Gata mendekat ke arah sang ibu, ia memperhatikan wanita yang saat ini tengah duduk dengan raut wajah bahagia dan netranya tak beralih dari Gadis yang setia duduk dilantai dengan tangan yang memegang pewarna serta membubuhkan warna itu diatas kertas.
"Ibu kenapa?" tanya Gata pelan.
"Kamu nggak lihat adik kamu?" tanya balik wanita cantik itu.
"Lihat," Gata mengangguk. "Makanya aku tanya ibu, ibu kenapa?" sambung anak itu.
"Ibu lagi seneng lihat Gadis yang semangat belajar biar bisa dapat bintang lima di sekolah. Katanya, nanti kalau dapat bintang lima dia mau minta hadiah dari kamu sama ayah," ujar Soraya menoleh ke arah sang anak dengan wajah tersenyum lebar.
"Ya ampun. Aku harus siap-siap nih, pantesan dari aku pulang sekolah perasaan liat Gadis tetap di sana." Gata tertawa sembari mengacak rambut sang adik yang tak terlalu jauh darinya. "Pinter banget sih, adiknya kak Gata," sambung pria itu pada sang adik.
"Iya dong." jawab Gadis tanpa menoleh. Ia benar-benar serius belajar.
Sampai malam menyapa, dan Gadis hanya istirahat sebentar saja. Lalu kembali melanjutkan, bahkan ia sudah bicara dengan ayahnya dan memamerkan kesukaannya pada pelajaran awal melalui sambungan telepon vidio.
Zaki tentu senang di sana, ia bahkan berjanji akan menuruti apapun yang diinginkan oleh anak perempuannya itu. Zaki juga mengatakan pada sang istri untuk mengizinkan itu. Tentu saja, Soraya menurut. Ia jelas akan menuruti jua apa yang jadi keinginan anak perempuannya.
Esoknya, Gadis yang sudah belajar itu lebih semangat dari hari kemarin. Ia berharap mendapat bintang lima kali ini, namun ternyata masih sama, ia masih mendapat bintang empat. Walaupun bu guru bilang bagus, namun entah kenapa Gadis merasa belum jika belum mendapatkan bintang lima.
"Ibu apa aku harus belajar lagi?" tanya Gadis di sela makan siang ditemani ibu Soraya.
"Iya sih, tapi kamu harus ingat juga. Kalau bintang empat juga sudah sangat bagus, Nak." begitu jawab Soraya, namun Gadis hanya menganggukkan kepalanya saja. Bocah kecil itu terlihat berpikir setelah sang ibunda berbicara.
Tak sampai di sana, pada kenyataannya Gadis benar-benar serius belajar, sampai saat Zaki pulang beberapa hari kemudian, ternyata Gadis sudah bisa meraih nilai yang diinginkan. Terlebih itu adalah pelajaran menempel, membuat kolase pada gambar. Kata bu guru, punya Gadis lebih bagus dari yang lain.
Saat sore itu tiba, di mana sang ayah pulang Gadis mengajak Soraya untuk menjemput sang ayah dan memamerkan apa yang ia dapatkan setelah belajar berhari-hari tanpa henti.
"Ayah, lihat. Aku akhirnya dapat bintang lima." Zaki terkejut saat baru membuka pintu mobil dan mendapati anaknya berteriak dengan cerianya, pun dengan Soraya yang tersenyum lebar di belakang sang anak.
Pria dewasa itu lantas berlutut dan melihat apa yang ditunjukan oleh sang anak. "Wow, bagus sekali Nak. Kamu hebat, ayah bangga sama kamu. Iya 'kan Bu?" ujar Zaki yang lantas meminta persetujuan pada sang istri.
"Iya dong. Anak ibu pasti hebat, apalagi usahanya tak pernah lelah. Belajar terus setiap hari, sampai deh di nilai yang dia inginkan." Soraya juga mendekat dan mengusap kepala sang anak.
Zaki menatap wajah istrinya dengan senyum yang masih mengembang. "Makasih ya, Bu. Udah nemenin hari-hari Gadis," ujar pria itu pada istrinya. "Jadi, Gadis pengin hadiah apa dari ayah?" sambung pria itu pada anak bungsunya.
"Mmm, apa yah?" bocah itu terlihat berpikir. Rupanya hadiah yang ia inginkan belum ia pikirkan, karena sibuk mengejar bintang.
"Hahaha. Sudah besok kasih tahu Ayah sama Kak Gata, hadiah apa yang Gadis mau. Sekarang ayo ajak ayahnya masuk, katanya mau nempel hasil kolase kamu sama Ayah," ujar Soraya lagi.
"Oh iya. Ayo, Yah." Gadis menarik tangan ayahnya, sampai Zaki buru-buru untuk berdiri dan masuk mengikuti langkah sang putri. Soraya pun turut dibelakangnya, setelah mengambil koper sang suami.
Ia bahagia saat melihat anaknya begitu bahagia, karena ia juga merasa bahagia. "Bu, ayo. Aku mau menempel di dinding, tapi sama Ibu juga." Suara Gadis yang kembali ke arahnya membuat Soraya mengangguk dan buru-buru berjalan ke arah anak dan suaminya.
Di sana, di kamar Gadis, Soraya sudah menyiapkan papan yang akan dihiasi dengan hasil kreasi anak gadisnya. Tentu saja, ia tak ingin kenangan itu nantinya hilang sia-sia, jadi ia dan Gata menyiapkan itu semua.
Gadis meminta ibu dan ayahnya untuk sama-sama memegangi kertas yang gambarnya berbentuk rumah besar berhiaskan potongan kertas menjadi sebuah kolase yang indah, lalu ia mulai memasang double tip, lalu ia juga meminta kedua orangtuanya untuk bersamaan memasang itu di sana. Entah ide dari mana, yang jelas perintahnya itu membuat Zaki senang.
"Sudah, yeee ... Bagus banget. Hasil karya Gadis, yang nempel Ibu sama Ayah," seru anak itu.
"Ya udah, ibu mau buka koper ayah dulu ya, Dis. Kamu mau di kamar apa mau ikut ibu?" Soraya mengusap kepala sang anak yang terlihat bahagia itu.
"Mmm ... Aku mau di sini, nunggu kak Gata. Nanti aku mau kasih tunjuk Kakak," jawab Gadis yang semakin hari semakin dekat dengan kakaknya.
Soraya mengangguk dan berlalu, meninggalkan suami dan anaknya di dalam kamar. Ia menyeret kembali koper sang suami ke bagian belakang. Sementara Zaki dan Gadis, keduanya lantas bermain. Zaki bertanya banyak hal pada anaknya itu, seperti ... "kamu sayang 'kan, sama ibu Sora?"
"Sayang dong, Yah. Ibu Sora baiiiiik bangetttt," jawab Gadis sangat jujur.
"Ibu Sora bilang aku sudah hebat, padahal aku baru kali ini dapat bintang lima, Yah." sambung Gadis dengan semangat.
"Iya, ibu benar. Bintang lima juga sudah bagus loh," Zaki duduk di lantai menemani sang anak yang tengah menata mainan barunya. Mainan dari Gata yang katanya oleh-oleh saat pemuda itu pergi sore waktu itu. Satu set miniatur alat masak yang tengah menjadi favorit bagi anak itu.
"Ayah aku buatkan makanan ya, Ayah tunggu sebentar." lanjut Gadis yang kini mulai sibuk dengan mainan barunya.
"Ok. Buat yang enak ya," Zaki menuruti sang anak gadis.
"Wah, seru sekali. Kakak ikut dong." Gata muncul. Pemuda itu baru saja pergi lagi dengan sang teman spesialnya. Tentu saja sudah izin pada ibunya, dan dibolehkan asal mematuhi perintahnya.
Sembari menemani Gadis, kedua pria itu sembari ngobrol ke sana ke mari. Membicarakan pasal kuliah dan teman wanita Gata, yang katanya akan satu fakultas dengannya. Zaki pun sama seperti Soraya, ia tidak melarang sang anak, tapi ia juga mewanti-wanti agar sang anak tak lepas kendali pada lawan jenis.
Sementara itu di bagian belakang, Soraya yang sibuk mengeluarkan baju kotor dan membersihkan koper dari segala isi itu kaget saat menemukan sesuatu. Ia sampai terbengong-bengong, tak percaya.
"Apa ini?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
Aqil Aqil
aplg it zaki jngn smpai mlakukn kslhn lg ya thor aduh ribet nntx
2024-02-02
1