalah anak yang paling senang dan bahagia. Mendapatkan rezeki ibu dan kakak yang amat sangat baik. Lalu, seusai itu barulah tiga manusia dengan begitu banyak belanjaan itu pulang.

...----------------...

"Bu, Gadis udah tidur?" malam ini putra pertama Zaki dan Soraya baru saja selesai sholat isya. Ia mencari keberadaan sang adik yang tak terlihat, lalu mendengar suara orang di belakang, ia mendapati sang ibunda yang tengah menyetrika seragam sekolah dirinya dan adik tercinta.

Soraya menoleh, "udah." jawabnya dengan senyum yang mengembang sempurna. "Kamu nggak tahu, dia semangat banget buat hari esok," sambung wanita itu sembari melanjutkan kembali aktifitasnya.

"Hehe, kecapekan juga dia ya." ujar Gata yang lantas duduk di belakang sang ibu. Duduk di lantai menemani ibunya.

"Ah, dia mah nggak kelihatan capek, ceria terus." kata Soraya lagi. "Kamu ngapain di situ, Ta. Tidur sana," sambung ibu cantik itu.

"Nanti. Mau nemenin ibu."

"Ibu udah mau selesai, kok Ta." Soraya menggantung seragam sekolah Gata. Ia menghadap ke arah sang putra yang juga melihat ke aranya dengan senyum yang merekah. "Kenapa kamu?" tanyanya lagi.

"Besok aku mau izin ya Bu." ujar pria muda itu.

"Hm ... Ke mana tuh?" tanya Soraya setelah mencabut colokan. Ia juga lantas duduk di sebelah sang putra pertama.

"Pengin ke toko buku, nganterin Melati. Mau ajak dia makan juga, besok abis sekolah," jujur Gata.

Soraya mengangguk. "Iya, ibu izinkan. Asal jangan macam-macam ya, Ta. Pacaran boleh, sewajarnya saja tapi. Jangan sampai nyakitin hati Melati loh, ingat ya."

Gata tersenyum. "Aku sama Melati nggak pacaran, Bu. Kita tetep temenan. Besok juga aku minta izin dulu sama ibu dan ayahnya Melati, kalau boleh. Baru deh kita jalan."

"Ck, anak ibu udah besar ya." kata Soraya. "Hm ... Nanti gimana ya, kalau Gadis udah besar terus ada pemuda yang minta izin sama ibu. Ah, ibu menunggu sekali moment itu," sambung wanita itu membayangkan bagaimana nanti saat anak perempuannya sudah besar.

"Haha, Ibu. Itu masih lama. Sekarang aja Gadis baru mau sekolah." Gata menggelengkan kepalanya heran pada ibunya.

"Ya 'kan kadang kita nggak kerasa loh, Ta. Tiba-tiba kamu gede, tiba-tiba kamu punya adik, sekolah terus nanti tiba-tiba ibu udah tua," ujar Soraya lagi dengan diiringi tawa.

Gata melihat wajah ibunya yang tanpa rasa benci saat membicarakan Gadis, sampai saat ini ia masih terheran-heran saat wanita itu begitu menerima adiknya.

...----------------...

Hingga paginya, rumah kembali sepi saat ditinggal oleh isinya. Gata ke sekolah dengan motornya, dan Soraya pun sama. Ia pergi mengantar Gadis ke sekolah, tentu saja sekalian menunggu putrinya itu di sana. Ini hari pertama putrinya sekolah, jadi seorang ibu itu tidak mungkin tega meninggalkan anaknya sendirian di sana.

Gadis yang sudah cantik itu turun dan berjalan mengikuti langkah sang ibunda tercinta. Bibirnya tersenyum ceria saat mendapati banyak anak yang sudah datang dan tengah bermain di play ground.

"Ibu, nanti aku mau main di sana sama temen boleh?" tanya bocah kecil itu.

"Boleh, dong. Sekarang kita ketemu dulu ya, sama guru kamu." jawab Soraya dengan senyum mengembang. Ia juga senang saat melihat banyak anak yang sudah datang. Ia yakin kalau anaknya akan happy di sana.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!