Rasa Nano - Nano

“Owh, gitu ya,” celetuk Olivia menanggapi ucapan Nana. Rasanya tidak mau peduli tentang apapun yang berhubungan dengan Dante setelah mendengar ucapan Nana.

 

“Kamu mau makan sekarang? Kantinnya cuma di belakang dormitory kita,” ucap Nana menunjuk jendela kamarnya yang terbuka. “Aku udah makan mie instant. Masak pakai water boiler itu. Lagi gak selera makan nasi. Yuk! Biar aku antar. Jam break aku udah mau selesai soalnya,” jelas Nana menyahut lip tint untuk memoles bibirnya.

 

“Aku masih mau di kamar dulu. Kamu kalau mau balik kerja balik aja. Nanti biar aku ke kantin sendiri. Belom lapar juga,” ucap Olivia menolak halus dengan senyum tipisnya. Perasaannya menjadi tidak nyaman setelah membahas soal Dante.

 

“Owhh… gitu. OK deh.” Nana menatap wajahnya di cermin. Dia memastikan penampilannya rapi dan terlihat segar setelah menambah lip tint di bibir. “Ow ya, ini kartu namaku. Kalau mau tanya sesuatu kirim aja pesan di nomor itu,” ucap Nana memberikan kartu namanya ke Olivia.

 

“Oh? Ok,” jawab Olivia menerima kartu itu. Rupanya meski masih kuliah, Nana sudah punya bisnis sendiri. Nana Lip Tint & Gloss, begitulah tulisan yang dibaca Olivia. “Kamu punya bisnis ini ya? Keren!” puji Olivia tidak menyangka.

 

“Em… itu… Sebagian besar mama aku yang ngerjain. Mama juga yang pertama bukain bisnis lip tint buat aku. Aku masih tahap belajar soal bisnis,” jawab Nana mengingat usaha mamanya membangun bisnis untuknya. “Eh, waktu break aku udah hampir habis. Aku cabut dulu ya. See you later,” ucap Nana sambil cepat-cepat memakai sepatu hak tinggi nya sebelum akhirnya keluar dari kamar.

 

Olivia termangu memperhatikan Nana.

“Enak sekali jadi dia…” celetuk kecil Olivia

 

Krucuk krucuk…

“Aghh… lapar…” Pikiran Olivia kembali fokus untuk dirinya. Perutnya berbunyi meminta makan. “Malas kali pergi ke kantin,” Olivia mulai membanting tubuhnya ke bed. Rasanya masih tidak percaya kalau dirinya akan berhadapan dengan Dante selama 6 bulan ke depan setiap harinya. “Kenapa dia harus disini sih… Aaaaa! Aku gak sanggup!” Olivia mengeluh meluapkan emosinya sendiri. “Kenapa sih aku ini? Semangat! Semangat! Meski ditempat baru... Orang-orang baru… Lingkungan baru… Dan harus berhadapan dengan Dante… Aku gak boleh patah semangat! Ini tugas terakhir kuliahku! Training disini. Aku harus bisa!” ucap Olivia sampai tidak menyadari kalau ponselnya bergetar karena panggilan dari kakaknya.

 

Drttt… Drttt…

“Halo kak,” sapa Olivia masih dalam posisi meregangkan badannya di bed.

 

“HYA?! Kamu ni susah kali sih di telpon?!” suara kak Vivi melengking membangunkan Olivia.

 

“Kenapa sih, kak? Aku tuw sibuk,” jawab Olivia menatap koper dan tas ransel yang belum dibuka. Banyak sekali yang harus dia lakukan untuk menata barang-barangnya ke lemari.

 

“Sesibuk apa sih…? Kan bisa seenggaknya seminggu sekali nelpon kasih kabar? Jadi gimana trainingnya? Udah wawancara di tempat baru belom?” tanya kak Vivi penasaran dengan perkembangan kuliah adiknya.

 

“Aku udah di Labuan Bajo lagi kakak… Udah diterima disini aku,” jelas Olivia membuat kak Vivi tersenyum .

 

“Ah… sudah di Labuan Bajo lagi kamu rupanya. Gimana tempatnya? Asyik gak? Temen-temen kerja kamu disana gimana?” tanya kak Vivi ingin memastikan kondisi Olivia di tempat baru. Olivia yang mendengar pertanyaan itu jadi teringat saat Dante menyambut kedatangannya tadi.

 

“Baru juga sampai beberapa jam yang lalu. Masih belom tahu, kakak,” jelas Olivia. Tangannya meraih botol mineral yang disediakan di kamar itu. Gluguk…gluguk… “ Haus nya… enak sekali,” celetuk Olivia yang didengar kak Vivi.

 

“Baru sampai ya. Pasti capek. Ya udah istirahat dulu. Nanti kita lanjut lagi,” ucap kak Vivi.

