Sinar matahari Labuan Bajo cukup terik hari ini. Tirai jendela kaca yang tidak tertutup penuh memasuki menembus kaca. Olivia yang masih dirundung kantuk pun mulai membuka matanya pelan-pelan. Rasanya seluruh tubuh remuk. Lelah.
“Hmmmppp…..ehh” Mencoba mengumpulkan kesadaran. Kepalanya terasa berat, malas untuk menggerakkan badan. Tapi sinar matahari itu cukup membuatnya tidak nyaman. “Ugh?” Kesadarannya mulai membaik saat menggaruk perutnya yang terasa gatal. “Em? ? Kemana bajuku?” Terasa ada yang ganjal. Jantungnya berdegup sedikit cepat sambil melirik bed dan sudut kamar hotel itu. Pikiran Olivia mendadak jadi kacau. Banyak pertanyan bermunculan di benaknya. Kenapa bisa begini? Kok aku jadi telan jang? Apa yang sudah ku lakukan?
“Ada yang gak beres. Berapa banyak aku semalam minum?” Bertanya kepada diri sendiri sambil mengingat ingat apa yang sudah terjadi. Meski dahi sudah mengerut beberapa kali mencoba mangingat kejadian semalam, Olivia belum bisa mengingatnya.
Beberapa menit Olivia terdiam sambil duduk dengan memegangi selimut untuk menutupi tubuhnya. Dirinya masih mencoba mengingat kejadian semalam. Walau sudah dicoba berkali kali pun, tidak satupun yang dia ingat. “Kenapa lengan kanan ku terasa sakit? Huftt… Pegal,” rintihnya sambil mencoba menggerak gerakkan bahu dan lengan kanannya.
“Aku pasti yang sudah membuka bajuku sendiri. Tidak mungkin Dante. Aku biasa merasa kepanasan saat mabuk berat. Jadi…. Aku pasti yang sudah buka baju sendiri” ucapnya pelan mensugesti diri sendiri. “Yah…. Sebaiknya aku mandi. Mungkin setelah kepalaku diguyur air, aku bisa ingat sesuat.”
Olivia segera beranjak dari bed nya menuju kamar mandi dengan dibalut selimut yang dia seret menuju kamar mandi.
CRESSS……..! Suara air mengguyur kepalanya. Terasa segar. Mata Olivia terpejam sambil menikmati guyuran air dingin.
“Argghh!”
“Huahh??!?” Olivia menjerit dan segera mematikan shower air. Jantungnya kembali berdetak kencang membuatnya terengah engah. Tidak mungkin, batinnya dalam hati. Olivia terdiam kembali beberapa detik mengingat bayangan yang melintas di benaknya.
“Dipikir dari segi manapun rasanya tidak mungkin. Kalau memang aku sama Dante sudah melakukan nya. Terus kenapa dia ninggalin aku duluan? Bukannya kita masih punya dua malam lagi? Kan… Gak mungkin kan aku udah begituan sama dia?!” Ucap Olivia kesal tidak bisa mengingat apa saja yang sudah terjadi semalam. Olivia kembali menyalakan shower air untuk melanjutkan mandi.
Selesai mandi, Olivia mengeringakan rambutnya. Terasa lebih segar.
“Argghh!!”
Klik. Olivia mematikan hair dryer itu dengan mata terpejam. Tubuhnya terasa tergelitik setiap kali bayangan wajah Dante saat menge rang melintas di benaknya.
“Apa kegilaan ku lagi kambuh? Apa yang sebenarnya terjadi semalam? Sebenarnya dimana sih dia?” Kembali kesal karena pikirannya kacau.
Tu lu lut….. Tu lu lut….. Suara telpon kamar itu berbunyi.
“Hallo,” jawab Olivia.
“Selamat pagi, bu Olivia. Saya Jes, dari reception.”
“Yah, ada apa?” tanya Olivia.
“Saya mau menginformasikan kalau ibu Olivia ada titipan dari pak Dante. Pak Dante meminta agar segera diambil di reception,” ucapnya.
“Titipan? Oh, Iya. Iya saya segera turun,” balas Olivia dengan muka bingung.
“Terimakasih, ibu. Kami tunggu.”
“Iya, sama-sama.” Olivia segera menutup telpon. “Kenapa harus dititip di reception? Kan dia tahu aku ada disini. Sebenarnya apa yang dia titipkan?” ucapnya sendiri penasaran.
Tak lama setelah memakai baju, Olivia segera berjalan keluar dari kamar untuk menuju reception di lobby utama. Nampak ada beberapa tamu yang sedang check in di reception.
“Selamat pagi,” sapa salah satu receptionist yang berdiri di depan meja front desk kepada Olivia yang baru saja sampai area reception. “Apa kabar, bu Olivia?”
“Selamat pagi. Kabar baik,” jawab Olivia sedikit bingung melirik name tag orang yang menyapanya. ‘Jes' orang yang baru saja menyapanya itu bernama Jes.
“Bu, ini ada titipan dari pak Dante,” ucap Jes sambil menyodorkan tas bermodel tote bag.
“Apa ini?” tanya Olivia sambil menerima tas itu.
“kami kurang tahu. Tapi pak Dante berpesan agar segera diberikan ke ibu, secepatnya,” jawab Jes.
Olivia yang penasaran pun segera membuka ritseleting tas itu.
“Hah?” Uang? Batin Olivia cukup kaget melihat isi tas itu. “Pak Dante nya sekarang dimana?” tanya Olivia.
“Pak Dante sudah pergi, bu. Kami juga kurang tahu perginya kemana,”
Sangat mengherankan. Olivia termangu-mangu dengan sikap Dante yang tiba-tiba menghilang meninggalkan setumpuk uang.
“Oh, OK, baiklah. Biar saya telpon dia saja nanti. Thank you ya,” ucap Olivia sebelum balik kembali ke kamar.
Tululut…..
Tululut…..
Tidak ada balasan.
“Kok handphonenya kayak ga aktif? Aneh?” Pikiran Olivia kembali ke uang yang ada di tas itu. Karena penasaran juga dengan jumlahnya, Olivia mencoba menghitung uang itu. Tapi rupanya ada selembar kertas kecil yang ditemukan Olivia di dalam tas itu.
“Saya tahu semuanya. Ini 40 juta yang kamu inginkan. Jangan hubungi saya lagi! You’re so cheap…. Dante.” Begitulah isi tulisan itu. Mengejutkan. “Apa yang dia tahu?! Kemana sebenarnya dia? 40 juta…..? Kenapa nominalnya sama dengan uang taruhan….? Apa… Gak mungkin. Kalau emang dia tahu, darimana dia tahu? Cuma Mei sama penghuni sebelah yang tahu. Aaaaaa sial! Kurang ajar sekali dia ngatain aku murahan! You’re so cheap? Emang aku udah ngapain aja sama dia sampai dia bisa ngatain aku murahan?! Awas saja kalau sampai aku ketemu dia lagi, akan kulempar uang ini ke mukanya!” Geram Olivia. Sangat kesal.
Dengan rasa kesalnya, Olivia mengemas barangnya untuk segera kembali ke Bali. “Bodo amat gak dapat uang taruhan! Yang penting aku selamat dari orang asing itu!” Ucap Olivia sambil menarik kopernya menuju lobby hotel.
Masih dengan perut kosong, Olivia menuju bandara. Panggilan dari Mei yang berdering berkali kali pun dia hiraukan. Tidak peduli.
“You’re so cheap? Sial! Bikin kesal! Huft…” Gumam Olivia masih teringat pesan yang ditulis Dante.
_______________
Setelah 1,5 jam akhirnya Olivia sampai juga di bandara Bali. Perutnya terasa lapar karena belum diisi apa pun.
“Ada uang di tas, tapi gak bisa digunakan. Cuma bisa beli tiket doang. Itupun harus segera terkumpul lagi buat dikembalikan,” gumam Olivia saat melihat area food court di bandara. Pokonya aku harus bisa balikin uang 40 juta ke cowok sialan itu. Enak aja dia ngatain aku murahan! Batin Olivia dalam benaknya.
Sesampainya di asrama, Olivia segera menuju kamarnya. Tapi anehnya di depan kamar Olivia ada banyak alas kaki. Sepatu hak tinggi, sandal jepit, sepatu koki, sepatu pantofel.
“Sandal jepit sudah pasti punya Mei. Kalau yang lainnya punya siapa?” gumam Olivia.
Begitu ingin membuka pintu kamarnya, Olivia mendengar percakapan orang-orang yang ada di dalam kamarnya. Termasuk suara Mei. Karena penasaran, Olivia pun mencoba mendengar pembicaraan orang-orang yang ada di kamarnya itu.
“Hah? Apa-apan ini?!” kesal Olivia.
To Be Continued…
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments