Sialan…… Kenapa sih Mei ini yakin banget kalau cewek yang dia lihat itu aku? Bikin kepikiran aja! Ishh… Hufftt… Kalau pun cewek yang dilihat Mei itu aku… Aku akan tetap lempar 40 juta itu ke muka Dante! Ga terima aku dibilang murahan! Enak aja!... Tapi aku tetap yakin cewek itu bukan aku! Dante pasti tidur sama cewek lain di kamar yang lain. Dan aku… sudah pasti aku tidur sendiri. Yah! Aku harus mikir positif! Positif positif positif… Gerutu Olivia dalam benaknya.
Selesai berkemas, Olivia dan Mei tidur di bed masing-masing. Kebetulan jam penerbangan keduanya tidak jauh berbeda meski Olivia ke Labuan Bajo dan Mei pergi ke Batam.
“Oliv… bangunin aku ya kalau besok aku belum bangun,” ucap Mei membuat Olivia membuka mata dan mengalihkan pandangannya ke Mei. “Kalau punya flight pagi itu rasanya gak bisa tidur nyenyak. Sekalinya bisa tidur, pasti besok kalau bangun jantung meletup letup kayak mau meledak. Duarr… Huamm!” Mei menguap dan berlanjut menarik selimutnya menutupi kepala.
“Hmm…. Gak janji ya. Aku pun begitu. Syndrome flight pagi,” balas Olivia tersenyum tipis ikut menarik selimutnya untuk tidur.
________________
Pagi pun tiba. Olivia dan Mei beradu kecepatan unuk menyelesaikan aktifitas kamar mandi.
“Aish… kenapa tiba-tiba air nya keluar dikit sih?” ucap Olivia mengotak-atik gagang shower nya. “Mei…!”
“YA?! Apa?!” Jawab Mei yang tengah berjuang di dalam toilet.
“Gimana air di toilet? Keluar ga? Sini air nya macam pipis.”
“Iya sama...! Ish… aduuuhh… kenapa pakai sakit perut sih pagi ini? Belom mandi lagi. Hmmm…” Mei terus berjuang di toilet.
Secepat kilat keduanya berdandan tipis setelah mandi. Olivia dan Mei keduanya sibuk masing-masing membawa koper menuju taxi yang dipesan.
“Huft… akhirnya. Selesai juga kita di hotel ini,” ucap Olivia melihat bangunan asrama dan hotel tempat dia training selama 6 bulan itu. Begitu pula dengan Mei.
“Yeah. Akhirnya,” sambung Mei.
“Sudah siap semua, gek? Gak ada yang ketinggalan kan?” tanya spirit taxi itu
“Iya, bli. Let’s go to airport. Sudah siap kita,” jawab Mei menutup kaca mobil.
Pagi itu cukup ramai di bandara. Olivia dan Mei pun harus mengantri di counter masing-masing.
“Take care ya, Mei. Jaga diri baik-baik,” ucap Olivia memeluk Mei setelah keduanya harus berpisah menuju gate masing-masing.
“Kamu juga take care, Oliv. Kalau bosan call aku aja. Atau cus terbang ke Batam. Biar kita ke Singapore sama-sama ketemu kakak mu, kak Vivi. Hehehe,” ucap Mei disambut senyuman oleh Olivia.
“Ya… Aku akan call kamu. Island life (kehidupan pulau) disana, pasti aku banyak waktu buat call kamu,” ucap Olivia membayangkan tempat training barunya. “Okeh…, see you Mei. See you soon!” Olivia bergegas membetulkan koper kecil nya akan dibawa ke kabin penumpang.
“See you Oliv. See you soon!” peluk Mei kembali, sebelum akhirnya keduanya berjalan berpisah.
Penerbangan dari Bali ke Labuan Bajo tidak membutuhkan waktu lama. Masih dengan muka yang segar, Olivia akhirnya sampai kembali ke bandara Labuan Bajo. Kali ini Olivia tidak begitu bingung karena dirinya pernah kesini. Beruntung sekali begitu keluar dari bandara ada papan nama bertuliskan namanya.
Wah… begini ya cara resort bintang 5 yang luxury menyambut kedatangan anak training… Gimana coba rasanya kalau jadi karyawan? Pasti lebih keren dari ini, gumam Olivia dalam benaknya. Dirinya sangat senang dan merasa aman karena resort tempat training nya begitu perhatian.
“Selamat datang di Labuan Bajo,” ucap laki-laki yang membawa papan nama bertuliskan Olivia dengan logo Luxus Resort di pojok atas.
“Terimakasih. Saya Olivia. Kakaknya dari Luxus Resort ya?” Tanya Olivia memamerkan senyumnya.
“Hi, ya saya Don dari Luxus Resort. Tunggu sebentar ya… Saya check hp sekali lagi,” ucap Don merogoh kantongnya. “Sini saya bawain kopernya,” tangan kanan Don meraih koper Olivia yang berukuran besar.
“Ah, makasih,” Olivia kembali tersenyum diperlakukan dengan baik oleh Don.
Keduanya segera menuju mobil di area parkir. Rupanya yang dijemput Don hanya Olivia saja. Dan Don pun juga sendiri saja.
_______________
Dante yang sudah beberapa hari berada di resort tempat dia dipindah tugaskan, tengah mendiskusikan pekerjaan bersama management level atas. Mereka berkeliling di area resort dan mengunjungi setiap outlet restaurant, café dan bar di resort itu.
“Chef Dante, sekarang sudah hampir jam makan siang. Inspeksi setiap outlet sudah selesai. Apa chef Dante ada acara sebelum jam makan siang?” tanya seorang perempuan paruh baya berambut pendek.
“No. Ada apa ibu Tyas? Ada yang bisa saya bantu?” tanya Dante.
“Ada member baru yang akan datang. Dia trainee yang akan training disini selama 6 bulan ke depan. Untuk 3 bulan pertama rencananya kami akan menempatkan di bagian kitchen dan restaurant. Jadi chef Dante akan sering bertemu dengan anak itu. Mungkin saja kalau chef Dante ada waktu luang dan tidak keberatan, bisa ikut kami menyambut kedatangannya di jetty bersama saya,” jelas bu Tyas saat rombongan management yang lain pergi ke office kerja masing masing.
“Yes. Sure. Why not? Mari! Biar saya lepas appron sebelum kita kesana,” ucap Dante menatap bu Tyas dengan ramah. Dia segera melepas appron atau clemek yang dia pakai.
Keduanya berjalan menuju jetty tempat penjemputan karyawan. Cukup panas hari ini. Cuaca di Labuan Bajo memang cukup terik. Maka dari itu Dante mengenakan topi dan kaca mata hitam untuk melindungi matanya.
“Masih belum datang. Mungkin sebentar lagi boat nya akan sampai,” ucap bu Tyas saat berjalan menuju jetty. Dirinya pun memakai kaca mata hitam agar pandangannya lebih leluasa.
“Ada berapa member baru yang akan datang, ibu Tyas?” tanya Dante sambil berjalan.
“Cuma satu,” jawab bu Tyas menyunggingkan senyumnya. “Kami memang tidak banyak mengambil anak trainee, chef. Minggu lalu sudah datang 1 dan dia minta ditempatkan di front office department terlebih dulu. Jadi yang sekarang datang kita tempatkan di kitchen sama area restaurant. Mohon dibimbing ya, chef,” jelas bu Tyas sekaligus memohon. “Setiap 6 bulan hanya ada 2 anak training. Soalnya itu kemauan pak CEO. Anak yang akan diterima training disini pun mengikuti standard ketat. Bisa dibilang setara dengan karyawan. Begitu, chef,” ujar bu Tyas menjelaskan diikuti anggukan Dante.
“That’s mean they are smart (Itu berarti mereka pintar). Mereka pasti akan lebih mudah belajar. Hopefully (semoga saja),” sambung Dante menyimpulkan ucapan bu Tyas.
“Yes, chef. Hopefully,” sambung bu Tyas mengingat sesi wawancara bersama member baru yang sedang dia tunggu kedatangannya itu. “Dia bilang kakak perempuan nya kerja juga di bagian kitchen di Singapore. Anaknya juga sudah banyak pengalaman sebelumnya. Dia sempat bekerja di hotel dan bahkan sempat jadi pemandu wisata juga. Makanya kuliahnya sedikit terlambat karena bekerja terlebih dahulu untuk ngumpulin biaya kuliah. Dia sudah tidak punya orang tua. Jadi bisa dibilang anaknya sudah terbiasa hidup mandiri,” ucap bu Tyas. Menurutnya Dante perlu mengetahui background anak trainee baru itu.
“Very impressive (mengesankan). Ah, bukankah itu boat nya? Mereka datang,” ucap Dante mengalihkan pandangannya ke kapal yang datang.
What...? No way… Gumam Dante dalam benaknya. Matanya melotot memandangi perempuan yang ada di kapal itu.
To Be Continued…
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments
Anita Jenius
5 like buatmu kak. semangat terus ya
2024-06-02
1