 

“Kak…”

 

“Yah? Kenapa?” tanya kak Vivi tidak jadi menutup panggilan itu.

 

“Em… dulu waktu kakak telat kuliah gimana rasanya?” Tanya Olivia penasaran. Entah kenapa hari ini dirinya merasa tidak nyaman. Dulu waktu bertemu Dante, laki-laki itu pernah bertanya tentang apa pekerjaannya di hotel. Melihat Nana teman kamarnya yang baru sudah memiliki bisnis sendiri meski masih kuliah, menambah rasa tidak nyaman Olivia.

 

“Rasanya ya rasa nano-nano. Sedih Iya… kecewa juga iya. Dulu kakak pernah mikir, kenapa harus jadi anak yatim? Kenapa tabungan orang tua kita terkuras untuk biaya berobat ayah? Kenapa harus bayar sekolah sendiri sampai kuliah? Kenapa dan kenapa?” Olivia terdiam mendengar ucapan kakaknya. Pertanyaan itulah yang sering juga muncul di benak Olivia. Bila melihat kehidupan orang lain dan menilik kehidupan nya saat ini, rasanya memang seperti itu. Sedih dan kecewa. Sama seperti yang dirasakan kakaknya. “Kamu merasakan hal yang sama?” tanya kak Vivi membuat keduanya terdiam beberapa saat. Pandangan kosong. Ingatan saat masa-masa sulit menjalani hidup melintas kembali.

 

“Yah… aku juga, kak,” celetuk Olivia dengan suara berat. Mendengar jawaban adiknya itu, mengharuskan kak Vivi menarik nafas panjang.

 

“Meski ada hari-hari berat, pasti ada hari dimana saat kakak mengatakan kalimat akhirnya… Akhirnya aku bisa bayar uang semester… Akhirnya aku bisa beli makan hari ini… Akhirnya kuliahku  selesai juga… Akhirnya aku dapat kerja…” Olivia teringat dengan segala hal yang berhasil dia capai setelah mendengar ucapan kakak nya itu. Banyak sekali perjuangan yang dia lalui bersama kakaknya. Hanya berdua karena keluarganya mengalami kecelakaan yang mengakibatkan orang tuanya bersama kakek neneknya meninggal di tempat kejadian. Kecelakaan beruntun itu sungguh tragedi naas untuk keluarganya.

 

Olivia pun menangis sesenggukan menggigit bibir bawahnya agar suara tangisnya tidak pecah.

 

“Kakak tahu itu hal-hal biasa yang dilakukan mereka yang berkecukupan. Tapi kakak berfikir... Aku melakukannya sendiri. I did by my self…” Kak Vivi bisa merasakan kalau adiknya saat ini tengah menangis. “Kamu pun begitu, Oliv. Kakak senang karena kamu mandiri. Jadi jangan membandingkan dirimu dengan orang lain. You can do it, Oliv.” (Kamu bisa melakukan, Oliv)

 

Ada rasa lega setelah mendengar ucapan kak Vivi.

 

“Yaahh… I can do it. Aku harus bisa,” balas Olivia menghapus air mata dan ingus di hidung. “Thank you, kak,” ucap Olivia pelan menstabilkan emosinya.

 

“Ya sudah. Kurangi berfikir yang tidak-tidak. Kalau capek tidur, kalau lapar makan. Emosi kita bisa dikelola oleh diri kita sendiri,” pesan kak Vivi membuat Olivia menoleh coklat di atas bednya. Perutnya terasa lapar.

 

“Iya kak… Kalau capek tidur, kalau lapar makan. Hehehe… Kayanya aku lapar. Aku mau makan dulu ya kak. Aku tutup dulu. Nanti kita sambung lagi,” balas Olivia meraih coklat yang ada.

 

“Tunggu dulu! Uang saku butuh--"

 

“Ga usah, kak. Tenang aja. Aku masih ada. Mending kakak tabung buat modal nikah ntar,” celetuk Olivia asal menyunggingkan senyumnya.

 

“Kau ini! Mulai lagi meledek! Udah tahu kakak mu ni jomblo!” balas kak Vivi.

 

“ Hehehee… Ya udah. Aku mau makan dulu ya, kak. Thank you kakak ku yang jomblo… Terbaik deh,” Olivia memuji sekaligus meledek kembali kak Vivi sebelum menutup panggilan mereka.

 

To Be Continued…

 

 

 

Terpopuler

Comments

Queen

Queen

Seperti ini yang sering terjadi di kehidupan nyata. Lihat tetangga kok hidup nya enak. Lihat orang kok bisa beli ini beli itu. Lihat diri sendiri kayak masih ngak Ada apa2. Tapi ya namanya hidup dijalani ya, pasti Nanti Ada saatnya giliran masing2. Roda itu kan berputar. Semangat oliv

2024-05-28

3

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!