Sangat Menghipnotis

Bab 3_Sangat Menghipnotis

 

“Beruntung kali kamu punya temen Mei itu. Jadi pingin ke Bajo juga buat liburan. Capek di Singapore lihat bangunan aja,” celetuk kak Vivi membuat Olivia tenang kalau ucapannya itu dipercayai oleh kak Vivi.

 

“Ngomong ngomong kakak nelpon aku ada keperluan apa?”

 

“Owh..... Cuma mau call kamu aja. Sama mau bilang sorry. . .” Olivia mengrenyit kan alis dengan senyum kecilnya menatap wajah kak Vivi. “Obrolan terakhir kita waktu liburan di Bali kemarin kan kita agak... cek-cok bahas soal jodoh. Aku tahu, kamu udah move on dari ex kamu orang Morroco itu. Sorry ya. Suka ungkit ungkit itu,” terlihat tulus ucapan maaf itu. Olivia pun menanggapinya dengan hati yang terbuka.

 

“Iya..... No worries kakak ku sayang. I’m totally fine. Meski kemarin sempat kesal juga, sih. Hehehee... Jujur nih aku. Tapi gak mungkin dong aku ngambek lama lama juga. Secara aku masih butuh bantuan kakak buat bantu bayar kuliah aku. HaHaHaaaa! Kalau kak Vivi gak nelpon duluan, aku pasti yang nelpon duluan. Secara aku yang lebih butuh kak Vivi. Apa – apa masih minta kak Vivi. Tapi kemarin aku lihat angka di rekening aku masih aman. Hahaha... Ya udah deh nanti aku call kak Vivi seminggu lagi, gitu pikirku. Maunya kan hidup mandiri macam di film film atau novel novel jadi wonder woman yang tahan banting meski gak punya keluarga lengkap. Tapi kan aku gak hidup di wonderland seperti di  film cartoon disney. Aku masih butuh kakak untuk support financial dan membimbing aku.” Kak Vivi merasa ucapan Olivia itu terlalu berlebihan memuji dirinya. Tapi reality hidup kedua nya memang seperti itu. Saling bergantungan membutuhkan satu sama lain. “Untuk masalah jodoh, aku tidak butuh dibimbing. Karena kakak masih belom ketemu sama pujaan hati kakak.” Olivia berlanjut mengatupkan tangannya ke mulut. Dia menahan tawa memandang ekspresi kak Vivi.

 

“Gini nih...... Kebiasaan kamu. Habis memuji orang, beberapa detik kemudian melempar kalimat mengejek kayak ngedorong ke jurang,” balas kak Vivi tersenyum lepas bisa bercanda kembali dengan Olivia.

 

“Hahahaaa! Itulah salah satunya yang aku pelajari dari kakak,” kembali mengejek kakak Vivi dan keduanya berlanjut membahas topik yang lain sampai Olivia mengajak kak Vivi berkeliling melihat kamar yang dia tempati dengan video call.

 

 

“Kamarnya bagus. View nya juga super keren. Laut di Bajo masih biru jernih. Nanti kalau kamu jadi training di Labuan Bajo, aku sempatin liburan ke sana. Keliling snorkling deh kita berdua sampai puas.” Terlihat bersemangat kak Vivi ingin menyusul Olivia.

 

“Iya! Pokoknya nanti kita berdua harus ikut trip kapal. Banyak yang nawarin trip dengan kapal waktu aku lewat dari bandara sampai hotel. Pokoknya kakak harus kesini! View kamar hotel ini aja bikin suasana pikiran tenang. Cocok banget buat healing.” Olivia menghirup udara dalam dalam dengan salah satu tangan terlentang. Matanya tertutup semakin menarik perhatian kak Vivi ingin segera terbang ke Labuan Bajo.

 

“Liv, by the way si Mei dimana? Kok dari tadi gak kelihatan? Suaranya juga enggak kedengaran?”

 

Olivia tersentak kaget membelalakan matanya menatap lautan.

 

“Em... kemana ya si Mei? Dia bilang mau beli sesuatu. Tapi enggak tahu juga kok belum balik. Aku cari dia dulu ya, kak. Mau mandi juga nih. Nanti aku call lagi,” Olivia melambaikan tangannya. “See you, kak...” segera memutus panggilan itu karena tidak mau semakin membohongi kakaknya. “Huuufftt. . . Sorry ya, kak. Gak mungkin dong aku cerita semuanya. Maafkan adikmu yang nakal ini. Bagaimanapun aku juga belajar dari kamu. Hihihiii. . .”

 

Seperti ritual mandi biasa, ditemani alunan musik, Olivia hanya butuh 5 menit untuk mengguyur tubuhnya. Rambutnya yang sedikit basah dia keringkan dengan hair dryer. Sedikit melakukan peregangan, Olivia berjoget dengan memakai bathrobe. Kakinya sedikit berjinjit menggoyangkan  pinggul dan tangan ke kanan dan ke kiri. Sangat menikmati setiap hentakan. Baru selesai mengeringkan rambut, Olivia dikejutkan dengan bunyi bel di kamarnya.

 

Olivia segera mengecilkan volume speaker dari musiknya. Dengan masih memakai bathrobe dan memegang sisir di tangan kanan, Olivia mengintip pengunjung yang memencet bel kamarnya.

 

“Itu kan si abang yang bantu aku check in tadi. Mau ngapain ya? Apa musik ku terlalu keras...? Harusnya kan gak mungkin kedengaran sampai luar atau kamar sebelah kan?” bertanya pada diri sendiri keheranan.

 

Ceklek! Pintu pun akhirnya dibuka. Olivia hanya menunjukan mukanya karena merasa masih berantakan memakai bathrobe.

 

“Non, ini ada Mr. Dante,” ucap laki-laki itu berlanjut melangkah mundur memberi sela agar Dante bisa segera masuk.

 

“Oh?” Olivia bingung harus bersikap seperti apa. Setahu Olivia, Dante akan mengajaknya makan malam. Jadi dia berfikir Dante akan menemui nya nanti malam.

 

“Hai Olivia. Boleh saya masuk?” tanya Dante memberi senyuman lebar. Dia menarik tas kopernya dari tangan karyawan hotel yang mengantarnya. “Thank you, sir. Have a good day,” ucap Dante mulai masuk dan menutup pintu kamar.

 

DugDug...DugDug...DugDug... Detak jantung Olivia bekerja lebih cepat. Dirinya bingung harus bagaimana? Banyaknya pertanyaan yang bermunculan di benaknya sampai mengunci mulutnya tidak bisa berkata apa.

 

“How are you?... Saya Dante.” Suara bariton itu semakin membuyarkan pikiran Olivia. Olivia terdiam sesaat memandang wajah Dante.

 

Sikap Olivia yang kaku dan canggung itu nampak jelas bisa dilihat Dante.

 

Duh! Kok beda ya di foto dan aslinya? Di foto kelihatan sedikit cupu. Tapi kalau modelannya kayak gini, bisa jadi aku yang kelihatan cupu disamping dia. Gimana sih ini? Mana badannya kekar lagi! Serem deh! ...Uwhhh... Rasanya pingin teriak. MEI JEMPUT AKUUUUU! Hanya dalam khayalan Olivia. Dirinya berharap bisa lari dari kenyataan yang tidak dia harapkan.

 

Lagian ngapain dia kesini? Kan menurut rencana, kita ketemuannya nanti malam... Ini koper kenapa juga dibawa masuk ke sini. . .??? Oh Noooo Ini gak mungkin! Ini gak boleh terjadi. Si Mei bilang kamarnya sendiri sendiri. Ini ngapain bawa koper ke sini? Terus... bed disini kan cuma satu... Pikiran Olivia melalang buana menoleh ke arah bed. Tangannya meremas bagian  dada agar bathrobe nya tetap tertutup.

 

“Hei... Are you okay?” tanya Dante menarik lengan Olivia yang kaku mematung. “Olivia? Kamu gak suka bertemu dengan aku?” tanya Dante masih mengusap kedua lengan Olivia dengan tangannya.

 

“Enggak. Bukan... Maksud saya bukan gitu. I’m okay. Em... Kamu kenapa datang kesini?” Olivia kebingungan harus memulai pembicaraan darimana. “Sorry. . . Aku pikir--- kita akan bertemu saat dinner. Kata Mei, temen saya seperti itu,” jelas Olivia terbata bata.

 

Dante tersenyum tipis menanggapi sikap Olivia yang canggung.

 

“Yeah, kita pasti akan dinner. Nanti,” masih tersenyum tipis memandangi wajah Olivia yang kaku. “Kamu tidak apa-apa kan? Kamu terlihat tegang saat ini. Boleh saya kasih peluk? Supaya kamu lebih rileks.”

 

Kalau mau menolak pun, jarak keduanya hanya lima centi. Laki-laki bertubuh tegap itu tanpa menunggu jawaban Olivia, dia meraih tubuh Olivia kedalam pelukannya.

 

Pikiran Olivia semakin berkecambuk saja berada dalam pelukan Dante. Harum. Aroma khas laki-laki. Sangat menghipnotis.

 

Habis ini! Habis aku bentar lagi. Oliv...... sadar Oliv...... Pikir gimana caranya lari dari sini. OH! Aku ada ide. Uang 20 juta itu udah di transfer belum ya? Aku kan bisa kabur pakai uang itu! Batin Olivia berlanjut mendongak ke wajah Dante. Senyuman tipis dari bibir Olivia itu membuat Dante tidak ingin melepaskan Olivia.

 

To Be Continued

Si Olivia mikir kabur... Si Dante mikirnya sudah lain...☺

Like, Comment, Masukan ke Favorite dan Vote nya ya kakak - kakak... Ini sangat membantu author. Terimakasih 😘

 

 

 

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!