...PERHATIAN⚠️...
...Judul cerita yang awalnya "Bosku adalah Suamiku", telah berganti judul menjadi "The Perfect Marriage", karena perubahan alur cerita yang sungguh membuat tercengang. Semua isi cerita ini, hanya fiksi belaka. Jangan menyangkut-pautkan dengan kejadian di real life, walaupun memang ada....
...****************...
Setelah melakukan pendekatan kurang dari satu bulan, Hana dan Kevin pun sudah saling mengenal dan mulai terlihat dekat, membuat Hana yakin dengan pilihan orang tuanya, walaupun masih ada keraguan di hatinya, tetapi hanya demi keluarganya maka Hana bisa melakukan hal ini.
Hana menatap penampilan dirinya di cermin besar, setelah melakukan fitting baju dan semua hal, Hana hanya tersenyum dan tak terasa air matanya keluar dari tempatnya.
"Ruka," panggil Mama Yura membuat Hana sontak menoleh. Panggilan kesayangan dari keluarga Blezynski untuknya, Ruka. Nama yang tersemat di namanya selama belasan tahun.
"Mama,"
Hana bergegas mendekati sang Mama yang berdiri tak jauh dari posisinya. Terlihat kedua saudara kembarnya yang turut ada di kamar pengantin, untuk mengajak perempuan cantik itu untuk turun menghadap mempelai pria laki-laki, Kevin.
"Jangan menangis," bisik Mama Yura yang mulai tidak kuasa menahan air matanya. Hana adalah putri satu-satunya di keluarga Blezynski, yang di Besari dengan penuh rasa cinta dan kasih sayang yang besar, dari kedua orangtuanya dan keluarga Blezynski.
"Ma, Hana tidak ingin meninggalkan Mama dan Papa." kata Hana dengan lirih. Memeluk wanita paruh baya tersebut dengan erat dan enggan untuk melepaskannya. Mama Yura menghapus air matanya dan tersenyum tipis.
"Nak, sudah hukumnya seorang istri pasti ikut ke mana pun sang suami tinggal. Lagipula kita masih berada di satu kota, rumah ini selalu terbuka pintunya untuk mu dan juga Kevin selalu." jelas Mama Yura dengan susah payah untuk mengatakan hal tersebut. Hana menghapus air matanya dan menatap lurus, di mana ada Yoshi dan Miko yang menatapnya sendu.
"Hana," Yoshi tersenyum dan memeluk Hana dengan senang hati, "Jangan menangis, hari ini adalah hari bahagia mu." imbuhnya dengan membentak kain veil sang Adik.
"Maaf,"
"Untuk apa, Hana?"
"Kak, bagaimana pun kamu adalah Kakak tertua, tapi aku melangkahi mu untuk menikah lebih dulu. Maafkan aku," ungkap Hana dengan perasaan bersalahnya. Yoshi hanya tertawa pelan dan mengangguk seraya menepuk kepala sang Adik.
"Jodoh mu sudah ada di depan mata, lagipula Papa dan Mama ingin yang terbaik untuk Putri mereka satu-satunya. Jangan memikirkan Kakak dan Miko, kita bisa mencari wanita untuk menjadi pendamping." ucap Yoshi dengan bijaksana. Miko mengangguk menanggapi ucapan sang Kakak.
"Benar, apalagi Kakak pernah menjadi wanita bodoh karena-"
PLETAK .....
Miko mendelik tajam ke arah Yoshi yang baru saja menyentil kepalanya dengan kuat. Hana hanya menghela napas panjang dan merasa muak bila nama Bara di sebutkan oleh siapapun.
"Jangan membahas pria itu," ketusnya dengan wajah datar. Yoshi dan Miko melirik dan kini tatapannya jatuh pada Mama Yura yang terdiam di belakang sana.
"Mama menangis?"
Hana menoleh terkejut, sudah Ia duga pasti Mama-nya akan menangis lagi, bahkan mata wanita paruh baya tersebut sudah berbeda dari biasanya, "Ma, aku baik-baik saja. A ... aku percaya dengan pilihan kalian,"
Mama Yura mengangguk dan mengelus pipi putrinya, "Nak, jangan pernah sekalipun dirimu untuk mengecewakan Kevin, kamu tahu, Kevin itu pria yang tulus, penyayang, dan hangat. Kalian akan menikah, maka kamu harus bisa membuka hatimu kembali untuknya." ucap Mama Yura dengan penuh harap dari sorot matanya. Hana menggenggam tangan wanita itu dan mengangguk.
"Aku akan berusaha, Ma."
Tok ... tok ....
Mereka semua menoleh dan menatap pelayan yang berdiri di ambang pintu, "Maaf, Tuan dan Nyonya. Tuan besar meminta kalian untuk segara datang, akad nikah akan segera di laksanakan."
...****************...
Kevin tak henti-henti memandangi perempuan berdarah Jepang yang telah sah menjadi istrinya itu, di mata negara maupun agama. Kevin begitu senang karena mendapatkan perempuan cantik dan idaman seperti Hana.
Dua minggu cukup membuatnya tersiksa setengah mati, bukan tanpa alasan, karena secara terang-terangan perempuan yang telah menjadi istrinya itu tiba-tiba suka menggoda dirinya.
Kevin sebagai pria dewasa tentu saja terpancing, tak jarang pria itu bermain sabun berjam-jam di dalam kamar mandi di kediaman pribadinya. Membayangkan wajah Hana yang begitu polos cantik saja sudah membangkitkan gairah di dalam dirinya, Kevin rasanya ingin menerkam Hana saat ini juga.
"Kenapa menatap ku seperti itu?" tanya Hana membuat Kevin terkejut dan sontak mengalihkan pandangannya. Hana tersenyum saat melihat tingkah laku Kevin yang begitu di luar nalar.
Sungguh lucu sekali pria ini, batin Hana yang rasanya ingin tertawa.
"Tidak ada, tadi ada lalat saja di wajah mu." kilah Kevin dengan terbatuk-batuk kecil. Hana memegangi wajahnya dengan terheran-heran.
"Benarkah? Di bagian mana?" tanyanya dengan menaikturunkan alisnya, menggoda. Bahkan perempuan itu bergeser tempat dan menatap Kevin dalam-dalam. Akhir-akhir ini, Hana begitu suka menggoda Kevin walaupun secara tidak langsung, buktinya dua hari yang lalu, perempuan cantik itu sengaja menggunakan pakaian cukup terbuka saat Kevin datang untuk melakukan fitting baju pengantin.
Lekuk tubuh yang begitu ideal, dan payudara yang sintal begitu menyita perhatian seorang Kevin, "Jangan menggoda ku, Sayang." tegur Kevin membuat Hana tertawa pelan.
"Kamu saja yang mudah tergoda, padahal aku tidak melakukan apapun." jawab Hana dengan raut wajah kesal. Kevin gelagapan dan meraih tangan Hana untuk Ia genggam.
"Jangan sekarang, nanti saja setelah di kamar kita bermain." bisik Kevin membuat Hana merasa aneh dengan tubuhnya.
"Bermain apa? Catur?"
Kevin hanya mengangguk sebagai tanggapan, pria itu menahan tangan dan pinggang ramping Hana, pria itu menghirup aroma tubuh Hana yang begitu membuatnya tenang, Hana menatap gelisah ke arah depan di mana masih banyak tamu yang berdatangan.
"Vin, jangan-"
"Ekhem!"
Hana sontak mendorong Kevin agar menjauh darinya, "Oh my!" kesalnya dan menatap siapa yang membuatnya terkejut. Hana menatap Papa Diego yang tersenyum ke arah mereka berdua, di belakang sana ada Bryan dan Yoshi yang melipat kedua tangannya.
"Bersabar lah sedikit, dasar pengantin baru!" cibir Bryan yang mendapatkan anggukan dari Yoshi. Hana merasa wajahnya memerah panas dan memalingkan wajahnya karena merasa malu.
"Sepertinya kamu sudah tidak sabar, Vin." kata Papa Diego yang lagi dan lagi memergoki putranya yang hendak melakukan sesuatu. Papa Diego tiba-tiba teringat dengan aksi Kevin di rumah sakit, yang mencium Hana tanpa ragu.
"Mengambil kesempatan dalam kesempitan!" sahut Yoshi tak kalah kesal. Sebagai seorang pria dewasa, tentu saja dirinya ingin melakukan hal tersebut, tetapi sayangnya belum ada wanita yang masuk ke hatinya.
Kevin menghela napas panjang, "Aku lelah, bisakah kami istirahat?" tanya Kevin dengan melirik Hana yang mendelik ke arahnya. Papa Diego tertawa pelan mendengar alasan dari Putra sulungnya.
"Papa mu ini sudah berpengalaman dalam hal ini, tanpa kamu minta pun, tentu saja boleh."
Mata Kevin membinar senang dan sontak meraih tangan Hana, "Ayo kita istirahat. Akan ada acara party di malam harinya, aku tidak ingin kamu kelelahan." ucapnya dengan penuh perhatian. Hana hanya mengangguk dan merasa bahwa ucapan dari Kevin memiliki arti yang lain.
Kevin mengajak Hana menuju kamar di hotel tempat terselenggaranya acara mereka, Papa Diego hanya menggelengkan kepalanya melihat Putranya kasmaran. "Dasar anak muda,"
Setibanya di kamar mereka, Hana merasa tubuhnya lelah dan hendak menuju kamar mandi untuk berganti pakaian, tetapi tatapannya jatuh kearah ranjang kamar hotel yang dipenuhi kelopak bunga mawar merah, dan berisi tulisan 'Happy Wedding'
Jangan di tanyakan bagaimana Hana, wanita itu menyungging senyum tipis dan mendekati tempat tidur, "Sangat indah."
Kevin tersenyum dan melonggarkan dasinya, mendekati sang istri dan memeluknya dari belakang. Hana tersentak karena tangan kekar berurat melingkar di perut ratanya, "You are happy about this marriage?"
Hana merasa merinding mendengar suara berat basah dari sang suami, "Sangat. Terima kasih,"
Kevin hanya tersenyum dan mengeratkan pelukannya, "I want you."
DEG ....
Kevin mulai mencium tengkuk leher Hana dan hal itu membuat tubuh Hana mulai terasa panas dingin. Bukan hanya mencium tengkuk, Kevin membalikkan badan Hana dan menidurkan hingga terlentang di ranjang kamar. Tatapan mereka berdua saling beradu, Kevin tersenyum dan mengelus pipi sang istri.
"Vin-"
Kevin membungkam mulut perempuan cantik itu dengan sebuah ciuman, Hana yang terkejut tak bisa mengelak dari ciuman dari Kevin. Perempuan itu meremas kemeja bagian depan Kevin, dan mencoba untuk mendorong tubuh pria itu.
"Kenapa?" tanya Kevin dengan napas tersengal-sengal. Hana mengatur napasnya dan bergetar ketakutan.
"A ... aku ...."
Menyadari kesalahannya, Kevin menatap sendu Hana yang kini bergetar ketakutan, "Maaf, aku tidak bermaksud menyakiti mu." bisik Kevin dengan lembut. Pria itu mengurungkan niatnya untuk melakukan sesuatu dan memilih untuk melepaskan jas putih dan menghela napas panjang.
Hana bergeming melihat Kevin, "Vin, a ... aku, maaf." Cicit perempuan tersebut merasa bersalah. Kevin menoleh dan mengusap kepala sang istri.
"Tidak apa-apa. Seharusnya aku tidak terburu-buru untuk meminta hak ku," jawab Kevin yang semakin membuat rasa bersalah dalam diri Hana semakin besar. Hana belum siap untuk memberikan miliknya kepada siapapun, walaupun Kevin telah sah menjadi suaminya, tetapi tetap saja Hana belum berniat untuk memberikannya, mengingat Hana masih terjerat dalam benang masa lalunya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments