Disaat Olivia hampir sampai di office Dante, ponselnya berdering. Ada panggilan masuk dari chef Nomnom.
“Selamat siang, chef. Ada yang bisa dibantu?” sapa Olivia kepada chef Nomnom sambil membuka officenya Dante. Laki-laki yang dicari rupanya tidak ada di dalam office.
“Oliv, bisa kamu ke supply jetty tempat kedatangan bahan makanan, sekarang? Kapal bahan makanan baru datang. Saya masih ada tamu, nanti saya susul kamu. Cepat ya! Sekarang,” ucap chef Nomnom sediki terburu-buru.
“Iya, chef. Bisa,” jawab Olivia. Panggilan pun terputus setelah dirinya menjawab. “Dia ni kalau nyuruh bisa gak sih pakai kata tolong? Gak pernah kayanya aku dengar kata thank you… terimakasih… sekalipun gak pernah!” Olivia menggerutu sambil berjalan ke arah supply jetty.
Ada banyak yang diturunkan dari kapal. Tidak hanya bahan-bahan untuk dapur, tapi juga barang-barang untuk department lain yang memiliki pesanan. Karyawan yang menerima barang juga bukan Olivia saja, melainkan dari department lain juga ada di supply jetty saat ini.
“Kamu admin kitchen ya?” tanya seorang laki-laki berkacamata yang memegang map dan pena kepada Olivia yang baru saja datang.
“Betul, pak.”
“Tolong antri setelah Jemmy dan Dino. Barang orderan engineering dan housekeeping lumayan banyak. Kenapa baru juga datang? Kan saya sudah telpon chef Nomnom sejam yang lalu,” tanya laki-laki itu membuat Olivia berfikir.
“Chef Nomnom masih sibuk, pak. Jadi beliau minta saya yang datang,” jawab Olivia.
“Minta kamu yang datang gimana? Ini kan memang tugas kamu sebagai admin. Lain kali jangan telat!” ucapnya cukup tegas membuat Olivia tidak berani berkata apapun. Dia hanya mengangguk angguk mengiyakan perkataan laki-laki itu.
Sudah hampir dua jam Olivia mengantri menunggu gilirannya. Tapi barang – barang engineering memang banyak. Jam pulang pun sudah pasti harus diundur untuk lembur.
Tidak menyangka Olivia melihat Dante tengah menaiki buggy dengan Don menuju supply jetty itu. Don nampak ramah kepada Olivia sambil tersenyum tipis. Beda halnya dengan Dante, tidak sedikit pun Dante menoleh atau melirik ke arah Olivia. Begitulah yang dirasakan Olivia.
Saat tengah memperhatikan 2 orang itu. Laki-laki berkacamata yang mengurusi penurunan barang orderan tadi berjalan mendekati Olivia lagi.
“Kamu bagian admin kitchen kan?” tanya laki-laki itu sambil membaca name tag Olivia.
“Iya, pak. Kenapa?” tanya Olivia Bersiap menghadapi segala pertanyaan yang mungkin akan dilontarkan. Nampak tidak ramah sikapnya sejak dari awal.
“Kamu belum ngembaliin invoice ke accounting ya?” pertanyaan itu membuat Olivia teringat dengan tumpukan invoice di mejanya. “Kan sudah dikasih tahu setiap invoice harus dikumpul lagi ke accounting! Kenapa tadi pagi belum kamu kasih? Bisa jadi lembur lagi nanti saya kalau begini!” ucap laki-laki itu membuat Olivia terkejut. Olivia tidak menyangka dampaknya akan sampai merugikan orang lain.
Dante yang mendengar pembicaraan itu sempat menoleh memperhatikan Olivia yang dibentak.
“Ma-maaf, pak. Kalau begitu biar saya kasih invoice nya ke accounting sekarang,” ucap Olivia meremas tangannya sedikit gemetar.
“Terus yang nerima barang orderan kitchen siapa? Kamu mau nyuruh saya nungguin kamu lagi? Kamu ni ya… kerja kok begini?!” Olivia sangat malu mendapat perlakuan itu di depan banyak orang.
“Maaf, pak. Saya akan segera balik lagi setelah ngasih invoicenya. Chef Nomnom juga akan datang ke sini kok, pak. Saya janji akan segera balik biar bapak gak lembur,” ucap Olivia membuat laki-laki berkacamata itu berdecak.
“Ck! Hmm… jangan telat. Hari ini saya mau pulang kampung. Besok anak saya ulang tahun,” ucap laki-laki itu membuat Olivia semakin bersalah.
“Baik, pak. Terimakasih. Sekali lagi saya minta maaf. Saya ke accounting sekarang.”
Olivia segera berlari meninggalkan supply jetty. Ingin sekali rasanya Olivia meminjam buggy milik Dante, tapi mengingat kejadian dari pagi diberi tugas yang tidak jelas oleh Dante, Olivia mengurungkan niatnya.
Saat Olivia tengah dikejar waktu, Olivia berpapasan dengan beberapa tamu. Tamu-tamu itu menanyakan lokasi atau jalan. Belum lagi saat Olivia sampai di accounting, Olivia diminta pihak accounting untuk meminta tanda tangan chef Dante. Tanpa tanda tangan Dante, pihak accounting tidak mau menerima.
