Rasa kesal Olivia terhadap Dante yang bercampur dengan lelah, membuat Olivia terdiam saat Dante menghampiri dirinya.
“Masukan keranjang sayuran ke buggy. Yang berat-berat biar saya yang angkat,” ucap Dante dengan tatapan datarnya.
Masih sama aja sikapnya ke aku. Mungkin emang bener tadi pagi dia sok ramah ngasih tugas karna mau ngerjain aja. Hmm… Enak kali jadi bos. Bisa seenaknya dengan mudah dia nindas aku, anak magang! Gerutu Olivia dalam benaknya.
Selesai menaikan barang ke buggy. Olivia berdiri di tepi jetty. Olivia berpikir sebaiknya berjalan kaki saja. Mungkin saja Dante juga tidak mau duduk bersebelahan dengannya karena bagian belakang buggy sudah penuh terisi bahan makanan.
“Cepat naik,” ucap Dante menoleh ke arah Olivia.
“Saya jalan kaki saja, chef. Chef duluan aja,” balas Olivia masih berdiri di tempat yang sama.
“Siapa yang akan nurunin fruits and vegetables ke kitchen kalau bukan kamu?” ujar Dante membuat Olivia berpikir. Tidak mungkin kan Dante harus mengerjakan pekerjaan admin kitchen?
“Oh, Iya Chef. Permisi…” Olivia mulai duduk di samping Dante.
Cahaya matahari yang hampir terbenam menyengat di wajah dan tubuh Dante. Wajah laki-laki itu semakin berkharisma saja meski hanya dilihat dari samping. Sore ini Olivia sedikit bebas mencuri-curi kesempatan untuk memandang wajah Dante karena Dante tengah sibuk menyetir buggy dan menjawab panggilan dari ponsel.
“Si… Bene… Bene…” begitulah beberapa patah bahasa Italy yang Olivia dengar.
Andai saja tiap hari dia bisa bersikap baik seperti ini ke aku... gumam Olivia tersenyum kecil.
Tak lama kemudian, Dante dan Olivia sudah sampai di area parkiran buggy kitchen. Olivia pun segera turun dari buggy dan bergegas untuk menurunkan barang – barang dari buggy itu.
“Hi team! Can you please keep our food stocks in chiller?” pinta Dante kepada para karyawan kitchen yang kebetulan sedang berada di tempat itu. (Hi tim! Bisa tolong simpan stok makanan kita di lemari pendingin?)
“Yes Chef! Siap Chef!” seru para karyawan itu.
“Alright, thank you!” balas Dante mengacungkan jempolnya. Dante pun segera pergi meninggalkan tempat itu.
Padahal dia tahu kalau ini adalah tanggung jawabku. Tapi Dante nyuruh karyawan lain agar bantuin aku. Makasih Dante… batin Olivia sambil mengangkat plastik yang berisi buah. Meski badan terasa hancur-hancuran hari ini, Olivia cukup senang karena pada akhirnya Dante membantu kerjaannya.
Selesai mengurusi stok bahan makanan, Olivia kembali ke office untuk menyimpan lembaran-lembaran invoice di office. Rupanya Dante sudah tidak ada di office.
“Sudah jam 8 lebih. Mungkin Chef Dante pergi dinner. Aku juga lapar. Pergi ke kantin dulu ah. Semoga masih ada makanan jam segini,” ucap Olivia berlanjut mematikan laptopnya.
Saat melihat meja Dante sedikit berantakan, Olivia membiarkannya mengingat Dante tidak suka barang-barangnya dipegang olehnya.
Untung saja masih ada makanan di kantin meskipun kantin seharusnya sudah tutup di jam ini.
Tidak menyangka Olivia melihat Dante sudah masuk kamar saat ini. Padahal biasanya saat Olivia pulang jam 11 malam, dirinya juga melihat Dante.
“Kayanya ini waktu yang tepat buat ngembaliin uang itu. Mood dia sore ini ke aku cukup bagus. Hihihii… Gak pa pa deh gak jadi melempar uang itu ke mukanya. Lagian kan aku harus training beberapa bulan lagi disini. Gak mungkin kan aku cari perkara? Aku cuma gak mau dia nganggap aku perempuan murahan. Itu saja sudah cukup,” Olivia bermonolog dengan hati riang.
Ceklek… Olivia membuka pintu kamarnya. Ada sepatu laki-laki berukuran besar. Olivia pun teringat dengan sepatu Don saat dirinya meminta tanda tangan ke Dante. Suara-suara aneh pun terdengar dari kamar mandi.
“Ishh…! Orang gila!” umpat Olivia pelan.
Olivia pun segera mengambil uang yang disimpannya di koper. Suara-suara aneh yang tengah didengarnya tidak dipedulikannya.
