Hari-hari Olivia cukup berat dia rasakan. Sudah 3 minggu lebih dia belum dapat libur. Setiap kali dirinya akan libur, ada saja halangan yang didapat. Entah itu ada karyawan yang izin karena sakit… kepentingan keluarga… kena pindah tugas dan masih banyak halangan lainnya sehingga Olivia harus menggantikan pekerjaan karyawan itu. Tidak jarang dirinya juga harus lembur karena occupancy hotel masih tinggi sehingga banyak orderan makanan.
“Besok aku libur… Aku libur… Yeyeye… Besok aku libur Aku libur… Yeyeye… Besok aku libur…”Olivia bersenandung kecil sambil melakukan pekerjaannya. Memotong sayur, membuat garnish atau hiasan makanan dengan buah buahan.
Tiba-tiba saja ada karyawan yang masuk ke cold kitchen dimana Olivia saat ini berada.
“Dek, chef Nomnom manggil kamu. Dia minta kamu ke officenya sekarang.”
“Kenapa dia manggil aku, kak?” tanya Olivia menyudutkan bola matanya memikirkan segala sesuatu yang mungkin akan diucap chef Nomnom.
“Ga tahu. Sana cepat ke officenya. Ditungguin tuh.”
“Ya udah… aku ku officenya sekarang ya kak Lea. Ini tinggal kasih mayonnaise aja terus dipotong-potong,” ucap Olivia sambil mengambil tissue untuk mengelap tangannya.
“Iya… biar kakak lanjutkan,” ucap Lea bergegas melanjutkan kerjaan Olivia.
Meski lokasi office chef Nomnom tidak jauh dari cold kitchen, Olivia tidak pernah masuk ke office itu. Selain karena tidak suka dengan sikap chef Nomnom, sebenarnya office Dante berada di samping office chef Nomnom. Jadi Olivia malas untuk menginjakkan kakinya di dekat office orang-orang penting itu.
“Kira-kira dia ngapain ya manggil aku? Jangan bilang mau batalin libur aku?! Ishhh… Dia pikir aku robot apa suruh kerja terus?!” gerutu Olivia mengusap tangannya sebelum menyentuh gagang pintu office chef Nomnom
Ceklek…
“Hi Olivia…” sapa chef Nomnom yang sedang duduk. Tangannya sedang mengetik sesuatu di laptop mejanya. “Silahkan duduk. Pintunya jangan lupa ditutup,” pinta chef Nomnom. Seperti biasa ekspresinya datar tanpa ada senyum.
“Oh Iya,” balas Olivia yang kemudian menutup pintu dan segera duduk di kursi depan meja kerja sous chefnya itu.
“Besok kamu kan libur...”
Kan… Kan… mulai lagi dia. Pasti mau nyuruh aku masuk! Kali ini ada apa lagi? Siapa yang sakit? Ada yang mau melahirkan kah? Atau ada yang mau cuti nikah? Ishh… Aku kan cuma training disini! Bukan karyawan tetap yang digaji gede. Ini namanya romusha! Kerja paksa! Ugh! Gerutu Olivia dalam benaknya.
“Selagi libur, kamu bisa baca-baca isi map ini.” Chef Nomnom menyodorkan map berwarna biru agar diambil Olivia. Olivia pun membuka map itu. “Job deskripsi untuk sekretaris chef. Kamu bisa pelajari selagi besok libur kamu. Saya gak akan ganggu hari libur kamu untuk datang ke kitchen. Hanya pelajari saja job deskripsi itu,” jelas chef Nomnom membuat Olivia bingung.
“Ini untuk apa, chef? Minggu depan kan saya tugas di restaurant jadi waitress atau hostess,” ucap Olivia sambil membuka lembaran-lembaran di map itu.
“Kami sudah mendiskusikan hal itu. Kamu tenang aja. Pelajari saja job deskripsi untuk jadi sekretaris chef. Setelah libur kamu akan training di bagian itu. Nanti kamu bantu-bantu tugas administrasi yang para sous chef berikan sekaligus tugas-tugas yang diberi executive chef, chef Dante,” ucap chef Nomnom masih dengan sikap tenangnya. Padahal yang diajak bicara sudah memanas pipi dan telinganya. “Office kamu nanti satu ruangan sama chef Dante. Ok? Jam kerja nya nanti saya kirim. Kalau gak ada pertanyaan kamu bisa bawa map ini dan lanjut kerja.”
Duuhh… Ini tidak bisa dibiarkan terjadi! Aku gak mau satu ruangan sama Dante! Pikiran Olivia terus menentang tidak mau dirinya berurusan dengan Dante.
“Tapi, chef… Emangnya sekretaris chef Dante sebelumnya kemana? Nanti penilaian hasil akhir saya gimana? Berapa lama saya harus jadi sekretaris nya chef Dante?” Olivia mencoba berunding. Masih tidak bisa menerima tugas yang diberikan itu.
“Saya bilang kan tenang aja… Saya sudah mendiskusikan ke HRD, bu Tyas juga sudah ok. Jadi 2 bulan ke depan kamu akan bertugas di officenya chef Dante. Sekretaris chef Dante sebelumnya udah gak ada. Makanya kamu yang gantiin sementara selagi kita cari pengganti yang semestinya,” jelas chef Nomnom membuat Olivia terdiam tidak berkutik.
Mau gimana lagi… Ini keputusan management. Bu Tyas HRD pun udah tahu… Hm… Terima nasib aja lah, gumam Olivia dalam benaknya.
“Ow, ya baiklah, chef. Saya permisi,” ucap Olivia pasrah menarik map itu dan keluar dari ruangan chef Nomnom.
Olivia jadi nampak lesu tidak bersemangat membayangkan dirinya satu ruangan dengan Dante.
“Mending aku lembur tiap hari kedinginan di cold kitchen daripada harus menghadapi orang dingin kayak dia. 2 Bulan lagi… sehari aja rasanya gak sanggup membayangkan. 2 Bulan? Yang bener aja….!” Menggerutu sambil memotong daging ayam.
Olivia semakin kesal saja saat membuka isi pesan di ponselnya kalau jadwal kerjanya sudah keluar.
“Jam 8 sampai jam 4 sore. Huuft…” Olivia membayangkan tugas-tugas apa saja yang akan dia kerjakan. “Pulang on time tepat waktu udah pasti gak mungkin. Uwhghh… Lagian kenapa sih laki-laki itu dingin banget sama aku? Sama karyawan yang lain kadang aku lihat dia masih bisa senyum. Tapi selama aku disini, negur atau nyapa aja gak pernah…”
Bagaimanapun Olivia tidak bisa mengelak dengan tugas yang diberikan. Itu sudah keputusan management.
Selesai kerja, seperti biasa Olivia akan melihat Dante masuk ke dalam kamar. Laki-laki itu benar-benar tidak pernah menyapanya.
“Kakaaakkk…. Hihihii….” Nana menyambut Olivia dengan girang. Teman kamar Olivia itu sudah memakai baju tidur dan mengoleskan krim berwarna putih untuk area yang berjerawat di wajah.
“Kenapa? Aku lagi capek. Capek banget hari ini… Ughh…” sambung Olivia.
“Aku tahu kakak akan training jadi secretary chef Dante. Jadi admin kitchen kan…? Iya kan…? Wah, asyik banget. Itu artinya kakak akan satu office sama dia! Keren! Enak sekali sih jadi kamu kak Oliv…”
Padahal bila dipikir-pikir, Olivia menginginkan kehidupan Nana. Masih muda aja sudah punya bisnis make up sendiri. Keluarganya pun nampak sayang sama Nana, karena hampir tiap hari Olivia tahu kalau Nana video call dengan orang tuanya. Tapi hari ini… Nana mengatakan enak sekali jadi Olivia.
“Ah, biasa aja. Keren apanya coba?” Balas Olivia tidak setuju.
“Kakak harus berterimakasih sama aku tahu! Aku ada andil dalam kejadian ini,” ucap Nana membuat Olivia menatap mata Nana. Gerak tangannya pun terhenti saat sedang melepas hair clip di kepala.
“Maksudnya?” tanya Olivia penasaran
“Iya dong… temen kerja aku di front office kan satu kamar sama secretary chef Dante sebelumnya. Tapi cewek itu suka bikin kesel temenku. Cewek itu suka bawa cowok ke kamar mereka. Kata temenku dia sering mergokin cewek itu gitu-gitu an di kamar mereka sama anak housekeeping. Kan temenku jadi keganggu. Tiap mau masuk kamar dia harus ketok pintu dulu. Padahal dia yang punya kamar. Kan ngeselin… ya kan? Terus kebetulan temenku nyuruh aku ngambil amplop di kamarnya. Nah… pas banget mereka lagi main begituan. Pas lagi panas panasnya. Suaranya plag…plag…ceplak… Ya aku teriak kaget lah. Kebetulan ada chef Nomnom yang lewat sama bu Tyas. Habis sudah riwayat cewek itu sama cowoknya,” jelas Nana membuat Olivia membayangkan hal itu.
“Hikss… tapi karena itu aku harus gantiin kerjaan dia 2 bulan kedepan…. Hikss, Huaaa…..! Nasib… Nasib…” Olivia mengerutkan wajahnya menuju kamar mandi.
“Kok sedih sih kak? Kan bagus. Kakak kan bisa sepuasnya melihat chef ganteng itu,” Nana menjadi bingung dengan sikap Olivia. "Kak Oliv harus traktir aku kalau kita pergi ke kota! Jangan pura-pura terbebani gitu, kak. Anggap saja ini hadiah dari teman kamarmu!" celetuk Nana semakin membuat Olivia menjerit di kamar mandi.
"Huaaa......!"
"Hihiihii..... Pasti kak Oliv aslinya kegirangan," celetuk Nana masih dengan pendapatnya.
To Be Continued…
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments
Audrey Chanel
mau mau muntah
2024-07-05
0