13) Bukan Surat Cinta

Malam hampir larut saat Soraya mendengar motor sang anak. Membuatnya buru-buru keluar kamar karena ia tak pernah mendapati anaknya keluyuran terlebih saat ini waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam.

"Ke mana kamu, Ta?" tanya Soraya saat ia sudah berada di teras. Terlihat Gata sudah siap untuk melajukan kendaraan roda duanya itu.

"Kebangun ya, Bu?" tanya Gata. "Mau nyusul Ayah, mobilnya kehabisan bahan bakar, Bu," sambung sang putra.

Deg. Hati Soraya merasa aneh saat mendengar itu. Ia juga baru ingat jika hari ini Zaki tak meminta uang padanya. Kemarin pun ia hanya memberikan uang pada suaminya hanya sedikit, ia yakin kalau suaminya itu tak memiliki apapun sekarang. Astaga, Soraya benar-benar merasa kalau dirinya sudah sangat kejam.

"Pergi dulu ya, Bu. Keburu Ayah ngantuk di jalan sendirian." ujar Gata.

"Tunggu-tunggu. Ibu ambilkan uang dulu. " Soraya membalik badan dan pergi dari sana. Ia mengambil uang kes di kamar agar suaminya itu bisa mengisi bahan bakar mobilnya. Ia tentu tak tega jika sampai se demikian rupa hanya untuk menyiksa lelaki yang walaupun selingkuh namun sangat baik padanya.

Gata tersenyum memperhatikan ibunya. Anak tampan itu tahu kalau rasa perduli yang ibunya rasakan itu masih besar, pun dengan rasa cinta yang ada. Keduanya hanya beda tipis, bahkan mungkin hanya setipis tisu.

Tak lama Soraya sudah kembali dengan uang berwana merah tiga lembar. Tanpa mengatakan apapun wanita itu lalu memberikannya pada sang anak. Lalu, seusai mengucapkan terimakasih, Gata benar-benar pergi dari rumah, menuju tempat di mana ayahnya tengah merasa kesal, marah dan capek. Satu lagi, galau karena terus saja memikirkan istrinya.

...----------------...

Lumayan lama soraya duduk di sofa menanti kedatangan dua lelaki yang tinggal di rumahnya. Sampai waktu menunjukan hampir pukul satu barulah suara mobil dan motor terdengar. Soraya memang tidak menunggu keduanya masuk, namun ia sudah memastikan dengan mengintip dari balik gorden jendela ruang tamu.

Hingga saat sudah terlihat dua pria itu dengan baik-baik saja, barulah ia masuk kembali ke dalam kamar. Menyambung mimpi yang tadi sempat tertunda.

Sementara itu, Gata dan Zaki lantas masuk ke dalam rumah dengan kunci yang dibawa oleh sang putra pertama. Zaki bahkan langsung mencuci tangan dan mengambil minum di dapur, tak lama setelahnya pria itu lantas makan. Kebetulan Soraya memang tidak memasukkan makanan ke dalam lemari es. Karena ia yakin kalau pria itu akan kelaparan saat pulang kerja.

Dengan ditemani sang anak, Zaki makan dengan lahapnya. Rasa lapar yang awalnya tak terasa kini ia rasakan kembali setelah sang anak mengatakan sesuatu. Semua itu pasal perduli Soraya padanya. Yang mana ia yakin kalau sebenarnya Soraya hanya tengah menghukum kesalahannya, ia kini yakin kalau istrinya itu juga masih sayang dan cinta padanya.

Jadi, dari pada pusing memikirkan bagaimana Soraya dengan Ibnu, ia lebih memilih menuruti apa kata sang anak. Putranya itu tadi menyuruh dirinya untuk mendekat dan mengambil kembali hati ibunya dengan rayuan dan pujian. Kata Gata, "anggap saja Ayah lagi pdkt ulang sama ibu. Jadi ya sebisa-bisanya Ayah aja kayak gimana buat ambil kembali hati ibu."

Entah besar kapan putra pertama Zaki itu, sampai-sampai bisa memberitahu pasal hubungan pada orangtuanya. Gata bahkan mengatakan kalau ia ingin kalau orangtuanya tetap saja bersatu walau pernah ada badai yang menerjang keduanya. Menurut Gata, yang terjadi pada orangtuanya adalah sebuah ujian. Dan hadirnya Gadis adalah sebuah anugrah, juga pelajaran.

