Mei yang tengah mendiskusikan sesuatu di dalam kamar bersama 3 karyawan hotel di tempat training nya tengah panik. Begitu juga dengan 3 karyawan itu yang sering disebut Olivia dan Mei si penghuni sebelah kamarnya.
“Gawat. Bisa makin besar masalah nya kalau Dante melapor ke polisi,” ucap perempuan berbaju koki dengan muka risaunya.
“Waktu nelpon kenapa kamu nggak check dulu sih siapa yang nerima?” Perempuan berambut panjang itu mencebikan bibirnya memandangi Mei yang mukanya tak kalah kacau.
“Biasanya Oliv gak pernah ngasih hp nya ke orang lain. Emang lagi sial aku nya ngoceh panjang lebar minta foto-foto liburan mereka. Tahu-tahu nya yang angkat call si Dante…. Kan aku maunya juga dapat hasil secepatnya. Kalian mau nya juga gitu kan,” ucap Mei asal tidak mau disalahkan.
“Kami gak bilang secepatnya minta foto-foto itu. Kamu nya aja yang gak sabaran dapat duit cuma cuma dari kita,” elak perempuan berambut pendek. “Selain mau ngancam mau melapor polisi, bilang apalagi Dante?”
“Salah sasaran. Dia bilang gitu. Kata dia… Kalian salah pilih mangsa untuk jadiin dia bahan taruhan. Dia bilang gak tertarik sedikitpun sama Oliv, dia bilang Olivia bukan seleranya.” Kalimat terakhir Mei itu membuat ketiga perempuan di kamar itu menahan senyum.
Olivia yang mendengar dari balik pintu menjadi sedikit kesal.
Dia bilang gak tertarik? Bukan seleranya? Terus ngapain saat minum wine disana dia cium aku? Udah ngatain aku murahan, terus ngatain aku ga menarik?... Terus kenapa dia setuju buat ketemu di Labuan Bajo? Dasar Lakik kurang ajar! Gerutu Olivia dalam benaknya.
“Semoga aja chef Dante yang ganteng itu gak serius mau laporin kita ke polisi. Sekarang kita berharap nya itu aja sih. Sama Olivia bisa balik dengan selamat. Jadi kuatir aku sama anak itu,” ucap perempuan berbaju koki membuat mereka termangu. “Sebenarnya kamu gak harus nelpon Olivia terus terusan waktu itu, Mei. Kita kan gak minta cepat-cepat hasil fotonya. Aku tahu rencana kamu mau pakai uang hasil taruhan buat apa. Buat beli iPhone keluaran terbaru kan, bukan bayar uang semester? Tapi kamu bilang lain ke Olivia."
GLEK!
Wajah Mei memanas mendengar ucapan seniornya itu. Sedangkan Olivia yang mendengar hal itu menjadi kesal, geram, marah dan….
“Jadi itu tujuan kamu Mei?!” Olivia membuka pintu dan melirik kedua bola mata Mei yang kaget.
“Oliv…?” ketiga karyawan itu ikut kaget melihat kehadiran Olivia yang tidak disangka.
“Oliv…? Kok kamu udah pulang? Kan harusnya masih di Labuan Bajo?” ucap Mei menyambut kedatangan Olivia.
Merasakan suasana yang memanas dan tidak bersahabat, ketiga karyawan itu berjalan pelan menuju pintu keluar meninggalkan Olivia dan Mei.
Tentu saja perdebatan sengit tengah terjadi di dalam kamar itu. Suaranya pun bisa didengar dari luar.
“Habis si Mei kena maki,” ucap karyawan berambut panjang yang tengah menempelkan telinganya di jendela dari luar. Ketiga senior Mei dan Olivia tengah menguping dari luar kamar.
“Salah si Mei mau coba-coba ngibulin Olivia. Teman macam apa dia tuw?” balas karyawan berbaju koki.
“Kalau dari awal aku tahu alasan kamu minta aku buat ketemu sama orang asing itu cuma untuk beli hp baru, aku mana mau, Mei?! Kamu ni kelewatan. Kamu ga tahu gimana takutnya aku menghadapi orang yang gak ku kenal!” kesal Olivia menuding muka Mei dengan jarinya.
“Iya— maaf, Oliv… Aku nyesel. Sorry,” ucap Mei mencoba meredakan kemarahan Olivia.
“Kelewatan kamu, Mei.”
“Iya maaf. Aku tahu salah. Makanya aku cerita ke penghuni sebelah karena takut kamu kenapa-napa,” balas Mei mengatupkan kedua tangannya untuk meminta maaf. “Gak akan terulang lagi kejadian ini, Oliv. Promise… aku janji,” bujuk Mei mencoba meraih lengan Olivia untuk memeluk temannya itu.
Meski dirundung rasa kesal. Olivia mencoba menekan emosinya. Lagi pula Mei adalah teman sekamarnya untuk beberapa bulan kedepan selagi masa training di hotel itu.
Akhirnya setelah beberapa minggu berlalu, Olivia dan Mei nampak akrab lagi. Keduanya nampak dekat lagi baik saat training di dalam hotel maupun di kamar.
“Oliv…. Mau nonton film gak? Aku ada langganan Netflix bulan ini. Nonton yuk!” ajak Mei sambil memperhatikan Olivia yang tengah sibuk dengan laptop.
“Film apa? Korea? Favorite kamu… lagi malas ah nonton yang romantis romantis,” ucap Olivia. Entah kenapa moment saat Dante menci um bibir nya itu terlintas di benaknya. Kesal! Bila mengingat kejadian itu, Olivia akan teringat kembali dengan tulisan celaan tentang dirinya yang dianggap murahan.
“Monster. Ini tentang monster. Bukan romantis romantis. Kamu kan tahu aku habis putus sama cowok Thailand itu. Lagi malas juga nonton yang romantis romantis. Mending kita nonton monster. Monster ganteng dari Korea,” balas Mei tersenyum kecil menghibur diri sendiri.
“Apa judulnya? Jangan-jangan aku pernah nonton,” tanya Olivia mulai menyimpan hasil ketikannya di laptop.
“Judulnya, sweet home, tapi isi filmya tentang monster,” jawab Mei.
Keduanya pun mulai menonton sambil makan camilan. Karena tentang monster, wajah keduanya pun tampak tegang karena tidak ada unsur komedianya.
“Oliv, mmm….. boleh ga aku nanya sesuatu?” tanya Mei sambil mengunyah makanan.
“Apa? Kalau mau tanya, tanya aja. Jangan bikin penasaran,” jawab Olivia.
Mei pun mempersiapkan diri untuk bertanya.
“Sebenarnya waktu aku nelpon kamu dan yang nerima call si Dante waktu itu… aku lihat Dante berte lan jang da da setelah dia mengaktifkan video. Dia maki-maki aku dengan video call. Dia bilang mau mastiin muka ku supaya gak akan berurusan dengan ku lagi. Marah banget dia,” ucap Mei yang direspon Olivia dengan anguk-anggukan kepala.
“Wajar. Aku pun kalau jadi Dante pasti marah. Orang mana yang mau dijadikan bahan taruhan? Apalagi foto2 pribadi,” balas Olivia menanggapi ucapan Mei.
“Hmmm yah. Aku pun sama,” Mei menghela nafas. “Tapi…. Sebenarnya yang mau ku tanya itu, apa waktu bermalam di hotel itu kalian tidur satu bed?” tanya Mei membuat mata Olivia melirik mata Mei.
“Mana ada aku tidur sama dia! Gak mungkin,” secepat mungkin membantah karena Olivia tidak merasa hal itu terjadi.
“Sungguh? Apa mungkin aku salah lihat?” Mei mencoba mengingat ingat sesuatu. “Kalau bukan kamu, mungkin orang lain.”
“Maksud kamu apa sih? Salah lihat apa?” Olivia menjadi penasaran.
“Mmm Aku tuw melihat perempuan di video call saat sama Dante. Si cewek itu lagi tidur di bed. Tapi mukanya tertutup dengan rambut panjang. Panjang rambutnya kaya punyamu ini, warna rambutnya juga hitam. Em… terus… Dia kayanya ga pakai baju deh soalnya punggung bagian atas terbuka dan gak kena selimut. Warna kulitnya kayak warna kulit kamu.”
Huft… Olivia menelan ludah karena mengingat kejadian saat dirinya terbangun dan tidak memakai baju.
“Kamu sama Dante waktu itu…”
“Bukan aku! Itu pasti perempuan lain. Dante pasti bawa perempuan lain di kamarnya. Aku gak ngapa-ngapain sama Dante!” kesal Olivia. Meski menyangkal, tapi kenapa rasanya ucapan Mei lebih masuk akal karena sampai saat ini Olivia belum mengingat apa pun setelah dirinya menikmati wine di rooftop bersama Dante.
Gak mungkin! Itu gak mungkin terjadi. Bukan aku, batin Olivia menyangkal berkali-kali.
To Be Continued…
Like, Comment, Masukan ke Favorite dan Vote nya ya kakak - kakak... Ini sangat membantu author. Terimakasih 😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments
Anita Jenius
1 iklan buatmu
2024-06-02
1