Ganti Rugi

“Ops! Sorry, chef. Mungkin aja kalau chef Dante punya girlfriend, bisa tuh diajak ke resort itu. Kan level executive chef dikasih izin. Jadi bisa happy-happy sambil kerja.” Ucap Jack asal celetuk tanpa berpikir panjang dengan siapa dirinya lagi berbicara. Tapi tampaknya yang diajak bicara juga menanggapinya dengan ringan.

 

“Mungkin saja bukan happy-happy. Tapi bikin nambah masalah,” balas Dante menghela nafas mengingat dirinya memaki Mei di video call. “Itu yang cewek-cewek lagi ngapain? What are they doing?” tanya Dante menoleh ke arah kerumunan yang dipenuhi perempuan.

 

“Biasa, chef… lagi main kartu UNO… dua orang yang kalah harus ikut prepare untuk persiapan menu breakfast besok. Kan besok occupancy hotel masih tinggi, jadi butuh sukarelawan, gitu. Terus yang menang dapat uang…” jawab Jack biasa. Karena memang seperti itu aturan mainnya. Tapi bagi Dante, karena berhubung dia punya pengalaman jelek dijadikan bahan taruhan, dirinya tidak suka.

 

Olivia… wajah Olivia terlintas kembali di pikiran Dante.

___________

Setelah beberapa minggu berlalu, akhirnya Olivia tengah menunggu jam interview nya lewat Skype. Gugup… Tapi Olivia yakin dirinya bisa.

 

“Oh my gosh….. I’m nervous,” Olivia menarik nafas dalam-dalam sambil memperhatikan jam di laptopnya.

 

Tung… Tung… Tung… Tung… Tung… Tung… Suara panggilan Skype itu cukup mengagetkan Olivia.

 

“I can do it… I can do it…” gumam Olivia sebelum menerima panggilan itu.

 

Wawancara itu cukup lama. Bahkan sudah setengah jam lebih sesi tanya jawab dengan HR Manager. Mulai dari pertanyaan tentang keluarga, riwayat pendidikan, kegiatan sosial, organisasi yang diikuti, hobby, pengalaman training di tempat sebelumnya, dan…

 

“Do you have any questions?” Tanya bu Tyas, HR Manager itu. (Apa kamu punya pertanyaan?)

 

“Em… bu Tyas, I would like to know about kitchen department in Luxus Resort. May I know, who is executive chef there? Em… actually this question from my elder sister who’s working also in kitchen. As I mentioned before, she is working in Singapore. She wants to know who’s executive chef in Luxus Resort.” Ucap Olivia membuat bu Tyas sedikit heran.  (Em… bu Tyas, saya ingin tahu tentang bagian dapur di Luxus Resort.  Bolehkah saya tahu, siapa chef eksekutif di sana?  Em… sebenarnya pertanyaan ini dari kakak perempuanku yang juga bekerja di dapur.  Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, dia bekerja di Singapura.  Dia ingin tahu siapa koki eksekutif di Luxus Resort.)

 

“Why your sister wants to know our executive chef?” tanya bu Tyas balik ke Olivia. (Kenapa saudaramu ingin tahu koki eksekutif kami?)

 

“Em… actually my elder sister wants to looks opportunity in Indonesia. And she knows if I will have interview with Luxus Resort, which is as we know Luxus Resort is 5 stars Resort and very luxury, and she wants to know and wondering maybe any connection can help her,” jawab Olivia melantur panjang lebar. Padahal sebenarnya tidak ada sangkut pautnya dengan kakaknya. (Em… sebenarnya kakak perempuanku ingin melihat peluang di Indonesia.  Dan dia tahu jika saya akan melakukan wawancara dengan Luxus Resort, yang seperti kita tahu Luxus Resort adalah Resort bintang 5 dan sangat mewah, dan dia ingin tahu dan bertanya-tanya mungkin ada koneksi yang bisa membantu)

 

“Our executive chef from France. Other information about his detail we can’t give. If your sister wants to look our vacancy, she can check in our website or social media like LinkedIn,” jawab bu Tyas disambut senyuman lebar oleh Olivia. Dirinya sangat lega karena executive chef di resort itu bukan Dante si chef dari Italy, melainkan Perancis. (Koki eksekutif kami dari Perancis.  Informasi lain tentang detailnya tidak dapat kami berikan.  Jika saudara kamu ingin melihat lowongan kami, dia bisa mengecek di website kami atau media sosial seperti LinkedIn)

 

Maafin aku ya kak Vivi, harus membawa nama kakak untuk berbohong. Hihihii… Tapi akhirnya aku lega bukan si Dante executive chef disana. Huuuffttt… plong! Rasanya aku siap untuk next training di resort selanjutnya. The Luxury Luxus Resort & Spa Labuan Bajo! I’m ready to go there! (Aku siap untuk pergi kesana) Batin Olivia senang.

 

“Alright, mam,” ucap Olivia mengangguk angguk.

 

“Do you have any more questions?” Tanya bu Tyas lagi.

 

“Mam, Em… Am I qualified to be trainee in Luxus Resort?” Tanya Olivia membuat bu Tyas tertegun dan tersenyum tipis. (Bu, Em… apakah saya memenuhi syarat untuk menjadi trainee di Luxus Resort?)

 

“We have some candidates. We have to check first. But all of your performance and knowledge… You are good. Your English also good. That’s the  good point. We will let you know soon  after 2 or 3 days,” jawab bu Tyas membuat Olivia lega. Meski belum diterima seutuhnya, dia bisa mengetahui secara langsung kalau dirinya dinilai baik. Setidaknya Olivia bisa tidur nyenyak malam ini tanpa berpikir macam-macam. (Kami punya beberapa kandidat.  Kita harus memeriksanya terlebih dahulu.  Tapi semua kinerja dan pengetahuan mu… Kamu bagus.  Bahasa Inggrismu juga bagus.  Itulah poin bagusnya.  Kami akan segera memberi tahu mu setelah 2 atau 3 hari) “Terimakasih untuk interview hari ini, Olivia. See you soon ya (sampai jumpa secepatnya),” ucap bu Tyas menambah Olivia semakin senang.

 

“Thank you, bu Tyas. See you soon. Have a good day!” balas Olivia melambaikan tangan.

 

Akhirnya selang 2 hari kemudian Olivia menerima email dari kampus dan Luxus Resort kalau dirinya diterima training di Luxus Resort. Sangat senang.

 

“Kalau ntar kamu di Labuan Bajo, jangan lupa call aku ya, Oliv… Kita harus tetap keep contact,” ucap Mei saat ikut membaca pesan di email yang diterima Olivia.

 

“Eits… ga kebalik apa yang harus ngucap begituan? Ntar kalau udah sampai Batam, udah foya-foya sana-sini… jangan lupa call aku. Nomor aku ga akan ganti. Udah dari zaman putih abu abu, aku ga pernah ganti,” celetuk Olivia membuat Mei tersenyum membenarkan ucapan Olivia.

 

“Hehehee… Iya…” ucap Mei terkekeh.

 

Setalah beberapa minggu berlalu, akhirnya Olivia dan Mei mengemas barangnya setelah selesai training di Bali. Keduanya nampak sibuk mondar-mandir menata barang-barang ke koper masing-masing.

 

“Oliv… kamu gak ada mau berubah pikiran gitu buat makai uang pemberian Dante? 40 Juta hlo itu Oliv… gak sayang apa mau dikembalikan cuma-cuma?” tanya Mei menatap mata Olivia.

 

“Enggak! Kamu kan tahu salah satu rencana aku ke Labuan Bajo buat lempar 40 juta ke mukanya,” sambung Olivia membuat Mei menelan ludah.

 

“Aku minta kamu buat mempertimbangkan lagi, Oliv. Kamu jangan mikir kalau aku mau minta sebagian uang itu ya. Aku tuw mikir…” Mei mempersiapkan diri sebelum meluncurkan kata-kata lagi yang mungkin membuat Olivia kesal. “Kamu kan gak ingat kejadian apa yang terjadi anatara kamu sama Dante setelah minum wine di rooftop hotel. Kalau ternyata Dante ngapa-ngapain kamu gimana? Seenggaknya kan kamu bisa pakai duit itu. Anggap saja buat ganti rugi.”

 

“Ganti rugi apanya? Aku yakin aku gak ngapa-ngapain sama dia. Aku yakin dia ninggalin 40 juta itu karena kesal udah jadi bahan taruhan. Nominal uangnya kan sama dengan uang taruhan yang seharusnya dijanjikan,” balas Olivia dengan pendapatnya.

 

Meski sudah mendengar pendapat Olivia, Mei tetap berpendirian dengan pedapatnya. Apalagi tas putih bermotif polkadot itu sudah bisa jadi bukti kuat kalau perempuan yang tertidur di bed itu adalah Olivia, temannya.

 

To Be Continued…

Like, Comment, Masukan ke Favorite dan Vote nya ya kakak - kakak... Ini sangat membantu author. Terimakasih 😘

 

 

Terpopuler

Comments

Audrey Chanel

Audrey Chanel

aku suka ceritamu Thor semua bagus🥰

2024-07-04

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!