Sekretaris Idaman (7)

...PERHATIAN⚠️...

...Judul cerita yang awalnya "Bosku adalah Suamiku", telah berganti judul menjadi "The Perfect Marriage", karena perubahan alur cerita yang sungguh membuat tercengang. Semua isi cerita ini, hanya fiksi belaka. Jangan menyangkut-pautkan dengan kejadian di real life, walaupun memang ada....

...****************...

Setelah pulih, Hana memilih untuk mengurungkan niatnya untuk mengundurkan diri dari perusahaan milik Kevin. Perempuan itu menghela napas dan menatap banyak notifikasi yang terpajang di layar ponselnya, bukan dari Kevin melainkan dari asisten pria yang akan menjadi suaminya itu.

"Ternyata pria ini jauh lebih cerewet dari Kevin," gerutunya dengan meraih tas selempang. Perempuan cantik itu memakai rok span sedikit di atas lutut dan juga blazer cream yang begitu kontras dengan kulit putihnya.

Setelah selesai, Hana keluar dan terkejut saat melihat adanya Kevin yang sudah ada di depan pintu kamarnya, "Kamu sedang apa di depan kamar ku?" tanyanya dengan curiga.

Kevin tak menghiraukan dan menatap penampilan Hana yang berbeda, rambut yang diikat dan pakaian yang begitu menyejukkan matanya. "Cantik."

"Kamu mengatakan apa?"

Kevin langsung merubah raut wajahnya menjadi datar dan menggeleng, "Ayo, aku datang untuk menjemput calon istri ku ini!" Kevin meraih tangan Hana dan mengajaknya turun ke bawah. Hana hanya diam dan menatap punggung Kevin yang sedikit berbeda dari biasanya.

"Kamu memangkas rambut?" tanyanya membuat Kevin menyungging senyum.

"Sedikit, apakah terlihat aneh?" tanyanya dengan serius. Hana hanya diam memperhatikan bentuk rambut Kevin yang semula sedikit gondrong kini sudah tertata rapi, dengan gaya rambut taper fade, di kedua sisinya yang di rapih dan terlihat cukup tampan.

"Iya, sedikit tampan." puji Hana dengan malu-malu. Kevin semakin mengembangkan sebuah senyuman yang begitu senang karena mendapatkan pujian dari calon istrinya.

"Sebenarnya aku memiliki niat untuk memangkas habis rambut ku," Hana menoleh terkejut. "Tapi tidak jadi, nanti aku bisa jadi Yoshi." tambahnya dengan tawa kecil.

Ya, Yoshi baru saja di hukum oleh Papa Aiden karena memecahkan gucci mahal milik Mama Yura. Entah mendapatkan ide dari mana, pria yang memiliki bisnis sukses itu, bermain bola di dalam rumah kemarin dan tak sengaja mengenai gucci mahal sang istri. Alhasil Papa Aiden langsung memangkas habis rambut pria itu dengan alat cukur.

Setelah tiba di lantai bawah, mereka berdua di sambut senyuman oleh keluarga Blezynski, "Wah, ada Kak Kevin!"

Kevin hanya tersenyum tipis dan menatap Hana yang juga menatapnya, "Kenapa?" tanyanya bingung.

"Ayo, kita sarapan dulu." ajak Papa Aiden membuat Hana mengangguk dan menarik pelan Kevin untuk ikut bergabung. Kevin hanya menurut dan mendudukkan dirinya di sebelah Yoshi yang tampak masam wajahnya.

"Kamu kenapa?" tanya Kevin kepada Yoshi. Pria berkepala plontos itu mendengus pertanyaan sang teman. Ya, Kevin dan Yoshi sudah berteman sejak di bangku Sekolah Menengah Atas, jadi mereka sudah akrab.

"Tidak ada!" ketusnya membuat Kevin tertawa pelan. Pria itu mengusap-usap kepala plontos Yoshi dengan berniat menggoda, "jauhkan tangan mu!"

"Baiklah,"

Hana mengerutkan keningnya melihat Kevin dan Yoshi yang begitu akrab, "Kalian sepertinya begitu akrab." celetuknya, Mama Yura yang baru saja bergabung dari arah dapur tersenyum.

"Mereka sudah berteman dari bangku Sekolah Menengah Atas, Sayang."

Uhuk ....

Miko terkejut mendengar fakta tersebut, "Benarkah?!"

"Sudah-sudah, ayo kita sarapan terlebih dahulu." tegur Papa Aiden. Mereka semua diam, dan menikmati sarapan yang ada, diam-diam Hana melirik Kevin yang tampak serius membuat sudut bibirnya terangkat.

Lumayan, batinnya.

Drttt ....

Kevin mengerutkan keningnya dan mengeluarkan ponselnya, yang ternyata telepon dari Davka. "Maaf, aku harus mengangkat telepon dari asisten ku," ucapnya tak enak hati. Pria itu bergegas mengangkat panggilan telepon dari sang asisten.

"Halo, ada apa?" tanya Kevin to the poin.

"Di mana kamu? Kamu tidak ingat, hari ini ada meeting, dan kolega sudah datang!" kata Davka mencoba untuk menahan rasa kesalnya. Kevin mengangkat jam tangannya dan menghela napas.

"Ini masih pagi, bukankah perjanjiannya pukul satu siang?"

"Mereka mendadak memajukan pukul meeting nya, aku sudah menelpon bahkan mengirim pesan-"

"Aku akan datang!" sela Kevin yang langsung mematikan sambungan teleponnya.

"Ada apa?" tanya Hana membuat Kevin terkejut akan kedatangan perempuan itu secara tiba-tiba. Kevin menghela napas panjang.

"Kolega sudah datang, jam meeting tiba-tiba di majukan." ucap Kevin dengan pelan, bagaimanapun mereka sedang sarapan pagi dan Kevin tidak ingin menganggu hal tersebut. Hana membulatkan matanya terkejut.

"Really? Sebaiknya ayo kita-"

"Tapi kamu sedang sarapan, Sayang."

BLUSH ....

...****************...

"Baik, terima kasih atas kerjasamanya Tuan Wirangga dan Tuan Davka." Para pria paruh baya hingga pria yang cukup muda mulai berjabat dengan Kevin dan Davka secara bergantian. Hana hanya menghela napas lega, karena dirinya hampir saja melakukan kesalahan.

"Terima kasih, Nona."

Hana tersentak kala seorang pria muda menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan, "Terima kasih kembali telah bekerjasama dengan perusahaan kami, Tuan." balas Hana dengan serangkaian senyuman. Kevin mendengus kala melihat tatapan pria yang menjadi koleganya itu kepada Hana.

"Ekhem, mungkin di lain waktu kita bisa bekerjasama dengan perusahaan Anda, Tuan William," Kevin melepaskan jabat tangan antar Hana dan pria muda tersebut dan tersenyum masam, "Bukankah begitu Sayang?"

Hana menoleh terkejut, "I ... iya." jawabnya terbata-bata. Sudah cukup tadi pagi, Kevin memanggilnya dengan sebutan yang sama, dan sekarang kembali memanggilnya dengan sebutan yang sama.

"Anda sudah menikah?" tanya pria paruh baya dengan menatap Hana dan Kevin secara bertahap. Davka bahkan membulatkan matanya dengan tak menyangka.

"Akan menikah, dan sekretaris saya ini adalah calon istri saya, Hanaruka Blezynski." ungkap Kevin dengan merangkul mesra perempuan di sebelahnya yang masih tercengang. Pria muda di sana langsung bungkam dan merapihkan jasnya.

"Baiklah, Tuan. Kami pamit untuk undur diri dan kami menunggu undangan dari Anda,"

Kevin mengangguk dan mengantarkan para kolega nya keluar dari ruang meeting. Hana menghela napas panjang dan melirik Kevin yang kembali dengan wajah masamnya, "Tidak sopan." cibirnya membuat Kevin segara menoleh.

"Apa?"

"Kamu tidak sopan dengan menepis tangan pria tadi, padahal dia hanya ingin berkenalan formal," ketusnya dengan melipat tangannya di depan dada. Davka menatap kedua orang berlawanan jenis itu dengan bingung.

"Kalian berdua benar-benar akan menikah? Kapan? Kenapa aku tidak tahu?" tanya Davka. Sebenarnya masih banyak pertanyaan yang ada di dalam dirinya, bahkan yang lebih di buat terkejut, Hana datang bersama satu mobil dengan Kevin. Bayangkan bagaimana reaksi para karyawan yang melihat kedatangan mereka berdua.

"Nanti saja aku beritahu," Kevin menarik lengan Hana untuk menuju ke ruangannya, "minta OB untuk membuatkan aku kopi." tambahnya dengan nada memerintah. Hana mengangguk dan hanya mengikuti langkah kaki Kevin.

Setibanya di ruang kerja pribadi Kevin yang benar-benar tertutup, tidak ada CCTV sedikitpun di bagian sudut ruangan, hanya ada ada beberapa patung, lukisan, dan rak buku sebagai hiasan dalam ruangan. Ini kedua kalinya, Hana masuk ke dalam ruang kerja Kevin yang sungguh luas dan mewah, tanpa sadar Hana memejamkan matanya menghirup aroma khas maskulin.

"Duduk,"

Hana tersentak dan mendudukkan dirinya di sofa, Kevin pun mendudukkan dirinya juga tepat di sebelah perempuan itu, "Tangan mu."

"Tangan ku? Untuk apa?" tanya Hana dengan alis terangkat tinggi-tinggi. Kevin tersenyum dan mengeluarkan sebuah kotak merah berisi cincin.

"Aku selama ini sangat kaku kepada wanita, tapi baru kali ini aku bersikap seperti ini kepada seorang wanita, dan itu kepada mu." Hana menatap cincin berlian yang disematkan di hari lentiknya oleh Kevin. Sangat indah.

"Untuk memperingati hari apa? Seingat ku, aku tidak berulang tahun."

Kevin tertawa mendengar perkataan polos calon istrinya, "Aku melamar mu, dan dua minggu lagi kita akan menikah. Kamu sudah siap kan?" tanya Kevin dengan raut wajah serius. Hana merasa degup jantungnya tak beraturan karena melihat tatapan Kevin yang begitu berbeda, di saat dirinya bertatapan dengan Bara.

Sedikit demi sedikit, Hana mulai mengenal sikap Kevin yang bisa di bilang tidak bisa bersikap romantis, pria itu tidak bisa mengungkapkan apa yang Ia rasakan dengan kata-kata, tetapi melalui sorot matanya, Hana mengetahui bahwa Kevin adalah pria yang penyayang dan hangat kepada siapapun. Hana tersenyum dan beralih menatap Kevin yang seperti menuntut jawaban darinya.

"Apakah kamu akan sabar menunggu cinta ku tumbuh untukmu? Vin, aku baru saja di khianati oleh kekasih ku sendiri, apakah kamu keberatan?" bukannya menjawab, Hana malah bertanya di atas pertanyaan Kevin. Pria itu menggenggam erat tangan Hana dan mengecup punggung tangannya.

"Aku tidak mempermasalahkan cinta dan masa lalu mu, Hana. Aku hanya ingin mempersunting mu dengan tanpa adanya ikatan dengan masa lalu, entah aku atau dirimu. Mari kita jalankan rumah tangga kita nanti, cinta bisa datang kapan saja." jelas Kevin dengan getaran hati yang membuncah. Bayangkan bagaimana Kevin akhirnya berani mengungkapkan apa yang Ia rasakan kepada seorang wanita, pria itu menatap manik mata Hana yang begitu indah baginya.

"Biarkan rasa cinta ku ini memenuhi diriku, apakah kamu keberatan bila aku masuk ke dalam hati mu untuk memberikan rasa cinta?"

DEG ....

"A ... apa?" beo Hana dengan kikuk. Selama menjalin kasih dengan Bara, sekalipun pria itu tak mengungkapkan rasa cintanya kepada Hana, wanita itu yang selalu mengungkap isi hatinya selama dua tahun ini. Tetapi kali ini, apakah Ia bisa membuka hatinya untuk kedua kalinya dengan pria yang berbeda, untuk mengisi hatinya yang sempat di khianati oleh orang yang Ia cintai? Hana menjadi bimbang sendiri.

"A ... aku harus menghubungi OB untuk membuatkan kamu kopi, tunggu sebentar." kilahnya yang bergegas keluar untuk menyelamatkan diri tentunya.

Kevin membiarkan Hana keluar dan pria itu tersenyum tipis, "Jiwa ku terus saja goyah, hanya karena berdekatan dengan Hana. Oh shit!" Kevin memijat keningnya yang tiba-tiba saja berdenyut-denyut.

Di luar sana, Hana mengatur napasnya dan memegangi dadanya yang berdetak kencang. Hana menatap jarinya yang terselip dingin indah yang mengkilat, "Aku akan berusaha untuk membuka hati ku untuk mu, Kevin."

"Ekhem," Hana menoleh dan tersenyum canggung melihat Davka melipat tangannya. "Ha ... halo Davka," sapanya dengan membungkukkan tubuhnya.

Davka menatap menelisik Hana dengan tatapan tajam, Hana menelan ludahnya kala melihat tatapan Davka yang benar-benar berbeda, seperti sedang memindai dirinya dari atas hingga bawah. "Kau ternyata masuk ke dalam sekretaris Idaman,"

Hana mengedipkan matanya beberapa kali karena bingung, "Maksudnya? A ... aku tidak paham,"

Davka mengangkat bahunya dan pergi begitu saja, "Undangan pernikahan kalian aku tunggu, sekretaris Idaman."

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!