Menjadi Posesif (12)

...PERHATIAN⚠️...

...Judul cerita yang awalnya "Bosku adalah Suamiku", telah berganti judul menjadi "The Perfect Marriage", karena perubahan alur cerita yang sungguh membuat tercengang. Semua isi cerita ini, hanya fiksi belaka. Jangan menyangkut-pautkan dengan kejadian di real life, walaupun memang ada....

...****************...

Hari demi hari, dan kini sudah menjadi Minggu pertama bagi Hana menjadi istri dari seorang Kevin. Pria berhati hangat itu terus-menerus dan secara terang-terangan mendekatinya dengan perlahan, dan Hana sudah bertekad untuk membuka hati sepenuhnya untuk sang suami, walaupun di rasa sangat sulit karena bukan beberapa bulan menjalin hubungan dengan Bara.

"Sayang,"

Panggilan hangat yang setiap kali membuat Hana jantungan. Kevin memeluk tubuh Hana yang sibuk menyiapkan pakaian mereka berdua untuk besok.

"Kamu bahagia?" tanyanya dengan mengeratkan pelukannya. Hana menadah dan menatap pantulan mereka berdua di depan cermin.

"Kamu hampir setiap hari bertanya, dan jawaban aku tetap saja, Kevin." jawab Hana membuat Kevin tersenyum tipis. Setelah selesai, Hana merasa pelukan Kevin di pinggang rampingnya semakin erat. "Kamu kenapa?"

"Tidak ada," tampuk Kevin membuat Hana langsung mengerutkan kening.

"Bohong. Dua hari yang lalu, aku memperhatikan kalau kamu pulang telat dan meminta ku pulang terlebih dahulu. Apakah perusahaan-"

"Tidak, Sayang. Perusahaan ku baik-baik saja," sela Kevin berusaha untuk menghentikan pertanyaan sang Istri. Hana berbalik badan dan menatap wajah Kevin yang sedikit berbeda.

"Lalu apa? Apakah kamu tidak ingin cerita kepada istrimu ini?" Senyuman manis terpampang di wajah tegas itu. Kevin semakin merasa, bahwa Hana membuka peluang baginya untuk masuk ke hatinya.

"Aku lelah," nada bicara Kevin mulai berubah menjadi manja dan menenggelamkan kepalanya di belahan dada Hana. Perempuan itu menahan napas saat Kevin benar-benar menyentuh bagian sensitifnya.

"A ... apa?"

"Nenek ...," Kevin menarik napas, "Nenek meminta kita untuk honeymoon."

DEG ....

"Nenek ingin memiliki cicit sebelum dia tiada. Dan aku ... aku bingung harus bagaimana, Hana." lanjutnya membuat Hana mulai kebingungan.

"Honeymoon?" beonya. Kevin mengangguk pelan dan memutar tubuhnya, hingga Hana terduduk di pangkuannya. Perempuan itu tak kuasa menahan rasa terkejutnya dan sontak menempelkan tubuhnya.

"Vin!" tegur Hana dengan mata melotot. Kevin terkekeh geli dan kembali menyandarkan kepalanya.

"A ... aku menolak untuk honeymoon dalam waktu dekat, mana mungkin aku melakukan honeymoon di saat istri ku masih menyimpan masa lalunya." kata Kevin yang begitu menusuk hati Hana. Walaupun ucapannya itu bukan untuk menyakiti Hana, Kevin hanya ingin perempuan itu sadar akan posisinya saat ini.

Hana tanpa sadar menunduk dan menghela napas, "Kenapa kau mengatakan itu?" tanya Hana dengan nada pelan. "Aku bahkan sudah bertekad untuk membuka hatiku untuk mu, Vin." imbuhnya dengan sendu.

"Aku tidak meragukan mu, Hana. Hanya saja ...."

"Aku mengerti. Masa lalu ku tetap masa lalu, apakah setelah aku memiliki masa lalu, artinya aku tidak berhak untuk memiliki masa depan dengan mu? Begitu?"

Kevin menggeleng cepat dan berkata, "Hana tatap aku!"

Hana menurut dan Kevin menatap manik mata indah sang istri, "Sebaiknya kita ... kita menuruti keinginan Nenek, Vin."

Kevin terdiam sejenak dan menghela napas, "Tidak." tolaknya, "Aku tidak ingin honeymoon hanya karena paksaan."

Hana langsung mengalungkan tangannya dan semakin merapatkan tubuhnya, "Tapi aku ingin. Lagipula aku tidak pernah tahu bagaimana rasanya honeymoon," balas Hana yang ternyata berhasil membuat Kevin panas dingin. Wajah pria itu mulai memerah, akibat Hana yang tak sengaja menekan aset pribadinya.

"Kita tidak perlu honeymoon, sekarang pun aku ...."

"Aku sedang datang bulan!"

...****************...

Kevin tak henti-hentinya untuk tersenyum setelah mendengar ucapan Hana kemarin malam, pasangan suami-istri tersebut dalam perjalanan menuju kantor.

"Sayang, kamu-"

"Tuan Kevin, Tuan Davka mengirimkan file dokumen yang harus Anda tandatangani untuk proyek terbaru," sela Hana membuat senyuman Kevin seketika lenyap.

Hana menaikkan alisnya dan memberikan kode Kevin ke arah supir yang masih memasang telinga, "dan Anda juga memiliki jadwal makan siang dengan Tuan Aprilio di restoran yang telah di siapkan oleh beliau." imbuh Hana dengan tersenyum manis. Kevin mendengus kesal.

Tak lama, mobil hitam itu tiba di lobby perusahaan, terlihat Davka yang sudah berdiri dengan membawa berkas di tangannya dan menyambut kedatangan sang atasan. "Selamat datang, Tuan Kevin dan Nona Hana,"

"Apakah ada kabar dari perusahaan cabang?" tanya Kevin setelah Davka memberikan berkas kepadanya. Hana hanya memasang telinga dan menatap kedua pria di hadapannya.

"Keuangan perusahaan cabang telah kembali normal, Tuan. Saya dan pihak kepolisian sudah menindaklanjuti kasus penggelapan dana perusahaan cabang," jelas Davka dengan melirik Hana. Kevin mengeratkan dasinya dan mempercepat langkahnya.

"Lalu bagaimana dengan pelaku penggelapan uang itu?"

Davka menghela napas panjang secara samar-samar, "Bara sudah di tahan untuk di tindaklanjuti, Tuan."

DEG ....

Langkah kaki Hana seketika terhenti saat Davka menyebut nama orang yang selaka 2 tahun mengisi hari Hana. Perempuan itu dengan cepat menadah dan menatap Kevin dan Davka dengan wajah terkejut.

"Ada apa? Kenapa kamu terkejut?" tanya Kevin dengan wajah datar. Bukan tanpa alasan dirinya memancing Davka untuk menyebutkan nama Bara, di hadapan Hana.

"A ... aku," Hana menggelengkan kepalanya. "Tidak ada, Tuan."

Kevin menyunggingkan senyum miring dan memperhatikan perubahan raut Hana, "Atur jadwal ku dengan Tuan Aprilio dengan yang baru, Dav." Davka menoleh dan menunjuk dirinya.

"Baik, Tuan." jawabnya dengan lesu. Lagipula percuma untuk menolak, maka gaji nya akan di potong. Hana bergegas menyusul Kevin masuk ke dalam lift dan hanya tersenyum tipis kepada Davka yang menatapnya memelas.

Hana merasakan aura negatif di sekitarnya, perempuan itu tak berani menoleh ataupun bersuara. Bahkan Kevin pun tak bersuara dan hanya menatap pantulan dirinya dan Hana dari lift. Tatapan pria itu menjadi tajam saat melihat raut wajah Hana yang berubah.

"Kamu masih memikirkan pria itu?" tanya Kevin tanpa menoleh menatap sang istri. Hana sontak menatap sang suami dan menggeleng.

"Untuk apa?"

Kevin menyunggingkan senyum dan kembali berkata, "Tapi mata mu mengatakan hal sebaliknya."

Nada yang datar dan juga berat, bulu kuduk Hana sampai terangkat karena Kevin. "Maupun dia melalui penggelapan dana, itu bukan urusan ku lagi. Bukankah sekarang urusan ku adalah mengurus mu, Sayang?"

DEG ....

Kini jantung Kevin yang tak baik-baik saja karena ulah Hana. Kevin bahkan melotot tajam, "Kamu bicara apa?"

Hana langsung menjadi tegang sendiri karena ucapannya yang begitu melambung. Perempuan itu merasakan wajahnya menjadi panas karena ulah dirinya sendiri.

Kevin semakin tak karuan karena panggilan Hana untuknya, bukankah itu hal yang bagus karena hubungan mereka mulai ada kemajuan secara perlahan-lahan, Kevin merasa amarah di dalam dirinya seketika menghilang karena Hana.

"Sayang," panggil Kevin membuat Hana menelan ludahnya sendiri. Bisa bertambah rasa malunya bila ada yang mendengar atau melihat sisi lain dari atasan mereka, Kevin.

"Vin ...."

TING ....

Hana tersenyum senang dan langsung bergegas keluar dari lift tanpa menghiraukan Kevin yang mengejarnya dengan langkah lebar. "Sayang, jangan berlari nanti kamu terjatuh!" tegur Kevin membuat langkah Hana kembali berhenti dan berjalan cepat menuju ruang kerjanya.

"Bodoh! Aku berniat bercanda, mengapa malah aku yang ... astaga!" gerutunya dengan memukul pelan kepalanya. Sesampainya di meja kerjanya, Kevin langsung menarik Hana untuk masuk ke dalam ruangannya.

"Ayo, masuk!"

Hana membulatkan matanya, "Vin! Bagaimana kalau ada yang melihat kita?!"

Kevin seperti sengaja tidak mendengarkan ucapan sang istri, pria itu mendudukkan tubuh Hana di meja kerjanya dan mengunci pergerakan perempuan itu dengan tubuhnya. Hana menahan napasnya, kala wajah Kevin benar-benar ada di hadapannya. Kedua pasangan suami-istri tersebut saling berpandangan dan Kevin mengelus pipi Hana dengan sangat lembut.

"Kamu sangat cantik," pujinya membuat wajah Hana semakin bertambah merah. Kevin terkekeh geli melihat reaksi malu-malu sang istri dan beralih memeluk pinggang ramping perempuan berdarah jepang itu.

"Jangan memikirkan pria lain selain aku, aku cemburu." ungkap Kevin membuat hati kecil Hana terketuk secara tiba-tiba, "Aku tidak suka saat melihat raut wajah mu, di saat mendengar berita tentang Bara. Aku tidak suka! Aku tidak menyukainya!" tambah Kevin yang langsung memasang wajah datar kembali.

Hana sampai kebingungan melihat reaksi suaminya yang begitu cukup menggemaskan di matanya, "Padahal kamu yang membahasnya lebih dahulu. Kenapa aku yang di salahkan?"

Kevin mendengus kesal, "Biar kamu tahu kalau mantan kekasih ku itu selain tukang selingkuh, juga tukang penggelapan dana!" sahut Kevin tak kalau sengit. Hana memutar matanya malas dan berusaha untuk menjauhkan tubuh Kevin darinya.

"Menjauh, bagaimana kalau ada yang ...."

CUP ....

"You are only mine!"

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!