“Gimana sih? Memang kamu gak dikasih tahu admin sebelumnya ya kalau invoice ini harus ditandatangani executive chef? Atau chef Nomnom gitu… Gak dikasih tahu ya?” ucap wanita berambut pendek dengan kacamata tebal. Orang-orang yang duduk di ruangan itu pun sempat menoleh ke arah Olivia.
Pipi dan telinga Olivia memanas merasakan dirinya diperlakukan kurang baik.
“Maaf, bu. Saya ke chef Dante dulu minta tanda tangan beliau,” ucap Olivia pelan sambil mengambil semua invoice dari dari tangan wanita di depannya itu.
Lelah sekali rasanya mendapat perlakuan kurang baik di depan banyak orang. Olivia pun harus kembali ke supply jetty karena terakhir kali dia melihat Dante berada disana.
“Semoga saja dia masih ada disana,” ucap Olivia berjalan lebih cepat.
Untung saja Dante masih berada di dekat supply jetty. Laki-laki itu tengah bersama Don menatap lautan biru Labuan Bajo.
“Chef Dante, boleh saya minta tanda tangannya untuk invoice ini?” tanya Olivia memberikan pena dan tumpukan invoice.
Hanya sepintas Dante melihat bola mata Olivia. Invoice dari tangan Olivia, Dante ambil. Dante memilih menggunakan pena miliknya.
“Apa kabarnya hari ini, Oliv?” tanya Don bersikap ramah. “Sepertinya hari ini lembur lagi ya?”
Malas sekali sebenarnya menanggapi pertanyaan Don. Rasanya Olivia ingin menjawab—Pakai saja kamar ku kalau butuh bersama Nana!
“Sepertinya begitu, kak Don,” jawab Olivia melempar senyumnya. Olivia bersikap tenang selagi menunggu Dante menandatangani invoice-invoice itu.
Setelah beberapa saat kemudian, akhirnya Dante selesai juga memberi tanda tangannya. Olivia segera kembali lagi ke accounting untuk menyerahkan invoicenya. Kaki Sudan terasa pegal. Tapi Olivia harus kembali ke supply jetty untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Tidak terasa saat ini sudah pukul 17.45. Laki-laki berkacamata itu sudah tidak ada. Hanya ada karyawan engineering dan housekeeping yang tengah menaikan barang-barang ke buggy masing-masing.
“Pasti dia sudah pergi pulang kampung. Dia bilangkan anaknya ulang tahun,” ucap Olivia menghampiri keranjang buah-buahan.
“Hai…” sapa seorang laki-laki berseragam engineering dengan name tag bertuliskan Jemmy.
“Hai. Kenapa, kak?” tanya Olivia.
“Jangan dipikirin ucapan pak Man tadi,” ucap Jemmy membuat Olivia teringat laki-laki berkacamata yang dicarinya. “Pak Man buru-buru pulang bukan karena anaknya ulang tahun. Dia gak punya anak. Dia selalu kasih alasan itu ke karyawan baru. Hehehee,” jelas Jemmy membuat Olivia lega. Rupanya dirinya hanya ditipu oleh pak Man. “Dia buru-buru pulang karena calon istrinya agak galak. Saya kenal mereka. Hehehe…”
“Oh, begitu. Hihihii… Saya ngerasa gak enak tadi. Saya juga salah lupa kasih invoice ke accounting,” sambung Olivia.
“Ya. Biasa kalau sibuk memang begitu,” sambung Jemmy. “Ini invoice barang-barang kitchen. Tadi saya sama Dino yang mintain tanda tangan ke chef Nomnom sebagai bukti penerimannya. Chef Nomnom belum sempat kesini. Dia tadi sibuk banget di kitchen. Kamu check aja barangnya, kata pak Man kalau ada yang rusak besok bisa dikembalikan. Begitu pesannya,” ucap Jemmy menyerahkan invoice- invoice itu.
“Oh, begitu ya? Ya sudahlah. Terimakasih ya kak Jemmy. Kak Dino makasih ya…! Terimakasih sudah dibantu!” ucap Olivia melambaikan tangannya ke Dino yang masih sibuk menaikan barang ke buggy.
Akhirnya Olivia segera mengemas bahan makanan yang bisa dijadikan satu wadah. Dino dan Jemmy sudah pergi dengan buggy masing-masing. Olivia terdiam memandangi sekelilingnya. Tidak ada seorang pun yang ada di supply jetty itu. Ponselnya sudah mati karena batereinya habis.
“Gimana aku bawa sayur, buah, daging sama ikan puluhan kilo ini ke kitchen? Huuffttt… Lapar…” Perut Olivia pun ikut bersuara.
Tiba-tiba saja ada buggy datang ke supply jetty saat Olivia duduk di samping sayuran.
“Chef Dante...?” Olivia mengucek matanya untuk memastikan penglihatannya itu benar atau salah.
To Be Continued...
Like, Comment, Masukan ke Favorite dan Vote nya ya kakak - kakak... Ini sangat membantu author. Terimakasih 😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments