6) Menolak

Panas terik matahari tak lantas membuat pemuda itu mencari tempat yang dingin. Ia lebih suka duduk dipinggir lapangan dengan semilir angin yang menyapa. Sedikit mengurangi keringat yang ada di tubuhnya.

"Kenapa, Ta?" Sean, teman sebangku Gata bertanya pada temannya itu.

"Nggak napa-napa, kenapa emang?" tanya balik pria muda yang baru selesai bermain basket dengan teman-temannya itu.

"Lo nggak konsentrasi," ujar Sean lagi.

"Ck, iya nih. Bingung nggak sih, milih kampus mana," ujar Gata lagi seraya membuka botol minum dan meminumnya. Sebenarnya, sebab tak konsentrasi dirinya adalah sang ibu. Ia terus kepikiran karena saat pagi tadi ibunya itu terlihat sangat sedih.

"Hm, bukannya lo udah janjian ya, sama Melati," ingat Sean pada Gata.

"Iya. Tapi belum pasti." Gata menaruh kembali botol disampingnya duduk. Netranya mendapati gadis cantik berjalan ke arah mereka berdua dengan senyum yang lebar.

"Hi, boy!" seru Melati dengan tangan yang melambai. Mendapat balasan lambaian tangan dari Gata, gadis itu lantas setengah berlari.

"Gue ke kantin ya, males bareng dia." Sean berlalu, membiarkan temannya itu dengan sang gebetan. Gata tak menjawab, ia diam saja. Karena, itu adalah hal biasa.

"Ke mana tuh, si Sean?" Melati sampai dan duduk di sebelah Gata.

"Biasa ke kantin. Kamu nggak makan?" tanya Gata menoleh ke arah gadis cantik itu.

"Sama kamu, yuk." ajak Melati dengan senyum ceria, membuat Gata juga turut tersenyum ke arah gadis itu.

"Traktir ya." ujar Gata bercanda seraya berdiri mengikuti langkah Melati.

Melati tertawa. "Haha, siap. Yang penting nanti jangan lupain aku kalau udah sukses, jangan lupa lamar terus ajak aku ke penghulu." ujar gadis itu seraya berjalan di sebelah Gata.

Pria muda itu lantas mengusap rambut Melati dengan gemas, membuat gadisnya merasa kesal namun senang.

Makan di kantin dengan seseorang yang ia suka, nyatanya tak bisa mengalihkan pikirannya dari sang ibu. Namun, ia masih bisa menyembunyikan semuanya dari Melati. Karena, gadis ceria itu terus saja bicara, membuatnya terus saja menjawab dengan telaten dan sabar.

Sebenarnya, Gata merasa marah pada sang ayah karena sudah menyakiti ibunya. Tapi ... Ia tak bisa marah, karena semua yang dilakukan papanya adalah tentang rasa cinta. Seperti Sean yang tak bisa marah padanya, saat Sean mengajak Melati untuk jadi pacarnya, namun dengan jujur gadis itu menolak dan mengatakan kalau yang gadis itu sukai adalah Gata. Dan itu semua tak menjadikan dua pria muda itu bermusuhan, karena kembali lagi. Ini adalah tentang rasa yang tak bisa dipaksa.

Lagi pula, Gata juga suka pada Melati. Gadis manis dan baik, jangan lupa gadis itu juga selalu terlihat ceria. Walaupun dia tak pernah mengatakan itu pada Melati, namun ia yakin, perlakuannya cukup untuk memperlihatkan segala rasa yang ia punya.

Sampai akhirnya saat waktu pulang sekolah tiba, ia merasa sangat tak sabar untuk tiba di rumah. Sampai-sampai ia mengatakan pada Melati kalau ia tak bisa mengantarnya hari ini. "Nggak papa, 'kan?" tanya Gata memastikan.

"Iya, nggak papa Ta. Hati-hati ya." Melati si Ceria mempersilahkan orang yang ia suka itu untuk pulang lebih dulu. Karena kebetulan rumahnya memang tak terlalu jauh dari sekolah, jadi jika tak diantar jemput oleh Gata pun tak masalah.

Sesampainya di rumah, Gata merasa lega saat mendapati ibunya tengah tiduran di kamar tamu yang kini membuatnya pangling dengan sang adik. "Bu," sapanya pelan, seraya mengusap lengan ibunya.

"Eh, Ta. Kamu udah pulang." Soraya dengan pelan lantas duduk. "Ibu ketiduran," sambung wanita itu.

"Nggak papa, Ibu pasti capek. Ibu udah makan siang 'kan?" Tanya Gata yang kini duduk disebelah sang ibu.

"Udah, kamu makan dulu sana. Ibu udah beliin kamu kue serabi rasa nangka, kesukaan kamu. Nanti ibu panasin dulu ya." ujar Sora lagi. "Setelah kamu makan." sambung wanita itu.

"Aku masih kenyang Bu, tadi makan sama Melati di kantin. Ibu udah nggak papa 'kan?" Gata memperhatikan raut wajah ibunya.

Soraya tersenyum. "Nggak papa. Ibu udah pikirin, matang-matang. Ibu udah tahu juga harus apa." Wanita itu lantas berdiri. "Lihat kamar ini, bagus nggak?" sambung wanita itu kembali bertanya.

"Bagus banget, Ya Allaah. Aku sampai pangling loh, Bu." Gata berdiri dan memperhatikan seluruh kamar. Ia benar-benar merasa bangga pada ibunya, kendati perasaannya hancur, namun pada anak kecil yang tidak tahu apa-apa itu, ia tetap baik bahkan sangat baik.

"Hmmm ... Kamu nggak iri 'kan, Ta?" tanya Soraya pelan.

Gata tertawa dan memeluk ibunya. "Nggak dong, Bu. Aku malah berterima kasih sama Ibu, karena udah jadi ibu yang sangat baik buat aku dan Gadis."

Soraya mengangguk dan mengajak anak lelakinya itu keluar dari kamar Gadis. Ia lantas menyuruh anaknya untuk ganti pakaian, sementara dirinya lalu menghangatkan makanan kesukaan sang putra.

...----------------...

Hingga sore tiba, saat ketiga manusia penghuni rumah tengah duduk di ruang tivi, suara salam dari luar terdengar. Gata lantas menjawab dan tak lama setelahnya pria dewasa itu muncul. Soraya lantas beranjak dari duduknya dan pergi ke dapur. Ia berniat untuk mengambil minum. Tapi sayang, ternyata perginya itu malah membuat sang suami mendatangi dirinya.

"Ra, ini ada uang hasil penjualan rumah." Zaki menyodorkan amplop di meja dapur, di depan Soraya minum. Kebetulan, yang membeli rumahnya adalah sang bos. Jadi Zaki tak perlu waktu lama untuk menjualnya.

Soraya tak perduli, ia tak menjawab dan berniat pergi dari sana. Namun tangannya dicekal oleh sang suami. "Ra."

Soraya menoleh dan menatap kesal suaminya itu. "Kamu tuh mikirnya apa, Yah?" tanyanya. "Kamu pikir dengan kamu kasih aku uang, hasil penjualan rumah untuk kamu selingkuh selama bertahun-tahun, aku dengan mudah memaafkan kamu. Kamu mikirnya aku gimana, Hah!" sambung perempuan itu.

Keduanya saling tatap, bicara dengan suara pelan agar anak-anak tak mendengarnya.

"Buk--"

"Mau ngomong apa!?" tanya Soraya kesal. "Sebaiknya mulai sekarang kamu diam, kalau nggak diam. Aku bakal minta cerai sama kamu." sambung wanita itu dengan gigi menyatu saking kesalnya pada pria di depannya itu.

"Jangan Ra." Masih dengan memegangi tangan Soraya, Zaki berlutut. "Aku mohon, lakukan apa yang kamu mau terhadapku. Asal jangan pernah minta pisah dari aku. Aku mohon ...."

"Lepas. Aku nggak tahu lagi rasa apa yang aku miliki buat kamu. Kalau nggak inget Gata aja, aku udah jijik tinggal di sini sama kamu. Harga diriku jatuh, tahu nggak!"

Zaki menggelengkan kepalanya. "Nggak. Ini rumah kamu, kamu nggak bisa pergi dari sini." katanya dengan wajah memelas mendongak menghadap ke arah istri cantiknya. Istri yang kendati sudah berusia kepala empat namun masih terlihat seperti anak remaja. Badannya yang ramping, rambutnya yang selalu panjang, bajunya yang selalu tak kebesaran membuatnya selalu seperti gadis. Dan bagaimana mungkin bisa, Zaki melepaskan begitu saja wanita cantik yang ia cintai itu. Tidak, tidak akan bisa.

Akhirnya dengan terpaksa, Zaki melepas tangan Soraya dan membiarkan perempuan itu pergi dan kembali bergabung dengan anak-anaknya. Ia kembali melihat ke arah uang yang ada di meja dapur. Ia pikir, uang itu ia berikan pada Soraya karena dia lebih berhak, tapi ternyata gara-gara uang itu, kemarahan sang istri semakin menjadi-jadi.

Terpopuler

Comments

Teh Euis Tea

Teh Euis Tea

ikutan kesel sm suami modelan zaki

2024-04-03

0

aqil siroj

aqil siroj

yaelahhh jadi laki be go banget dia, uang hasil jual rumah buat dia selingkuh loh... gak mikir dia ini ya...
aku yg baca gregatan loh... cerai aja lah sora,

2024-01-20

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!