Sudah beberapa minggu Olivia mencoba melupakan ucapan Mei itu. Bukannya lupa, tapi semakin terpikirkan saja. Ini cukup mengganggu aktifitasnya, terutama saat jam training kerja. Jadi tidak fokus.
“Oliv!” sapa Mei dari lorong loker. Olivia yang tengah duduk di bangku menoleh ke sumber suara. Ada Mei yang berjalan menghampirinya. “Hwahh, akhir-akhir ini kita sibuk. Beda jadwal lagi. Kamu pulang, aku masih tidur dan bangun gantian kamu masih tidur,” ucap Mei duduk di samping Olivia.
“Kenapa nyariin aku? Aku baru mau balas whatsapp kamu,” tanya Olivia sambil memegang handphone.
“Aku mau pinjam tas buat pergi sama staff-staff sales marketing. Tas buat jalan gitu… soalnya punyaku ketinggalan waktu nengok saudaraku kemarin, jadi belom sempat ambil. Boleh ya?” pinta Mei memasang wajah memohon.
“Tas aku masih ada di koper. Belum aku buka setelah pulang dari Labuan Bajo. Jam berapa mau jalan sama orang sales marketing?” tanya Olivia balik.
“Owh, agak malem sih. Jam 7 atau jam 8 gitu,” jawab Mei.
“Owh, aku pulang nanti sore. 2 Jam lagi. Nanti biar aku siapin,” pikir Olivia menengok jam di handphone.
“Makasih ya…. Hehehe.”
“Ngomong-Ngomong untuk tempat training yang kedua, kamu udah daftar belom, Mei? Kan tinggal 2 bulan lagi. Pasti ada proses wawancara dan lain-lain. Kamu mau training kemana?” tanya Olivia penasaran. Dia sudah ingin sekali menyelesaikan kuliahnya.
“Ooohh, aku udah daftar 2 hari yang lalu. Aku mau ke Batam. Batam kan dekat tuh sama Singapore dan Malaysia. Aku mau jalan-jalan kesana kalau hari libur. Hihii… Ga pakai visa, pakai passport aja sesuka hati asal ada cuan. Kita kesana aja yuk! Pasti lebih seru.” Mei membujuk Olivia dengan sikap manjanya. “Jangan bilang kamu masih mau ke Labuan Bajo?” mengamati kedua mata Olivia agar bisa menebak keinginan Olivia. “Disana kan ada Dante si chef kurang aja itu. Enak aja dia ngatain kamu murahan. Meski cuma dengar ceritanya, aku kan ikut kesal.”
“Aku pun masih kesal! Enak aja dia ngatain aku gitu. Aku kan cuma ciuman gitu doang. Itu pun seingat ku cuma nempel aja. Enggak sampai pakai jurus menjulur lidah cobra. Itu pun dia duluan yang mulai. Dia yang murahan! You’re so cheap Dante. Chef gila!” Kesal Olivia kembali meluap membuat Mei menoleh area sekitar memastikan tidak ada yang mendengar pembicaraan itu.
“Tuw kan… makannya ke Batam aja sama aku. Ntar kalau ke Labuan Bajo ketemu lagi sama dia gimana?” tanya Mei ikut cemas. “Kita ke Batam aja ya… Terus kita pakai deh 40 juta itu buat dana darurat kalau mau liburan yang mendesak,” Mei membujuk Olivia dengan penuh semangat.
“Enggak! Sejak kapan liburan pakai dana darurat yang mendesak?” ucap Olivia tidak setuju. “Pokoknya aku akan tetap ngembaliin uang chef gila itu. Dia pikir siapa mau sok hebat? Aku akan tetap pilih Labuan Bajo jadi tempat training ku yang kedua! Aku mau buat perhitungan sama dia disana!” masih dengan pendirian yang sama, Olivia akan tetap berusaha menemui Dante.
“Okay Okay, ketemu sama dia boleh. Tapi jangan sampai kamu training di tempat yang sama dimana dia kerja. Okay?” pinta Mei memegang bahu Olivia.
“Iya… Aku akan pastikan siapa executive chef hotel itu, kalau namanya Dante… aku akan cari tempat lain,” ucap Olivia dengan senyum tipisnya. “Aku cuma mau melempar 40 juta itu ke mukanya. Biar gak seenaknya dia ngatain aku murahan.” Rencana balas dendamnya itu harus terlaksana, begitulah yang dipikiran Olivia.
_______________
Akhirnya hari menjelang petang. Mei yang memiliki acara bersama staff sales marketing hotel, segera kembali ke asrama untuk bersiap.
“Olivia….. aku pulang,” ucap Mei yang baru saja masuk ke kamar dan menutup pintu. Ada suara air dari kamar mandi.
“Oh? Aku pikir kamu balik jam 7. Ini masih 6,” celetuk Olivia yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk di kepala.
“Udah selesai mandi? Gantian ya, aku udah buru-buru nih,” balas Mei cepat – cepat melepas tas dan bajunya.
“Yah… Itu tas bisa kamu pakai. Baru sekali aku pakai,” ucap Olivia menujuk tas yang ada di bednya.
Mei yang lagi butuh tas itu pun menoleh. Ada yang janggal. Matanya terbelalak melihat tas itu?
“Oh?” Tidak mungkin… Ini kan tas yang aku lihat di meja samping bed perempuan itu saat video call sama chef Dante? Gila…… Apa jangan jangan perempuan yang ditidu ri itu… Olivia? Batin Mei tertegun melihat tas itu. Ekspresi Mei itu diperhatikan Olivia. Aneh—begitulah menurut Olivia.
“Kamu nih, lihat tas gitu aja sampai bengong. Bagus ya? Cute kan tas aku?” tanya Olivia tersenyum senang memandangi tas nya.
“Oliv—” Mei melangkah mendekati tas itu. Dia ingin memastikan tas itu karena sama persis dengan tas yang dia lihat.
Gak mungkin kan kalau cuma kebetulan? Tas putih dengan tali polkadot ini bener bener mirip sama punya cewek yang ditidu ri chef Dante. Batin Mei berfikir keras.
“Ini tas nya kamu dibeliin chef Dante ya waktu di Labuan Bajo?” tanya Mei. Kalimatnya lolos begitu saja tanpa berfikir.
“Enak aja?! Itu yang kasih kakak aku. Baru kupakai sekali waktu di Labuan Bajo,” jawab Olivia sedikit ketus. Tidak terima barang kesayangannya dikaitkan dengan Dante.
“Ah? Owh…. Hehehee…” Mei terkekeh sendiri. Sebaiknya aku tidak mengungkit ini, Bisa berantem lagi aku sama Olivia. Dia bilang kan waktu itu sempat minum sama Dante. Mungkin saja dia gak ingat sudah diapain aja sama Dante, gumam Mei dalam benaknya. Lagi pula dirinya sedang terburu buru karena ada acara. Mungkin lain kali saja membicarakan hal itu. Begitu pikirnya.
_______________
Saat ini Dante yang tengah bersantai bersama teman-temannya tengah menikmati hidangan daging dan seafood BBQ. Di tepi pantai, irama musik dan dikelilingi team kerjanya.
“Chef Dante, saya dengar Chef Dante mau pindah ya? Mau pindah kemana Chef? Balik ke Italy ya?” Tanya Jack salah satu koki teman kerja Dante.
“Bukan balik Italy. Bukan juga pindah. Saya diminta ke property baru yang lokasinya ada di utara Bajo. Masih satu property kita,” jawab Dante mulai menghisap rokoknya.
“Sama aja pindah hotel dong, Chef. Emang executive chef disana kemana?” tanya Jack ikut menyalakan rokoknya.
“Entah. Infonya kurang lebih 2 bulan lagi executive chef disana cabut. Jadi aku masih ada waktu untuk bersiap siap,” jawab Dante.
“Sister property yang ada di utara itu bukannya yang harus pakai speed boat ya, chef? Yang butuh 15 menit kalau mau ke pulau itu?”
“Yes. That’s the one,” jawab Dante.
“Wah… disini aja, saya terkadang masih merasa kurang nyari tempat untuk nongkrong, karena hampir semua tempat udah saya datangi. Gimana kalau model island life gitu? Kehidupan pulau? Are you sure will not get bored, chef?” tanya Jack.
Dante hanya menjawab dengan senyuman. Dirinya masih melanjutkan menghisap rokoknya.
“Mungkin gak akan bosan, chef kalau ada perempuan yang cocok sama chef di tempat itu. Biasanya gitu kalau teman teman saya cerita yang kerja di resort kepulauan,” ucap Jack membuat Dante kembali tersenyum mengelurkan asap dari mulutnya.
To Be Continued…
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments