Bab_5 Sekarat
Sudut kamar yang dihiasi dengan kaca besar, menampakan wajah datar Olivia. Tidak ada ekspresi, hanya tatapan kosong. Sudah beberapa detik pun Olivia tidak menjawab pertanyaan itu. Apa pertanyaan ini terlalu berlebihan? Atau ada hal lain yang ingin disembunyikan Olivia? Begitu pikir Dante.
“Thank you, Olivia. Saya pikir sudah cukup,” ucap Dante membalikan badan. “Sorry, kalau pertanyaan Saya buat kamu gak nyaman,” ucap Dante mengelus elus pucuk kepala Olivia. Tanpa rasa segan Dante mendaratkan kecupan di kepala Olivia.
Situasi hening dan tidak nyaman menjadi memudar. Ada perasaan nyaman unuk Olivia karena Dante tidak memburu dirinya dengan pertanyaan tentang profesi nya.
“Sekarang masih sore. Kamu mau jalan-jalan keluar? Atau kita pergi ke rooftop hotel ini untuk lihat sunset? Kamu pilih yang mana?” Tanya Dante mengusap pipi kanan Olivia. Sentuhan sentuhan kecil itu selalu saja hangat dirasakan Olivia. Pikirannya melayang mengingat mantan kekasihnya dulu.
“...Boleh. Saya ikut saran kamu aja. Kamu kan yang lebih tahu tentang area tempat ini,” jawab Olivia canggung. “Tapi saya ganti baju dulu ya.” Olivia menurunkan tangan Dante dari pipinya. Tangan Dante harus segera dijauhkan darinya. Kalau tidak perasaan Olivia bisa melayang semakin jauh.
Olivia bingung harus memakai baju yang mana. Dulu saat memiliki mantan orang Morocco, dirinya tidak merasa insecure sampai bingung harus memakai baju yang mana agar terlihat sepadan.
Pakai yang mana nih bajunya? Huft. . . Terserah Dante mau ngatain aku udik atau apa! Aku pakai baju ini aja. Yang penting aku nyaman, pikir Olivia dalam benaknya. Selesai memakai baju, Olivia memakai pelembab untuk wajah dan bibirnya. Sangat natural. Tidak ada warna warni make up yang menghiasi wajah Olivia.
Setelah selesai berdandan, Olivia keluar dari kamar mandi. Laki-laki bertubuh atletis itu rupanya sedang merokok di balcony. Sangat sempurna. Begitulah yang terbesit di benak Olivia.
“You looks beautiful,” puji Dante mematikan batang rokoknya. Dia berjalan mendekati dimana Olivia berdiri. “Kamu sudah siap?” Tanya Dante mulai membelai rambut panjang Olivia.
“Ya,” jawab Olivia merasakan sentuhan tangan Dante di kepalanya.
Selang tak lama keduanya sudah berada di rooftop hotel. Biru air laut. . . Hembusan angin . . . Semua nampak sempurna. Wajah laki-laki yang memiliki rambut tipis di sekitar rahang dan dagu itu semakin terlihat mempesona saat terlihat di bawah sinar matahari sore.
“Mau duduk dimana? Mau di ujung sana? Spot disana paling bagus untuk melihat sunset,” ucap Dante.
“Boleh,” Olivia mengangguk mengiyakan.
Keduanya duduk di sofa paling ujung. Mahalnya harga menu makanan dan minuman sudah tidak asing bagi Olivia yang saat ini tengah traning di salah satu hotel berbintang. Biasanya Olivia menyodorkan menu ke tamu. Tapi kali ini dia duduk sebagai tamu. Rasanya berbeda. Dirinya tidak nyaman karena mengingat nominal angka di rekeningnya. Sekarat. Sudah hampir berkarat karena jarang diisi dan lebih sering ditarik.
“Mau order apa? Kamu mau cocktail? Wine?” tanya Dante menatapnya. Seorang waitress yang berdiri itu pun menunggu jawabannya dengan senyuman ringan.
“Boleh saya order juice?” Olivia menatap Dante dan waitress itu bergantian.
“Kamu tidak minum alkohol?” Waitress itu tersenyum bingung mendengar pertanyaan Dante untuk Olivia. “Your friend, Mei. Dia bilang kamu minum alkohol.” Dante memasang wajah memohon agar Olivia mengubah pesanannya. “Please... Saya punya wine kesukaan saya. Saya mau kamu coba. Please... I’m guarantee you will like it,” membujuk mengusap tengkuk leher Olivia.
Mei. . . Mulut mu yang entah sudah cerita apa saja itu bikin aku sekarat disini. Dating dengan orang berduit emang beda! Minum wine kalau dia masih bisa sadar sampai tetes wine terakhir sih ga pa pa. Masalahnya kalau gak sadar siapa yang mau bayar? Terus kalau sama – sama teler dan kena sarangan amnesia mendadak besoknya tidak ingat apa yang udah terjadi gimana? Gerutu Olivia. Mukanya menegang antara mengontrol agar dirinya tidak terperosok dengan segala efek kemungkinan yang bisa terjadi.
“Kalau kamu tidak suka dengan my favorite wine, kita bisa order wine favorite kamu,”
Duh! Kok jadi maksa sih? Olivia semakin kesal karena semakin dipaksa.
Ting! Bunyi pesan whatsapp ponsel Olivia membuatnya merogoh ponsel dari tas kecilnya.
📲Oliv, mana fotonya? Sudah ditanya sama mereka. Cusss kirim ke aku cepat. Takut hangus 40 juta nya.
Huft. . . Gak sabaran banget sih? Barus juga aku jalan keluar sama Dante. Ngeselin! Olivia merasa terhimpit dengan situasi yang ada. Ingin menolak dan lari dari kenyataan tapi dirinya butuh biaya juga untuk tiket pesawat terbang ke Bali.
“Jadi? Mau kan?” tanya Dante tidak suka Olivia lebih melihat ponsel dibanding dirinya. Dante usap paha Olivia yang memakai celana pendek. Pandangan Olivia pun kembali tertuju padanya.
“Yes. Why not...” jawab Olivia menatap Dante dan waitress itu.
Sore yang cerah dengan pemandangan yang memanjakan mata sungguh seperti mimpi bagi Olivia. Dia tidak menyangka bisa mengunjungi Labuan Bajo, salah satu tempat di Indonesia yang menjadi tujuan travellingnya. Tidak terasa, wine yang diteguk Olivia kini tinggal sedikit di gelasnya.
“Olivia... Beautiful name,” puji Dante. Olivia hanya melempar senyumnya. “You looks beautiful,” Dante kembali membelai rambut panjang Olivia. “This is your real hair color?” tanya Dante. Tangan Dante berlanjut menggapai botol wine dan mengisi gelas Olivia agar tidak kosong.
“Em... No...” Olivia mencoba menurunkan tangan Dante agar berhenti memainkan rambutnya. “Beberapa teman saya pernah minta tolong agar saya menjadi model untuk diwarnai rambutnya. Waktu itu mereka sedang tes untuk beauty salon. Jadi... mulai dari itu saya memberi warna rambut,” jelas Olivia.
“Come on... drink it. Minumlah. Kamu suka my favorite red wine?” Dante terus meminta agar Olivia meminum wine. “Ini adalah salah satu wine terbaik di Italy. My country,” jelas Dante. “Next time jika hubungan kita terus berlanjut, saya akan ajak kamu ke my city. Tempat wine ini berasal. Hopefully...”
Mata Olivia yang tadinya bulat kini menjadi lebih sipit dengan lesung pipi yang membuat Dante tidak bosan melihat Olivia.
“Yeah, hopefully,” balas Olivia kembali meneguk wine di gelasnya. “Italy sangat jauh dari asal kota saya. Tapi saya yakin Italy pasti sangat cantik bila saya bisa kesana,” sambung Olivia.
“Yeah. . . Beautiful. Very beautiful. . . Thank you for coming here,” ucap Dante lebih intens. Keduanya saling terbuai dengan suasana. Efek wine itu semakin melemahkan Olivia. Tangan Dante pun tidak bisa dia kontrol lagi sudah menjalar kemana saja.
“Thank you sudah mengundang aku ke Labuan Bajo. One of my favorite destination in pocket list,” ucap Olivia. Perlahan Dante membungkuk mendekati bibir Olivia.
"Everything is yours... (Semua ini milikmu)" Bisik Dante ke telinga Olivia.
Aroma wine yang cukup kuat semakin menyatukan keduanya. Tangan Dante yang kini menguasai teng kuk dan lingkar pinggang Olivia membuatnya tak berdaya. Dante mencecapi setiap inci bibir Olivia.
“Mppphhh Dante. . .”
To Be Continued
Like, Comment, Masukan ke Favorite dan Vote nya ya kakak - kakak... Ini sangat membantu author. Terimakasih 😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments
Phitri V3
torrr kok belum update lagi ?
2024-03-21
1