Apa yang dikatakan Gata, benar-benar dipikirkan oleh Soraya. Saat ini, ia tengah menemani Gadis bermain, melihat pakaiannya membuatnya tertawa. Kemarin Zaki tidak membawa serta baju ganti untuk Gadis, jadi saat ini anak cantik itu tengah memakai celana dan kaos Gata saat masih kecil. Masih bagus, hanya saja terlihat cowok sekali.
"Gadis," panggil Soraya pada anak tirinya itu. Gadis menoleh, ia sudah mandi dan rambutnya di ikat satu di belakang, cantik dan wajahnya mirip sekali dengan ayahnya.
"Mau beli baju nggak?" tanya Soraya lagi. Gadis menganggukkan kepalanya. Membuat ibu cantik itu tersenyum senang. "Tapi di toko dekat pasar aja ya, ibu males jauh-jauh," sambung wanita itu.
Si Gadis itu hanya kembali mengangguk, ia mana perduli akan beli di mana. Yang jelas, anak kecil akan sangat senang saat di ajak membeli baju.
Soraya lantas berdiri dan mengikat rambut panjangnya jadi satu di belakang, tak mengganti pakaian hanya mengambil dompet dan kunci motor saja, lalu ia pun segera mengajak Gadis pergi.
Dengan berdiri di depan, Gadis merasa senang saat di ajak jalan-jalan oleh ibu barunya itu. Terlebih saat sampai di pasar dan ia dibolehkan untuk membeli boneka sesukanya, yang mana akhirnya ia memilihi boneka cantik dengan anak. "Ini Ibu, ini Gadis." kata gadis cilik itu. Soraya hanya tersenyum dan membayar apa yang diinginkan Gadis.
Lalu, tangan Soraya menggandeng tangan mungil Gadis dan mengajaknya ke sebuah toko baju. Ibu cantik itu memilih baju setelan harian, sampai baju pergi. Jangan lupa, Soraya bahkan memilihkan pakaian dalam untuk Gadis, lengkap dengan ikat rambut, aksesoris lucu, sampai sandal dan sepatu. Astaga terlebih saat Soraya melihat tas lucu, seketika itu ia membelikannya untuk anak tirinya itu.
"Gadis suka ini, nggak?" tanya Soraya saat ia mendapati satu stel lagi baju lucu. Bawah rok tutu dan atasannya kaos bertuliskan 'love You Mom'.
Gadis tentu saja mengangguk. "Ok. Mbak tambah ini satu lagi ya," kata Soraya pada penjaga toko.
Usai membayar baju dan segalanya yang kebetulan ada di dalam satu toko, Soraya lantas menaruh barang-barangnya di motor. Setelahnya, ia mengajak anak kecil itu untuk mencari jajanan. Setelahnya, ia pulang. Namun sesampainya di rumah, ternyata Soraya bingung akan menaruh di mana barang-barang Gadis. Akhirnya, ia menelpon toko furniture langganannya, meminta dikirimkan lemari serta meja belajar dengan karakter lucu berwarna pink, serta rak untuk sandal dan sepatu Gadis. Tak lupa, di sana ia juga meminta di kirimkan dua set seprei lucu agar kamar tamu menjadi indah dan cocok untuk Gadis.
"Ibu, apa nanti Gadis tidur sendiri?" tanya anak itu, saat ia duduk dengan Soraya di kamar tamu.
"Enggak dong. Ini buat menaruh barang-barang dan baju kamu. Kalau kamu sudah besar dan sekolah, baru deh bobo sendiri," jawab Soraya dengan senyum yang mengembang sempurna.
"Tapi kata Ibu Lana, kalau adik bayi sudah lahir, aku harus tidur sendiri," kata bocah itu lagi.
Soraya terdiam. Namun setelahnya ia memeluk anak kecil itu. "Sekarang adik bayi Gadis sudah bahagia sama ibu kamu, dan kamu tinggalnya sama Ibu Sora." Jujur saja dalam hatinya merasa sangat sesak jika mengingat kalau anak yang ia sayangi itu adalah anak hasil perselingkuhan. Tapi ....
"Jadi sekarang Gadis harus pintar, ok." sambung Soraya. Gadis menganggukkan kepalanya walaupun tak mengerti apa yang dimaksud dengan ibu barunya itu.
Tak perlu menunggu lama, pesanan Soraya cepat tiba dengan dua orang yang akan membantu dan menata kamar baru untuk Gadis. "Assalamualaikum!" seru pak Joni, supir dari toko furniture.
"Wa'alaikumsallam, Pak Doni." jawab Soraya keluar dari dalam rumah.
"Satu lemari warna pink dengan tiga pintu, satu set meja belajar, satu rak sepatu, sepre dua dan ini ada bonus Bu Soraya, gorden jendela warna pink," jelas Pak Doni. "Ini nota nya, bayarnya sudah ya?" sambung pria berkepala plontos itu.
"Iya sip, alhamdulilah dapet bonus. Bilangin makasih ya sama Pak Haji," ujar Soraya seraya menerima nota. "Ayo bawa masuk Pak, tolong," sambung Soraya pada dua orang yang sudah menurunkan barang-barang pesanannya.
Pak Doni membantu dan membawa masuk. "Di bawa ke mana, Bu?" tanyanya.
"Kamar tamu, Pak," jawab Soraya seraya mengikuti tiga orang itu.
"Beli warna ginian, Ibu Sora lagi hamil ya?" tanya pak Doni lagi. Maklum, pria itu tetangganya dan sudah langganan, jadi terlihat akrab.
"His, Pak Doni. Anakku udah lahir." kata Soraya sembari tertawa. "Ya bener taruh di situ." sambungnya berujar saat lemari di turunkan.
"Ah, yang bener?" Pak Doni tak percaya. Pasalnya istrinya tak pernah bercerita jika tetangga mereka itu sudah memiliki anak kedua.
Soraya tak mengatakan apapun lagi, ia hanya menunjuk Gadis yang duduk di sofa ruang televisi. Pak Doni memijatnya dan tertawa. "Ibu Sora Bisa saja, keponakan ya?" ujar pria itu masih tak percaya.
"Jangan tanya terus Pak Doni, ayo bawa yang lain lagi. Nanti Pak Haji telepon loh, suruh antar lagi." kata Sora yang tak ingin lagi menjelaskan apapun.
"Iya, iya, iya." Pak Doni melanjutkan dengan dua rekannya yang terlihat masih muda. Menaruh barang sesuai perintah Soraya. Hingga usai dan ibu anak satu itu lantas memberikan tambahan sedikit untuk pak Doni dan dua rekannya.
Kini kamar Gadis sudah bagus, tinggal di ganti sepre dan gordennya. Entah bagaimana Tuhan merencanakan hidupnya, sampai ia tiba di saat ini. Memiliki kamar impian untuk anak perempuan, walaupun anak itu, tak keluar dari rahimnya sendiri.
Selagi Gadis anteng dengan kartun yang ia sukai, dan mainan baru yang tadi di beli, Soraya lantas menaruh baju-baju dan sepatu baru ke dalam tempat masing-masing. Ia bahkan memikirkan untuk mengganti cat tembok kamar dengan warna pink. "Hm ... Sepertinya hanya perlu di beri welpaper aja deh," serunya setelah mendapat ide tentang kamar anak perempuan.
"Nanti deh, tunggu Gata." sambungnya sembari membereskan kantong bekas baju dan kardus bekas sepatu. "Semoga badan Gadis bukan yang sensitif deh, soalnya ini baju-bajunya nggak aku cuci dulu." perempuan itu terus saja berbicara sendiri.
Sampai akhirnya, sepre sudah di ganti dan semuanya sudah rapi dan bagus. Lemari kecil yang kemarin-kemarin ada di sana Soraya pindahkan ke belakang. Ia pakai untuk menaruh barang yang sudah tidak terpakai.
Ah, Soraya tersenyum puas akan apa yang ia buat untuk Gadis. Dengan ini ia lantas memikirkan kembali akan keinginannnya untuk berpisah dari Zaki. "Kalau aku pisah, aku nggak akan bisa menikmati duit dia. Nanti dia malah enak-enakan nggak kasih nafkah kayak lelaki pada umumnya setelah bercerai."
"Ah, ya Allaah ... tapi kalau lihat lelaki itu aku ingin marah," bibir Soraya kembali monyong.
"Terus gimana ini, Tuhan?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
Teh Euis Tea
adakah di dunia nyata seorang istri yg syng sm anak hasil selingkuhan klu ada luar biasa baik bgt
2024-04-03
0
aqil siroj
speak bidadari banget ini
2024-01-20
0
𝔻𝕚𝕪𝕒𝕙𝕀𝕤𝕥𝕚
sebesar apa kesalan suami,pasti seorang istri akan memaafkan.hanya ingin rumah tangganya utuh,nandes thor ceritanya
2024-01-19
0