15) Air Mata Buaya

"Yah lihat, bagus nggak?" Zaki yang baru turun dari mobil itu lantas terkejut saat mendapati anak ke duanya berjalan ke arahnya sembari menunjukan aksesoris leher.

"Ya ampun, bagus banget, Dis." Zaki jongkok di depan Gadis. "Siapa yang beli?" tanyanya, tangannya seraya melihat belakang liontin boneka itu. Ia memastikan kalau itu asli dan ia yakin sekali kalau istrinya lah yang membelikannya.

"Ibu Sora."

Jawaban Gadis membuat Zaki tersenyum lebar. "Suah bilang makasih belum sama ibu?" tanyanya. Gadis menganggukkan kepalanya, lalu pergi meninggalkan ayahnya di sana seraya berlari kembali ke dalam rumah. Entahlah Gadis ingin sekali memamerkan barang yang menurutnya sangat bagus itu pada kakak dan ayahnya. Dan ia merasa senang sekali saat kedua orang itu mengatakan kalung yang ia dapat dari ibunya itu bagus. Karena memang sangat bagus.

Gadis kembali duduk di sebelah Soraya. "Ngapain Dis?" tanya wanita yang tengah mewarnai kuku kakinya, kebiasaan saat ia tengah kedatangan tamu bulanan.

"Kata ayah ini bagus banget, Bu," jawab Gadis jujur. Sedari tadi tangan mungil itu memang selalu memegangi kalung, kepalanya selalu menunduk melihat gambar lucu dan cantik itu.

Soraya hanya menanggapi dengan senyum. "Kamu mau pakai ini juga nggak, Dis"? Tanyanya setelah selesai sudah semua kuku ia beri cat.

"Mau," jawab Gadis mantap.

"Ra, makasih ya." suara Zaki membuat Soraya menoleh sekilas ke arah sang suami. "Hm," jawaban Soraya membuat Zaki lantas tersenyum dan meninggalkan kedua wanita beda usia itu. Ia memilih pergi ke kamar untuk membereskan barang-barang yang akan ia bawa ke luar kota.

Kembali ke Soraya, saat ini ia duduk di bawah, sibuk memberi warna pada kuku Gadis, kuku tangan dan kaki. Warnanya pun sesuai keinginan bocah kecil itu. Ia tak memaksa sama sekali, walaupun warnanya aneh karena cerah semua namun tak apa, ia tetap menurutinya.

"Haha, cantik. Lihat kuku Gadis udah kayak pelangi," ujar Soraya.

"Jadi cantik ya, Bu?" tanya Gadis yang memandangi tangan dan kakinya.

"Cantik dong ... Anak ibu pasti cantik." ujar Soraya seraya berdiri dan membawa perlengkapan warna kuku ke kamar. "Benatar ya Dis. Ibu taruh ini dulu." katanya pada sang anak yang hanya mengangguk saja.

"Ngapain kamu?" tanya Soraya dengan sinis, melirik sekilas pria yang tengah menurunkan bajunya ke ranjang. Ia berjalan ke arah lemari pakaiannya dan menaruh kotak itu di tempatnya.

"Mau packing, Ra. Besok mau ke luar kota," jawab Zaki. "Tapi aku nggak tahu mana yang harus aku bawa," sambung pria itu.

"Ck, dasar manja." Soraya mendekat dan mendorong ke samping tubuh suaminya itu. "Minggir, biar aku aja." katanya dengan kesal.

Zaki menurut, ia lalu duduk di ranjang membiarkan istrinya menyelesaikan tugasnya seperti biasa. Lagipula ia benar-benar tidak tahu yang mana yang harus ia bawa dan biasanya istri cantiknya itulah yang menyiapkan segalanya.

"Maaf ya Ra, harusnya senin tapi karena si bos ada acara hari minggu jadi besok berangkatnya," ujar Zaki. "Tadinya aku mau pamit pas udah beres-beres, biar kamu nggak tambah capek," sambung pria itu.

"Bodoh amat. Mau pergi besok kek, lusa kek. Emang gue pikirin." jawab Soraya tanpa melihat ke arah Zaki yang tengah memperhatikan dirinya memasukan pakaian ke dalam koper.

"Kebetulan malahan, jadi besok aku bisa main sama Gata dan Gadis, sama anaknya Mas Ibnu juga," sambung Soraya yang mana membuat Zaki lantas turun dari ranjang dengan cepat. "Yang benar, Ra. Masak aku pergi kamu ketemuan sama laki-laki lain, sih," katanya dengan melas.

"Kenapa?" tanya Soraya balik. "Kamu ke luar kota juga emangnya nggak ketemu sama wanita lain?" sambung Soraya.

"Nggak dong, Ra. Aku ketemu sama siapa coba." Zaki mulai kembali gelisah.

"Lah, mana aku tahu, Zaki. Orang kamu ketemu sama ibunya Gadis selama itu aja aku nggak tahu kok. Ini juga nggak menutup kemungkinan yang baru 'kan." Soraya membalik badan menatap wajah sang suami.

Zaki menggelengkan kepalanya. "Enggak Soraya. Aku udah janji loh, nggak akan mengulangi kesalahan yang lalu, aku mohon kamu percaya sama aku. Aku udah benar-benar jadi lelaki baik, baik banget malah, iya 'kan."

"Idih, baik katamu!" Soraya tak mau kalah, ia tetap tak percaya. Maklum, perempuan memang seperti itu bukan, kendati sudah memaafkan tapi akan susah melupakan.

"Ck, terus aku harus kayak gimana Soryaku Sayang. Semua aku sudah turutin, kamu jangan aneh-aneh ya, jangan bales kesalahan aku. Please." Zaki kembali memohon dengan kedua tangan yang mengatup di depan dada.

"Udah ah, berisik. Pergi sana, nggak usah lihatin aku. Aku mau lanjutin masukin baju kamu semuanya, biar pergi aja sekalian." lagi-lagi Soraya mendorong suaminya itu, tapi kali ini Zaki tak membuatnya kalah. Ia tetap tegak, malah justru meraih tangan istrinya itu dan menariknya agar masuk ke dalam dekapan.

"Aku cinta sama kamu, Soraya. Aku sayang sama kamu Soraya. Kamu segalanya buat aku. Jangan aneh-aneh, ok." tak perduli pada wanita yang tak membalas dekapannya malah justru memberontak ingin lepas. Pria itu tetap saja mengatakan apa yang ia rasakan.

Ia bahkan mendorong Soraya ke ranjang dan men nin dihi wanita itu. "Kamu lihat wajah serius ini, Sora. Aku nggak pernah bohong masalah cinta, aku beneran nggak bisa tanpa kamu, lihat air mata ini Sora. Aku memang jahat, aku pengkhianat, tapi aku takut di khianati. Anggap saja aku pecundang Soraya, aku nggak perduli. Yang penting kamu tetap mau di sini, bersama ku. Kita bangun kembali cinta yang kokoh dulu dengan landasan cinta yang baru."

Soraya yang ada di bawah kungkungan sang suami hanya bisa memandang dengan sendu wajah itu. Zaki benar-benar terlihat jujur, apa memang jujur atau memang dirinya yang tidak bisa menilai. Astaga, kenapa mudah sekali untuk luluh bagi wanita itu, sampai ia juga turut meneteskan air mata melihat netra suaminya mengeluarkan air.

Namun, untuk memperkuat dirinya agar tak lagi dibohongi. Soraya mendorong tubuh suaminya agar pindah dari dirinya. "Minggir. Aku nggak percaya sama air mata buaya. Apalagi buaya kayak kamu." Katanya seraya duduk.

Zaki duduk dengan pasrah di sebelah Soraya. "Biarkan buaya jantan ini menemani mu, buaya betina. Asal kamu tahu, buaya adalah hewan yang setia, seperti diriku yang selalu setia denganmu. Ibu buaya," katanya.

"Idih, jangan bawa-bawa aku. Cukup kamu aja yang buaya, aku nggak." Soraya mengusap kasar air mata yang menetes dari sumbernya. Ia kesal pada matanya yang mudah nangis itu.

"Iya, Sayang. Aku adalah buaya berkepala kampret. Seperti yang kamu bilang, aku setia bersamamu Bidadariku." Zaki kembali mengeluarkan jurus rayuan maut, tak lupa ia juga seraya mengusap air mata yang membasahi pipinya.

Terpopuler

Comments

Teh Euis Tea

Teh Euis Tea

setia ko punya anak hasil selingkuh aneh sizaki

2024-04-03

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!