"Makasih ya, Ta. Ayah udah selesai ni. Kamu kalau ngantuk tidur aja. Ayah masih mau istirahat bentar terus mandi," ujar Zaki pada putranya saat baru selesai dirinya makan.

"Nanti deh. Aku belum ngantuk kok, Yah," ujar Gata jujur. Maklum anak muda, kadang-kadang memang jam hampir pagi barulah matanya baru mau dipejamkan.

"Besok kesiangan, Ayah jadi kena omel lagi sama ibu kamu. Gara-gara Ayah, kamu kesiangan." gerutu Zaki lagi.

"Biarin aja. 'Kan Ayah lagi menikmati masa-masa indah dengan ibu," gurau sang anak.

"Masa-masa indah apaan. Masa sulit ini tuh." Zaki mengeluarkan ponsel dan menunjukkannya pada sang putra. "Tuh, Ayah harus keluar kota lagi. Seminggu kira-kira di sana, ayah nggak pernah bohong yang terlalu loh, Ta."

Gata tersenyum melihat jadwal kerja ayah dan bosnya. Ia mengangguk dan menatap wajah sang ayah. "Nggak papa, Yah. Aku sama ibu 'kan biasa ditinggal," ujarnya.

"Bukan masalah itu, Ta. Ayah kalau bilang ke luar kota beneran loh. Bukan berarti ke rumah Gadis. Soalnya ayah cuma sehari doang biasanya di sana, dan itu saat si bos ada waktu buat menikmati liburan sehari semalam." jelas Zaki lagi.

"Sehari aja udah dapet dua loh Yah, nggak kebayang kalau sering. Bisa-bisa Ayah bawain aku adik selusin," ujar Gata seraya tertawa.

"Ck. Ayah serius ini, Ta. Elah, kamu malah ngajak bercanda." Zaki mengambil ponselnya dan membaca ulang pesan dari sang bos.

"Ya udahlah. Terserah Ayah mau kayak gimana. Yang jelas, semoga Ayah nggak ngulangin lagi kesalahan-kesalahan yang kemarin." ujar Gata seraya berdiri dari duduknya. "Kayaknya Ayah bener deh, kalau aku harusnya tidur." sambung Gata meninggalkan sang ayah yang memandangi kepergiannya.

"Ya udah sana. Selamat tidur." Zaki memperhatikan punggung puteranya seperti semakin tinggi saja setiap harinya. Sampai kadang saat ia pulang dari luar kota selalu saja pangling.

Usai dengan aktifitas malam itu, Zaki lantas ke kamar Gadis. Ia terkejut saat mendapati pakaiannya ada di atas kasur. Ia tersenyum dan ia yakin sekali kalau semua itu istrinya yang menyiapkan. Lalu ia juga mendapati handuknya ada di sana, pun dengan secarik kertas.

"Ya ampun, ada surat cintanya," gumam Zaki seraya mengambil kertas putih itu.

Pelan-pelan ia baca tulisan itu. "Jangan ge-er. Aku siapin ini semua supaya kamu nggak bangunin aku yang lagi tidur nyenyak. Mimpi indah dengan yang lain, yang jelas bukan sama kamu. Oh iya, jangan lupa handuk basah taruh di tempatnya. Kamar Gadis jangan kamu kotori. Ingat ini, jangan ngiler di bantal Gadis atau kamu cuci sendiri sarung bantalnya."

Seketika itu bunga-bunga mekar yang ada di dalam hatinya layu seketika, setelah ia baca dan membayangkan ekspresi Soraya saat mengatakan itu langsung padanya.

"Ampun deh, Sora-Sora." Pria itu lantas membawa kesal handuk ke dalam kamar mandi. Ia putuskan untuk mandi dan tidak lagi ke ge-er-an akan perhatian-perhatian yang dilakukan istrinya itu. Hm, Zaki benar-benar harus hati-hati atau akan kena maran saat mengotori kamar anak gadisnya. Tunggu. Gadis adalah anaknya, tapi ia seolah adalah ayah tiri. Huh, segitu sayangnya Soraya sampai membuat semuanya terbalik.

Terpopuler

Comments

Teh Euis Tea

Teh Euis Tea

msh mending mau ngurusin syukurin di cuekin

2024-04-03

0

Aqil Aqil

Aqil Aqil

kasian km zaki

2024-01-26

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!