Pelajaran

Dante menatap punggung Olivia saat keluar dari officenya. Dirinya tidak suka dengan sikap Olivia yang berani melawannya.

 

“Harus dikasih pelajaran anak itu,” gumam Dante pelan. “Dia minta untuk dipanggil namanya… Ok, kita lihat saja hari ini.”

 

Setelah satu jam Olivia mengechek persedian bahan makanan, Olivia kembali ke office Dante. Rupanya, Dante tidak ada di office.

 

“Kemana dia? Mungkin meeting pagi. Biasanya kan head department selalu meeting tiap pagi sama pak GM (general manager),” Olivia mulai duduk di kursi meminum air mineral dari botolnya. “Banyak banget yang harus diorder. Lettuce, jahe, paprika, ini daftar buah dan ini daftar daging. Yang paling penting harus segera diorder ada caviar sama keju. Hmmm… Mau masukin ke system pemesanan, tapi harus tanya dulu ke Dante. Berapa kilo yang mau diorder,” Olivia memegangi daftar catatannya. “Apa aku kirim invoice itu dulu ya ke accounting? Tapi accounting lokasinya jauh. Mau pakai buggy tapi kan harus izin dulu sama chef Dante. Dia pakai ngeblokir nomorku segala lagi… Hmmm… Gimana caranya aku kerja ini?” Olivia pusing harus memulai kerjaanya darimana. Segala sesuatu pasti harus berhubungan dengan Dante secara langsung.

 

Ceklek… Olivia menoleh ke arah pintu yang terbuka. Rupanya Dante yang datang.

 

Sebaiknya aku tanya sekarang. Bahan makanan itu harus segera diorder, batin Olivia memberanikan dirinya.

 

“Chef…”

 

“Olivia…” ucap Dante membuat Olivia terdiam. Dia tidak menyangka  Dante akan memanggil namanya lagi. Rasanya sangat senang. Lega. Bibir Olivia bahkan tersenyum tipis dengan menatap Dante yang saat ini menatapnya juga.

 

“Ya, Chef,” balas Olivia. Bibir bawahnya dia gigit kecil menahan senyuman yang ingin merekah.

 

“Bisa kamu ambil note kecil saya di pos security jetty? Saya lupa membawanya,” pinta Dante.

 

Mendengar kata Jetty, Olivia membayangkan betapa jauhnya area itu bila hanya dijangkau dengan jalan kaki.

 

“Bisa kan? Soalnya saya butuh sekarang."

 

“Boleh saya pinjam buggy punya, chef? Soalnya lumayan jauh,” tanya Olivia.

 

“Buggynya mau saya pakai ke villa tamu. Bisa kan kamu jalan kaki?”

 

“Oh, Iya Chef. Gak pa-pa biar saya jalan kaki,” jawab Olivia terpaksa.

 

“Sekalian pergi ke florist ambil buket bunga pesanan saya. Habis itu kamu kirim ke villa 69, 70, 71, 72, 73, 74, 75, 76, 77. Pastikan kamu taruh di teras tiap villa itu. Bisa kan? Saya harus pergi sekarang karena ada meeting lagi,” ucap Dante membuat Olivia harus mengingat nomor-nomor villa itu.

 

“Villa 69, 70, 71, 72, 73, 74, 75, 76, 77. Itu water villa yang ada di ujung kan, chef?”

 

“Yes. Saya harus pergi sekarang,” jawab Dante menyunggingkan sudut bibirnya. Dante segera beranjak pergi menggunakan buggy nya.

 

Olivia terdiam memikirkan tugas Dante itu. Kerjaan di meja masih belum terselesaikan, tapi dirinya harus menerima tugas baru dari Dante.

 

“Gimana ini? Lokasinya dari ujung ke ujung. Tapi bagaimanapun ini tugas pertama yang dikasih Dante ke aku. Aku gak mau bikin Dante kecewa. Baiklah… aku harus ambil note kecil di jetty. Pasti isi di dalamnya catatan penting semua,” ucap Olivia memikirkan tugas apa yang harus dikerjakan terlebih dahulu.

 

Panas matahari di pulau itu cukup terik pagi ini. Semua buggy yang lewat nampak sibuk membawa tamu. Tidak ada satupun buggy yang kosong lewat agar bisa ditumpangi. Yang ada justru tamu yang lewat menanyakan jalan ke Olivia.

 

“Lapangan badminton ada di dekat kids club, pak. Kalau dari sini bapak lurus saja. Nanti ada perempatan pertama, bapak belok kiri. Nanti ada papan namanya,” jawab Olivia kepada seorang tamu yang naik sepeda.

 

Tidak lama setelah berjumpa dengan tamu itu, ada tamu lain yang menanyakan lokasi kolam renang. Selanjutnya lokasi Spa. Selanjutnya lokasi butik.

 

“Terimakasih ya, mbak. Soalnya resortnya besar. Saya bolak – balik dari tadi gak nemu-nemu butiknya dimana. Makasih ya,” ucap seorang ibu- ibu yang bersepeda membawa anaknya.

 

“Dengan senang hati, ibu… Selamat berbelanja,” ucap Olivia dengan senyuman ramah.

 

Olivia kembali teringat kalau dirinya harus segera menuju jetty. Dia pun berjalan lebih cepat dan berharap tidak bertemu tamu agar tugasnya segera selesai.

 

“Huuahhh…. Panas kali,” Olivia mengelap keringat dengan tangan seteleh sampai di jetty. Dirinya segera menghampiri pos security yang sudah ada di depan pandangannya. “Permisi, pak. Ada note kecil punya chef Dante ngak? Chef Dante minta agar saya ngambilin disini,” tanya Olivia tanpa basa – basi.

 

 “Note ini ya?” petugas security memberikan note kecil yang bagian depannya bertuliskan nama Dante Alexander.

 

“Oh. Iya, pak. Notenya saya bawa. Makasih ya,” ucap Olivia segera pergi membawa note itu.

 

Karena note nya tidak ada kunci, Olivia pun membukanya. Rupanya kosong. Tidak ada catatan apapun. Hanya bagian depan saja bertuliskan nama Dante Alexander.

 

“Apa ini maksudnya?... Kenapa dia harus menyuruhku mengambil note kosong? Dia kan tahu mejaku penuh dengan tumpukan invoice yang harus segera diberikan ke accounting. Belum order barang lagi…” Olivia terdiam menatap lautan biru di kanan kirinya. Panas terik matahari sampai tidak terasa di kulit karena kepalanya lebih panas memikirkan tugasnya hari ini.

 

Jam di tangan sudah menunjukan pukul 10. Olivia harus segera ke florist seperti perintah Dante.

 

“Selamat pagi kak. Saya diminta chef Dante ambil buket bunga untuk villa 69, 70, 71, 72, 73, 74, 75, 76, 77,” ucap Olivia membuat karyawan florist menoleh buket bunga mawar merah di meja panjang.

 

“Buket bunganya masih kurang 5. Bisa tunggu sebentar? Sabar ya soalnya tadi bunganya terlamat datang. Jadi kita buatnya juga terlambat,” ujar karyawan florist.

 

“Oh? Ga pa-pa, kak. Biar saya tunggu,” ucap Olivia.

 

Jarum jam di tangan sudah menunjukan pukul 11.25. Rupanya kata sebentar yang didengar Olivia, menjadi cukup lama baginya karena banyak karyawan keluar masuk di florist dengan kebutuhannya masing-masing.

 

Setelah semua buket bunga sudah siap, Olivia harus mencari buggy untuk mengantar 9 buket bunga itu. Untung saja ada petugas security yang berbaik hati mengantar Olivia.

 

“Kakak bawa master key tidak? Soalnya saya tidak diberi wewenang untuk masuk ke villa tamu. Saya pikir kakak ada bawa master key,” ucap petugas security kental dengan aksen daerah di tempat itu.

 

“Ow, Iya…” Olivia menoleh mencari seseorang yang mungkin bisa membantunya.

 

 

“Duh? Gimana nih?” Pandangan mata Olivia menyusuri tempat itu. Untung saja ada petugas housekeeping yang keluar dari salah satu villa setelah bersih-bersih. Laki-laki itu bagaikan malaikat untuk Olivia karena memiliki master key untuk membuka villa-villa yang ingin Olivia masuki.

 

Setelah beberapa jam berkutat dengan bunga, akhirnya tugas mengantar bunga selesai juga. Olivia pun segera menuju office untuk melanjutkan kerjaan yang tertunda. Tapi karena rasa lapar, dirinya singgah ke kamarnya terlebih dulu.

 

“Kakak… tumben datang jam segini? Jam 1.40?” sapa Nana melihat jam di tangannya.

 

Rupanya siang itu Nana ada di dalam kamar. Entah mengapa bola mata Olivia langsung ingin tertuju ke bed Nana. Cukup berantakan. Pikiran Olivia melayang membayangkan sesuatu tentang Nana dan Don.

 

Ah sudahlah, itu bukan urusanku, pikir Olivia dalam benaknya.

 

“Capek banget aku habis nganter bunga ke 9 villa di water villa. Mana panas banget,” ucap Olivia sambil membuka roti yang disimpan di kamar.

 

“Ow jadi kakak yang diminta chef Dante buat gantiin tugas ku? Hehehee… Makasih loh kak… Baik banget deh,” celetuk Nana ringan sambil merapikan rambut.

 

Rasa lapar di perut membuat Olivia lambat mencerna ucapan Nana barusan.

 

“Hah?... Apa? Gantiin tugas kamu? Maksudnya?” tanya Olivia penasaran. Tangannya terhenti untuk membuka bungkus roti.

 

“Iya, kak… Tadi pagi aku jumpa chef Dante di villa 70. Tamunya pesan buket bunga itu ke aku. Dan chef Dante dengar juga. Tapi karena chef Dante tahu aku sibuk dapat call, chef Dante bilang akan minta salah satu anak kitchen ngirim buket-buket bunga itu… Gitu ceritanya. Baik banget kan chef Dante… Hehehee…  Gak tahunya kakak yang diminta chef Dante. Makasih ya kak…… baik banget!” puji Nana penuh ceria.

 

Olivia memejamkan matanya beberapa saat. Dirinya pun tidak jadi memakan roti yang sudah ada di tangan.

 

Apa maksudnya ini semua Dante….? Kamu minta aku ambil catatan kosong. Terus suruh aku ngantar buket-buket bunga yang sebenarnya tanggung jawab orang lain?!

 

“AaGHhh!” suara Olivia yang melengking itu membuat Nana kaget sampai saat memoleskan lip tint di bibir tercoreng.

 

“Kenapa, kak?” tanya Nana menoleh ke Olivia yang berdiri di dekat meja.

 

“Hari ini panas sekali!” jawab Olivia asal. “Aku pergi dulu mau nyari chef Dante,” ucap Olivia bergegas keluar dari kamar.

 

To Be Continued….

Like, Comment, Hadiah, Masukan ke Favorite dan Vote nya ya kakak - kakak... Ini sangat membantu author. Terimakasih 🙏

Terpopuler

Comments

CL

CL

Bukannya sudah ada kesempatan tiap hari ketemu, Ayoo Oliv kembalikan saja uang Chef Dante lempar ke wajahnya yg tampan itu 😜😂

2024-05-29

2

Queen

Queen

Uangnya dikembalikan Oliv, mungkin chef dante akan berubah baik setelah uang dibalikan
Nana sama Mei mirip wataknya. Halus tapi menindas Oliv

2024-05-29

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!