...PERHATIAN⚠️...
...Judul cerita yang awalnya "Bosku adalah Suamiku", telah berganti judul menjadi "The Perfect Marriage", karena perubahan alur cerita yang sungguh membuat tercengang. Semua isi cerita ini, hanya fiksi belaka. Jangan menyangkut-pautkan dengan kejadian di real life, walaupun memang ada....
...****************...
"KAMU GILA, BARA?!" seru Hana dengan segala rasa marahnya.
Bara menepis tangan security lobby dengan kasar. "Aku gila karena kamu, Hana! Aku tidak terima kamu memutuskan hubungan dengan ku, hanya karena pria itu!
Hana mengepalkan kedua tangannya. "Seharusnya kamu berkaca! Kamu itu tidak lebih dari seorang pengkhianat!" balas Hana tak ingin kalah.
Kevin berdiri dari posisinya dan menarik Hana yang sedang melampiaskan kemarahannya. "Sayang, jangan!"
Hana menepis tangan Kevin. "Kamu menipu ku, kamu mengatakan tidak memiliki tempat tinggal, dan dengan baiknya aku membiarkan mu untuk tinggal di apartemen ku, tapi kamu malah mengkhianati ku, Bara!"
"Lalu apa bedanya dengan dirimu?"
Hana terdiam. Bara mendekati Hana, Kevin langsung memasang badan untuk sang istri. "Jangan macam-macam kepada istri ku, Bara!" peringat Kevin dengan tatapan tajam.
Bara tampak terkekeh geli dan menatap angkuh pria di hadapannya. "Kamu tidak bisa menghalangi mu untuk melakukan apa yang aku inginkan!"
SRAK ....
"BARA!"
Hana berusaha melepaskan cengkraman Bara dari lengannya. "LEPASKAN AKU, PRIA IDIOT!" pekik Hana seraya di akhiri ejekan di akhir kata.
Bara semakin di buat marah dengan ucapan Hana kepadanya. "Kamu harus-"
BRUK ....
Kevin mencengkram erat pakaian Bara dengan lebih emosi. "Jangan menyentuh istri ku, Tuan Bara!"
"Aku tidak memiliki urusan-"
BRUK ....
Hana terkejut dengan Kevin yang baru saja membanting tubuh Bara ke tanah. Bahkan Bara merintis kala merasakan remuk di bagian punggungnya.
"Hana hanyalah milikku, bukan milik mu lagi, Bara!" kata Kevin dengan menyeringai lebar.
"BRENGSEK! PRIA LEMAH SEPERTI MU HANYA BISA MENGANDALKAN KEKUATAN!" teriak Bara membuat suasana kembali memanas.
Hana dan Kevin terdiam di tempat, tidak ada yang berani melerai pertengkaran kedua pria yang merebutkan satu wanita yang sama. Kevin melonggarkan dasinya dengan gerakan kasar.
"Kevin," panggil Hana yang mulai cemas.
"Tetap di sini, aku akan mengurus pria tidak tahu diri ini." bisik Kevin yang memberikan Hana sebuah kecupan di bibir.
Para karyawan langsung berbisik-bisik dengan adegan kiss sang atasan dan sekretaris. Kevin melepaskan jasnya dan langsung melemparnya ke sembarangan arah.
Hana mengigit kukunya dengan cemas. Seharusnya Bara tidak pernah lagi muncul di hadapannya, tetapi pria itu terlalu nekat. Bahkan Hana mulai melihat kemampuan Kevin dalam segi beladiri, pria itu seakan-akan tidak pernah main-main dalam menumbangkan lawannya.
"Tolong pisahkan mereka!" hardik Hana kepada dua security yang berdiri menjadi penonton.
"Maaf, Nona. Tuan meminta kami untuk tetap berada di sini,"
Hana berharap-harap cemas dengan kedua pria yang mulai bergulat di sana. "Kevin!"
"Nona, sebaiknya Nona tetap di sini." larang dua security dengan menahan lengan Hana.
"Kalian ...," Hana menatap dua security di sana dengan kesal. "Suami ku sedang berseteru, dan kalian? Menyingkir!"
Setelah berhasil melepaskan diri dari dua security, Hana mendekati Kevin yang sudah melayangkan ribuan bogem mentah di wajah Bara. Bahkan pria yang telah berstatus sebagai mantan kekasihnya, tidak berdaya di bawah kendali mantan atasannya.
"Kevin! Hentikan!"
Hana melerai keduanya. Tetapi kekuatan Kevin seakan-akan sudah setara seperti pegulat ring tinju. "Vin, dia bisa mati!"
"Biarkan dia mati, Sayang!"
DEG ....
"Agar dia tidak lagi dan lagi menganggu pernikahan kita!" tambahnya dengan tatapan yang sudah gelap.
"Vin, kamu bisa terkena sanksi dan masuk ke jeruji besi!" kata Hana dengan panik. Hana menatap sekitarnya, tidak ada yang membantu membuat Hana benar-benar tak habis pikir.
"APA YANG KALIAN LIHAT, CEPAT PANGGILAN DAVKA!" bentak Hana di sela-sela kepanikan.
Ternyata, Davka telah tiba sebelum di panggil. Pria itu ikut panik ketika melihat Kevin yang kembali melayangkan bogem mentah kepada Bara.
"Tuan! Lepaskan pria ini, Tuan!"
"Kamu, jangan ikut campur!"
GLEK ....
Galak sekali tatapannya. Batin Davka yang mulai ragu untuk ikut melerai.
"Vin, kalau kamu tidak melepaskannya, aku akan marah kepadamu!"
...****************...
"BRENGSEK!"
PRANG ....
"Sayang, what happened?" tanya seorang wanita yang baru saja datang. Wanita tersebut menatap seisi rumah yang berantakan dengan barang pecah.
"Sayang, apa ini? Kenapa kamu memecah-"
"Diam!" sentak Bara dengan menatap wanita yang telah menjadi selingkuhannya itu. Wanita itu mengerutkan keningnya dan mendekati Bara yang tampak sedang marah.
"Kamu kenapa? Apakah ada masalah?" tanyanya dengan menatap Bara. "Hey, kenapa dengan wajah kamu?!"
Wanita itu menatap Bara yang sudah penuh luka dan plaster luka. Bara menepis tangan sang kekasih dan beralih menegak segelas air di sana.
"Semua ini karena Hana dan si brengsek Kevin itu!" kata Bara dengan berapi-api. Pria itu terlihat sangat dendam kepada pasangan pengantin baru itu, bahkan Hana tidak membelanya sedikitpun.
"Kamu menemui Hana? Tanpa sepengetahuan ku?!"
Wanita tersebut menatap Bara tak percaya. "Bara, sekarang aku adalah kekasih mu, bukan Hana lagi!"
"Tapi Hana yang mampu memberikan aku ini dan itu!" tampik Bara dengan cepat. Wanita itu terlihat bungkam dengan tangan mengepal.
"Kamu ingin kembali bersama Hana dan meninggalkan aku? Aku sudah memberikan mu semua yang kamu inginkan selama ini, Bara!" kata Wanita itu dengan tidak terima.
Bara melirik sang kekasih dengan tajam dan mendekatinya seraya menyeringai. "Apa yang kau berikan kepada ku? Tubuhmu? Kamu yang menawarkan tubuhmu kepada ku kan waktu itu?!" bantahnya dengan kesal.
"Itu karena aku mencintaimu! Aku mencintaimu sejak lama sebelum kamu mengenal wanita tidak tahu diri-"
"Akh!"
"Sebaiknya kau diam saja, El!" bisiknya dengan tatapan tajam. "Bila kamu berani menyentuh Hana, aku tidak akan melepaskan mu, Elsa!" imbuhnya dengan bengis.
Bara langsung mendorong tubuh Elsa hingga terhuyung. Wanita itu terdiam dengan tatapan tak percaya, Bara baru saja mengancam dirinya?
"Kamu masih berharap kembali dengan Hana yang sudah memiliki status baru?"
Bara menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya. "Apa maksud mu?"
"Kamu terlalu munafik, Bara." Elsa menatap angkuh sang kekasih, "jangan mengira aku akan terbuai dan merasa terancam karena mu."
Bara menatap Elsa dengan kebingungan yang melanda dirinya. Elsa mendekat dan mengeluarkan sesuatu, "Bagaimana kalau aku menyebarkan ini ke internet?"
DEG ....
"KAMU ... HAPUS SEKARANG JUGA!"
Elsa menjauhkan benda di tangannya dari jangkauan sang kekasih. "Kartu as mu ada di aku, bila kamu macam-macam, maka aku akan menyebarkan ini cepat atau lambat!" ancam Elsa dengan tangan yang mengelus rahang tegas Bara.
"Kamu mengancam ku? Kamu benar-benar wanita menjijikan!" hina Bara dengan menepis tangan Elsa.
"Pria munafik dan pantas saja Hana meninggalkan mu," Hana memutar tubuh Bara. "Karena kamu adalah pria yang tidak tahu terima kasih,"
"Jangan macam-macam dengan ku, Elsa! Bila kamu macam-macam, maka aku-"
"Kamu akan melakukan apa? Kamu ingin mengancam ku? Kamu bahkan tidak memiliki kekuasaan apapun untuk melawan ku!" sela Elsa dengan menyeringai sinis.
Elsa yang semulanya tersenyum, langsung memasang wajah datar dan sinis. "Ibu ku tidak akan tinggal diam, kalau kamu berani bermain di belakang ku!"
Elsa langsung pergi begitu saja, meninggal apartemen milik dirinya sendiri yang ia berikan kepada Bara. Pria itu menatap kepergian sang kekasih dengan urat leher yang terlihat jelas.
"Aku ingin menguasai wanita, tetapi malah wanita ini yang menguasai ku! Dasar bodoh!" hardiknya dengan kesal.
Bara terlalu naif selama ini, mengira Elsa adalah wanita biasa dan murah di pengaruhi, tetapi ternyata menjadi Boomerang untuk dirinya sendiri. "Sial, sial!"
BRAK ....
"Ternyata sifat mu tidak akan pernah hilang, Bara!"
Bara sontak menoleh saat mendengar suara yang begitu familiar. "Hana,"
Hana melipat kedua tangannya di depan dada. Menatap pria yang menjadi mantan kekasihnya itu dengan tajam. "Aku datang menemui mu untuk membuat perhitungan dengan pria bodoh seperti mu!"
Bara mengusap wajahnya yang penuh luka dan mendekati Hana. "Hana, aku di sakiti! Kevin yang lebih dulu,"
"Bersikap playing victim ternyata sudah menjadi bagian dari sifat mu," sahut seseorang yang bersandar santai di dekat pintu. Pria itu meletuskan permen karet dan membuangnya ke arah Bara.
"Setelah di kunyah, dan langsung di buang. Sangat mirip sekali dengan mu, Bara!" hina pria tersebut membuat Bara kembali naik pitam.
"Kamu! Dasar pria brengsek-"
"Eits!"
PLUK ....
Hening. Yoshi melirik ke samping, di mana Miko tertawa lepas karena ulah dirinya sendiri.
"Maaf, benda itu meleset," ujarnya dengan gelak tawa. Hana hanya menatap datar Bara yang masih mematung di hadapannya dengan sesuatu yang sudah berada di tangannya.
"Dasar bocah! Jaga sikap mu kepada yang lebih tua!"
Miko melipat kedua tangannya. "Kamu yang bocah! Kasihan pacar kamu mencari kondom nanti! Simpan yang bener! Berceceran," ketusnya dengan sarkas.
Miko yang keluar dan menyandarkan tubuhnya di dekat pintu. Yoshi melipat lengan kemejanya hingga sebatas siku. "Aku bisa saja menyuntik mati dirimu saat ini, tapi aku terlalu baik kepada pria yang bahkan tidak memiliki keluarga."
"DIAM! KALIAN SEMUA HANYA MEMPERALAT KU SAJA SELAMA INI!"
PLAK ....
PLAK ....
"Dua tamparan untuk suami ku,"
BUGH ....
"Satu bogem mentah untuk Adikku!"
Hana hanya menatap Bara yang tampak meringis kesakitan karena tamparan sekaligus bogem mentah di rahang tegasnya. "Aku harap, ini adalah pertemuan terakhir kita, kita sudah memutuskan hubungan ini, Bara. Aku sudah menikah dan aku mulai mencintai Kevin, kamu sudah bahagia dengan Elsa."
Hana menghela napas panjang dan memberikan sebuah cek kepada Bara. "Beli lah rumah yang layak,"
Miko dan Yoshi terkejut dengan penuturan sang Adik. "Hana! Kamu masih-"
"Jangan menemui ku atau mengganggu keluarga ku lagi, bila kamu melakukan itu, maka saksikan kemarahan ku kepada mu."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments