Meski sudah makan coklat, perut Olivia masih merasa lapar. Daripada pergi ke kantin, Olivia memilih untuk membuat mie instant di kamar.
“Untung aja aku bawa bekal mie kuah! Hmm… Saat nya makan,” ucap Olivia meraih koper nya yang berisi mie instant.
Siang itu dirinya membuat mie instant dan memakannya dengan lahap. Kebetulan ada sosis yang dia bawa sehingga bisa ditambahkan.
Sluuuppp… Olivia menyeruput mie terakhirnya. Perutnya terasa baikan setelah makan.
“Akhirnya aku makan siang juga…” ucapnya mengingat nasihat kak Vivi. Bibirnya bisa tersenyum kembali setelah perut sudah diisi.
Drrttt… Drrttt… Rupanya ada pesan masuk dari bu Tyas untuk Olivia.
📲Olivia, tolong segera ke office saya. Tolong sekalian ambilkan amplop saya di tempat chef Dante. Saya sudah info ke chef Dante. Tq
“Mie instant ku rasanya lenyap seketika membaca pesan ini. Hwuahh......” ingin sekali mulut Olivia mengumpat meluapkan kekesalannya. Tapi bagaimana pun ini merupakan tugas pertamanya dari bu Tyas. Dirinya juga tidak bisa mengelak dari Dante.
Selesai mencuci piring dan perebus air, Olivia segera keluar dari kamar dan menuju ke kamar sebelah. Kamar diamana Dante berada.
Tok Tok Tok… mengetahui ada yang mengetuk pintu kamar, Dante berjalan untuk membukakan pintu.
“Pasti anak itu,” ucap Dante pelan.
Olivia yang tengah di depan kamar Dante, mendadak bingung harus bersikap bagaimana.
“Duh? Gimana nih? Harus kah aku berlagak sok gak kenal kayak dia…? Atau bersikap biasa aja? Gimana ya?” Gumam Olivia bertanya ke dirinya sendiri.
Ceklek…. Pintu mulai dibuka oleh Dante.
“Hi… Chef… Em… Aku--"
“Tolong berikan ke bu Tyas. Thanks,” ucap Dante menyodorkan amplop itu. Wajahnya datar tanpa ekspresi. Dante juga langsung menutup pintu kamarnya kembali begitu Olivia menerima amplop itu.
“Ya ampuuunn? Dingin kali sih jadi orang…? Ngeselin! Kamu pikir cuma kamu yang kesal dengan situasi kayak gini?! Aku juga! Dasar beruang kutub! Dingin amat jadi orang!” Olivia menggerutu sambil berjalan menjauhi kamar Dante. Tapi tangannya kembali mengepal menunjuk-nunjuk kamar Dante💪. Untung saja tidak ada yang melihat nya.
Setelah bertanya kepada beberapa karyawan yang dijumpai, akhirnya Olivia sampai di kantor bu Tyas. Amplop yang dibawanya pun diberikan ke bu Tyas.
“Jadi sudah jelaskan yang saya infokan? 3 bulan ke depan kamu akan training di Kitchen dan F&B Department. Setelah itu baru ke Room Division Department untuk 3 bulan terakhir,” ucap bu Tyas kepada Oliva di ruangannya.
“Ya, bu. Terimakasih.” Olivia mengangguk mengiyakan.
“Kebetulan hari ini chef Dante sibuk. Jadi tadi chef Dante berpesan kamu boleh istirahat dan besok mulai trainingnya jam 5 pagi. Begitu pesannya,” tambah bu Tyas membuat mata Olivia sedikit terbelalak menyadari jam kerjanya cukup awal. “Untuk seragam, kamu bisa ke laundry sekarang karena kemarin saya sudah info ke mereka.”
Setalah selesai dari kantor bu Tyas, Olivia mulai berjalan menyusuri lorong untuk pergi ke laundry mengambil seragamnya. Dia diberi seragam beserta safety shoes khusus untuk koki.
“Syukurlah dia sibuk hari ini. Jadi aku bisa rebahan sambil santai. Hmmm… rencana yang bagus,” gumam Olivia. Meski dirundu rasa kesal, akhirnya dia mendapat waktu untuk bersantai.
Beberapa saat disaat Olivia hampir sampai ke kamarnya, dia melihat Dante yang berjalan juga menuju kamar dari arah yang berlawanan.
“Itu kan Dante… Apa aku berikan uang itu sekarang ya? Rasanya gak nyaman dengan sikap dingin nya itu. Apalagi dia bos aku disini. Gak mungkin kan aku lempar uang ke muka dia…? Bisa kena warning ntar dari kampus. Siapa tahu habis aku kembaliin uangnya, dia gak dingin lagi ke aku,” gumam Olivia menatap Dante dari kejauhan.
Entah keberanian darimana, Olivia berjalan sedikit lebih cepat untuk menghampiri Dante. Wajahnya pun memancarkan aura yang ceria berharap masalahnya dengan Dante selesai dan bisa bekerja dengan tenang di resort itu.
“Chef…” sapa Olivia. Langkah Dante untuk seger masuk ke kamar menjadi terhenti. “Maaf, bisa bicara sebentar?” tanya Olivia bersikap baik. Padahal rencana sebelumnya ingin melempar uang itu ke muka Dante.
“Sorry. Saya sibuk,” jawab Dante segera melangkah masuk kamar dan menutup pintu.
“Beneran beruang kutub. Dingin banget. Aku kan cuma mau ngembaliin uang itu. Sombong amat sih sikapnya! Ish!” menggerutu mendelik ke arah kamar Dante.
Hari ini Olivia benar-benar menggunakan waktunya untuk beristirahat. Dia bahkan bisa tertidur pulas di siang hari. Tapi getaran ponsel membangunkannya.
“Huuuammm…” menguap sambil meraba meraih ponsel. Rupanya ada panggilan video call masuk dari Mei.
“Hai Oliv…… Taraaaaaa! Lagi ngapain kamu?” sapa Mei melambaikan tangannya ke kamera.
“Hai Mei. Kamu udah sampai?” tanya Olivia sambil menyandarkan bahunya di bantal yang ditempelkan di tembok.
“Udah dong…. Sini kulihatin kamar ku,” Mei beranjak dari bed menuju ke kamar mandi. “Ini ruang mandi disini. Lemari aku… TV… Sama ada sofa di dalam kamar. Sedikit lebih luas dibanding akomodasi di Bali,” Mei kembali duduk di bednya. “Kalau resort kamu disana gimana? Gimana kamar mu disana?” Memburu dengan pertanyaan.
“Mei… Hmmm… ada Dante disini.” Mata Mei terbelalak mendengar hal itu. “Dia executive chef yang baru disini. Keren kan aku satu resort sama dia? Dia bos aku disini. Gila kan?” Olivia memamerkan senyum getirnya.
“APah….? Dante…? Kok bisa?” Mei tidak cukup kaget mendengar hal itu.
“Ya begitulah,” jawab Olivia singkat.
“Terus dia gimana ke kamu? Ngomong apa aja dia?” Mei penasaran dengan kondisi Olivia.
“Aneh,” jawab Olivia singkat mengingat setiap ekspresi dan sikap Dante kepadanya. “Dia bersikap seolah gak kenal aku saat di depan orang lain. Terus bersikap dingin macam beruang kutub kalau cuma ada aku sama dia,” jelas Olivia membuat Mei ikut bingung.
“Aneh. Kok gitu?” tanya Mei lagi. “Terus 40 jutanya gimana? Udah dikembalikan?”
“Belum,” jawab Olivia singkat.
“Nah… mungkin karena itu, Oliv… Coba dikembalikan. Mungkin aja sikapnya akan berubah ke kamu. Jadi lebih baik,” Mei memberi saran.
“Maunya aku juga gitu. Tapi baru ku panggil buat diajak bicara aja dia udah sok sibuk. Hmmm… mungkin emang karakternya kayak gitu. Dingin,” jelas Olivia.
“Masih ada banyak waktu, Oliv… tenang aja. Eits… ada panggilan masuk dari manager baru ku. Aku tutup dulu ya. See you Oliv….!”
Karena sudah tidur siang yang panjang, Olivia bangun dari bednya untuk membuka koper. Sore itu dia menata barang-barangnya agar terlihat rapi. Seragam untuk besok pun dia gantung agar tidak kucal dan siap dipakai.
Kriiingggg! Pagi pun tiba. Pukul 4 pagi. Olivia bergegas beranjak dari bednya untuk segera bersiap.
“Astaga…? Alarm ku keras amat? Untung Nana gak bangun,” ucap Olivia meraih ponselnya untuk mematikan alarm.
To Be Continued
Like, Comment, Masukan ke Favorite dan Vote nya ya kakak - kakak... Ini sangat membantu author. Terimakasih 😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments
Audrey Chanel
kok kok olive lembek ya...sama tuh cowo
2024-07-04
0