Permintaan Nenek Yuri (13)

...PERHATIAN⚠️...

...Judul cerita yang awalnya "Bosku adalah Suamiku", telah berganti judul menjadi "The Perfect Marriage", karena perubahan alur cerita yang sungguh membuat tercengang. Semua isi cerita ini, hanya fiksi belaka. Jangan menyangkut-pautkan dengan kejadian di real life, walaupun memang ada....

...****************...

Karena padatnya aktivitas di kantor sekaligus merasa lelah, membuat Hana secara tidak sadar tertidur di dalam mobil saat perjalanan pulang. Kevin hanya diam dan melirik Hana yang masih memegang iPad kerjanya.

"Tuan, sepertinya Nyonya kelelahan." kata sang supir membuat Kevin mengangguk. Pria itu sudah mengetahui bahwa sang istri tertidur dengan sesekali mengerutkan keningnya.

"Benar, karena padatnya aktivitas, saya dan istri saya melupakan tentang cuti kami." sahut Kevin yang mulai mengambil iPad tersebut dari pangkuan sang istri, dan membenarkan rambut Hana.

"Kalau Tuan dan Nyonya besar mengetahui hal ini, pasti beliau akan murka, Tuan."

Kevin terdiam sejenak. Tidak ada yang mengetahui bahwa dirinya dan Hana mengambil pekerjaan di saat cuti pernikahan mereka. Kevin juga menyayangkan hal tersebut, terlebih lagi memikirkan keinginan dari sang Nenek yang sudah lanjut usia untuk menimbang cicit nya.

"Antar kami ke mansion utama saja, Pak."

Pak supir tersebut hanya mengangguk dan tak mengatakan apapun lagi. Kevin mengantongi ponselnya dan melepaskan jas kerjanya, "Wajah mu terlihat sangat kelelahan." gumam Kevin setelah berhasil merubah posisi tidur Hana.

Hana menggeliat dan tak sadar pula memeluk Kevin dengan nyaman, pria itu terkejut dan hanya tersenyum kecil. "Sangat menggemaskan,"

Hari sudah larut, hal tersebut membuat Kevin memilih untuk di antar jemput oleh supir, terlebih lagi Hana melarangnya untuk menyetir di malam hari. Satu Minggu berada di ikatan pernikahan, satu Minggu pula hubungan keduanya mulai berangsur tidak monoton lagi.

Kevin menikmati setiap hari dan detik karena Hana. Bahkan pria yang sangat jarang pergi ke supermarket pun, rela keluar kandang demi istrinya. Mungkin Kevin bagaikan api dan Hana bagikan air sebagai penjinak dari api. Dan Kevin sangat beruntung mendapatkan Hana sebagai istrinya.

"Bara terlalu bodoh karena membuang berlian hanya untuk biji cabai, dan aku berhasil mendapatkan berlian itu dengan mudah." Kevin memeluk Hana dengan sangat posesif, seakan-akan tidak membiarkan perempuan itu untuk pergi kemanapun.

Tak lama, mobil tersebut tiba di sebuah mansion yang sungguh megah dan besar, banyak bodyguard berseragam yang menyambut kedatangan mobil tersebut. Kevin melirik ke arah Hana yang masih setia memejamkan matanya, tanpa ragu, Kevin mengangkat tubuh Hana keluar dari mobil dan tak menghiraukan bungkuk hormat dari para bodyguard.

"Tolong siapkan kamar tidur untuk ku dan istri ku," tutur Kevin kepada para pelayan di sana. Para pelayan bergegas melaksanakan perintah dari Kevin.

"Kevin, kamu pulang, Nak?"

Langkah kaki Kevin berhenti tepat di depan ruang tamu yang luas, ada beberapa anggota keluarga Wirangga yang berkumpul dan menatap Kevin tak percaya. Kevin tersenyum dan mendekati keluarganya.

"Selamat malam, Papa." sapa Kevin dengan wajah datar dan melirik kembali ke arah Hana yang mulai terganggu.

"Nak, sebaiknya kau bawa Hana ke kamar ya. Sepertinya istrimu kelelahan," sahut Mama Naena yang menatap Hana penuh kasih. Kevin menyunggingkan senyum dan mengangguk.

Menaiki anak tangga menuju kamarnya, setelah tiba di kamar yang bernuansa laki-laki, Kevin menidurkan tubuh Hana secara perlahan di ranjang empuk di sana. Pria mengusap kepala sang istri dan berkata, "Aku mencintai mu, Hanaruka Blezynski."

...****************...

Di sebuah kamar tidur, terlihat seorang wanita paruh baya yang tengah terduduk di kursi roda, menatap lurus ke depan. Wanita yang tak lagi muda itu seperti sedang menunggu seseorang untuk datang ke kamarnya.

Tok ... tok ....

Pintu terketuk dan terbuka setelah itu, wanita berambut putih sepenuhnya itu tersenyum tipis saat melihat di pantulan kaca balkon di kamarnya. "Kevin,"

Kevin tersenyum hangat dan bergegas mendekati sang Nenek, "Nenek, apa kabar?" tanya Kevin dengan mengusap tangan berkeriput itu dengan lembut.

"Nenek mu ini masih sehat untuk melihat cicit nya, Kevin. Di mana istri mu?"

Kevin tersenyum kikuk mendengar jawaban dari sang Nenek, "Hana tertidur saat di perjalanan, dia kelelahan, Nek." Jawab Kevin pelan. Mana mungkin Kevin mengatakan bahwa Hana tertidur karena kelelahan bekerja, bisa-bisa dirinya terkena pukulan tongkat milik sang Nenek.

"Cucu ku, usia Nenek sudah sangat tua, apakah kamu tidak ingin-"

"Nek, aku sedang memikirkan cara untuk mengatakannya kepada Hana." sela Kevin membuat alis wanita itu terangkat bingung.

"Tinggal katakan saja, kalau kalian harus honeymoon untuk memiliki keturunan,"

Kevin mengusap wajahnya, Nenek Yeri begitu keras kepala, lebih keras kepala dari Papa Diego. "Nek, aku dan Hana berkenalan kurang dari satu bulan, terlebih lagi Hana ... Hana sedang mengalami trauma," jelas Kevin yang mulai pusing dengan pembahasan malam hari ini. Niat hatinya adalah ingin mengobrol ringan-ringan, tetapi tidak sesuai ekspektasi.

"Nenek tahu itu, Kevin. Tapi, apakah kamu tidak memikirkan Nenek yang mulai, uhuk ... uhuk ...."

Kevin panik saat sang Nenek terbatuk-batuk dan bergegas memberikan segelas air, "Nek, minumlah."

Bukannya mengambil gelas air tersebut, Nenek Yeri terlihat merajuk dengan mengelus dadanya untuk meredam rasa sakit. Kevin menghela napas panjang, "Nek."

"Permintaan Nenek hanya satu sekarang, Nenek menginginkan seorang cicit dan Nenek tidak akan meminta apapun lagi, Kevin." ungkap Nenek Yeri dengan sendu, keinginan terbesarnya adalah mendapatkan cicit sebelum hari kematiannya tiba.

"Nenek,"

"Tidak apa-apa kalau kamu tidak ingin mewujudkan keinginan Nenek, biarkan Nenek tiada saja."

DEG ....

Jantung kevin rasanya ingin berhenti untuk berdetak karena ucapan sang Nenek Yeri. Bahkan wanita paruh baya tersebut menepis tangan Kevin dan menatap sendu ke depan, seperti enggan menatap cucunya. Kevin menatap tangannya sendiri dengan sendu dan menghela napas.

"Nenek istirahat lah, aku akan kembali ke kamar." Kevin hanya tersenyum tipis dan mengusap pundak sang Nenek dan langsung keluar dengan langkah lebar.

Tanpa mereka sadari, Hana tak sengaja menguping pembicaraan antara Nenek dan cucu itu. Perasaan bersalah mulai menguar di hatinya sekarang, apakah dirinya egois karena tidak memberikan Kevin haknya sebagai seorang suami?

"Sayang?"

Duk ....

"Akh," Hana meringis kala tak sengaja menabrak ujung meja kayu di hadapannya. Kevin yang panik, bergegas mendekati sang istri yang tampak kesakitan.

"Di bagian mana yang sakit? Kenapa kamu di luar kamar?" tanya Kevin dengan mata penuh selidik. Rasa sakit di pinggangnya seketika hilang, dan berganti menjadi wajah penuh rasa bersalah.

"Aku terbangun, Vin." jawab Hana dengan memainkan kancing kemeja sang suami. Kevin terkekeh dan mencolek hidung mancung sang perempuan.

"Ayo ke kamar, hari sudah larut. Aku akan melihat luka kamu setelah ini," katanya dengan penuh perhatian. Hana hanya diam, kala Kevin menariknya dengan begitu lembut, seperti dirinya barang yang mudah pecah.

Hana menatap punggung kekar Kevin yang tampak begitu berwibawa. Hana baru mengetahui, darimana sisi hangat seorang Kevin datang sekarang, pria berwajah tegas, tubuh kekar dan berotot, berwibawa dan juga tampan itu juga memiliki luka tersendiri.

"Kevin," panggil Hana yang tak langsung membuat Kevin menoleh, hanya sebuah sahutan deham saja.

"Jangan memikirkan aku, tapi ayo pikirkan lagi permintaan Nenek." ujarnya dengan pelan. Kevin menghentikan langkahnya dan sontak menoleh ke arah Hana yang tampak menunduk.

"Han, tapi kamu ...."

"Aku sudah mengatakannya, masa lalu ku tetap masa lalu ku, berbeda di masa depan, Vin. Bila takdir ku bersama mu, aku siap melakukan tugasku sebagai seorang istri dan memberikan keturunan untuk ikatan pernikahan ini," terang Hana dengan penuh keyakinan. Semua hal tersebut telah Ia pikirkan secara matang, lagipula sekarang statusnya sudah berbeda di mata orang-orang dan negara, Hana adalah istri sah dari Kevin, dan Kevin adalah suami sah dari Hana.

Kevin yang mendengar tutur kata dari sang istri, merasa bahagia. Setidaknya rasa sedihnya mulai terbayar dengan tingkah sang istri yang tengah merayunya. Kevin menarik tubuh Hana ke pelukannya, "Aku hanya tidak ingin memulainya karena terpaksa."

Hana menghela napas dan membalas pelukan Kevin, "Biasanya para laki-laki akan semangat bila di ajak bercinta. Tapi kamu berbeda,"

Kevin tak kuasa menahan senyumannya, sungguh menggelitik isi perutnya. "Bukannya aku tidak ingin, Sayang." tampik Kevin, "Aku ingin memulainya ...."

"Ya sudah, biar aku cari suami baru saja."

DEG ....

Hana mendorong tubuh Kevin dengan kesal, dan bergegas menuju kamar. Kevin melotot tajam dan bergegas menyusul sang istri, "Hana!"

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!