Not Bad

 Badan masih terasa berat. Tapi ini adalah hari pertama untuk Olivia. Mau tidak mau dia harus bersiap dan segera menuju tempat kerja. Tapi Olivia belum tahu dimana area kitchen utama di resort itu.

 

Dengan rasa bingungnya Olivia melangkah keluar dari kamar. Masih sedikit gelap. Tidak banyak orang juga di jam ini. Ingin menelpon bu Tyas, tapi Olivia berpikir pasti bu Tyas masih tidur jam segini. Nana teman kamarnya pun masih tidur, ingin membangunkan tapi Olivia ingat jam berapa Nana selesai kerja kemarin.

 

“Oh? Bukannya itu petugas security? Mending aku tanya dia aja.” Olivia berjalan lebih cepat untuk menghampiri petugas security. “Pagi, pak!” sapa Olivia menghentikan langkah security itu. Petugas security itu segera mengantar Olivia menuju kitchen utama. Rupanya lokasinya lumayan jauh, harus memakai buggy.

 

“Nah… kakak masuk saja dari pintu itu. Biasanya saya lihat banyak karyawan masuk dari sana,” ucap pak security menunjuk salah satu pintu.

 

“Makasih ya, pak. Makasih banget udah diantar,” ucap Olivia sebelum masuk ke pintu yang ditunjuk.

 

Baru saja membuka pintu dan masuk ke ruangan itu, Olivia sudah dikagetkan dengan suara seseorang.

 

“Hei Kamu Anak Baru!” Berkacak pinggang dengan tangan kanan memegang pisau. Name tag perempuan itu bertuliskan ‘Sous Chef Nomnom’, berarti dia termasuk bos di tempat itu, tapi level nya masih dibawah Dante. “Kan saya udah pesan ke bu Tyas jangan sampai telat! Semua karyawan wajib datang 15 menit sebelum jam kerja! Ini sekarang udah jam berapa?!” Chef Nomnom mengalihkan pandangannya ke jam dinding di ruangan itu.

 

“Jam 4.55…” ucap Olivia pelan. Dirinya syok dengan sambutan yang tidak terduga di tempat itu.

 

“Yah! Kamu telat 10 menit meski schedule kamu jam 5!” Keduanya saling menatap beradu mata. Tatapan kesal dan takut tentu saja terpancar dari sorot mata Olivia. Beda halnya dengan chef Nomnom, sinis dan garang. “Jangan telat lagi besok! Sini ikut saya,” ucap chef Nomnom beranjak berjalan dengan diikuti Olivia.

 

Waahhh belum juga aku menjinakan beruang kutub, udah muncul aja yang baru. Mirip kali galaknya dia ini kayak anjing pitt bull. Benar- benar kacau. Tempat ini kacau… gerutu Olivia dalam benaknya. Bagaimanapun dia harus mengikuti chef perempuan bernama Nomnom itu.

 

Keduanya memasuki ruangan yang temperaturenya lebih dingin.

 

“Ini cold kitchen utama di resort ini. Occupancy masih tinggi, banyak tamj. Jadi kamu harus potong semua daging ini. Ditata di nampan itu dan display ke buffet main restaurant.” Olivia terdiam memandangi betapa banyaknya daging itu. Ditambah lagi harus mendisplay ke buffet restaurant. “Sayuran juga harus didisplay, untuk condiment salad. Semua ada di chiller ini.” Chef Nomnom membuka chiller tempat penyimpanan sayuran. “Harus kamu cuci, potong dan display ke buffet depan. Jangan lupa harus yang rapi saat mendisplay. Jelas kan tugasnya? Karena gak ada pertanyaan, saya anggap kamu paham. Ok, kerjakan!” ucap chef Nomnom sebelum akhirnya meninggalkan Olivia di cold kitchen.

 

“Gilak! Banyak banget… Gak salah apa dia nyuruh aku sendirian? Aku kan cuma lagi program training disini… bukan kerja. Seenggaknya ada 1 karyawan yang sama aku. Haduuuh… mana laper lagi! Ishh…!” Gerutu Olivia memandangi punggung chef Nomnom yang berjalan pergi.

 

Hampir satu jam Olivia berkutat dengan daging dan sayuran. Di dalam ruangan itu dia hanya sendirian. Menyiapkan makanan untuk didisplay di buffet restaurant. Dirinya pun juga tidak malu bertanya kepada beberapa koki yang sibuk dengan tugas masing-masing saat akan mendisplay ke area buffet. Banyaknya tamu membuat Olivia sering mondar-mandir dari buffet ke area cold kitchen. Rasa lapar di perutnya bahkan tidak terasa lagi hingga saat ini pukul 9 pagi.

 

Rupanya saat Olivia tengah mengisi ulang makanan di buffet, Dante berada tidak jauh dari tempat itu.

Display Makanan yang dikerjakan Olivia

“Chef Dante, saya baru saja dapat informasi kalau Lea tidak bisa masuk nanti sore. Padahal nanti sore banyak event penting,” ucap chef Nomnom saat berada di samping Dante.

 

“Why?” tanya Dante.

 

“Dia sebenarnya sudah beberapa hari ini sakit, chef. Sakit bisul. Tapi hari ini katanya makin parah. Bisulnya ada 2, di tangan dan kaki. Jadi susah gerak, jalan pun juga susah. 2 karyawan di department kita juga masih sakit,” jawab chef Nomnom.

 

“Suruh anak itu pulang sekarang. Biar dia bisa masuk shift sore,” ucap Dante memperhatikan hasil kerja Olivia. “Not bad,” gumam Dante membuat chef Nomnom ikut memperhatikan Olivia.

 

“Siap, chef. Biar saya suruh dia pulang sekarang,” ucap chef Nomnom yang kemudian berjalan menuju Olivia. Apanya yang not bad? Display nya? Atau anak itu? Perasaan tadi mata dia lihatnya si anak baru itu… batin chef Nomnom menghampiri Olivia yang tengah sibuk.

 

Olivia yang menyadari chef Nomnom akan menghampirinya, semakin menyibukan diri. Rasanya malas kali berhadapan dengan chef Nomnom.

 

“DuUuhh… ngapain si pitt bull datang kesini? Jangan bilang dia mau nambah kerjaan aku lagi,” gumam Olivia kecil.

 

“Heh! Kamu! Sini!” ucap chef Nomnom meminta Olivia menghampirinya.

 

“Ya, chef? Kenapa?” Tanya Olivia memasang senyumnya. Bagaimanapun dia harus bersikap baik meskin hati sudah terasa ditindas sejak pagi buta.

 

“Kamu pulang sekarang. Nanti balik lagi jam 4 sore,” ucap chef Nomnom dengan ekspresi datarnya.

 

BRUG! Olivia membanting tubuhnya ke bed setelah sampai di kamar nya. Lelah sekali. Bahkan dirinya juga belum sempat makan sesuatu meski pekerjaannya menyiapkan makanan.

 

“Ughh… lapar…” ucap Olivia menarik nafas.

 

Nana yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut basahnya segera menghampiri Olivia. Tangannya menyambar kotak tupperware yang berada di atas meja.

 

“Lapar ya? Makan nih. Aku lagi diet, kak,” ucap Nana memberikan kotak tupperware itu.

 

Setelah dibuka rupanya ada waffle, telur dan selai coklat.

 

“Kamu dapat darimana? Kita kan gak bisa belanja.  Emang ada ojek yang bisa antar makanan ke pulau ini?” tanya Olivia melihat makanan di pangkuannya.

 

“Ya pasti gak ada ojek dong yang mau ke sini, kak. Kalau ada pun pasti ongkos kirimnya lebih mahal dari harga makanan,” jawab Nana sambil mengeringkan rambut dengan handuk. “Itu aku dikasih sama anak kitchen. Dia tahu aku ga suka makan nasi. Jadi dia kasih aku waffle sama telur hampir tiap pagi.”

 

“Waahh… enak kali jadi kamu. Aku yang di kitchen aja sampai gak punya waktu makan. Ini kamu dikasih waffle gratis dari fans kamu,” ucap Olivia mulai mengambil waffle itu. “Thank you ya." Olivia mulai mengunyah waffle dengan penuh kelegaan. Akhirnya bisa makan juga pagi ini.

 

Saat dia mengunyah, Olivia tersadar dengan ucapan Nana barusan.

 

“Kamu barusan panggil aku, kak…? Tahu darimana kalau aku lebih tua dari kamu?” tanya Olivia masih dengan mengunyah.

 

 

To Be Continued…

 

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!