...PERHATIAN⚠️...
...Judul cerita yang awalnya "Bosku adalah Suamiku", telah berganti judul menjadi "The Perfect Marriage", karena perubahan alur cerita yang sungguh membuat tercengang. Semua isi cerita ini, hanya fiksi belaka. Jangan menyangkut-pautkan dengan kejadian di real life, walaupun memang ada....
...****************...
Pagi Hari ....
Hana menatap sinis kepada sang suami, pria yang sudah seharian bergelut dengan dirinya, seraya bermanja-manja sejak kemarin, sekarang bahkan sudah kembali seperti semula. Hana merasa cukup kesal, karena sejak kemarin, acara masak di dapurnya hancur karena ulah sang suami, salah satunya adalah kehangatan yang di maksud oleh Kevin.
"Sayang, bagaimana kalau kita pergi mencari angin siang hari?" tawar Kevin yang langsung mendapatkan lirikan dari Hana.
Wanita itu tengah sibuk di dapur dan merasa hanya ingin berada di apartemen saja akhir-akhir ini. "Kamu masih sakit! Jangan membual!"
Kevin langsung memasang wajah memelas kala mendengar jawaban Hana yang begitu sarkas. "Sayang, aku bosan! Aku ingin keluar mencari angin,"
Hana menghela napas dan melepas apron masaknya. "Tapi kamu masih sakit, Vin. Dokter meminta mu untuk tetap-"
"Jangan dengarkan dia, dengarkan saja suami mu ini!" sela Kevin dengan meletakkan wine miliknya. Hana cukup merasa kesal karena kebiasaan Kevin yang di luar nalar.
Kevin memeluk tubuh Hana yang mulai sibuk menyusun salat sayur yang biasa mereka makan di siang hari. "Aku ingin makan di luar," bujuk Kevin yang tidak mendapatkan respon dari sang istri.
"Kalau aku culik bagaimana?"
"Kenapa bisa membahas hal itu? Tidak ada yang bisa menyakiti istri ku," sahutnya dengan penuh bangga dan memperlihatkan otot lengannya yang begitu kekar.
"Makan salat mu dulu, aku akan siap-siap."
Kevin tersenyum senang dan mengecup leher jenjang sang istri. "Aku akan booking restoran untuk kita,"
Hana hanya tersenyum dan memilih untuk setuju, daripada harus beradu mulut dengan sang suami. Hana bergegas menuju kamar dan mengotak-atik isi lemari kamarnya. Terdapat dress putih yang sedikit terbuka di bagian pundak.
"Kevin tidak akan marah walaupun hanya sedikit, 'kan?" gumamnya. Hana bergegas berganti pakaian dan memoles wajahnya sedikit.
Setelah selesai, Hana turun dari kamar dengan menenteng high heels senada dengan dress siang harinya. "Sayang,"
Kevin yang masih menyantap salat sayurnya, di buat tertegun dengan penampilan Hana yang sungguh cantik, rambut ikal khas jepang itu benar-benar membuat mata Kevin sedap untuk terus memandangnya.
Hana memiringkan kepalanya. "Apakah penampilan ku-"
"Sangat cantik!" puji Kevin dengan cepat dan bergegas mendekati sang istri. Rasanya Kevin ingin mengurungkan niatnya untuk mengajak sang istri keluar, bukan tanpa alasan ingin mengurungkannya, karena Hana yang terlalu cantik membuat Kevin khawatir.
"Kita batalkan saja," kata Kevin yang membuat Hana mengerutkan keningnya.
"Tapi kenapa? Bukankah kamu sudah booking restoran untuk makan siang?"
Hana tak habis pikir dengan sikap Kevin. Bahkan baru saja Kevin merengek untuk keluar, setelah dirinya siap, dengan seenaknya membatalkan rencana tersebut.
"Mana mungkin aku membiarkan istri ku di lihat oleh pria bermata keranjang di luaran sana!" ketusnya dengan tatapan tidak rela. Hana terkejut kala Kevin mengangkat tubuhnya ke udara dan mendudukkannya di meja makan.
"Kita batalkan saja ya?"
...****************...
Hana tersenyum senang kala melihat sebuah restoran yang begitu sangat ia kunjungi sejak awal tiba di Cappadocia. Kevin dengan wajah datarnya, hanya melirik Hana yang begitu antusias melihat restoran yang telah mereka booking untuk makan siang.
"Kamu suka?" tanya Kevin yang mendapatkan respon hanya sebuah anggukan. "Pakai blazer,"
Hana menatap blazer hitam yang telah terselip di kedua baju jenjangnya. Hana tidak bertanya lebih jauh dan hanya menatap Kevin yang sudah berjalan keluar dan kini hendak membukakan pintu mobil sisi Hana.
"Silahkan, istri ku."
Hana terkekeh geli dan menerima uluran tangan sang suami dengan lembut. "Dengan senang hati, suami ku."
Kevin tersenyum dan mengapit lengan Hana dengan posesif dan berjalan masuk ke restoran yang telah mereka pesan. Beberapa pegawai restoran menyambut mereka dengan suka cita.
"Apakah ada perayaan?" tanya Hana bingung kala melihat restoran yang mereka pesan telah di hias sedemikian rupa.
"Mungkin saja," jawab Kevin.
Tak lama, datanglah seorang pria berpakaian rapi yang tidak lain adalah manajer dan di belakangnya diikuti dengan waiters laki-laki. "Selamat datang, Tuan Wirangga." sapa mereka berdua dengan penuh hormat.
Kevin hanya tersenyum dan berjabat tangan sebagai tanda hormat. "Senang bertemu dengan kalian kembali,"
Hana semakin di buat kebingungan dengan tingkah sang suami yang seakan-akan sudah akrab dengan pemilik serta pegawai di restoran tersebut. Kevin melirik Hana yang sudah menatapnya bingung.
"Perkenalkan, dia adalah istri saya." Kevin merangkul Hana dengan posesif, "kami datang kemari untuk berbulan madu."
Hana tersenyum canggung dan hanya membungkuk hormat sebagai tanda salam. "Saya Hanaruka, sedang bertemu dengan kalian." sapa Hana dengan seulas senyuman manis.
Manajer dan waiters tersebut membungkuk hormat. "Kami akan mengantar Tuan dan Nyonya menuju meja kalian,"
Hana dan Kevin mengikuti manajer dan Hana di buat terkejut dengan meja yang mereka pesan telah di hias demikian rupa. Hana tersenyum tipis dan merasa terharu dengan persiapan kecil yang telah mereka siapkan.
"Kamu yang menyiapkan ini, Kevin?" Kevin hanya tersenyum dan mendudukkan Hana di kursinya.
"Kamu senang?"
Hana mengangguk tanpa menutupi apapun. "Aku sangat senang dan ini ... terima kasih banyak, Sayang."
Tak lama, makan siang mereka pun datang. Hana benar-benar senang karena makanan yang datang, adalah makanan favoritnya. "Kamu yang memesannya?"
Kevin mengerutkan keningnya. "Aku bahkan belum memesan makanan,"
Senyuman di wajah Hana seketika runyam, Kevin dengan cepat menatap waiters wanita dengan tajam. "Maaf, mungkin Anda salah. Kami belum memesan menu apapun,"
Waiters tersebut sontak terkejut dan menatap kembali bill makanan. "Maaf, Tuan, bill pesanannya atas nama Anda."
Hana melirik Kevin yang juga ikut kebingungan. Wanita itu menghela napas panjang dan menaruh kembali peralatan makanannya, "Mungkin ada kesalahan. Tolong di cek kembali, Nona."
"Baik, Nyonya." Waiters wanita tersebut bergegas pergi untuk mengecek bill. Hana mengusap punggung tangan Kevin dan mengangguk.
"Jangan terlalu di pikirkan, mungkin hanya salah saja." kata Hana membuat Kevin menghela napas panjang.
"Sayang, aku bahkan belum memegang buku menu. Bagaimana bisa makanan datang," jawabnya seraya memijat keningnya yang berdenyut.
"Vin, mungkin saja ada yang memesan dan kebetulan nama kalian sama. Jangan terlalu di pikirkan, aku mohon." pinta Hana dengan wajah memelas. Kevin akhirnya mengangguk dan menggenggam tangan Hana dengan erat.
"Baik-"
PRANG ....
"Astaga!" pekik Hana saat sebuah jus tak sengaja tumpah dan mengenai pakaiannya. Kevin mengerang marah dan menatap waiters laki-laki di sana.
"Anda tidak melihat jalan?!" hardik Kevin yang langsung menarik perhatian para pengunjung restoran. Hana dengan gerakan cepat langsung meraih tissue dan membersihkan dress-nya yang terkena jus itu.
"Maaf, Tuan. Gelasnya tergelincir dari tangan saya," jawab waiters tersebut dengan tubuh bergetar. Kevin yang sudah merasakan amarah di puncak kepala, langsung di buat menoleh dengan panggilan Hana.
"Vin,"
Kevin sontak berjongkok dan menatap dress putih sang istri. "Kita pulang saja, aku akan membatalkan makan-"
"No!" tolak Hana dengan cepat. "Hanya tumpahan, tidak perlu sampai membatalkan makan siang," tambahnya yang mencoba meyakinkan Kevin.
"Sayang, tapi makan siang kita-"
"Sttt!" Hana menggeleng, "tidak ada kata batal. Aku akan pergi ke toilet untuk membersihkannya,"
"Aku antar,"
"Aku bisa sendiri. Tetap di sini,"
"Sayang, tapi-"
Kevin mengusap wajahnya dengan gusar dan melirik waiters laki-laki yang masih berdiri di tempatnya. "Karena Anda, makan siang ini ... sudahlah! Pergi sana!" usir Kevin dengan sarkas.
Waiters tersebut bergegas pergi dan Kevin menatap makan malam yang membuatnya bingung. "Tidak mungkin kalau dia salah membawa kan?" pikirnya dengan menatap makan masih yang tertinggal di mejanya.
Tak lama, manajer restoran pun datang dengan tergesa-gesa. Dari raut wajahnya, sudah terlihat cemas karena kesalahan salah satu anak buahnya. "Tuan, mohon maaf, anak buah saya-"
"Tidak perlu, aku membatalkan makan malam di sini, dan karena ulah anak buah mu, pakaian istriku-"
"KEVIN!"
DEG ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments