Bab 4_ Melanggar Kode Etik
Cukup lama Dante memeluk Olivia. Bukannya dapat balasan dipeluk, Olivia justru berusaha melepaskan. Kedua tangannya menghalau mengepal di depan dada Dante.
Sudah mulai macam-macam ya… Gak akan kubiarkan! Baru juga bertatap muka. Udah main peluk-peluk gini! Hohoho… Tidak semudah itu! Aku gak mau terbuai dengan wajah gantengmu itu! Harus tetap waspada jangan sampai tubuhnya didorong ke arah bed.
“Jam berapa kamu sampai? Kenapa kamu tidak kasih tahu saya?... Kamu juga tidak pernah kirim pesan atau call ke saya?” Olivia membalas pertanyaan itu dengan meringis selebar mungkin. “Selalu Mei yang menghubungi saya. Why?” Olivia terus dicerca pertanyaan oleh Dante. “Kamu punya nomor saya kan?”
“Mm... Yeah. Saya punya nomor kamu… Tapi kan gak pa – pa juga kalau saya minta Mei hubungin kamu. Lagian saya dan Mei tinggal sekamar... Hehehee…”
Tiiinnng! Pesan Whatsapp masuk di ponsel Olivia. Keduanya menoleh ke arah sumber suara.
“Em, Dante… aku mau baca pesan dulu. Bo-leh pelukannya dilepas?” Masih memamerkan gigi nya sambil mendorong dada Dante pelan pelan.
“Yeah, sure… Kamu bisa ganti baju dan saya mau mandi,” ucap Dante mengelus elus punggung Olivia.
Hloh? Kenapa mandi disini? Emang kita betulan sekamar ya? Satu bed? Olivia tidak sanggup membayangkan dirinya bersama orang asing yang baru saja dia lihat dalam satu ranjang.
“Saya mandi dulu ya,” Dante berlanjut mengusap pipi Olivia sebelum beranjak ke kamar mandi.
“Yeah. Enjoy your shower,” ucap Olivia sambil melepaskan tangan Dante dari pipi seolah mengharapkan Dante segera ke kamar mandi dan tidak bermain – main menyentuh pipinya.
Dengan gerakan gercap Olivia meraih ponsel dan membuka pesan Mei yang masuk.
📲Gawat Ol!
Olivia bertanya-tanya maksud pesan Mei itu. Gawat? Maksudnya?
Baru saja mau mengetik untuk membalas, panggilan masuk dari Mei segera diangkat olehnya.
“Hai Mei? Kenapa?” tanya Olivia sambil melirik pintu kamar mandi.
“Oliv! Duh… Gimana ya aku ngejelasin… Mmmm.”
“What? Please jangan bikin aku penasaran,” semakin penasaran Olivia dibuat Mei.
“Duitnya belom ditransfer.” Bibir mode manyun bisa dilihat di wajah Olivia. Rencana kabur seolah menguap dari bayangannya.
“Kok bisa…? Kamu kena tipu sama penghuni sebelah ya? Atau kamu yang nipu aku?” Mulai kesal nada bicara Olivia. Kepalanya mulai pusing memikirkan rencana kaburnya gagal.
“Astaga Ol…… Masa aku nipu kamu. Ya enggak lah! Uangnya akan tetap ditransfer, TAPI… dengan catatan foto liburan kamu dengan Dante dikirim ke mereka. Gituh… Gak mungkin dong aku boong sama kamu. Jadi uangnya akan ditransfer kalau kamu udah balik dari Labuan Bajo. Gitu Liv…” Jelas Mei masih membuat Olivia kesal.
“Ish! Kok gitu? Lama banget ditransfernya. Kan liburan disini jug butuh dana. Terus ini kenapa kamar aku sama dia jadi satu? Kamu bilang kamarnya pisah. Gimana sih?” Rasa kesal tidak bisa dibendung. Mei pun sudah paham dengan sifat Olivia itu.
“Em… Ah enggak ah! Aku gak ada bilang kamar kalian pisah.” Mata Olivia terbelalak menanggapi ucapan Mei.
“Hloooo?! Kamu kan bilang gitu waktu itu.” Sangat kesal Olivia beradu mulut dengan temannya itu. “Ih! Gak bisa gini. Pokoknya aku mau kamu bilang Dante. Aku mau dia booking satu kamar lagi buat aku!” Olivia tidak mau kalah. Di terus mencerca Mei sejadinya.
“Hloooo? Gak bisa gitu Liv! Penghuni sebelah mau hasil fotonya yang romantis. Ntar kalau kamu pindah kamar, gak romantis dong… Udah setengah jalan ni kita.” Mei masih berjuang demi iPhone barunya. Kenapa juga sih aturan taruhannya harus pakai kirim-kirim foto romantis segala? Ribet aja! Bisa berantem nih aku sama Olivia, Mei mulai menggerutu dalam hati. Meski demikian, dia tetap terus berjuang membujuk Olivia. “Ayolah Oliv… kalau urusan tidur seranjang ya tidur aja… Yang penting kan enggak ngapa ngapain…” Menggigit bibir karena menduga Olivia tidak suka pendapatnya.
“Apa? Enak kali kamu ngomong gitu? Ish! Awas ya ntar kalau aku udah balik ke Bali lagi. Pokonya kalau aku sampai kenapa napa, habis kamu! Ku cincang!” Mei yang mendengar hal itu terkekeh karena dirinya tahu Olivia tidak akan setega itu.
“Iyaahh… Kamu cincang deh jadi ayam rebus. Hihihii. Kalau Dante macam-macam, tolak aja kalau kamu emang gak mau. Kalau emang dia laki-laki yang baik, dia pasti tahu cara menghargai perempuan. Gak mungkin dong kalau kamu udah nolak dan dia tetap maksa. Melanggar kode etik itu namanya.” Terdengar masuk akal ucapan Mei itu. Olivia pun mencoba bersabar dengan kondisinya sekarang. “Yang diminta kan foto romantis… Bukan foto yang anu anu juga, Liv…” Jelas Mei.
“Pokoknya tetap aku gak suka kalau satu kamar gini. Kayak aneh satu kamar sama orang asing,” bibir Olivia kembali manyun melirik pintu kamar mandi lagi. “Mei, Dante udah selesai mandi.” Gagang pintu mulai bergerak. “Ntar kita lanjut lagi.” Olivia segera mematikan panggilan itu.
Olivia terdiam sesaat melihat pemandangan di depannya. Tubuh tegap, tinggi, dengan postur otot yang maksimal. Sungguh menggoda!
Sial! Kenapa dia harus telanjang dada seperti itu? Mau pamer kah? Menggerutu dalam pikirannya. Olivia segera mengalihkan pandangannya sebelum diketahui Dante.
“Olivia…”
Tidak sanggup! Olivia tidak sanggup menengok ke arah Dante saat ini. Laki laki yang sedang setengah telannjang itu berjalan mendekat ke arahnya.
“Olivia… Bisa kamu bantu saya untuk ini?”
Olivia masih belom menoleh. Dirinya mencoba mengontrol perasaannya. Tangannya mengepal erat memegang handphone.
“Tolong oleskan ini.”
Olivia tidak sanggup membayangkan bagian apa yang harus dioles olehnya. Sedikit demi sedikit Olivia menoleh ke arah Dante.
“Dua hari yang lalu, saat di kitchen saya terkena minyak panas. Tolong oleskan krim ini ke punggung saya,” Dante memberikan krim.
Haduh… Otaku… kenapa bisa terbayang yang aneh aneh sih…? Sadar Oliv! Sadar! Menggerutu memarahi diri sendiri. Kalau dia laki-laki yang baik, dia pasti tahu cara menghargai perempuan, tegur Olivia kepada dirinya sendiri.
Harum tubuh Dante sangat khas! Pikiran Olivia semakin dibuat kacau.
Ingat Oliv… Kamu gak boleh terjelembab ke dosa yang sama. Masa lalu kelam dengan mantan enggak boleh terulang. Menasihati diri sendiri sekaligus menguatkan Iman.
Tidak bisa dipungkiri Olivia tertarik dengan Dante saat ini. Sosok laki-laki itu begitu sempurna di matanya.
“Dante, lukanya yang sedikit kemerahan ini ya?” tanya Olivia mulai meletakkan tangannya ke punggung Dante.
“Iya, ada bagian kemerahan di tengah. Tangan saya tidak bisa sampai ke belakang. Beginilah resikonya jadi seorang chef,” ucap Dante. Olivia pun mulai mengolesi punggung Dante dengan krim. “Waktu saya video call dengan Mei dan 3 perempuan di hari pertama, mereka bilang kerja di hotel. Yang saya ingat ada yang kerja di bagian Sales Coordinator, terus Assistant Food and Beverage Manager dan satu lagi Sous chef. Kalau kamu di hotel bagian apa, Oliv?” tanya Dante membuat Olivia menelan ludah. Rasanya tidak nyaman sekali mendapat pertanyaan itu. Haruskah Olivia menjawab profesinya yang masih menjadi seorang anak training? Tapi kenapa rasanya Olivia tidak sanggup menjawab pertanyaan yang seharusnya mudah dia jawab.
To Be Continued. . .
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments