Ok... Tapi Gak Ok

Sosok bertubuh tegap dengan wajah yang pernah membuat jantung Olivia berdegup lebih cepat itu sungguh nyata di pandangannya saat ini. Saat ini pun jantungnya juga meletup letup tidak terkendali karena sosok itu. Karisma laki-laki itu masih sama. Olivia terperanga melihat Dante berdiri tegap di jetty itu.

 

“Gak mungkin…” gumamnya kecil. Tubuhnya terdiam dengan pandangan lurus menatap Dante.

 

 

Berbagai pertanyaan muncul di benak Olivia. Bukankah executive chef disini orang perancis? Dante kan orang Italy, bukan Perancis. Jelas – jelas Accent nya kalau ngomong pun masih kental banget kalau dia itu orang Italy… Jadi ngapain dia disini? Sangat heran Olivia dengan situasi yang ada. Dirinya memang ingin bertemu Dante untuk mengembalikan uang 40 juta itu, tapi tidak harus dengan training di tempat yang sama dimana Dante bekerja.

 

“Kak Don, itu bu Tyas, ya?” Olivia berbasa – basi. Olivia tidak mungkin lupa dengan wajah bu Tyas yang sudah mewawancarinya lebih dari 30 menit.

 

“Ya. Itu bu Tyas, HR Manager disini,” jawab Don.

 

“Kalau yang disampingnya itu siapa?” tanya Olivia ingin mengetahui sedang apa Dante di resort ini.

 

“Itu chef Dante. Executive chef yang baru. Dia baru juga datang beberapa hari yang lalu,” jelas Don. “Safety belt nya boleh dilepas. Kita akan segera turun dari boat,” pinta Don yang kemudian berdiri bersiap untuk turun dari kapal.

 

Dug Dug… Dug Dug… Dug Dug…

Kenapa jantungku jadi berdegup kencang gini? Sial amat sih kamu Oliv….. Duh! Gerutu Olivia dalam benaknya. Ingin sekali rasanya dia loncat ke laut daripada harus menghadapi Dante berhari-hari.

 

“Welcome to Luxus Resort, Olivia…” sapa bu Tyas mengajak Olivia jabat tangan.

 

“Terimakasih, bu Tyas.” Olivia menjabat tangan bu Tyas. Tersenyum tulus… tapi mendadak kikuk saat melirik mata Dante yang berada di sebelah.

 

“Gimana perjalanannya? Lumayan jauh ya dari bandara terus harus pakai speedboat baru bisa sampai disini.” Ucapan bu Tyas disambut senyuman orang-orang yang berdiri di jetty itu. “Chef, silahkan…” bu Tyas menoleh ke Dante.

 

“Hi Olivia! Apa kabar?” Dante mengulurkan tangannya ke Olivia.

 

Melihat sikap ramah Dante itu nampaknya laki-laki itu sedang bersandiwara. Tidak mungkin laki-laki itu bersikap baik kepadanya setelah huru-hara yang terjadi sebelumnya.

 

“Saya Dante.”

 

Nah kan… Dia pura-pura gak kenal sama aku. Buat apa coba dia ngucapin namanya di situasi ini? Kita kan udah kenal, gumam Olivia dalam benaknya.

 

“Hi! Saya Olivia. Nice to see you here,” balas Olivia menjabat tangan Dante. Kalau gak dalam situasi ini, udah ku remat-remat ku gigit nih tangan! Kesal Olivia sambil menggoyangkan tanggannya berjabat tangan dengan Dante.

 

“Ini Chef Dante. Executive chef yang baru. Nanti Olivia akan banyak belajar sama chef Dante di kitchen,” jelas bu Tyas membuat kedua bola mata Olivia melirik kembali ke Dante.

 

“Bu Tyas, ini ada buggy. Saya antar Olivia ke kamarnya langsung atau ke office ibu dulu?” tanya Don sambil memegangi koper Olivia.

 

“Langsung ke kamarnya dulu aja, Don. Bentar lagi kan jam makan siang. Habis makan siang selesai, nanti Olivia ke office saya, ya?” pinta bu Tyas menoleh kembali ke Olivia.

 

“Iya, bu,” Olivia mengangguk menyetujuhi.

 

Rasanya canggung berada dalam satu buggy bersama Dante. Apalagi saat ini Olivia duduk di belakang Dante. Aroma tubuh laki-laki itu memenuhi hidung Olivia.

 

Menyebalkan! Gumam Olivia. Dirinya teringat kembali saat berada dalam pelukan Dante.

 

“Nanti teman sekamar kamu namanya Nana. Dia juga training disini. Kalian kamarnya sharing berdua. Nana udah kurang lebih seminggu disini,” jelas bu Tyas ke Olivia yang duduk di sampingnya.

 

“Iya, bu Terimakasih,” ucap Olivia tersenyum tulus.

 

“Kamu anaknya pendiam ya…” celetuk bu Tyas membuat Don dan Dante menoleh sedikit ke belakang.

 

“Masih hari pertama, buk… Biasa masih shy shy cat. Hehehee… Malu-malu kucing. Liat aja beberapa hari lagi. Pasti ngereog. Hahahaa…” sahut Don disambut tawa kecil oleh bu Tyas. Sedangkan Dante yang mendengarnya jadi teringat dengan setiap moment saat bersama Olvia di hotel yang lalu. Sudut bibirnya pun terangkat menahan senyum.

 

Akhirnya tak lama kemudian buggy itu berhenti. Siang itu tidak ada orang di area itu.

 

“Kita sudah sampai di kamar kamu, Oliv. 022,” ucap Don mematikan mesin. Bu Tyas, Dante dan Olivia pun turun dari buggy.

 

“Thank you, Don. Kalau begitu saya duluan mau ke kamar saya. Sampai jumpa nanti lagi, bu Tyas,” ucap Dante.

 

“Ya, chef. Terimakasih sudah ditemani jemput Olivia. Sampai jumpa nanti sore. Meeting selanjutnya,” balas bu Tyas melambaikan tangan.

 

“Yah, see you later.” Dante mulai beranjak pergi.

 

Eits… Tapi kenapa Dante masuk ke bangunan sebelah dari kamar Olivia? Dahi Olivia ikut menciut memikirkan kenapa Dante masuk ke situ.

 

Huwah? No way… Gak mungkin… Jangan-jangan itu kamar dia? Sebelahan?! Kepala Olivia dihantam berbagai pertanyaan lagi.

 

“Sini saya bantu bawa tasnya,” ucap Don berlanjut menurunkan koper Olivia dari buggy.

 

“Oliv, ini kunci kamarnya. Satu kamar kuncinya 2. Nana juga sudah punya.” Bu Tyas memberikan kunci.

 

Ceklek…

 

“Bu Tyas? Kak Don?” Nana keluar dari kamarnya. Dia memperhatikan Olivia yang akan jadi teman kamarnya. “Ini roommate aku ya?” tanya Nana berjalan mendekati Olivia.

 

“Hai!” sapa Olivia yang tengah sibuk menenteng tasnya.

 

“Iya, Nana. Ini Olivia, roommate kamu. Oliv, bed nya udah disiapin di dalam. Ibu ada keperluan sekarang. Nanti kamu ke kantinnya sama Nana ya,” bu Tyas menoleh ke Nana yang berdiri di sampingnya.

 

“Tenang aja, bu. Biar nanti saya antar,” balas Nana ringan dengan senyum ramahnya.

 

“Makasih ya, Na. Don, kita putar balik ke jetty. Katanya ada site inspection yang mau datang siang ini,” pinta bu Tyas bergegas menaiki buggy.

 

“Siap ibuk! Laksanakan!” sambung Don bergegas menyalakan buggy kembali.

 

Olivia dan Nana pun segera masuk ke dalam kamar. Kamar itu cukup luas dibanding dengan kamarnya bersama Mei di Bali. Bednya pun sedikit lebih besar. Ada tumbler minun dan 2 coklat yang diletakkan di atas bed nya Olivia. Bahkan ada tulisan “Welcome Home Olivia to Luxus Resort & Spa Family". Sangat hangat penyambutan kedatangannya. Begitulah yang dirasakan Olivia.

 

“Oliv, kamu dari universitas mana?” tanya Nana setelah melihat Olivia mendaratkan pantat ke bed.

 

“Aku dari Bali. Kalau kamu darimana?” tanya Olivia balik tersenyum ramah.

 

“Owh… Kamu orang Bali. Aku dari Jakarta,” jawab Nana.

 

“Bukan. Aku asli Semarang. Tapi kuliah aku di Bali,” jelas Olivia. “Gimana training disini?” Tanya Olivia penasaran dengan situasi yang ada.

 

“Em… OK… Tapi gak Ok juga… Nyaman… Tapi gak nyaman juga,” jawab Nana membuat Olivia bingung.

 

“Hah? Gimana gimana?” Tanya Olivia bingung mendengar jawaban itu.

 

“Ya ntar kamu tahu sendiri deh… Hihihii… Ga seru kan kalau aku bilang diawal,” celetuk Nana membayangkan sesuatu. “Eits…. Tapi ada satu hal yang perlu kamu ingat. Sejauh ini baru satu…”

 

“Apa tuh?” Tanya Olivia.

 

“Em… jangan dekat-dekat sama chef sebelah. Bisa habis kamu sama karyawan cewek disini.” Olivia terheran-heran dengan jawaban Nana. Sudah jelas chef penghuni kamar sebelah adalah Dante. Mana mungkin dia mau dekat-dekat sama Dante. “Banyak yang naksir. Pokoknya jangan coba-coba kalau kamu mau training nya lancar sampai akhir. Hihihii. Karyawan cewek-cewek disini ganas. Lagi pada bersaing dapetin chef itu,” jelas Nana.

 

Olivia yang mendengar itu hanya bisa nyengir membayangkan muka Dante.

 

To Be Continued…

Like, Comment, Masukan ke Favorite dan Vote nya ya kakak - kakak... Ini sangat membantu author. Terimakasih 😘

 

 

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!