...PERHATIAN⚠️...
...Judul cerita yang awalnya "Bosku adalah Suamiku", telah berganti judul menjadi "The Perfect Marriage", karena perubahan alur cerita yang sungguh membuat tercengang. Semua isi cerita ini, hanya fiksi belaka. Jangan menyangkut-pautkan dengan kejadian di real life, walaupun memang ada....
...****************...
Hana merebahkan tubuhnya yang terasa lelah di ranjang tidurnya, dengan pakaian kerja yang masih melekat, perempuan itu menghela napas panjang. Kevin yang baru saja masuk ke dalam kamar, hanya mengulas senyuman tipis.
"Lelah?" tanyanya dengan melepaskan jas dan juga dasinya dengan asal. Hana mendudukkan dirinya dan mengangguk.
"Kamu membutuhkan sesuatu?" tanya Hana yang mendekati Kevin, "biar aku bantu." imbuhnya dengan membantu Kevin mengembalikan jas dan dasi ke tempat semula.
"Aku ingin berendam, mau bersama?"
Blush .....
Hana tentu saja menjadi kaku mendengar ajakan dari suaminya, yang sungguh frontal dan juga ambigu. Kevin terkekeh geli melihat reaksi kaku dari istri kecilnya, "I'm just kidding."
Hana melongo saat Kevin mengacak rambutnya dan masuk ke dalam kamar mandi. Perempuan itu memegangi kepalanya yang baru saja di usap pelan dengan senyum tipis, "Benar kata Papa, pilihan orang tua adalah pilihan yang terbaik. Kalau aku menolak perjodohan ini, pasti aku harus menyaksikan kebodohan ku sendiri karena Bara." gumamnya pelan.
Hana keluar kamar dan memilih untuk menyiapkan beberapa cemilan dan kopi hangat tanpa gula untuk Kevin. Hana merasa tubuhnya cukup lelah, karena bekerja dan rapat seharian, dan apabila Kevin tidak memesankan makanan untukmu, mungkin Hana akan merasakan sakit mag nya kambuh.
"Sayang,"
Hana menoleh dari pantry dapur, dan sontak memalingkan wajahnya. Degup jantungnya benar-benar berdetak karena ulah Kevin, yang keluar dari kamar hanya dengan handuk melingkar di pinggangnya. Hana memejamkan matanya dan mengumpat.
"Bahkan Kak Yoshi dan Miko berpikir dua kali kalau seperti ini!" Gerutunya kesal. Bukan tanpa alasan Hana seperti sekarang, karena Hana baru pertama kali ini satu kamar, satu ruangan, dan satu rumah dengan pria yang baru di kenalnya.
Kevin mengacak rambutnya yang basah dan mendekati pantry, "Sayang."
"APA?!" tanya Hana dengan tidak santai. Kevin terperanjat karena nada tinggi Hana untuknya.
"Kamu kenapa? Kenapa wajah mu memerah?" entah itu sebuah pertanyaan atau Kevin memang sengaja menggoda dirinya. Hana sontak memegangi wajahnya yang terasa panas dan berdeham pelan.
"Ti ... tidak ada. Apakah kau membutuhkan sesuatu, Kevin?" tanya Hana mencoba untuk menetralkan perasaannya. Jantungnya mulai tidak aman karena ulah suaminya sendiri.
Kevin terdiam sejenak, "Lilin terapi."
Hana yang mengerti, langsung mengambil sebuah lilin aroma terapi untuk Kevin, "Hanya sisa satu, setelah ini aku akan ke mall untuk membeli lilin aroma terapi untukmu." jawab Hana membuat Kevin benar-benar tidak bisa menyembunyikan senyumannya.
"Tunggu sebentar, aku akan menemanimu." Kevin bergegas kembali ke kamar mandi, dan keluar setelah beberapa menit berlalu. Hana hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah suaminya yang ternyata sedikit frontal dan juga berbeda dari pria yang pernah Ia temui.
"Ayo," ajak Kevin setelah selesai memakai pakaiannya kembali. Hana menatap penampilan Kevin yang hanya menggelengkan kemeja putih polos dan celana jeans panjang, bahkan rambut Kevin sedikit di acak, hingga menimbulkan kesan hot di mata Hana. Perempuan itu menelan ludahnya sendiri melihat menampilkan Kevin, yang berhasil membuatnya panas dingin.
"Ka ... kamu beneran mau pergi ke supermarket seperti ini?" tanya Hana tidak percaya. Kevin menatap penampilan dirinya dengan bingung.
"Apakah ada yang salah?"
Hana tersadar dan menggeleng cepat, "Tidak ada. A ... aku akan mengambil cardigan dulu," Hana rasanya tidak bisa bernapas leluasa karena Kevin.
"Jangan memoles make up," celetuk Kevin membuat Hana yang sedang memoles wajahnya dengan bedak pun menoleh.
"Hanya sedikit," jawab Hana membuat Kevin mendengus.
"Kalau kamu make up, nanti bisa-bisa pria di luaran sana melirik mu! Aku tidak mau itu!" ketus Kevin kembali. Hana benar-benar tidak bisa menyembunyikan senyuman tipisnya dan mengangguk.
...****************...
Kevin menekuk wajahnya menjadi datar dan tak banyak bicara saat mereka berdua sampai di supermarket pusat kota. Tangan Hana sudah di genggam erat oleh tangan kekar Kevin dengan posesif.
"Vin, bagaimana kalau kita membeli keperluan dulu." kata Hana dengan menunjuk ke arah salah satu toko yang menarik perhatiannya.
"Ayo,"
Tanpa ragu, Hana langsung menarik lengan Kevin menuju toko tersebut, "Kamu mau beli apa?"
Kevin menatap sekitaran dengan tidak minat, "Tidak ada."
Hana mengerutkan keningnya mendengar jawaban Kevin yang terdengar ketus dan datar. Di tatapnya sang suami, "Kenapa di tekuk wajah kamu?"
Kevin berdecak kesal mendengar pertanyaan Hana yang begitu polos. Apakah perempuan yang telah sah menikah dengannya itu, tidak peka akan sekitaran? Banyak anak muda dan pria lajang yang menatap Hana begitu terang-terangan, dan Kevin tidak menyukai hal itu.
"Baru tiba saja, kamu sudah di lihat pria lain! Bagaimana kalau aku meninggalkan mu 1 jam nanti, mungkin mereka sudah-"
"What are you talking about?" sela Hana tak mengerti. Kevin menahan napasnya dan sedikit membungkuk tubuh.
"I don't like them staring at you," jawab Kevin dengan berbisik.
"You are jealous?" tanya Hana memastikan, yang langsung mendapatkan anggukan benar dari Kevin.
Mendapatkan jawaban anggukan, Hana tak bisa berkata-kata lagi sekarang. Mungkin Kevin bisa menunjukkan rasa dan perasaannya secara langsung melalui tindakan kecil, tapi bagi Hana itu semua adalah hal yang sangat sulit.
Di khianati oleh sang kekasih, membuat Hana sedikit meragukan siapapun pria yang menaruh hati kepadanya, Hana hanya sedikit merasa takut bila pria tersebut hanya ingin memanfaatkan dirinya.
"Aku tidak tahu," cicit Hana pelan yang langsung bergegas menuju ke tempat lain. Kevin hanya diam dan mendudukkan dirinya di kursi tersedia.
"Kenapa kamu tidak sabaran, dasar bodoh!" umpat Kevin pada dirinya sendiri.
Hana mencoba untuk mengalihkan pandangannya dari Kevin, yang sejak tadi mengawasinya dari kejauhan. Perempuan itu memilih untuk sedikit menjauh agar bisa kembali bernapas lega.
"Bagaimana ini?" gumamnya bingung. Hana bingung sendiri, di sisi lain ada Kevin yang harus Ia jaga perasaannya, tetapi di sisi lain Bara yang masih tersemat di hatinya.
Drttt ....
Dering ponsel Hana, membuat perempuan itu bergegas mengangkatnya, "Halo, Ma."
"Halo, Hana. Bagaimana?"
Alis Hana terangkat tinggi-tinggi, "Bagaimana apanya? Aku baik, Ma." jawab Hana membuat Mama Yura di seberang sana mendengus kesal.
"Bukan itu maksudnya. Bagaimana malam pertama kalian? Apakah kamu sudah membuka hadiah pemberian Mama?" tanya Mama Yura begitu antusias. Hana mengusap tengkuknya sendiri dan bingung untuk menjawab apa.
"Han?" panggil Mama Yura kembali.
"Iya, Ma. A ... aku belum sempat membuka kadonya, aku dan Pak Kevin harus ke kantor tadi." ungkap Hana yang sontak langsung menutup mulutnya sendiri.
Sial, kenapa harus keceplosan berbicara! rutuk Hana pada dirinya sendiri.
"Kalian bekerja?! Bukankah kalian harusnya cuti pernikahan? Hana pernikahan kalian belum 48 jam, dan apa-apaan ini!" Mama Yura syok mendengar ucapan Putrinya sendiri.
"Ma, ada pertemuan dengan kolega bisnis, aku dan Pak Kevin-"
"Kamu memanggil Kevin dengan sebutan 'Pak'?" Hana langsung bungkam, "Han, kamu dan Kevin itu sudah menikah, jadi biasakanlah untuk memanggilnya tanpa sebutan 'Pak', mengerti Sayang?" Keterkejutan Mama Yura ternyata terus berlanjut, hingga membuat wanita paruh baya itu memijat keningnya.
Hana menghela napas, "Yes, Mam."
"Han, Mama tahu kamu belum mencintai Kevin, Mama tidak akan memaksa kamu, tetapi kamu harus tahu bahwa Kevin itu mencintai kamu dengan tulus. Lupakan Bara, pria itu tidak pantas untuk bersanding dengan mu, Nak." kata Mama Yura terdengar sedih, membuat Hana terdiam sembari memilih beberapa pakaian dengan tatapan sendu.
"Mama tahu dari mana kalau Kevin mencintai ku?" tanya Hana dengan pelan.
"Mama bisa melihat dari tatapannya untuk mu, Nak."
"Mustahil," tampik Hana tak percaya.
"Entah kamu percaya atau tidak, tapi Mama hanya ingin mengatakan, kalau kamu harus membuka hati untuk Kevin. Mama dan Papa bukan tanpa alasan menikahkan kalian berdua, kamu paham kan?" tanya Mama Yura setelah menjelaskan.
"Aku akan berusaha,"
Hana langsung mematikan sambungan teleponnya dan mengintip di celah-celah pakaian, terlihat Kevin yang sibuk memainkan ponsel dengan sesekali memperhatikan sekitaran dengan tatapan datar. Hana merapihkan pakaiannya dan berjalan pelan mendekati Kevin.
Hingga tatapan mereka berdua saling bertemu, Kevin bergegas berdiri setelah beberapa menit tak melihat Hana di penglihatannya dan bertanya, "Kamu ke mana saja? Kenapa lama?"
Hana tersenyum tipis, "Aku memilihkan beberapa kemeja untukmu, kamu tidak keberatan untuk mencobanya?"
Kevin mengulas senyuman tipis dan mengelus rambut perempuan tersebut, "Aku tidak bisa menolak permintaan istri ku ini. Aku pasti akan mencobanya," jawab Kevin yang begitu lembut masuk ke pendengaran Hana.
Perempuan itu menatap kepergian Kevin menuju ruang ganti, Hana tersenyum senang karena pria tersebut tidak menolak pilihan kemeja darinya, "Mungkin yang di katakan oleh Mama ada benarnya, aku harus membuka hati lagi dan melupakan masa lalu untuk lembaran kehidupan yang baru."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments