9) Buaya Berkepala Kampret

Sakit yang dirasakan Soraya tak sebanding dengan uang yang di miliki Zaki. Pagi ini, pria itu menaruh semua kartu yang ia punya di atas nakas. Bahkan sampai uang kes yang ada di dalam dompet saja ia taruh di sana. Ia tak perduli pada uang, yang jelas ia hanya ingin menuruti apa keinginan istrinya itu.

Saat ini seperti biasa, Soraya tengah membuat sarapan dan Zaki masuk kamar hanya untuk mandi dan berganti pakaian. Bahkan percayalah, seusai mandi pria itu sampai rela mencuci pakaiannya sendiri, agar tak merepotkan sang istri.

Ia benar-benar menjadi kucing yang baik untuk saat-saat ini. Tak menganggap sang istri jahat, karena menurutnya apa yang sudah ia lakukan sudah lebih-lebih dari jahat. Hingga usai mandi dan berpakaian rapi ia lantas mendekat ke arah sang istri. "Ra, uang kes dan kartu aku semua ada di atas meja kecil kamar kita. Kamu mau kasih aku berapa?" ujar pria itu yang lantas bertanya.

Soraya tak menjawab, ia lantas berjalan ke arah kamar meninggalkan sang suami yang berdiri dengan diam di dapur. Menantikan istrinya kembali dan memberinya uang. Benar saja, tak lama setelahnya, Soraya kembali dengan selembar uang dan memberikannya pada sang suami.

"Makasih, Ra," ujar Zaki menerima uang pecahan seratus ribu itu. Ia masukkan ke dalam saku dan lalu kembali bertanya pada istrinya lagi. "Boleh sarapan bareng nggak, Ra?"

"Boleh." jawab Soraya ketus.

Zaki mengangguk-anggukkan kepalanya dan berterimakasih lagi, seusai itu ia lantas menemani sang anak bungsu yang terlihat menonton televisi sembari bermain dengan boneka lucunya.

"Gadis," sapa Zaki pada anak bungsunya.

"Ayah," gadis kecil itu menoleh. "Lihat ini, Ibu Sora beli ini buat aku, cantik 'kan kayak Ibu?" sambung anak kecil itu bertanya.

"Iya, cantik sekali ya ... Kaya ibu kamu," ujar Zaki memegangi boneka cantik itu. Sebenarnya yang dimaksud oleh Zaki adalah Soraya, namun wanita yang kesal itu mengira kalau yang dimaksud sang suami adalah selingkuhannya. Yang mana lantas membuat wanita itu memajukan bibir bawahnya.

"Dasar, buaya kamvret!" gerutu Soraya yang mendengar ayah dan anak itu ngobrol.

"Kenapa, Bu?" Gata tak sengaja mendengar apa yang di ucapkan sang ibunda tercinta. Membuatnya ingin tertawa namun takut salah dan berujung menambah kesal ibunya.

"Nggak papa, ibu baru tahu kalau ada buaya berkepala kampret," jelas wanita yang tengah membuat minuman manis untuk anak perempuannya. Ya, Gadis sudah Soraya anggap seperti anaknya sendiri, sampai pada anak itu ia tak pernah merasa ataupun memendam kebencian.

"Oh iya, di mana?" Gata tertawa. Ia tak pernah menyangka ada hewan seperti yang dimaksud ibunya itu.

"Di sini." jawab Soraya dengan ketusnya. "Udah ayo sarapan, kamu mau bawa cemilan nggak?" sambung Soraya bertanya. "Tadi pagi ibu goreng pisang," katanya lagi.

"Boleh, bawain agak banyak kalau ada Bu, buat bagi sama temen," kata Gata sembari merangkul sang ibu.

Soraya menoleh ke arah sang anak. "Temen apa temen?" tanyanya dengan alis yang bergerak naik turun.

"Masih temen Bu, bakalan jadi temen kalau belum sama-sama sukses dan bahagiain orang tua kita," jawab sang putra dengan senyum yang mengembang sempurna.

"Bagus, seenggaknya sukses buat kehidupan kalian selanjutnya," ujar Soraya lagi. "Ayo panggil itu bapakmu dan Gadis," perintah seorang ibu itu lagi.

Gata menurut. Ia mendekat ke arah ayah dan adiknya yang terlihat tengah bermain, bahkan ia sampai tertawa saat mendapati ayahnya bersuara anak kecil, karena tengah menggerakkan boneka kecil milik Gadis.

Duduk di kursi makan, semuanya memakan masakan Soraya yang kali ini memiliki menu sarapan nasi goreng dengan telor ceplok dan sosis bakar. Kenapa sosis bakar? Karena itu adalah makanan kesukaan Gadis, bocah kecil itu juga meminta nasi goreng untuk sarapan, jadi ibu cantik itu segera mengabulkan apa keinginan putri keduanya.

Zaki yang tak di ajak ngobrol oleh istrinya itu hanya mampu memandangi wajah setiap orang yang ada di sana. Melihat senyum Gata yang mendengarkan keluh kesah ibunya, melihat Gadis yang turut tersenyum senang dan mengagumi masakan ibu barunya dan Soraya yang terus saja cerita banyak hal pada kedua anaknya.

Hingga sampai tiba di mana untuk pergi. Zaki berpamitan pada Soraya walaupun tetap tak di jawab namun itu tetap ia lakukan. Sampai ia melihat anaknya pamit dan mendapatkan semua yang biasanya ia dapat. Dari bekal cemilan yang biasanya Soraya bawakan saat membuat lumayan banyak untuk di bagi-bagikan pada rekan kerjanya di kantor, sampai kadang di bawakan makan siang karena istrinya kadang tak mau dia telat makan.

Ah, rasa cuek Soraya benar-benar membuatnya sangat sedih. Tapi inilah konsekuensi dari kesalahan yang sudah ia buat.

Sementara itu, seusai dua pria manusia dirumahnya pergi Soraya lantas masuk ke kamar. Ia kini lalu duduk di ranjang dan mengambil kartu sang suami. Ada tiga di sana, satu kartu yang biasa menerima gaji, dan dua lainnya milik suaminya pribadi. Selama ini, Soraya tak pernah minta banyak. Seberapa pun yang Zaki berikan selalu ia terima dengan lapang, karena itu semua akan cukup ditangannya yang tidak suka neko-neko. Dan memakai sesuai kebutuhan.

"Jangan bilang ini kartu buat selingkuhan," gumam Soraya kesal memandangi kartu yang tak pernah ia lihat sebelumnya. "Jangan sampai aku pakai yang ini, takutnya ini isinya duit penjualan rumah. Najis banget pakai uang itu." sambung Soraya seraya berdiri, ia berniat menaruh benda-benda kecil itu di tempatnya.

Ia hanya ingin memberi pelajaran pada suaminya, kalau ia tak ingin menjadi wanita yang dianggap bodoh. Walaupun saat ini ia merasa sudah sangat bodoh karena tak mengerti perselingkuhan suaminya. Tapi, biarlah. Hanya ini yang bisa dia lakukan untuk membalas dendam. Karena, jika membalas dengan selingkuh, itu bukan dirinya sekali.

Soraya bukan wanita murahan yang bisa sebegitu mudahnya membagi cinta. Biarkan rasa sakitnya ia bawa untuk bersenang-senang. Dan suaminya, yang awalnya senang kini ia buat menderita dengan kekurangan uang. Toh, uang ditangannya itu tak akan ia gunakan untuk hal aneh, paling-paling hanya memenuhi keinginan wanita, yaitu berbelanja.

Anggap saja sebagai pelipur lara, setelah sekian lama menjalani kehidupan dengan kebohongan. Hingga saat usai dengan menaruh semua kartu itu, ia lantas menaruh juga uang kes yang sudah ia hitung dan ia taruh di laci nakas.

Kini, sudah saatnya ia untuk memandikan sang putri. Jadi ia lantas keluar kamar dan memanggil Gadis. Bocah kecil itu begitu penurut, ia bahkan langsung berlari ke kamar mandi saat ibunya sudah terdengar mengajak dirinya.

Terpopuler

Comments

Aqil Aqil

Aqil Aqil

aku ingn zaki cmbru thor.knp ya kesel bngt sm sizaki yg tkng slngkh😕

2024-01-23

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!