“Ini kan kamar aku. Harusnya Nana info ke aku kalau lakiknya mau ke kamar. Bukan aku yang harus info ke dia kalau mau pulang ke kamar! Ngeselin deh! Nanti aku kasih tahu dia! Biar dia tahu juga kalau aku gak nyaman kalau kayak gini!” gerutu Olivia mengingat suara – suara aneh itu.
Untung saja area akomodasi karyawan saat ini tengah sepi di depan kamar Olivia dan Dante. Olivia pun bergegas menuju pintu kamar Dante dan mengetuknya.
Tok Tok Tok… Tok Tok Tok…
“Chef Dante, permisi… ini Oliv,” ucap Olivia.
Tok Tok Tok…
“Chef…”
Sudah beberapa kali Olivia mengetuk tapi belum dibuka.
“Apa jangan-jangan dia dah tidur? Tapi perasaan belum lama dari aku lihat dia masuk kamar tadi…”
Beberapa menit Olivia duduk di kursi yang ada di halaman depan kamarnya. Olivia berpikir mungkin saja Dante sedang mandi. Jadi Olivia berencana untuk mengetuk pintu kamar Dante lagi.
“Kemana dia? Apa dia pergi keluar saat aku ada di dalam kamar tadi?” Olivia terdiam memperhatikan pintu kamar Dante yang tertutup. Meskipun sudah diketuk lagi beberapa kali, pintu itu tidak kunjung dibuka. “Besok saja deh aku bawa ke office. Kalau di office kan kita pasti ketemu.”
Tak lama setelah itu, Don beranjak keluar dari kamar Olivia dan Nana untuk balik ke kamarnya. Hanya basa – basi yang diucapkan Don. Laki – laki itu nampak sungkan kepada Olivia saat sudah berada di luar kamar. Tapi beda halnya dengan Nana. Nana menunjukan sikap yang biasa saja seperti tidak terjadi apapun. Bisa dibilang sangat ceria.
“Kakak sejak kapan duduk di depan kamar? Hihihi…” tanya Nana saat dirinya dan Olivia sudah ada di dalam kamar.
Menjengkelkan. Begitulah yang dirasakan Olivia saat melihat sikap Nana.
“HYA! Kamu tahu ada berapa nyamuk yang sudah ngigit tangan ku?!” tanya Olivia membentak Nana dengan menunjukan tangannya.
“HYA! Mana ku tahu?! Kakak ini kenapa sih?!” tanya Nana balik ikut mengeraskan suaranya.
“HYA! Lain kali kamu info ke aku duluan kalau ngajak cowokmu kesini!” Bentak Olivia kembali karena merasa dirinya benar dan berhak atas kamarnya.
“HYA! Kan bisa kasih tahu aku pelan-pelan, ka-KAK!” Nana masih tidak terima dibentak oleh Olivia.
“HYA! Kan harusnya kamu sadar diri! A B C Z X V F K L X Z****” perdebatan semakin sengit antara Olivia dan Nana malam itu.
____________
Pagi pun tiba. Rupanya Olivia dan Nana memiliki jadwal yang sama masuk jam 8 pagi.
“Good morning, kak… Huaam…” sapa Nana sambil membuang selimutnya.
“Good morning…” balas Olivia mulai menurunkan kaki dari bednya.
“Kita akhiri masalah semalam. Sorry, ya. Aku pastikan kakak gak akan melihat Don kalau dia disini,” ucap Nana memamerkan senyuman bebeknya.
“Hmm… Iya. Huamm…!” balas Olivia yang berlanjut menguap.
“Bagusnya tuw kakak nyari cowok disini, deh. Biar happy kayak aku. Kalau pun udah punya cowok, mending selingkuh sama cowok di resort ini. Emang kakak gak bosan apa? Kerja-tidur-kerja-tidur. Boring tahu…” celetuk Nana asal.
“Mulai…. Mulali lagi deh… Masih pagi ni,” balas Olvia membuat Nana tersenyum lebar.
“Hihihiii… Iya enggak… Damai kita… Tapi aku mandi dulu ya? Ada tamu VIP aku. Diminta suruh ikut handle.” Nana bergegas menuju kamar mandi.
Olivia segera menuju ke office dengan membawa tas yang berisi uang 40juta. Olivia berniat mengakhiri segala persoalan yang pernah terjadi bersama Dante. Saat membuka pintu office, ternyata Dante sudah ada di dalam tengah mengetik sesuatu di laptop.
“Good morning,” sapa Olivia berlanjut menutup pintu office. Dia berjalan tenang dengan tas yang dari tadi dibawanya.
Melihat Olivia menghampiri meja kerjanya, Dante pun menghentikan jarinya saat mengetik.
“Chef Dante, ini uang yang sempat chef kasih ke saya waktu itu. Tolong diterima kembali,” ucap Olivia tersenyum tulus.
To Be Continued…
Like, Comment, Masukan ke Favorite dan Vote nya ya kakak - kakak... Ini sangat membantu author. Terimakasih 😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments