...PERHATIAN⚠️...
...Judul cerita yang awalnya "Bosku adalah Suamiku", telah berganti judul menjadi "The Perfect Marriage", karena perubahan alur cerita yang sungguh membuat tercengang. Semua isi cerita ini, hanya fiksi belaka. Jangan menyangkut-pautkan dengan kejadian di real life, walaupun memang ada....
...****************...
Kevin menatap cemas pada perempuan yang tengah menutup matanya itu. Hana terbaring dengan selang infus tertancap di punggung tangannya, jangan di tanyakan betapa khawatirnya seorang Kevin melihat perempuan yang akan Ia nikahi itu jatuh pingsan di pelukannya.
"Get up quickly, baby." bisik pria tersebut sejak tadi. Kevin cemas bila terjadi sesuatu hal yang tidak Ia ketahui, terlebih lagi bekas tamparan di pipi Hana, yang timbul ruam merah di sana.
"Tenang saja, dia baik-baik saja." celetuk Bryan menepuk pundak sang Kakak.
"Tapi aku tidak tenang! Dia belum terbangun, Bryan!" jawab Kevin dengan kesal. Bryan menghela napas panjang, dan ingin sekali memukul kepala pria di hadapannya.
"Dia tertidur karena efek obat yang aku berikan. Sebentar lagi dia akan bangun," jelas Bryan untuk sekian kalinya. Kevin menunduk dan mengeratkan genggaman tangannya, ada sebuah perasaan marah yang begitu besar dalam dirinya. Melihat Hana yang menangis di pelukannya, membuat hati seorang Kevin seperti tersayat.
"Mama dan Papa akan segera datang. Aku keluar dulu," Kevin mengangguk dan membiarkan Bryan untuk pergi. Kini di ruangan serba Putin dengan bau obat-obatan yang menyengat, Kevin menatap wajah Hana yang begitu damai tertidur.
"Aku tidak menyangka, ternyata aku mendapatkan mu dengan mudah, Hanaruka Blezynski." gumam pria itu dengan semburat senyuman tipis. Bayangkan bagaimana senangnya dirinya, mendapatkan produk Jepang dengan mudah dari jalur perjodohan. Kevin akan mendapatkan apa yang Ia inginkan, dan tidak akan membiarkan orang lain mengambil apapun yang telah Ia miliki, termasuk Hana.
"Apakah aku sudah jatuh cinta pandangan pertama dengan mu? Jantung ku berdetak kencang karena melihat mu, kau benar-benar membuat ku candu setiap saat." katanya kembali dengan mengelus pipi Hana dengan lembut.
Tatapan Kevin jatuh pada bibir ranum merah muda milik Hana. Bibir merah muda yang begitu menggoda iman seorang Kevin, "Kau begitu cantik, sangat cantik."
Kevin mendekati wajahnya, mencoba untuk mengendalikan perasaan khawatirnya. Tanpa mengalihkan tatapannya, Kevin mencium kening Hana dengan sangat lama dan terus menggenggam erat tangan Hana yang terasa dingin.
CEKLEK ....
Kevin terkejut dan sontak menjauhkan wajahnya dari Hana. "Oh my, membuat ku terkejut saja." gerutu pria itu dan menelan ludahnya saat menyadari siapa yang datang ke ruang rawat Hana.
"Kakak sedang apa?" pertanyaan polos itu keluar dari seorang bocah berusia 15 tahun. Darren memicingkan matanya curiga dan menatap Papa Diego dan Mama Naena yang tercengang dengan aksi Putra sulung mereka.
"Kakak kenapa cium-MPHHH!" Mama Naena sontak membekap mulut Gara yang membuatnya semakin terkejut. Darren memalingkan wajahnya dan meminta agar Gara di turunkan.
"Di sini ada Playground, kita ke sana aja yuk!" ajak Darren dengan melirik sinis ke arah Kevin yang menjadi kikuk sendiri. Dan bagusnya, Gara mengangguk tanpa banyak bicara. Papa Diego dan Mama Naena menghela napas panjang.
"Kamu mau ngapain?" tanya Mama Naena menggoda Putranya itu. Kevin menggaruk tengkuknya yang tak gatal dan tersenyum canggung.
"Ma, Pa, i ... ini bukan seperti yang ka ... kalian lihat!" Bantahnya membuat alis Papa Diego terangkan sebelah.
"Memangnya kami memikirkan apa? Kamu terlihat tidak sabar untuk mencium Hana ya?" tanya Papa Diego dengan menaikturunkan alisnya menggoda sang Putra yang tak terdiam kaku.
Mama Naena terkekeh geli dan mendekati Putranya. "Bersabar sebentar, setelah Hana sadar, kita akan membahas tentang tanggal pernikahan kalian."
...****************...
"Kamu baik-baik saja, Sayang?" tanya Mama Yura kepada sang Putri. Keluarga Wirangga dan keluarga Blezynski tengah berkumpul di kamar rawat Inap Hana.
"Aku baik-baik saja, Ma. Hanya saja ..." Hana memegangi kepalanya yang kembali berputar-putar, "sedikit pusing."
Papa Aiden menghela napas panjang dan memilih untuk keluar. Menyadari kepergian sang Papa, Hana mendadak menjadi murung, "Papa seperti kecewa dengan ku." kata Hana dengan menatap pintu kamar inapnya dengan sendu. Bagaimana reaksi sang Papa saat mendengar bahwa Hana masuk rumah sakit, cukup melukai Hana.
"Jangan berpikir seperti itu, Papa kamu hanya banyak pikiran!" bantah Mama Yura dengan Yoshi dan Miko mengangguk sebagai tanda setuju.
"Benar, lagipula sudah aku katakan kan, kalau Bara itu tidak cocok-"
"Tolong jangan menyebut nama pria itu lagi! Aku membencinya," kesal Hana dengan sorot tajam. Miko menutup mulutnya dan memilih untuk keluar daripada harus terkena omelan.
"Ayo, minum obat mu dulu,"
Hana hanya mengangguk menurut, Mama Yura menatap interaksi antar Hana dan Kevin yang jauh lebih baik dari pertama kali mereka bertemu. "Melihat respon mu kemarin, sepertinya kalian berdua sudah saling mengenal."
Hana menyenggol lengan Kevin agar berbicara. "Hana kemarin melamar pekerjaan di perusahaan aku, Ma. Jadi aku mengenalnya, mana mungkin aku tidak mengenali calon istri ku." jawabnya dengan melirik menggoda perempuan cantik tersebut.
Hana memutar matanya malas. "Aku ingin mengundurkan diri!"
Pendengaran Kevin mendadak menjadi tajam, "Apa?" beonya bingung. Hana menghela napas panjang dan melirik Mama Yura dan ternyata ada Mama Naena yang masih di dalam ruang inapnya.
"Aku ingin mengundurkan diri!" ungkap Hana kembali membuat Kevin langsung menggeleng sebagai jawaban.
"Aku menolak ajuan pengunduran diri mu!"
Hana terkejut. "Tapi-"
"Jangan berdebat!" tegur Mama Naena yang gemas dengan Kevin sekaligus kepada Hana. Kevin mendengus kesal dan melipat kedua tangannya dan duduk di sofa.
Tak lama, Papa Aiden dan Papa Diego kembali masuk dengan raut wajah yang cukup sedap di pandang. Hana hanya diam, saat Papa Aiden menatapnya dengan datar.
"Papa," panggil Hana dengan pelan. Berharap bahwa pria paruh baya itu tidak marah kepadanya. Tetapi pikirannya yang begitu menerawang jauh, ternyata pupus pada akhirnya kala Papa Aiden tersenyum tipis seraya mengusap kepalanya.
"Di bagian mana pria itu menyakiti mu, Nak?" tanya Papa Aiden yang terlihat begitu marah, karena Putri kesayangannya di sakiti oleh pria yang tidak memiliki hubungan apapun selain hubungan asmara.
Selama 24 tahun, Papa Aiden bahkan tidak pernah mengangkat tangannya untuk memukul Putrinya atau memukul kedua Putranya. Pria itu lebih suka menghukum daripada harus bermain tangan, yang bisa membuat siapapun kehilangan nyawanya.
Hana terdiam dan melirik Kevin yang menatapnya datar, "Apa yang ingin Papa lakukan kepada Bara?" tanyanya dengan pelan. Kevin mengerutkan keningnya mendengar ucapan calon istrinya, entah masih Hana khawatir bila Bara di sakiti atau ada maksud lain Hana bertanya seperti itu kepada Papa Aiden. Kevin memilih untuk tidak mengeluarkan suaranya dan terdiam.
"Tidak ada, Papa hanya ingin memberikan pelajaran sedikit kepada Pria tidak tahu diri ku. Dan, kenapa bisa Bara tinggal di apartemen mu huh?" tanya Papa Aiden lebih jauh. Hana menelan ludahnya sendiri kala mengingat apartemen yang di belikan oleh Papa Aiden sebagai ulang tahunnya yang menginjak usia 20 tahun itu, di tinggali oleh Bara atas permintaan Hana tetapi tentu saja Bara yang meminta hal itu.
"Nak, jawab saja pertanyaan Papa kamu." sahut Mama Yura yang juga ingin mendengar jawaban dari sang Putri. Hana meremas selimutnya dan menghembuskan napas panjang.
"Bara mengatakan bahwa dia tidak memiliki uang untuk mencari tempat tinggal, aku sebenarnya tidak ingin melakukan hal itu, tetapi dia memaksa. Bahkan sempat sandi apartemen ku di rubah dan peralihan nama apartemen dia lakukan tetapi di tolak, karena tidak ada persetujuan dan tanda tangan dari ku dan Papa." jelas Hana panjang lebar. Papa Aiden menghunuskan tatapannya yang begitu tajam dan mencoba untuk memendam emosinya yang bisa saja meledak, bila Mama Yura tidak mengelus lengannya.
"Hal ini yang ingin Papa katakan kepada kamu, Nak. Papa sudah lama mengikuti Bara dan Papa mengetahui semua apa yang dia lakukan, termasuk membawa wanita asing ke apartemen mu." kata Papa Aiden membuat Hana mulai tertunduk merasa bersalah. "Papa akan mengurus semuanya, dan sekarang kamu dan Kevin memutuskan, apakah kalian siap menikah dua minggu ke depan?"
DEG .....
"Dua Minggu?!" pekik Kevin dan Hana secara bersamaan. Kedua keluarga tersebut terkekeh geli melihat reaksi berlebihan anak-anak mereka.
"Ya, kalian bisa berpacaran dulu, setelah menikah kalian bisa melanjutkannya. Kata orang, cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu, bukankah begitu Kevin?" Papa Diageo melirik Kevin yang menelan ludahnya sendiri. Papa Diego secara terang-terangan menggoda dirinya, perihal tadi.
"Ta ... tapi," Hana menghela napas panjang, "Demi keluarga." cicitnya pelan. Kevin akhirnya bisa menyungging senyum tipis mendengar jawaban Hana yang begitu Ia inginkan.
Kamu menjadi milikku, tidak orang lain.
"Sebaiknya kita keluar, biarkan Kevin dan Hana memiliki ruang untuk berbicara." Kedua keluarga tersebut keluar dan tersisa kedua orang berlawanan jenis saling bertatapan.
Kevin mendekat dan mendudukkan dirinya kembali di kursi sebelah bangkar, "Kamu tidak ingin mengatakan sesuatu?"
"Maaf,"
Kevin terkekeh geli dan menggelengkan kepalanya, bukan itu jawaban yang Ia ingin dengar dari Hana, "Kenapa meminta maaf?"
"Karena kejadian tadi, lalu kejadian di perusahaan mu, aku bersikap tidak sopan karena merasa kesal." jujur Hana dengan polos, Kevin akhirnya mengangguk dan mengelus puncak kepala perempuan cantik itu.
"Don't bring it up again, okay?" Hana tersenyum dan mengangguk. Hana mengira berdekatan dengan Kevin adalah sebuah musibah baginya, tetapi tidak seburuk yang Ia bayangkan. Kevin memiliki sikap yang hangat dan penyayang bila Hana menyimpulkan hal itu seorang diri, bahwa perempuan cantik itu memejamkan matanya menikmati usapan Kevin di kepalanya.
"Hana, bisakah aku meminta satu permintaan kepada mu?" tanya Kevin, Hana melirik dan mengangguk sebagai jawabannya, "bisakah kita benar-benar serius dengan hubungan ini? Maksud ku, lupakan masa lalu mu untuk hubungan kita." tambah Kevin yang saat ini sudah mengelus punggung tangan Hana yang dingin.
"Melupakan masa lalu? Termasuk Bara?"
Kevin mengangguk membenarkan, "Iya. Hana, aku ingin hanya ada nama ku saja di hati mu, begitu juga aku. Bisakah kita melakukannya?"
"Tapi-"
"Aku ada untukmu."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments