14) Hadiah Untuk Gadis

"Ini, nanti kalau nggak bawa duit ngerepotin anak tampan aku lagi." Soraya menaruh uang di meja saat suaminya pagi ini sudah siap dan tengah menyisir rambutnya di depan cermin meja riasnya.

"Iya. Makasih ya Sayang," jawab Zaki dengan senyum lebar, membuat Soraya mengangkat ujung bibirnya kesal dan berlalu dari kamar.

"I love you, Soraya," lagi-lagi Zaki menggoda sang istri.

Soraya yang mendengar itu lantas membalas dengan suara keras. "I hate you Zaki."

Zaki tersenyum. "Cie-cie ... Benci itu benar-benar cinta loh, Sayang!"

Soraya juga kembali mengeluarkan suaranya. "Najis!"

"Ibu, Ayah. Kenapa teriak-teriak sih!?" Gata keluar dari kamar dengan raut wajah herannya. Ia melihat sang ibu yang kini di dapur dan menoleh ke arah sofa, di mana Gadis juga terlihat kebingungan. "Gadis nanti jadi ikut-ikutan loh," sambung pemuda itu mengingatkan.

Soraya tersenyum kikuk. "Hehe lupa kalau ada bocil." katanya. Gata menggelengkan kepalanya, sementara Zaki, ia hanya bisa tersenyum lebar setelah berada di depan kamarnya.

Zaki juga lantas mengedipkan sebelah matanya pada sang putra. Ia memberitahu kalau ia akan memulai kembali mendekati istrinya. Zaki juga mengacungkan jempolnya pada sang ayah, "good luck," kata pemuda itu dengan suara pelan.

Tak hanya dengan kata-kata saja, Zaki juga mencium dengan cepat puncak kepala sang istri saat ia akan berangkat. Membuat Soraya membesarkan kelopak matanya ke arah sang suami. "Kamu pengin aku--"

"Enggak Sayang. Aku berangkat, assalamualaikum!" Zaki kabur segera saat sang istri sudah akan mengatakan kalimat aneh.

Gata yang baru usai dari sarapannya itu hanya bisa tersenyum lebar seraya menggelengkan kepalanya. Sedangkan Gadis, ia malah tertawa merasa lucu saat melihat dua orang dewasa itu.

"Kenapa kamu tertawa, Sayang?" tanya Soraya yang heran pada anak perempuan itu. Tak lupa tangannya juga mengusap-usap rambut yang baru saja dicium sang suami.

"Ibu dan ayah lucu banget, hahaha," katanya jujur.

"Aku berangkat ya, Bu." Gata beranjak dari duduknya dan menyalami tangan sang ibu.

"Iya, ati-ati ya Ta." ujar Soraya.

"Iya Bu." Gata lantas mendekat ke arah sang adik. "Kakak sekolah dulu ya, Gadis. Nanti kalau kakak pulang mau di bawakan apa?" sambung Gata pada sang adik.

"Mmm, aku nggak tahu," jawab Gadis yang memang tidak tahu ingin apa. Pasalnya makanan ringan dan buah yang ia suka selalu disediakan oleh Soraya, sampai anak kecil itu bingung mau makan yang mana dulu.

"Hehe, baiklah nanti kakak belikan lolipop. Mau nggak?" Gata mengacak rambut adiknya itu.

"Jangan, Ta. Dia baru mau ibu bawa ke dokter gigi, kamu malah udah mau kasih dia permen. Semenjak datang dia belum pernah periksa gigi loh," jelas Soraya.

"Ya udah. Nanti cari jajan lain. Berangkat ya, Bu. Assalamualaikum." pemuda itu akhirnya pergi ke sekolah.

"Wa'alaikumsallam." Soraya beranjak dari duduknya membawa piring kotor ke dapur.

"Ibu?" panggil Gadis.

"Iya, sayang," jawab Soraya yang tengah mencuci piring, ia menoleh ke arah Gadis yang berjalan mendekat.

"Kenapa harus ke dokter?" tanya Gadis saat ia sudah dekat dengan sang ibu.

"Hehe, nggak papa. 'Kan cuma periksa doang, Dis. Nanti kamu cuma di suruh buka mulut dan melet, kayak gini, wleee." Soraya memeragakan bagaimana menjulurkan lidah.

Gadis menganggukkan kepalanya setuju. Hingga benar saja, usai dengan pekerjaan rumahnya, wanita itu benar-benar membawa Gadis ke dokter gigi. Anak kecil itu menurut saat di periksa, dan itu membuat Soraya sangat senang. Sampai saking senangnya, Soraya lantas memberi hadiah pada Gadis karena anak itu sudah pintar.

"Gadis, kita cari liontin ya, Ibu pengin kasih hadiah kamu. Dan hadiah ini bisa kamu ingat selamanya." kata Soraya saat menggandeng tangan Gadis masuk ke dalam toko jewelry.

"Apa sih liontin, Bu?" tanya balik Gadis yang memang tidak tahu.

"Kalung, hehe. Kamu tahu kalung 'kan?" Soraya dan Gadis lantas masuk. Perempuan itu memesan liontin bentuk kepala princess dengan nama Gadis di bagian belakangnya.

Berhubung tidak bisa langsung jadi dan harus menunggu, jadi sembari menunggu Soraya mengajak anak ke duanya itu ke taman yang letaknya tak terlalu jauh dari toko langganannya.

Di taman, Soraya membiarkan Gadis bermain sepuasnya. Lagi dan lagi, jepretan kamera ponsel tak tertinggal dari setiap gerak-gerik Gadis.

Ia bahkan tak segan-segan untuk mengunggahnya di sosial medianya. Dengan caption, "bahagia selalu ya, Gadisku."

Tak perduli pada komentar yang ada. Yang jelas, jika kalimatnya baik maka ia akan balas. Namun saat kata-kata yang ia baca dari orang-orang yang mengenalinya itu tidak baik, maka ia akan biarkan saja.

Sekarang, semua tetangganya sudah tahu jika di rumahnya ada anak dari Zaki yang bukan dengan dirinya. Kata-kata 'bodoh' dan yang lain bisa ia dengar dari kasak-kusuk tetangga. Tak sedikit yang benci, dan tak sedikit pula yang suka. Namun, bukan Soraya jika tidak bersikap bodoh amat. Yang terpenting dalam hidupnya, ia merasa bahagia bersama Gadis.

"Sudah capek, Dis. Jajan dulu yuk, isi perut." ajak Soraya pada Gadis yang terlihat sudah berkeringat. Tentu saja Gadis menurut, ia mengikuti langkah kaki ibu Soraya yang pergi dari taman menuju cafe yang jaraknya tak terlalu jauh.

Di tempat itu, Soraya menyuapi Gadis makan. Ia juga membelikan makanan yang ada di sana untuk Gata dan Zaki. Sebagai oleh-oleh dirinya pergi.

Hingga usai sudah makan, dan keduanya kembali ke tempat pemesanan kalung berliontin kepala princess dengan nama 'Gadis'.Saat sudah jadi, Soraya memasangkan langsung liontin itu di leher Gadis. Ia tersenyum dengan lebar, merasa bahagia saat anak kecil itu semakin manis dan cantik.

"Bagus 'kan Dis?" tanya Soraya.

"Bagus. Makasih ya Ibu Sora," ujar Gadis seraya melihat dirinya dari pantulan cermin.

"Kamu tunggu di sini ya, ibu bayar dulu." Namun Gadis tak ingin tertinggal. Jadi saat Soraya membayar pun ia tetap ikut, setia berada dibelakang sang ibu.

Usai membayar, Soraya lantas mengajak anak cantik itu pulang. Rasanya ia sangat senang saat Gadis bisa memakai perhiasan yang imut-imut. Maklum saja, dulu saat Gata ia tak bisa membuatkan seperti itu. Hanya bisa memberinya jam tangan dengan ukiran nama di belakangnya, yang mana jam itu masih tersimpan rapi sampai sekarang di tempatnya. Karena jika dipakai pun sudah tidak pas, tidak cocok dengan gaya Gata yang sekarang.

"Aku harap ibu kamu senang ya di sana, Gadis. Karena ibu benar-benar sayang sama kamu. Nggak perduli walaupun kamu hadir tanpa aku tahu." ujar Soraya memandangi Gadis yang tertidur di dalam kamar, karena tadi gadis itu kelelahan dan tertidur di jalan pulang.

Terpopuler

Comments

Siti Aisyah Aisyah

Siti Aisyah Aisyah

lnjut up thor

2024-01-27

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!