12) Pasal Kepercayaan

"Kadang manusia aneh banget ya," ujar Soraya pada dirinya. Saat ini, perempuan itu tengah memoles krim wajah pada mukanya. Perawatan malam yang selalu ia lakukan. "Dia selingkuh sampai punya anak, boleh. Aku loh hanya ketemuan sebentar sama temen, dia marah," sambungnya pada pantulan dirinya di cermin.

"Apa dia nggak mikir ya, kalau karma itu ada," Soraya masih saja bicara sendiri. "Apa harus aku balas kamu, Yah," sambung perempuan itu.

"Enggak. Itu bukan aku banget. Tapi kalau ...," ucapnya terputus saat tiba-tiba ide muncul begitu saja. Membuat perempuan itu tersenyum miring dan mengangguk-anggukkan kepalanya. "Baiklah, boleh juga. Kita lihat ya, Yah. Kamu bakal kayak gimana." entah apa yang di rencanakan Soraya yang jelas perempuan itu terlihat begitu serius.

Hingga pagi menyapa, saat wanita itu sudah selesai menyiapkan sarapan yang tadi ia beli di gang depan. Ia lalu memulai aksinya saat melihat Zaki keluar dari kamarnya. Suaminya itu sudah terlihat rapi, siap untuk sarapan dan berangkat ke kantor.

"Halo, Mas Ibnu?" Soraya duduk seraya menyilang kaki, melirik sekilas ke arah Zaki. Bisa ia lihat Zaki yang lantas berhenti dari langkahnya dan menoleh ke arah dirinya yang duduk manis di sofa.

"Oh, iya. Bisa banget, Mas," ujar Soraya lagi dengan nada suara yang dibuat-buat sedemikian rupa.

"Aku santai Mas, setiap harinya. Jadi bisa ke mana pun." kali ini Soraya mendapati suaminya yang sudah berdiri di depannya. Memperhatikan dirinya dengan dada yang bergerak naik turun karena rasa kesal. Bayangkan saja, sepagi itu ia sudah mendapati istrinya berbagi suara dengan pria lain, di mana ada lelaki yang tidak cemburu? Tidak ada, bukan.

"Oh, iya Mas. Nanti aku telepon lagi." Soraya tersenyum ke arah Zaki dengan, ia tunjukan layar yang masih menyala itu. Masih ada nama 'Mas Ibnu' di sana. Netra Zaki melihat jari lentik Soraya memutus sambungan telepon itu membuatnya lantas duduk di sebelah istrinya dengan kesal.

"Kamu mau balas aku, Ra?" tanya Zaki dengan wajah sendu.

"Sorry, ya. Itu bukan aku banget." Soraya beranjak dari duduknya, namun saat hendak melangkahkan kaki, tangannya terlebih dulu di cekal oleh sang suami.

"Please, Ra. Jangan kayak gini," ucap Zaki pelan. Coba saja dia tidak membuat salah terlebih dulu, sudah pasti ia akan marah-marah dan menghukum istrinya itu. Ia bisa membuang ponsel pintar sang istri atau membawa kemanapun istrinya itu saat ia pergi.

"Terus aku harus kayak gimana?" tanya balik Soraya dengan menoleh dan menatap sinis wajah lelaki itu. "Harusnya kamu nggak usah khawatir loh, Yah. Kamu tenang aja, seorang istri nggak bisa bersuami dua." sambung Soraya seraya melepas tangannya dari tangan sang suami dengan paksa.

Zaki pasrah saat wanita itu mengatakan apa pun yang ingin dia katakan. Ia juga hanya bisa memandangi penuh rasa sedih istrinya yang kini masuk kembali ke kamar mereka, mungkin Soraya akan membangunkan Gadis yang pagi ini belum bangun. Sedangkan Gata, pagi tadi ia pergi terlebih dulu karena ada janji dengan temannya, begitu pamit anak tampan itu.

Hingga akhirnya, Zaki pergi tanpa sarapan. Tanpa minta uang untuk pegangan. Ia bahkan merasa tak selera makan, pun dengan hidup rasanya ia sudah tak memiliki keinginan lagi untuk bernapas. Rasa sesak di dadanya yang diakibatkan oleh kecemburuan itu membawanya tidak mood untuk melakukan segala hal.

Yang ada di pikiran pria itu, bagaimana keseharian istrinya hari ini. Pergi kah, menemui pria lain? Atau kembali berbagi suara, atau jangan-jangan berbagi video call, atau jangan-jangan video .... "Enggak-enggak. Soraya nggak gitu." pikiran buruk Zaki membuat pria itu menggelengkan kepalanya seketika. Sampai ia harus terus-menerus menarik napas dan membuangnya perlahan agar bisa membuang pikiran-pikiran buruk dirinya tentang sang istri.

Karena pikirannya itu, ia sampai bolak-balik di tegur oleh sang atasan karena salah dalam mengerjakan pekerjaannya. Sang bos yang amat baik padanya itu bahkan sampai heran pada bawahan kesayangannya itu. Namun, kendati Zaki adalah anak buah tersayang dan terpercaya, tetap saja dalam hal pekerjaan ia harus menyelesaikan semuanya tak perduli saat waktu sudah malam dan semua orang sudah pulang. Hanya tinggal pria beranak dua saja di sana, di ruang kerjanya.

Sementara itu di rumah, Gata duduk dengan ibunya dan sang adik. Pemuda itu tahu kalau sang ayah pulang malam karena ia baru saja bertanya. Walaupun tanpa di suruh sang ibunda.

"Ayah pulang telat katanya, Bu," jelas Gata pada sang ibu.

"Bodo amat," jawab Soraya pelan, agar Gadis tak mendengar.

"Ck, Ibu apaan sih," gerutu Gata heran pada wanita yang katanya sudah memaafkan tapi pada kenyataannya tetap saja marah.

"Maksudnya?" Soraya menoleh ke arah sang putra.

"Iya Ibu aneh, Ibu bukannya udah maafin ayah ya," ucap Gata pada ibunya itu.

"Idih, kata siapa?" Ujar Soraya tak terima. "Nggak semudah itu ya, Gata. Sakitnya di tipu bertahun-tahun nggak bisa di lupakan dalam waktu sekejap mata, apalagi diganti dengan materi. Tidak bisa sembuh begitu saja, Gata," sambung Soraya dengan kesalnya.

"Iya sih. Tapi 'kan ayah udah benar-benar minta maaf Bu," kata Gata lagi.

"Minta maaf itu mudah. Dan minta maaf bukan jaminan tidak akan melakukan kembali kesalahan yang sudah di perbuat. Intinya gini Ta, kepercayaan yang ibu beri waktu kemarin-kemarin sudah di hancurkan oleh pria itu dan kini sudah tidak terbentuk. Nggak bisa dikembalikan seperti semula," ujar Soraya lagi menjelaskan. "Ini bisa buat pelajaran juga loh, Ta. Buat kamu. Ingat baik-baik masalah ayah dan ibumu. Pelajari mana yang baik dan mana yang buruk. Kamu sudah besar, sudah bisa menilai sendiri, bagaimana sifat laki-laki dan bagaimana sifat perempuan," sambung Soraya panjang kali lebar.

Gata terbengong-bengong memandang mulut sang ibu yang berbicara tanpa jeda. Dan jika sudah seperti ini, pemuda itu hanya bisa menjawab dengan anggukan kepala saja. Karena memang ada benarnya juga apa yang dikatakan ibunya itu. Dan ya, lagi-lagi Gata mengerti satu hal kalau kepercayaan susah untuk kembali di dapatkan jika sudah rusak karena tak pandai menjaganya.

Dengan itu, Gata lantas diam dan memilih bermain dengan Gadis yang terlihat sibuk mewarnai buku barunya. Ia tak akan lagi membicarakan masalah ibu dan ayahnya. Ia lebih baik diam dan bodoh amay dengan apa yang ibunya lakukan pada suaminya itu.

Biar saja, asal keduanya masih dalam satu rumah dan sati hubungan ia dan Gadis akan aman. Tak akan kebingungan akan tinggal dengan siapa.

Terpopuler

Comments

Aqil Aqil

Aqil Aqil

klu dpkr2 kasian jg ya sizakix jngn smpai sizaki psh sm sisoraya ya thor

2024-01-25

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!