Sok Sibuk

Nana tersenyum kecil sambil memikirkan sesuatu setelah mendengar pertanyaan Olivia.

 

“Tahu dong… aku kan masuk group chat executive di Luxus sini. Semua perkembangan gossip dan fakta dibahas di group itu. Data semua staff disini, aku bisa tahu. Kecuali head department sama general manager, kita belom ada akses untuk itu… Tapi tetap berguna juga info-info disana. Menarik kan…” Nana mulai meraih ponsel untuk membuka group chat itu. “Jadi aku tahu usia kak Oliv dari sana. 25 tahun. Tapi tahun ini akan 26 tahun besok Desember. Ya kan…” Nana bersikap pamer karena dirinya masuk dalam group itu.

 

“Waahhh… gak aman aku pilih training di tempat ini,” celetuk Olivia lemas. “Apa aja yang dibahas tentang aku di group itu?” Tanya Olivia penasaran. Mulutnya masih mengunyah waffle karena masih lapar.

 

“Heheee… Tenang aja, kak. Cuma resume kakak yang dishare di group itu. Aku juga baru gabung di group itu semalam. Kalau ada info yang berhubungan sama kakak, ntar aku kasih tahu. Soalnya aku pun gak tahu siapa adminnya. Karyawan front office yang meminta agar aku dimasukan disana, karena dia mau cuti melahirkan,” jelas Nana masih sibuk mengeringkan rambut.

 

“Owh… begitu,” Olivia berlanjut mengupas telur rebus.

 

“Gimana kerja sama chef Nomnom hari ini?” Pertanyaan Nana membuat Olivia teringat kembali setiap kejadian hari ini.

 

“Ya… begitulah. Dia orangnya tegas…” Olivia teringat saat dirinya dibentak masalah jam kedatangan. Bukan tegas… tapi lebih tepatnya galak. Aku kan gak tahu lokasi setiap sudut resort ini! Harusnya ada orientasi berkunjung setiap outlet di hari pertama, tapi malah gak ada. Untung ada security yang mau ngantar, jadi gak tersesat… pikiran Olivia menentang ucapannya sendiri di dalam benaknya. “Dia juga pintar…” Bukan hanya pintar saja. Tapi sangat pintar dalam menindas! Masa anak trainee yang masih baru disuruh display buffet salad sendiri?! Dia memang sangat pintar menindas orang! “Dan sepertinya menyenangkan…” Sangat menyenangkan karena hari pertama aku udah dapat jadwal split! Harus Masuk lagi ntar sore jam 4… itu artinya aku harus kerja sampai restaurant tutup! Sial! Hmmm… Sangat menyenangkan hari pertama kerja!

 

“HUAHAHAAA! Masa? Berarti kakak dapat perlakuan spesial dari dia dong…” Nana hampir tidak percaya mendengar jawaban Olivia.

 

“Maksudnya spesial, gimana tuh?” tanya Olivia kaget dengan ekpresi Nana yang sedikit heboh.

 

“Kakak tahu gak, kalau dia sempat ngomel ke department aku karena ada yang lupa melampirkan daftar detail tamu di email. Dia ngomel ngomel bikin gaduh padahal dia bisa ngasih tahu baik-baik ke department aku,” jawab Nana menjelaskan dengan menggebu-gebu. “Padahal kalau ada tamu VIP, anak kitchen selalu lambat menyiapkan complimentary buah yang harus didisplay di kamar! Buahnya belom datang lah… Ada orderan a la carte lah… banyak banget alasan anak kitchen itu. Gitu tuw alasan yang sama diucap sama chef Nomnom! Kita bagian front office kan jadi ikut panik dan was-was… apa kamarnya udah siap belom? Buahnya udah didisplay belom…?” Selesai meluapkan kekesalan, Nana tersadar kalau Olivia saat ini bagian dari team kitchen. “Aku gak ngatain kak Oliv… tapi si chef Nom-nom,” volume suara Nana mereda memperhatikan Olivia yang masih memakai seragam kitchen.

 

“Yah. Hal kayak gitu emang sering terjadi di resort atau hotel mana aja,” sambung Olivia menanggapi ucapan Nana. “Tapi soal chef Nomnom… Dia emang sedikit berlebihan sih. Tapi ya udahlah… Mau gimana lagi? Dia bos aku di kitchen. Nanti dia juga jadi bos kamu kalau kita gantian department. Jadi kita harus tetap jaga sikap meski hati udah dongkol pingin adu jotos sama dia. Hihihiiiii…” Olivia dan Nana terkekeh membayangkan kalau adegan adu jotos dengan chef Nomnom sampai terjadi.

 

“Hihihiiii… Betul juga. Dunia perhotelan ini memang penuh sandiwara. Kemarin aku kena omel tamu aja harus bersikap minta maaf. Meski udah jelas itu kesalahan anak si tamu. Drama banget kan kerja di hotel itu… Tapi ya mau gimana lagi…”

 

“Ku rasa hampir semua perusahaan juga gitu deh. Gak cuma di hotel,” sambung Olivia masih sibuk mengunyah telur rebus.

 

“By the way, gimana chef Dante hari ini? Dia kelihatan di main restaurant gak?” tanya Nana membuat mata Olivia mendelik. “Anak-anak di department aku pada nanyain. Soalnya kan kemarin ada acara nonton movie bareng tapi chef Dante nya cabut setelah ada yang mau sok deketin dia. Kasihan chef Dante… dia gak bisa bebas karena banyak yang mau pdkt sama dia.”

 

“Dia baik-baik aja. Akhirnya… lumayan kenyang juga. Aku mau mandi terus lanjut tidur. Masih ngantuk gara-gara bangun pagi. HUAaaMm!” Olivia berusaha tidak peduli kalau topik pembicaraan tentang Dante.

 

“Ish! Kak Oliv ni gak asyik! Aku kan juga fans nya chef Dante! Aku mau tahu soal dia…!” suara Nana cukup keras terdengar di telinga Olivia.

 

“Kamarnya kan ada di sebelah. Tanya aja dia sendiri. Aku mau mandi!” Olivia mulai mengikat rambutnya agar tidak basah.

 

“Kamarnya emang di sebelah, tapi hampir gak pernah kulihat.  Apalagi itu cuma kamar sementara. Bentar lagi dia dipindahin ke kamar baru habis selesai renovasi. Gimana aku bisa pdkt coba….?”

 

“Kamu tuw gimana sih? Kemarin bilangnya suruh jaga jarak sama dia. Tapi sekarang kenapa kamu yang ngebet pingin pdkt?” sahut Olivia. Entah mengapa sebenarnya dia juga tertarik untuk membahas soal Dante. “Udahlah, aku mau mandi dulu. Bau sayur sama daging nih…”

 

Rupanya setelah selesai mandi, Nana sudah tidak ada di kamar. Olivia pun berlanjut untuk tidur siang karena matanya memang terasa ngantuk.

 

Tidak menyangka kalau siang itu Olivia bisa tidur sangat pulas dan lama. Olivia bahkan sangat kaget saat terbangun dari tidurnya. Dia segera mengechek jam dan tanggal di ponsel.

 

“Astaga…” jantung berdegup sedikit lebih cepat karena mengira sudah berganti hari. “Jam 3…? Untung aja belom telat,” celetuk Olivia yang kemudian melompat dari bed.

 

Cepat-cepat Olivia mengganti baju dengan seragamnya. Rambutnya pun segera ditata rapi. Kali ini Olivia berusaha datang lebih awal karena harus sampai di kitchen 15 menit lebih awal.

 

Rupanya kalau sore hari lebih banyak karyawan yang berjaga di area kitchen. Tapi meski demikian, kesibukan di kitchen justru lebih banyak dibanding pagi hari.

 

“Olivia, bisa buat sandwich? Resepnya yang ditempel di dinding itu,” ucap salah satu koki laki-laki.

 

“Oh? Bisa,” jawab Olivia melirih resep itu.

 

“Buatkan 20 sandwich. Thank you ya, saya ke buffet depan dulu,” ucapnya meninggalkan Olivia.

 

Malam ini sangat sibuk. Untung saja Olivia punya bekal pengalaman saat dirinya bekerja menjadi daily worker dan training di hotel sebelumnya di Bali.

 

Olivia bisa buat salad? Olivia bisa terima panggilan telpon? Olivia bisa refill makanan di buffet? Olivia bisa ambilkan daging di butcher? Olivia… Olivia… Begitulah suara yang didengar Olivia hari ini.

 

“Huuffft….. Akhirnya selesai juga hari ini,” ucap Olivia mulai duduk berjongkok di pojokan area cold kitchen.

 

Tiba-tiba saja saat Olivia meregangkan ototnya, chef Nomnom datang dengan membawa piring yang berisi sandwich.

 

“Ini buat kamu. Chef Dante gak suka sandwich, jadi saya kasih ke kamu,” ucap chef Nomnom yang kemudian keluar dari cold kitchen.

 

Olivia tersenyum tipis memandangi sandwich itu.

 

“Thank you chef Nomnom,” ucap Olivia mengangkat piring yang berisi sandwich agar chef Nomnom melihat dari kaca kalau dia akan memakan sandwich itu.

 

Chef Nomnom yang menoleh ke arah Olivia tidak memberikan ekspresi apapun. Datar.

 

“Ada apa dengan chef Dante? Tumben dia menolak pemberianku? ‘I’m not hungry… You can give to that girl…’ Hmmm aneh. Tahu gitu kan aku gak capek-capek bikin. Membuang waktu saja.”  Gumam chef Nomnom meniru gaya bicara Dante. (Saya tidak lapar… Kamu bisa kasih ke Gadis itu…)

 

Sementara itu Olivia masih memandangi sandwich itu.

“Jadi ini pemberian chef Nomnom atau… Dante?” tanya Olivia ke dirinya sendiri. “Entahlah, aku lapar.” Olivia segera menyantap sandwich itu cepat-cepat karena dirinya harus segera pulang.

 

Malam itu kakinya terasa pegal setelah berjalan dari main kitchen menuju ke kamarnya.

 

“Agh…… jauh kali sih kitchen dan kamar aku…” Olivia sedikit mengeluh saat dirinya hampir sampai di kamar. Malam itu Olivia terlambat menaiki buggy karena memakan sandwich di cold kitchen. “Itu kan Dante?” Olivia membuka matanya lebih lebar memastikan orang yang dia lihat.

 

Olivia pun berjalan lebih cepat untuk menghampiri Dante yang berjalan menuju kamar. Mumpung tidak ada orang di area itu, Olivia berniat untuk mengembalikan uang Dante.

 

“Dante… Chef Dante…”

 

Mendengar suara Olivia, langkah Dante terhenti di depan kamarnya. Begitu Olivia sudah ada di dekatnya, mulut Dante berdecak.

 

“Ck!”

 

Tatapan Dante itu terlihat tidak ramah. Olivia pun jadi ragu untuk mengatakan sesuatu.

 

“Em… Chef, saya mau--"

 

“Kalau ada yang mau dibicarakan, kamu bisa bicara ke Nomnom. Biar nanti Nomnom yang menyampaikan ke saya. Saya sibuk,” ucap Dante datar. Laki-laki itu pun segera masuk ke dalam kamar dan meninggalkan Olivia yang membisu.

 

Olivia tidak menyangka niat baik dan sikap baiknya akan dibalas demikian.

 

“Dasar beruang kutub! Jelas jelas dia mau masuk kamar. Emang sibuk apa di dalam kamar? Mau ku apain coba duit itu? Dia kenapa sih pakai memblokir nomor aku? Masa ya iya aku bahas duit 40 juta ke chef Nomnom? Bisa jadi omongan satu resort ntar! Ish! Belagu banget! Sok sibuk!” gerutu Olivia setelah Dante masuk ke kamar.

 

To Be Continued…

Like, Comment, Masukan ke Favorite dan Vote nya ya kakak - kakak... Ini sangat membantu author. Terimakasih 😘

 

 

 

Terpopuler

Comments

Audrey Chanel

Audrey Chanel

Dante²

2024-07-05

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!